Lima senapati pendamping yang membayangi pergerakan Raden Atmandaru akhirnya tiba di mulut lorong di batas belakang pelataran utara perkemahan. Tempat ini merupakan titik awal dari yang biasa disebut orang-orang sebagai jalur ular di punggung Gunung Kendil. Jalan itu tidak pernah lurus—melengkung sempit di antara lereng dan jurang, cukup licin oleh gerimis tipis yang cukup untuk menghilangkan rasa aman. Kabut menutup pandangan sehingga jarak tidak dapat diraba. Tanah dan udara terasa menyatu dengan lingkungan rapat tanaman yang dapat mengacaukan arah dan kedalaman.
Setelah berhenti sejenak, mengamati lingkungan dengan pandangan mata yang terhalang kabut, mereka bergerak maju.
Mungkin kurang dari sepuluh langkah atau lebih sedikit, satu orang terperosok sangat dalam. Sebuah cekungan yang disangka landai ternyata kedalaman yang sulit diukur. Kakinya menapak pijakan kosong, lalu tubuhnya hilang tanpa teriakan, ditelan gelap yang tak memberi gema.
Empat kawannya mungkin tidak melihat atau tidak tahu, tapi yang pasti tidak ada yang menoba menolong atau berseru dengan suara tertahan. Entahlah, mungkin empat orang itu pun sama-sama mengalami kebuntuan berpikir atau merasa.
Namun, mereka yang tersisa melanjutkan perjalanan dengan napas pendek. Akar-akar pohon licin menjulur panjang tak beraturan di tepi setapak, tampak kokoh dari kabut. Salah satu dari mereka meraih satu yang terlihat tua dan kuat. Tarikan pertama membantunya melewati permukaan lunak. Tarikan kedua akarnya berderak, tercabut dari tanah basah. Satu orang terseret longsor kecil tanpa terlihat oleh orang di belakangnya. Dia terlepas dari jalan, meluncur deras tanpa halangan dan sangat sunyi.
Kali ini satu orang yang menyadari kejanggalan. Tapi dia tidak dapat berbuat banyak karena tidak melihat ada sesuatu sedang terjadi, sementara suara yang timbul pun terdengar wajar gesekan daun.
Tiga sisanya tetap bergerak meski lambat. Mereka menempel pada batu, menguji setiap pijakan dengan berat separuh tubuh. Napas mereka tertahan, telapak tangan perih oleh serat kasar, pakaian menjadi beban karena air dan lumpur. Kabar baik buat mereka adalah mereka tidak tahu ada dua orang yang sudah tidak bersama lagi.
Gerimis masih menitik daun satu demi satu dengan bulir yang terjaga dingin.
Jalan setapak itu berujung pada tanah yang sedikit lapang. Sedikit, yah, sedikit karena mungkin seluas belasan langkah jika melingkar.
Mereka pun tiba di tanah lapang itu walau tertatih.
Pandan Wangi sudah menunggu tapi tidak ada keinginan untuk memberi sambutan. Dia membiarkan keheningan yang mewakili dirinya untuk menerima mereka.
Kabut tetap utuh, hujan tetap sedang. Jalur ular tidak memberi gema.
Pandan Wangi bergerak lebih dulu. Langkahnya sangat ringan dan napasnya tidak memburu. Tiba-tiba dia memotong silang dari sisi yang tidak terjangkau penglihatan tiga pendatang itu. Pandan Wangi muncul dari celah di antara batu dan semak, menyambar senapati paling akhir. Satu sentuhan pendek, sangat kuat dan terarah, tanpa suara. Tubuh itu berhenti sebelum sempat jatuh, ditahan sesaat, lalu dilepas perlahan ke samping semak kemudian diserahkan pada kemiringan tanpa perlu didorong.
Dua senapati di depan tidak menyadari. Mereka melangkah satu tapak lagi sebelum jarak di belakang terasa terlalu sunyi. Pandan Wangi sudah bergeser, menyatu dengan pepohonan. Kabut masih berkenan melindungi putri Ki Gede Menoreh itu.
Sergapan kedua datang tanpa jeda.
Sukra bergerak seringan lompatan belalang. Dia tidak mendekat dari belakang, tapi menyilang rendah, memanfaatkan lipatan tanah yang menurun tajam. Hujan menyamarkan gesekan, kabut membatasi pandangan. Senapati yang kembali berada di baris paling belakang berhenti sesaat, menoleh karena curiga.
Namun itu tidak cukup menyelamatkannya. Satu sapuan kuat pada lutut membuatnya kehilangan, lalu tumbang. Sukra menahan sekejap, memastikan tidak ada suara keras, lalu melepas. Tubuh itu tergelincir ke sisi setapak dan hilang ke bawah, diseret gelap, didorong lumpur tanpa ampun.
Satu orang tersisa.
Sayoga terlambat sekejap mata. Mangsa menyadari ada yang salah, lalu berbalik dan menjauh. Langkahnya mundur tak teratur, memaksakan diri tanpa pertimbangan. Kemiringan tanah tidak mengizinkan itu maka tumit tepeleset. Sasaran Sayoga pun terpelanting lepas, bergulir menuruni tebing, menghantam semak dan batu, lalu lenyap ke bawah.
Kinasih melesat menyusul, menuruni lereng terjal tanpa berhenti. Menembus kabut dengan mengandalkan ketajaman pendengaran dan penglihatan yang sedikit lebih dari orang kebanyakan. Tekadnya hanya satu: tidak boleh ada yang lolos dari jalur ular sesuai perintah Ki Rangga Agung Sedayu. Dia hampir dekat tapi sebelum dirinya tiba, tebing telah menyelesaikan urusannya sendiri.

Di dasar lereng, tubuh itu berhenti dengan bentuk leher yang tidak wajar. Agaknya sebatang akar yang sangat keras telah membuat perhituangan sendiri.
Kinasih berhenti dua atau tiga langkah dari tubuh yang sudah diam lalu memandang dengan sebuah pemikiran: alam bekerja dengan caranya sendiri.
Getaran terakhir yang diburu oleh Kinasih ternyata berada pada jalur yang sangat dekat dengan Raden Atmandaru. Orang ini mengetahui pergerakan yang berasal dari getaran yang sangat cepat dan berat. Sesaat kemudian, bayangan melintas di sela kabut. Cepat dan rendah, memotong lereng tanpa ragu. Kinasih. Bukan untuk menyusul kemenangan, melainkan menutup kemungkinan.
Raden Atmandaru tidak bergerak. Dia sudah tahu hasil akhir hanya dari dua tanda itu saja: suara yang selesai, dan bayangan yang tak kembali.
Maka pemimpin makar itu bergeser arah., menuruni lereng melalui celah tebing yang dapat membawanya pada tempat yang lebih jarang dilalui orang. Langkahnya tetap memperlihatkan ketenangan yang biasa, tidak dipercepat, tidak pula ditahan. Sikap tubuhnya lebih mengesankan pada hanya satu jalan keluar, itu saja.
Luka Glagah Putih
Tanah di bawah kaki Glagah Putih dan Ki Sor Dondong telah menjadi lumpur bercampur darah. Glagah Putih berdiri terpaku. Pandangan matanya tetap tajam dan tenang. Masih ada waktu, pikirnya. Kekuatan Ki Sor Dondong sudah jelas tidak dapat dihadapi dengan cara biasa atau sedikit luar biasa.
Cuaca memberi tanda yang mungkin terasa mendua: keputusan bisa salah dan bisa juga benar.
Ki Sor Dondong memilih diam untuk mengimbangi Glagah Putih yang juga tampak mematung. Sekejap kemudian, tanah terasa bergetar. Tidak ada kerikil yang terangkat karena terbenam lumpur. Semakin kuat hingga mampu mengguncang keseimbangan Ki Sor Dondong. Glagah Putih melesat dalam jarak yang pendek — mungkin kurang dari empat atau lima langkah. Ki Sor Dondong menahan telapak tangan Glagah Putih yang menembus jarak pandangnya. Dua kekuatan bertabrakan. Dua tubuh terseret mundur. Tapi Glagah Putih tidak berhenti. Dia kembali menerjang dengan tenaga yang menakjubkan. Tabrakan terjadi sekali lagi. Mereka terdorong surut sekali lagi.
Tanah kembali bergetar. Glagah Putih menghimpun kekuatan yang diserapnya dari bumi. Kali ini tampak jelas bahwa dia sudah berada di titik puncak! Genangan air yang ada di lubang-lubang bekas tumit tampak beriak dengan getaran kecil yang tampak nyata.
Ki Sor Dondong bergeser mendekat. Menakar jarak dan waktu letupan ilmu. Tiba-tiba dia meluncur ke samping, berubah arah secara tajam lalu menghantamkan segenap kekuatan pada Glagah Putih yang baru saja melepaskan ilmu Sigar Bumi. Itu kecepatan gerak yang sangat hebat! Ki Sor Dondong, mungkin, mencapai tempat Glagah Putih dalam waktu kurang dari seperempat kejapan mata.
Karena saluran ilmu Sigar Bumi tersumbat sebelum sempat memancar sempurna, getaran hebat itu berbalik menghantam pusat kesadaran Glagah Putih sendiri.
Tanah di bawah kaki mereka berdua amblas sedalam mata kaki. Kabut di antara mereka bergetar dalam warna lebih pekat akibat tekanan udara yang mampat.
Gumpalan tenaga cadangan Glagah Putih yang bersumber dari ilmu Sigar Bumi gagal memancar ke depan, lalu menghentak balik dengan daya dorong yang berlipat-lipat.
Ki Sor Dondong menggeram. Dia memang berhasil membendung arus utama ilmu itu, tapi dia turut terhantam hamburan liar tenaga cadangan yang sudah bercampur dengan yang berasal darinya. Dengan suara berdentum yang menggetarkan jantung, tubuh Ki Sor Dondong terlempar seperti daun kering, jatuh bergulingan, melewati genangan air yang muncrat ke udara, dan akhirnya diam di atas tanah berlumpur. Napas Ki Sor Dondong terdengar seperti desah bambu yang nyaris patah. Dia masih mencoba bangkit tapi gagal. Beberapa prajurit segera menariknya ke garis belakang pasukan Glagah Putih di lereng barat.
Pada sisi berseberangan, Glagah Putih memejamkan mata. Babak itu berakhir tanpa sorak. Dia juga terluka, berdiri dengan bantuan dua pasukannya. Berjalan pelan ke garis belakang sambil membawa beban luka di sela-sela hujan.
