Swandaru Geni. Nama yang mulai kerap disebut-sebut di Tanah Perdikan mengambil jurusan ke utara sejak malam pembunuhan Sekar Mirah dan Ki Demang Sangkal Putung dapat digagalkan.
Dia sama sekali tidak berpaling ke belakang sejak berpisah dengan Agung Sedayu.
Pagi belum sepenuhnya membuka dirinya ketika Swandaru bergerak ke utara. Udara dingin masih menggigit, tapi itu tidak dirasakan. Bayang pertemuannya dengan Agung Sedayu justru menjadi lebih tajam dan keras daripada ujung cambuknya.
Menjadi tahanan rumah di kademangan yang dipimpin oleh ayahnya yang masih hidup, itu jelas mengoyak harga dirinya. Bagaimana tanah Perdikan Menoreh memandang lalu menempatkan dirinya? Swandaru tahu bahwa dia bersalah ketika menyertai langkah Raden Atmandaru. Tapi, bukankah itu juga mempunyai awal? Jika seseorang merunut kejadian, maka pertempuran di tepi Kali Progo akan menunjukkan jalan yang terang. Dia dikeroyok dan Agung Sedayu tidak dapat menyelamatkannya.
“Mengapa mereka tidak bertanya? Mengapa Kakang Sedayu tidak memberi pembelaan untuknya?” Swandaru bertanya pada keadaan yang tidak tepat.
Swandaru memilih tidak menoleh, meski itu terasa berat. Kemarahan yang ditahan akan mencari jalan keluar sedangkan dia tidak ingin itu terjadi. Tidak di hadapan Agung Sedayu. Tidak di hadapan bayang Kyai Gringsing yang selalu hadir di antara mereka.
Kepercayaan. Kata itu terasa asing sekarang. Pernah begitu utuh, begitu alami, sampai tak pernah dipertanyakan. Kini justru menjadi beban. Kitab itu hilang di bawah tanggung jawabnya. Siapa yang mencuri? Bagaimana orang itu dapat mengambil dari biliknya? Sepertinya sudah tidak ada yang peduli. Kenyataan masih belum bergeser.
Swandaru pantas untuk marah!
Langkahnya mantap, meski setiap derap seperti menanyakan ulang pilihannya. Apakah dia menjauh atau sekadar menepi dari kebisingan? Menjauh berarti itu tidak lagi melihat wajah orang tuan dan Sekar Mirah, Pandan Wangi dan orang-orang lain yang pernah mengisi kehidupannya.
Namun, setidaknya, untuk saat ini, Swandaru yakin dan percaya dengan keputusannya. swandaru menarik napas panjang. Jalan ke depan masih gelap. Satu hal pasti dan benderang: dia tidak bisa kembali seperti semula. Tidak sebelum kitab itu ditemukan. Tidak sebelum dia berdiri di hadapan mereka semua dengan sebuah bukti yang mampu membuka dan menunjuk tanpa bicara tentang tanggung jawabnya dan kesalahan mereka.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Matahari sudah setinggi bayangan pohon pisang. Sebuah pedukuhan tampak dari kejauhan. Asap dapur mengepul tipis di sela-sela pepohonan, sementara suara sayup lesung yang beradu dengan kokok ayam terdengar menjadi sesuatu yang dirindukannya. Tapi Swandaru tidak melangkah masuk. Dia ingin menepi, mengendapkan diri sebelum terhempas dengan segala yang tidak pasti. Di tepi parit kecil, Swandaru menyandarkan punggung lalu membiarkan angannya terseret bayangan kitab Kyai Gringsing.
Celoteh bocah gembala yang bermain di kubang lumpur persawahan mencapai pendengaran Swandaru. Sejenak dia teringat Pandan Wangi dan Ki Gede Menoreh. Bagaimana keadaan mereka saat ini?
Dari arah galengan, batang padi bergerak pelan. Ada orang berjalan tanpa tergesa, seolah tahu langkahnya tidak perlu disembunyikan. Dia berhenti di seberang parit kecil, cukup dekat.
“Swandaru,” sapa orang itu dengan suara dingin. Bahkan nyaris tidak terdengar seperti sapaan.
Swandaru menoleh. Keningnya berkerut mencoba mengingat wajah yang sepertinya pernah dilihatnya. “Kau?” Swandaru bangkit, mengepalkan tangan, merendahkan kakinya.
“Tahan,” ucap lelaki itu. “Aku datang tidak dengan maksud buruk.”
“Saat ini memang tidak, tapi bagaimana beberapa malam yang lalu?”
“Di Sangkal Putung? Tentu tidak mudah memintamu bersikap seakan tidak pernah terjadi,” kata lelaki itu.” Aku mohon maaf.” Kali ini nadanya merendah.
Swandaru menggeram. Bagaimana mungkin dia dapat menepikan orang yang menerobos rumahnya lalu berusaha membunuh Sekar Mirah? Dia bergeser setapak dengan sorot mata menyala!
Ki Garjita berdesir. Tapi dia sudah menetapkan hati untuk tujuan lebih besar. Tidak ada kata mundur. Tetap bertahan dengan segala akibatnya. Saat itu bukan waktu untuk membuat pertimbangan maupun memikirkan yang lain.
Sejenak kemudian, Swandaru menerkam lawannya dengan loncatan panjang disertai tendangan lurus mengarah dada Ki Garjita. Orang ini melompat pendek tapi tidak membalas serangan. Ki Garjita cenderung untuk menunggu dan bertahan. Namun demikian, Swandaru terus menekan tanpa peduli perasaan dia sedang diremehkan. Buat apa? pikir Swandaru.
Swandaru menekan tanah, lalu tangannya menyambar lurus. Udara di depannya terbelah, mengikuti arah pukulan itu. Ki Garjita memiringkan badan setapak, pukulan Swandaru meleset, menghantam dan meninggalkan getaran permukaan pategalan.
Ki Garjita membalas dengan sapuan rendah pada lutut Swandaru. Gumpalan tanah bergerak naik.
Pertarungan meningkat sangat tajam, setelahnya. Sepasang tangan berayun, menimbulkan kebisingan pada masing-masing orang. Ki Garjita menyerang dalam jarakyang sangat rapat. Siku meleda, Swandaru menahan dengan lengan. Benturan tenaga dalam pun tak terhindarkan. Keduanya terdorong surut. Pakaian berkibar singkat seperti disentak dari samping.
Jarak semakin sempit.
Mereka berbalas tendangan, memutar, menyapu lambung. Kadang-kadang tunit turun dari atas mengarah pada pusat kepala lawan. Sekali-kali mereka berputar mengikuti aliran gerakan yang tidak terkendali.
Di pinggir pategalan, bocah-bocah penggembala berdiri terpaku. Awalnya mereka mengira itu sekadar orang dewasa bertengkar. Dua bayangan bergerak terlalu cepat untuk ukuran mata mereka.
Salah satu bocah melangkah maju tanpa sadar. Setengah tapak saja, seolah ingin memastikan apa yang dilihatnya nyata.
“Jangan,” bisik yang lain, menarik lengannya.
Mata mereka berkunang-kunang. Pandangan tidak sempat menempel pada satu bentuk. Tubuh Swandaru dan Ki Garjita berpindah sebelum perhatian mereka selesai. Kadang terlihat dua, kadang seperti satu gumpal gerak yang terpecah lagi.

Seorang bocah mengucek mata. Yang lain memejam sesaat, berharap perkelahian yang memusingkan itu segera berakhir. Tapi mereka harus menjauhkan diri secepat mungkin ketika kerbau-kerbau mulai gelisah.
Perkelahian meningkat makin sengit dan membahayakan!
Cambuk di tangan Swandaru menghentak dahsyat tanpa aba-aba. Ujungnya meliuk rendah, lalu naik, udara di sekitarnya mengerut, tertarik mengikuti lintasan senjata itu.
Ki Garjita tidak mundur. Selendang telah terurai lepas dan bergerak lebih dulu, berputar kecil, rapat, seperti menyiapkan lingkaran sendiri. Saat cambuk mendekat, selendang menyambutnya, membelit setengah, lalu melepas lagi sebelum tekanan penuh tiba.
Tidak ada benturan kekuatan. Mereka sepertinya sedang saling menjajagi karena bentuk senjata yang mirip. Walau demikian, mereka dapat merasakan tekanan yang menghimpit rongga dada. Getaran pendek yang dilepas dari ujung senjata menghantam ke dalam, memaksa napas tertahan sekejap. Tanah di bawah kaki mereka bergetar halus, hamburan tenaga cadangan begitu terasa merambat ke luar.
Swandaru menarik cambuk, memutar arah. Ujungnya menyambar dari samping, menukik cepat. Ki Garjita memutar selendang, membuat gelombang lebih besar. Kain itu melingkar, memapas serangan Swandaru yang sangat kuat. Tiba-tiba ujung selendang menghantam udara di dekat kepala Swandaru.
Swandaru menarik kepala secepat kilat. Lolos serangan maut tapi getarannya memukul gendang telinga.
Dunia menyempit sesaat. Dengung pendek mengguncang keseimbangan, membuat pandangan goyah kemudian secepatnya dia menjauh dengan lompatan panjang.
