Ada siang, ada malam. Ada tayub, ada perempuan, dan Swandaru tidak pernah pura-pura kebal.
Pedukuhan kecil itu tiba-tiba terasa begitu hidup. Di setiap lorong, beranda rumah, gardu jaga dan banyak tempat semuanya berdenyut. Nyala obor dan oncor menyala rata menerangi jalan-jalan yang berukuran lumayan besar. Wajah-wajah bertemu dengan senyum dan sinar mata gembira.
Kendang dipukul tidak rapi, justru itu yang membuatnya hidup. Gendhing mengalir pendek seperti napas orang desa yang bekerja seharian lalu dilepas malam hari. Perempuan-perempuan bergerak mengalir, mengikuti nada dengan perasaan yang seakan-akan tanpa beban. Para lelaki bergerak di sekeliling lingkaran dengan tawa dan canda. Mereka tidak sedang menggoda dunia, hanya merayakan bahwa panen akan datang.
Swandaru bangkit ketika selendang disodorkan. Tidak tergesa, tidak sungkan. Dia tahu yang harus dilakukan, seolah irama itu sudah lama menunggu di bawah kulit. Langkahnya tidak sehalus pemuda, tapi mantap. Ada pengalaman di sana. Ada luka yang tidak disembunyikan.
Seorang perempuan menatap Swandaru sambil tersenyum kecil. Gayung bersambut, selanjutnya hanya gerak yang saling mengisi, putaran yang membuat malam terasa wajar.
Swandaru merasa kembali utuh. Bukan sebagai murid perguruan yang disegani ketika Demak masih berdiri, bukan sebagai murid seorang guru yang dihormati, tapi sebagai laki-laki yang masih bisa tertawa pendek ketika langkahnya sedikit terlambat mengikuti kendang. Dadanya hangat. Bukan oleh minuman, bukan oleh pujian, tapi oleh rasa diterima tanpa harus memperkenalkan diri..
Ki Garjita duduk di pinggir, punggung bersandar pada tiang. Matanya mengikuti sebentar, lalu berpaling. Dia mengerti orang seperti Swandaru tidak bisa dipaksa hidup lurus seperti garis. DIa mempunyai kemauan dan kemampuan. Sekali lagi, hanya butuh sentuhan yang membangkitkan kembali harga diri dan kehormatan.
Malam itu, Swandaru tidur dengan tubuh lelah dan batin yang tidak memberontak. Tayub dan perempuan tidak menyelesaikan persoalan hidupnya. Senyum ramah penduduk desa tidak mengusir gelisahnya, tapi memberinya satu hal yang penting: tetap berharap.
Di Kediaman Ki Gede Menoreh
Sejak pertempuran Gunung Kendil, kabut tampak masih setia menggantung rendah di Tanah Perdikan Menoreh. Meski tidak lagi menutup jalan, tapi cukup untuk membuat kehidupan sedikit lebih lapang dibandingkan beberapa waktu sebelum pecah pertempuran. Di pringgitan, di dalam kediaman Ki Gede, beberapa orang tampak duduk melingkar, sebagian berhadapan dengan suara terukur dan bernada seperti biasanya: berdenyut penuh hormat dan kejujuran.
Ki Gede duduk dengan wibawa seorang kepala wilayah yang bersahaja. Pandangannya berpindah dari Agung Sedayu ke Pandan Wangi. Dua orang itulah yang terakhir berada di wilayah yang sama dengan Swandaru. Dan dua orang itulah yang kini memikul pertanyaan yang tidak diucapkan orang banyak secara langsung.
“Aku tidak melihat Swandaru sejak dia meninggalkan Tanah Perdikan bersama Angger Sedayu,” ujar Ki Gede pelan, “Aku hanya mendengar dari kabar yang dibincangkan orang-orang.”
Ki Gede tidak sedang membenarkan sesuatu atau menyalahkan.
Agung Sedayu menunduk sejenak sebelum menjawab. “Bila ada yang harus bertanggung jawab, saya adalah orangnya, baik sebagai kakak seperguruan maupun saudara ipar. Keterlibatannya dalam gerakan Raden Atmandaru adalah kegagalan saya yang tidak lekas mencarinya setelah benturan di tepi Kali Progo,” katanya. “Bahkan saya juga tidak berada di dekatnya saat dia berada di Sangkal Putung dalam waktu yang berlainan.”
Sejenak ruangan itu didatangi keheningan. Beberapa orang menarik napas panjang tanpa sadar seperti baru menyadari bahwa berat beban yang dipikul Agung Sedayu. Pahit. Ada yang menunduk lebih dalam, ada yang mengatupkan bibir rapat menahan kata, dan ada pula yang saling bertukar pandang singkat lalu cepat mengalihkan mata. Mereka sadar bahwa beban Agung Sedayu adalah beban yang tak bisa diserahkan pada orang lain, karena di dalamnya ada hubungan yang tak bisa diputus hanya dengan alasan jarak atau waktu. Tak ada yang menyela, membenarkan atau menyangkal.
Keheningan itu menyeret pengertian tumbuh dari kedalaman yang tidak terjangkau.
Ki Gede mengangguk pelan sambil bernapas berat. Dia paham keadaan Agung Sedayu dan berat beban yang menetap di dalam hatinya. “Swandaru,” gumam Ki Gede seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Menjadi pembicaraan buruk yang tentu tidak akan disukai olehnya.”
Pandan Wangi menyambung lirih, “Orang-orang membicarakannya juga ada alasan, Ayah. Mungkin karena cemas atau sebab yang kita tidak tahu karena kita tidak benar-benar berada di tengah mereka sehari-hari.”
Agung Sedayu mengangkat wajah. “Pada malam seusai Watu Sumping mereda, saya bertemu dengannya.” Setelah menutup kalimat, Agung Sedayu menatap wajah setiap orang lalu kembali menunduk.
Ki Jayaraga menghela napas pelan lalu diam. Glagah Putih mengalihkan pandangannya, seolah paham bahwa kalimat itu bukan untuk ditanya. Kinasih menunduk, jemarinya terjalin. Mereka tahu pernyataan itu bukan penjelasan, tapi permintaan untuk tidak dipaksa terbuka.
Wayah sirep bocah tiba pelan, seperti tirai tipis yang ditarik tanpa suara. Lampu-lampu minyak mulai dikecilkan sumbunya. Di pendapa, para tamu Ki Gede satu per satu berdiri, menangkupkan tangan, menyampaikan pamit dengan tutur singkat yang dijaga sopan. Tak ada yang ingin menambah bunyi di malam yang sudah rapuh oleh sisa-sisa pembicaraan.
Ki Jayaraga bangkit dengan gerakan tenang yang sangat terukur. Setelah mengangguk hormat kepada Ki Gede dan Pandan Wangi, dia melangkah turun menuju halaman. Langkah kakinya hampir tak terdengar saat mengarah pada jurusan rumah Agung Sedayu.
Kinasih bergeser pelan. Dengan kepala tetap merunduk, dia menuju gandok tengen. Bayangannya memanjang di lantai sebelum menghilang di balik pintu kayu yang rapat.
Glagah Putih pun tak berlama-lama. Dengan pandangan sekilas yang penuh arti kepada kakaknya, dia berpamitan lalu melangkah menembus kegelapan malam menuju rumahnya sendiri.
Kini, pringgitan itu terasa jauh lebih luas dari sebelumnya. Di bawah temaram lampu minyak, Agung Sedayu masih bergeming.
Pandan Wangi tidak beranjak. Dia masih duduk di tempatnya dengan tatap mata tajam memandang laki-laki di depannya tapi ada kegelisahan di dalamnya. Agung Sedayu bukan sekadar senapati atau kawan lama, maka setiap keputusan maupun tindakannya sudah tentu meninggalkan bekas yang sangat dalam.
“Kakang,” suara Pandan Wangi memecah kesunyian. “Pertemuan di malam seusai Watu Sumping itu… mengapa Kakang tidak segera mengatakan pada kami? Apakah ada alasan yang begitu kuat atau sangat penting sehingga penjelasan terasa seperti beban yang sangat berat? Yah, saya tahu keadaan di Menoreh memang belum memberikan izin. Raden Atmandaru masih menjadi ancaman yang sangat kuat.”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Dia menarik napas panjang. Keinginan untuk mengatakan sejujurnya cukup kuat mendesak tapi, apakah cukup aman untuk tidak menimbulkan persoalan baru di Tanah Perdikan? Murid pertama Kyai Gringsing itu perlahan mengangkat wajah dengan pandang mata tertuju pada Ki Gede Menoreh. Tatapan itu tenang, datar, tapi bermakna cukup dalam.
Sebuah tanda bahwa jawaban memang ada, tapi tidak untuk malam itu.
Ki Gede, menangkap pesan itu. Setelah menghela napas, dia mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya menerima penundaan itu. Ki Gede cukup bijaksana dengan tidak memaksakan Agung Sedayu menjelaskannya pada malam itu.
Ki Gede akhirnya berkata, “Biarkan dia tidak disebut lebih jauh. Menoreh sudah cukup letih oleh pergunjingan. Jika Swandaru memang memilih menjauh, maka jarak itulah yang harus dihormati. Tanah Perdikan ini berdiri bukan karena semua orang selalu hadir. Kita berada di sini juga bukan karena saling memaksa.”
Untuk sesaat, keadaan menjadi hening.
Agung Sedayu merenung beberapa lama. Ucapan Ki Gede seolah menjadi jalan baginya untuk menjelaskan yang terjadi malam itu di Sangkal Putung. Bukan untuk membela diri tapi dia adalah orang terakhir yang bertemu dengan Swandaru. Dia adalah kakak seperguruan—yang semestinya paling paham watak dan batas Swandaru adik seperguruannya itu..
Akhirnya Agung Sedayu yang membuka. Suaranya rendah, tidak mencari perhatian.
“Sebagai kakak seperguruan,” katanya, “saya tidak diberi tahu tujuannya. Yang saya tahu adalah sebatas arah yang ditempuhnya pada malam itu. Utara.”
Pandan Wangi membenamkan wajah. Beberapa dugaan muncul dalam pikirannya tapi dia cukup tenang untuk percakapan yang tidak biasa itu. Dia adalah istri Swandaru. Segala akibat akan dibicarakan antara dirinya dengan ayahnya, Ki Gede Menoreh.
Agung Sedayu berkata lagi, “Ki Gede, Wangi, malam itu, Swandaru mengucapkan kata terakhir, ’Mungkin Kakang tidak dapat bertemu denganku lagi. Entahlah, aku tidak dapat memberi kepastian waktu seandainya ada perjumpaan lagi. Yang pasti, malam ini tidak menjadi akhir dari segalanya’”.
Ki Gede menimbang kalimat yang akan diucapkannya dan sepertinya memang sedikit membutuhkan waktu. “Swandaru telah membuat keputusan. Kita hanya dapat menghormati lalu berharap yang terbaik sudah menunggu dirinya.”
Agung Sedayu kemudian bangkit berdiri lalu memberikan penghormatan kepada Ki Gede dan Pandan Wangi. ”Saya mohon diri.”
Pandan Wangi mengangguk pelan.
Sambil memandangi punggung Agung Sedayu yang menyisir jalan setapak, Ki Gede berucap,”Aku hanya dapat mengulang, jika dia pergi, itu adalah keputusan dari pemikiran panjang. Itu bukan akibat tekanan sesaat.”
Pandan Wangi menarik napas panjang. “Sebagai istri,” ucapnya pelan, “saya tahu satu hal.” Dia memandang pada kegelapan. “Kakang Swandaru meninggalkan keadaan. Itu keputusan yang tidak bisa saya larang. Kami berada di wilayah yang sama tapi batasan terlalu kuat untuk dilampaui.”
Ki Gede mengangguk pelan. “Berarti,” katanya, “kita semua berada di luar keputusan itu.” Dari tempatnya, pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu menatap Agung Sedayu yang perlahan menyatu dengan kegelapan malam.
Malam itu, Tanah Perdikan Menoreh kembali sunyi. Tapi para peronda dan orang-orang yang mendapatkan tugas jaga tetap bergerak seiring denyut yang terasa lebih bergemuruh dari sebelumnya.
