Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 41 – Ketika Agung Sedayu Dianggap Mampu Makar

Jalan setapak di tepi Kali Progo cukup baik untuk dilintas pada sore itu. Permukaan jalan tidak berlumpur tapi cukup untuk meniadakan debu. Senja membayang dengan malu-malu ketika cahaya matahari yang tersisa masih memantul di permukaan sungai yang lebar dan berarus lambat.

Saat itu tidak begitu banyak orang yang menyeberang. Hanya seorang tukang satang dan empat lelaki dewasa bersama seorang perempuan berusia senja. Tukang satang itu mengangguk singkat ketika Agung Sedayu mendekat sambil menuntun kuda. Mungkin karena suasana sudah masuk wayah surup maka tidak ada yang bertukar kata.

Rakit bergerak perlahan. Air beriak kecil di sisi-sisinya dengan bunyi gemericik halus yang cukup menggoda. Agung Sedayu berdiri menghadap searah dengan aliran Kali Progo dengan tangannya terlipat di belakang punggung. Senapati Mataram itu hanya memperhatikan arus yang membawa ranting dan daun gugur lewat begitu saja.

Ketika rakit menyentuh tepian seberang, matahari sudah hampir hilang, langit pun sudah berubah warna. Agung Sedayu melangkah turun, menjejak tanah tanpa tanda keprajuritan atau sesuatu yang menampilkan seorang pedagang. Tidak, Agung Sedayu hanya lelaki yang berpergian tanpa maksud untuk dikenali atau sengaja mengenalkan diri.

Kudanya melaju pelan hingga mencapai sebuah kedai saat lampu-lampu minyak mulai dinyalakan satu per satu di rumah-rumah penduduk. Bau kopi, rebusan singkong, dan asap kayu bakar bercampur di udara. Suasana tidak begitu ramai—hanya beberapa lelaki saja yang berada di dalam kedai.

Agung Sedayu masuk, memilih tempat duduk di dekat tiang kayu, punggungnya menghadap dinding. Dari sana, ia dapat melihat pintu, meja-meja lain, dan lalu lintas orang yang lewat di depan. Dia memesan minuman dengan suara biasa. Wedang sereh tiba di meja, di sekatnya ada tiga potong pala pendhem. Dia menyesap minuman pelan, lalu meraih sepotong ubi, menikmatinya saat senja benar-benar tenggelam.

Lampu minyak di kedai menyala terang

Percakapan semakin lama seakan menemukan titik kumpul tersendiri. Sementara orang-orang datang, duduk sejenak, ikut bicara seperlunya tanpa beban, lalu pergi.

“Aku dengar kelompok Raden Atmandaru sudah ditumpas habis di Gunung Kendil. Katanya tidak ada orang yang melihat perkelahian Agung Sedayu yang kemudian Raden Atmandaru mati terbunuh,” ucap seorang lelaki yang duduk di samping agak berdekatan dengan Agung Sedayu. “Kalau sudah begini, jika dipikir-pikir, siapa lagi yang paling siap bikin makar kalau bukan Agung Sedayu?”

Agung Sedayu tidak menoleh ketika namanya disebut seseorang. Punggung tetap bersandar biasa pada dinding dengan tangan tampak tenang di atas meja. Kedudukan itu bukan kebiasaan prajurit, tapi benar-benar cermin orang yang sedang melakukan perjalanan jauh tanpa terburu-buru.

Beberapa kepala langsung menoleh pada laki-laki yang di dekat Sedayu.

Lalu seorang laki-laki yang di atas mejanya ada sebuah caping berkata, “Ada benarnya juga.” Dia berhenti sejenak lalu memandang sekitarnya seperti sedang menunggu tanggapan dari yang lain.

“Agung Sedayu itu kepala pasukan khusus dan juga orang dekat Ki Patih. Dia tinggal menunggu restu Ki Patih lalu bergerak jika dia mau,” kata laki-laki di dekat caping. “Siapa yang berani menyentuh orang kepercayaan Ki Patih? Mungkin ada beberapa orang, tapi Sedayu punya pasukan yang sangat kuat. Kata orang, Sedayu tidak dibantu prajurit Mataram sama sekali waktu menumpas gerombolan itu di Gunung Kendil.”

Seorang kusir kemudian mengangguk-angguk. “Itu masuk akal. Orang Kepatihan, punya pasukan dan sangat pintar. Agung Sedayu punya segalanya seandainya dia ingin melakukan pemberontakan.”

“Jangan sembarangan bicara,” ujar pemilik kedai tapi suaranya tidak bernada melarang. “Kalau aku hanya sekali mendengar orang yang pernah tinggal sementara di Tanah Perdikan. Katanya, kalau Sedayu mau, dia bisa bikin kotaraja kacau sebelum penjaga istana sadar.”

“Ya, apalagi dia sangat dekat dengan Ki Gede Menoreh. Jadi, bukan tidak mungkin kalau Ki Gede akhirnya bersedia membantu habis-habisan,” timpal seorang pedagang keliling. “Dan orang-orangnya setia padanya melebihi kesetiaan pada Keraton.”

“Itulah,” sahut kusir tadi lalu menarik napas panjang, menghembuskan perlahan. “Dulu, orang bilang Sedayu itu benteng terbaik Mataram. Sekarang, orang mulai bertanya: apakah benteng itu menyimpan ular yang lapar?”

Seorang pengunjung berdiri, membayar lalu pergi. Orang lain masuk, duduk, ikut menambahkan satu kalimat pendek yang membuat suasana terjaga. Meski demikian, tidak ada yang sadar bahwa orang yang dibicarakan—Agung Sedayu—duduk satu atap dengan mereka.

Ketika minumannya habis, Agung Sedayu tidak segera bangkit. Dia mengatur napas. Serba sedikit, percakapan itu cukup menarik perhatiannya.

Pemilik kedai menaruh dandang dengan suara keras. “Kalian ini seperti berharap dia berkhianat.”

“Bukan berharap sebenarnya,” sahut si kusir. “Takut.”

Lelaki yang duduk di dekat bangku Sedayu berkata agak lantang, “Kalau orang sekuat dia ingin melakukan makar, apa yang bisa kita lakukan?”

Tak ada yang menjawab.

 

Malam di Dangau

Agung Sedayu tidak menuju Kepatihan malam itu tapi memilih dangau kecil di tengah sawah, bangunan bambu sederhana yang biasa dipakai petani berjaga dari serangan burung dan belalang. Tidak berdinding tapi mempunyai atap yang rendah. Yah, meski dia tahu Kepatihan selalu terbuka untuknya, tapi malam itu persawahan adalah tempat yang tepat. Tidak akan tudingan buruk yang dapat diarahkan ke Ki Patih Mandaraka, setidaknya begitu.

Di dangau itu, angin malam bebas keluar masuk. Bau lumpur sawah bercampur embun naik perlahan. Sesekali terdengar suara katak, serangga malam, dan desir padi yang bergesekan halus. Agung Sedayu duduk bersandar pada tiang bambu dengan sikap seperti masih berada di rumah sendiri.

Tidurnya cukup untuk mengistirahatkan tubuh tanpa membuatnya kehilangan kesadaran.

Menjelang pagi, kabut tipis menggantung rendah di atas sawah. Langit belum terang benar ketika Agung Sedayu bangkit. Dia membasuh wajah dengan air dari kendi kecil yang diletakkan di sudut dangau. Gerakannya tenang dan teratur, tanpa sisa malas. Pakaian dibenahi.

Sejenak kemudian, dia sudah berjalan meniti pematang, mengarahkan kaki pada kuda yang ditinggalkan semalam. Seekor kuda sudah menunggu di bawah pohon sengon dengan sikap tenang seperti tahu bahwa perjalanan pagi ini tidak berlomba dengan waktu.

Agung Sedayu naik ke pelana dan bergerak menuju kotaraja.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 29 – Duka Memayungi Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 20 – Agung Sedayu dan Raden Atmandaru: Saling Mengintai di Dalam Kabut

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 12 – Kabut dan Desis Kali Tinalah

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.