Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 67 – Persiapan Agung Sedayu

Agung Sedayu tidak segera membuka suara. Untuk beberapa saat, dia justru menundukkan kepala, menimbang bukan kata-kata. Meski itu adalah kabar gembira tapi Agung Sedayu tetap berusaha menahan diri agar tidak ada ledakan dalam hatinya.

Dia menarik napas pelan, lalu duduknya bergeser maju setapak.

“Kabar dari kotaraja,” katanya dengan suara sedikit bergetar.

Ki Gede Menoreh sedikit menggeser duduknya. Pandan Wangi dan Kinasih nyaris tidak bergerak dengan sorot mata lekat pada Agung Sedayu.

“Saya dan Ki Lurah Sanggabaya menerima anugerah kenaikan pangkat dari Sinuhun. Selanjutnya kami diminta datang pada wisuda beberapa hari mendatang.”

Agung Sedayu berhenti sejenak.

Baik Ki Gede, Pandan Wangi serta Kinasih sama sekali tidak bersorak. Ucapan mereka pun tidak berlebihan. Hanya mengatakan kalimat bernada harapan dan permohonan perlindungan pada Yang Maha Sempurna untuk Agung Sedayu.

Keheningan kemudian merambat pelan.

Sepertinya orang-orang di Menoreh sudah terlalu sering melihat kehormatan datang bersama beban, kenaikan datang setelah pengorbanan meski tak selalu pengorbanan mendapat hasil sesuai harapan.

Ki Gede Menoreh mengangguk perlahan.

Pandan Wangi menatap Agung Sedayu lebih lama dari sebelumnya. “Aku tahu Kakang tidak pernah merindukan atau berharap pada hal ini,” katanya pelan.

Kinasih sedikit mengangkat wajah, meilhat gurunya bergantian dengan Agung Sedayu.  Ada gerak halus pada napasnya, tapi dia memilih diam.

Lantas Agung Sedayu melanjutkan, “Sepekan lebih sehari lagi, kami diwajibkan hadir di Keraton untuk mengikuti wisuda dan pengesahan. Tapi saya akan ke Sangkal Putung terlebih dulu, kemudian menuju kotaraja.”

Pandan Wangi mengangguk, katanya, “Saya akan menyertai Kakang. Ada satu keperluan untuk bertemu dengan Sekar Mirah.”

Dia berpaling pada Kinasih, “Marilah, Kinasih turut bersama kami semua.”

Nyi Banyak Patra menepuk lembut lengan Kinasih seolah memberi persetujuan.

Kinasih mengangguk dengan mata berbinar-binar.

Pandan Wangi meminta waktu sejenak, berdiri lalu masuk ke dalam biliknya. Tidak lama kemudian, dia keluar membawa tongkat pendek yang terbungkus kain.

Pandan Wangi membuka balutan itu perlahan. Tongkat yang nyaris serupa dengan tongkat milik Sekar Mirah yang berasal dari Perguruan Kedung Jati. Tongkat yang sama-sama tidak mencolok, tetapi menyimpan wibawa yang tidak bisa dipalsukan.

“Tongkat ini sebelumnya milik Ki Jambuwok,” katanya pelan. “Dengan cara yang aneh, Ki Jambuwok meminta Ki Lurah Sora Sareh menyerakahnnya pada Sekar Mirah. Dan inilah dia sekarang.”

Suasana mengental.

Agung Sedayu mengerutkan kening. Yah, benar, dia memang menerima laporan dari Ki Lurah Sora Sareh perihal tongkat Jambuwok. Di balik itu semua, apakah ada maksud atau tujuan yang tidak tersampaikan oleh Ki Jambuwok pada Ki Lurah Sora Sareh? Sejenak dia memandang Nyi Banyak Patra sambil berharap perempuan terhormat itu menyimpan pengetahuan mengenai tongkat itu. Wajah Nyi Banyak Patra tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Tapi ketika dia memejamkan mata, Agung Sedayu paham arti gerakan kecil itu.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Ki Gede yang sejak tadi lebih banyak diam, tiba-tiba mengangkat tangan sedikit. Gerakan kecil, tapi cukup untuk menahan alur yang mulai mengalir terlalu jauh.

“Sebentar,” katanya.

Semua pandangan beralih padanya. Nada suaranya tidak keras, tapi ada bobot yang membuat orang lain tanpa sadar menahan napas.

“Bagaimana dengan Ki Garu Wesi?” lanjutnya, matanya tertuju langsung pada Agung Sedayu. “Jika Angger dan Nyi Banyak Patra meninggalkan barak sekarang ini, apakah tidak menyulitkan prajurit yang berjaga?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Dia menatap Ki Gede sejenak, lalu menggeser pandangannya ke arah halaman. “Saya percaya,” katanya pelan, “mereka tidak ke mana-mana.”

Namun sebelum Ki Gede melanjutkan perkataan, Nyi Banyak Patra menghela napas panjang.

“Biarlah,” katanya lirih. Perempuan itu duduk dengan tenang, tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan, seolah segala yang sedang bergerak di luar sana hanyalah bagian dari sesuatu yang memang harus terjadi.

“Yang pasti terjadi,” lanjutnya, “selalu memberi tanda… sebelum memulai.”

Ki Gede mengangguk kemudian mempersilakan tamu-tamunya segera menikmati hidangan malam. Pertemuan lantas berlangsung dengan hangar dalam suasan kekeluargaan hingga tiba waktu Agung Sedayu dan Nyi Banyak Patra izin kembali ke barak pasukan khusus.

Tiga Pendamping Muda Agung Sedayu

Keesokan hari, saat matahari hampir menghilangkan bayangan, Sukra dan Sayoga meninggalkan rumah Agung Sedayu menuju ke Sangkal Putung. Mereka membawa berita pelantikan Agung Sedayu untuk disampaikan pada Sekar Mirah.

Dalam waktu itu, setelah hampir berpekan-pekan lamanya, kegusaran dalam hati Sukra lambat laun mereda. Sayoga dan Glagah Putih bergantian memberi penjelasan bahwa kadang-kadang siasat perang harus ditempuh meski terpaksa mengabaikan nilai maupun adat.

“Kita sebaiknya dapat mengerti perasaan Ki Rangga, Sukra,” ucap Glagah Putih sehari setelah kedatangan Ki Seruni di rumah Agung Sedayu. “Tidak mudah bagi beliau untuk memilah kemudian memilih lawan maupun kawan di antara orang-orang yang berada di sekitar kita.”

Glagah Putih menghentikan kalimat, memungut sehelai daun kering lalu meremasnya. Dia melanjutkan kemudian, “Ki Suta Jaladri, kita ternyata hidup menjadi tetangga dan berhubungan baik dengannya bertahun-tahun. Tapi, siapa yang mengira ternyata orang itu memimpin serangan ke rumah Ki Gede?“

Sukra tidak bersuara tapi gerak tangannya yang mencabuti rumput yang tumbuh liar di dekat kakinya seakan menjadi luapan perasaan yang campur aduk.

“Aku kira sudah cukup bagiku untuk menerangkan banyak hal padamu,” lanjut Glagah Putih. “Aku tidak pernah menganggapmu anak kecil lagi yang selalu butuh tangan lain untuk berjalan. Itu sudah bukan waktunya karena engkau sendiri sudah menunjukkan kedewasaan dan keberanian yang hanya dimiliki lelaki dewasa. Aku hanya berharap kau dapat kembali menjadi Sukra yang tidak pernah marah atau jengkel pada Ki Rangga.”

Alis Sukra pun terangkat, katanya tajam, “Apakah aku pernah memusuhi atau membenci Ki Lurah? Berkatalah yang benar.”

Dia bersungut-sungut.

Glagah Putih dan Sayoga pun tersenyum. Mereka mengerti arti di balik ucapan itu lalu menganggapnya selesai. Yah, Sukra tidak perlu lagi diberi penjelasan yang panjang. Itu tidak perlu dan cukup membuang waktu, pikir mereka berdua.

Maka pada keberangkatan mereka berdua pada siang itu, kuda mereka pun melaju meninggalkan pedukuhan induk Tanah Perdikan seakan tanpa beban di punggung. Tidak banyak yang mereka cakapkan sepanjang perjalanan hingga mencapai sisi barat Kali Progo.

Seperti pesan Agung Sedayu, Sayoga dan Sukra akan bermalam di rumah Ki Demang Sangkal Putung hingga hari kedatangan Agung Sedayu di sana.

Penyerahan Sementara Kendali Pasukan Khusus

Barak di kaki perbukitan itu berjalan seperti biasa.

Agung Sedayu merasa perlu menata ulang penjagaan, perondaan dan perihal lain demi ketertiban hidup dibarak itu sendiri. Tetap memasukkan Ki Wedoro Anom sebagai orang yang sulit diawasi, Agung Sedayu meminta Ki Demang Brumbung bersedia menggantikan kedudukan tertinggi selama kepergiannya.

“Saya tidak pernah mempunyai pilihan yang cukup baik dan pantas selama berdekatan dengan Ki Rangga,” kata Ki Demang Brumbung lalu tertawa kecil. Dia kemudian mengatakan bahwa itu adalah kenyataan sejak dirinya mengenal dan bertugas bersama Agung Sedayu.

Orang-orang di sekitarnya yang diundang Agung Sedayu dalam pembicaraan kecil pun turut mengembangkan senyum.

“Mungkin tidak ada perubahan yang berarti. Saya pikir  pembagian tetap berjalan seperti pengaturan Ki Rangga sebelumnya,” kata Ki Demang Brumbung lebih lanjut dengan nada sungguh-sungguh.

Tidak ada penekanan berlebihan karena itu memang bagian yang seharusnya dilakukan ketika pucuk pimpinan tidak berada di tempat.

Ki Lurah Sora Sareh kemudian mendapatkan tugas tambahan dengan wilayah ronda yang diperluas. Jika sebelumnya sekitar Gunung Kendil cukup jarang diawasi, maka sejak hari itu perondaan akan dilakukan lebih rapat.

Satu permintaan khusus dari Agung Sedayu pada Ki Lurah Sora Sareh adalah menemui Ki Gede perihal keadaan di Dusun Benda. Melalui uraian singkat dan padat di depan lurahnya itu, Agung Sedayu menambahkan keterangan yang dilaporkan Glagah Putih padanya.

Penataan tugas berlanjut.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 57 – Kepercayaan Tinggi Pangeran Purbaya untuk Pelayan Dalam

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 1 – Hari Ketujuh Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 7 – Agung Sedayu Melipat Senja

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.