0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 86 – Orang-orang Mataram Dipaksa Mundur!

Dironda 36 kali

Wedaran sebelumnya: Kabar mengenai kedatangan sekelompok orang di barak akhirnya sampai ke kediaman Ki Gede Menoreh. Tanpa mengucapkan perintah, Ki Gede memberi kesempatan kepada Pandan Wangi untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan. Pandan Wangi pun segera mengirim Sayoga bersama beberapa pengawal menuju barak.

Sementara itu Sukra keluar dari kediaman Ki Gede. Beberapa pengawal segera dipanggil dan ditempatkan pada bagian-bagian yang dianggap perlu. Penjagaan diperluas hingga jalan utama yang mengarah ke Kali Progo.

Sayoga membawa beberapa orang menyusuri jalan menuju barak. Kinasih berada tidak jauh darinya. Mereka bergerak cepat tanpa banyak berbicara hingga suara benturan senjata mulai terdengar sebelum bangunan barak terlihat seluruhnya.

Ketika mereka mencapai halaman sebelah timur, perkelahian telah berlangsung.

Dalam waktu itu, pengikut Ki Winih Jambe telah lebur dalam pertempuran menghadapi pasukan khusus Mataram dan sebagian prajurit Jati Anom. Benturan tidak hanya terjadi di dekat regol. Sebagian telah bergeser memasuki halaman sehingga suara senjata, seruan pendek, serta langkah kaki yang berlarian terdengar bercampur.

Sayoga memperlambat langkah lalu memberi tanda pada barisan pengawal Menoeh agar berhenti.  Tidak seorang pun dari mereka ini yang memasuki gelanggang.

Kinasih memandang keadaan di hadapannya dengan saksama. Pandangannya bergerak dari satu bagian halaman ke bagian lain seperti sedang membuat penilaian atau semacam pertimbangan, lalu memandang Sayoga tanpa kata-kata.

Pada waktu yang hampir bersamaan, di tempat lain yang cukup jauh dari halaman barak, tiga orang berada di balik rimbunnya pepohonan.

Ki Astaman, Ki Warujayeng, dan Jaka Awar-awar telah berada di sana sejak beberapa waktu sebelumnya.

Dari tempat mereka, tidak seluruh bagian halaman dapat terlihat dengan jelas. Batang-batang pohon dan dedaunan beberapa kali menutup pandangan. Namun kedatangan sekelompok pengawal dari arah pedukuhan induk cepat menarik perhatian mereka.

Jaka Awar-awar memicingkan mata. Beberapa sosok hanya terlihat sesaat ketika melewati bagian yang tidak terlindung dedaunan, kemudian kembali samar.

“Anak itu,” desisnya.

Ki Warujayeng menoleh. “Siapa?”

“Dia,” lirh Jaka Awar-awar menjawab lalu maju beberapa langkah untuk memperoleh pandangan yang lebih terbuka. Sosok yang dilihatnya kembali muncul di sela dedaunan. Hanya sebentar, tetapi agaknya itu sudah cukup baginya.

Tanpa mengatakan sesuatu lagi, Jaka Awar-awar keluar dari tempat mereka berlindung.

“Hei! Tahan!” panggil Ki Warujayeng tapi Ki Astaman cepat menggamit Ki Warujayeng yang kemudian mengurungkan niat mengejar Jaka Awar-awar.

Anak muda itu berderap cepat menerobos riuh orang bertempur di gelanggang yang sudah penuh debu dan keringat.

Ki Astaman hanya meilhat Jaka Awar-awar semakin jauh, bergerak menuju barak, melintasi bagian terbuka lalu menerobos ke tengah orang-orang yang sedang bertempur.

Beberapa orang berpaling ketika tubuhnya melintas begitu dekat. Seorang prajurit bahkan sempat mengubah kedudukan karena mengira Jaka Awar-awar akan menyerangnya. Tetapi anak muda itu tidak berhenti.

Tujuannya berada di bagian lain halaman.

Jaka Awar-awar baru memperlambat langkah setelah berada tidak terlalu jauh dari Ki Sanggabaya. Pandangannya justru melampaui rangga Mataram itu, menuju orang-orang Menoreh yang baru tiba.

“Anak muda!” teriaknya. “Kita tuntaskan yang belum selesai.”

Beberapa kepala berpaling.

Sayoga sendiri tampak tertegun sesaat. Dia belum segera bergerak dari tempatnya.

Kinasih mengerutkan kening. “Bukankah dia itu yang meminta izin Ki Tumenggung untuk merawat mayat pemimpinnya?” dia bertanya meyakinkan di dalam hati. Kinasih agak mengenali orang yang baru saja menerobos perkelahian itu.

Beberapa waktu sebelumnya, orang yang sama pernah datang menemui Agung Sedayu tidak lama setelah Ki Kebo Surongudan tumbang. Ketika itu Kinasih berada tidak jauh dari mereka dan mendengar Jaka Awar-awar meminta izin membawa jenazah pemimpin perguruannya.

Kini orang itu berdiri di tengah keributan halaman barak dan memanggil Sayoga.

“Dia mencarimu,” kata Kinasih pada Sayoga.

“Sepertinya begitu karena perkelahian kami memang belum selesai,” sahut Sayoga.

“Jadi?” tanya Kinasih.

Sayoga mengangguk tapi belum berkata-kata. Dia memutar tubuh lalu mencari seseorang di antara pengawal kemudian mengatakan sesuatu dengan pelan.

“Baik, kami sudah siap,” kata orang itu pada Sayoga dengan kepala mengangguk mantap.

Dari tempat pengamatan sebelumnya, Ki Warujayeng mengembuskan napas panjang. Kepalanya bergerak perlahan ketika melihat Jaka Awar-awar telah berdiri di tengah halaman barak.

“Anak itu,” gumamnya.

Ki Astaman melirik kepadanya lalu menaikkan alis mata.

“Beberapa waktu lalu dia yang menahanku agar tidak bertindak sesuka hati,” kata Ki Warajayeng. “Sekarang malah masuk gelanggang sendirian.”

Ki Astaman kembali memandang halaman barak.

Ki Warujayeng mendengus. Namun kejengkelan di wajahnya tidak benar-benar dapat bertahan lama. Dia tahu pertarungan Jaka Awar-awar dengan Sayoga memang belum selesai.

Ketika Ki Kebo Surongudan tumbang, keadaan memaksa mereka meninggalkan persoalan itu dan lebih memikirkan keselamatan orang-orang yang masih tersisa. Agaknya Jaka Awar-awar tidak pernah menganggap pertarungan tersebut telah berakhir.

Dengan pengalaman dan pengenalannya terhadap Jaka Awar-awar, Ki Warujayeng dapat menyadari bahwa keadaan memang berbeda. Anak muda itu masuk bukan untuk membalaskan dendam tapi karena pertarungan yang belum tuntas. Itu dapat dilihatnya dalam beberapa waktu Jaka Awar-awar memang berlatih keras di sela-sela kegiatan mereka selama di Tanah Perdikan.

“Setidaknya dia bisa mengatakan sesuatu sebelum pergi,” gerutu Ki Warujayeng.

“Kalau mengatakan lebih dahulu, apakah Kyai pasti  membiarkannya?”

“Dia pasti sudah menduga arah itu,” sahut Ki Warujayeng sambil menoleh kepada Ki Astaman.

Ki Astaman mengangguk lalu membuka senyum tipis.

Sayoga telah berdiri beberapa langkah di tengah halaman. Di depannya, Jaka Awar-awar sudah menunggu.

Mereka saling memandang dalam jarak yang semakin dekat. Tidak ada tegur sapa atau pertanyaan mengenai pertemuan mereka yang terdahulu. Agaknya masing-masing sudah mengetahui alasan mereka berdiri berhadapan sekali lagi.

Sesaat kemudian, hampir bersamaan keduanya bergerak.

Sayoga menerjang dengan kecepatan tinggi. Jaka Awar-awar pun tidak ada lagi keinginan untuk menjajagi kemampuan lawannya.

Benturan pertama terjadi keras. Tubuh mereka terpisah sesaat, tetapi segera kembali bertemu dalam serangan berikutnya.

Pertarungan itu sejak awal telah melampaui tingkatan orang-orang yang sedang mencoba mengenali lawan.

Mereka sudah melakukannya pada perjumpaan pertama.

Sayoga telah mengenal kecepatan Jaka Awar-awar, sebagaimana anak muda dari perguruan Ki Kebo Surongudan itu pernah merasakan sendiri kekuatan yang tersimpan dalam serangan Sayoga. Pertarungan mereka dahulu terputus bukan karena salah seorang telah kehilangan kemampuan untuk meneruskannya.

Namun keadaan di halaman barak justru mulai berubah.

Ki Sanggabaya mengedarkan pandangan. Kedatangan orang-orang Menoreh telah menambah jumlah orang di sekitar halaman, meskipun mereka belum ikut memasuki perkelahian. Sementara di bagian lain, Sayoga dan Jaka Awar-awar telah membuka gelanggang untuk persoalan mereka sendiri.

Ki Sanggabaya kemudian berkata keras, “Orang-orang Mataram mundur!”

Beberapa prajurit yang mendengarnya sempat berpaling.

Perintah itu segera diteruskan dari mulut ke mulut. Orang-orang Mataram mulai melepaskan diri dari lawannya masing-masing. Mereka tidak meninggalkan halaman, tetapi bergeser menjauhi benturan yang sejak tadi berlangsung.

Ki Winih Jambe memperhatikan perubahan itu.

“Hanya itu?” tanyanya.

Ki Sanggabaya kembali memandang orang tua di hadapannya.

“Orang-orangmu boleh mundur,” lanjut Ki Winih Jambe. “Tetapi dalam keadaan ini, akhirnya hanya tinggal kita berdua.”

Ki Sanggabaya tidak menjawab.

Ki Winih Jambe menatapnya beberapa saat.

Sejak datang ke barak, dia memang belum pernah melihat orang itu memperlihatkan kemampuan sebenarnya. Namun Ki Sanggabaya adalah orang yang keluar menemuinya ketika Agung Sedayu tidak berada di tempat. Dia pula yang menolak mengeluarkan tiga orang murid Perguruan Empu Pinang Aring dari tahanan.

Bagi Ki Winih Jambe, kedudukan itu sudah cukup jelas: orang yang berdiri di hadapannya adalah wakil Agung Sedayu.

“Persoalanku belum selesai, Ki Lurah,” kata Ki Winih Jambe.

“Saya bisa melihat itu karena belum ada perintah mundur dari Kyai,” sahut Ki Sanggabaya yang kemudian tatap matanya memandang sekilas Kinasih yang berjalan tenang memasuki bagian tengah halaman.

“Mereka akan mundur jika keadaan tiga kawan mereka sudah jelas,” ucap Ki Winih Jambe.

Ki Sanggabaya mengangguk. “Tidak ada keraguan, Kyai. Tiga anak murid perguruan Kyai tetap berada di dalam. Ki Tumenggung tidak mengatakan selain yang saya sampaikan pada Kyai.”

“Barak tidak mempunyai penyelesaian. Tidak ada jalan keluar karena semua tergantung Agung Sedayu,” ucap Ki Winih Jambe dengan nada ada kesal meski sedikit.

“Tidak seperti itu,” terdengar Kinasih menyela. Dia kini berada di samping Ki Sanggabaya.

 Ki Winih Jambe cepat memandang Kinasih. Mungkin seusia atau lebih tua sedikit dari Pawening, muridnya yang termuda.

“Apakah gadis ini gundik Sedayu atau kalian memang menyimpan penari tayub di dalam barak?” tanya Ki Winih Jambe dengan nada lebih tinggi dan tajam.

  • Pertanyaan Ki Winih Jambe memang punya dasar kuat. Selain cantik, Kinasih adalah satu-satunya perempuan di antara puluhan lelaki bersenjata. Muncul tiba-tiba. Tapi yah Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh pun masih belum berhenti memberi kejutan.
  • Pertarungan luar biasa pun sedang menghadang Ki Patih Mandaraka di Merebut Mataram 55. Saat itu, sambil mengerahkan kemampuan yang nyaris tiada banding, Ki Patih juga menghalangi gelombang suara Ki Panji Secamerti.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.