Dironda 60 kali
Wedaran sebelumnya: Ketika tenaga cadangan mulai melambari setiap serangan, Kinasih bukan saja mampu mengimbanginya, tetapi beberapa kali memaksa lawannya bergeser dan meningkatkan kekuatannya. Namun justru tata gerak Kinasih yang sederhana membuat Ki Winih Jambe semakin penasaran.
Tiba-tiba terdengar bentakannya menggelegar. Gelap Ngampar. Tenaga cadangan Ki Winih Jambe menembus batas, menggetarkan dada dengan tekanan yang luar biasa, tapi Kinasih sama tidak memperlihatkan rasa gentar.
Tidak ada gerak terkejut pada wajahnya ataupun keraguan pada setiap gerak dan langkahnya. Gadis itu justru makin gencar menyerang dengan sambaran kaki dan tangan yang seolah datang dari berbagai penjuru, mengurung Ki WInih Jambe.
Meski Ki Winih Jambe sempat terusik karena ketahanan musuhnya itu, tapi di dalam dirinya ada sebangsal pengalaman tempur yang mumpuni. Maka keseimbangan tetap terkendali walau tidak selalu berada di tangannya atau lebih lama dalam kehendak Kinasih.
Sementara itu, benturan demi benturan terus terjadi. Kinasih menepis serangan yang mengarah ke dadanya, kemudian memutar pergelangan tangan untuk menangkap arah gerak lengan lawannya. Ki Winih Jambe menarik tangannya dengan cepat. Pada saat yang hampir bersamaan, kakinya menyapu rendah.
Benturan keras terdengar.
Kinasih cepat menjulurkan kaki, menghadang serangan. Keduanya pun sama-sama terdorong surut. Namun Ki Winih Jambe segera menghentakkan serangan kembali berbarengan dengan sebuah bentakan menggelegar, bersamaan.
Kinasih bergerak menyamping, lengannya menyambar pergelangan Ki Winih Jambe demi menggeser arah serangannya. Hampir bersamaan, tangan kanannya menyambar ke depan.
Kedua lengan mereka pun beradu.
Kali ini getaran benturan menjalar sampai ke bahu masing-masing. Kinasih surut selangkah, sedangkan Ki Winih Jambe harus memutar tubuh untuk mengurai tenaga yang menghantam lengannya.
Jarak di antara mereka terbuka.
Hanya sesaat.
Ki Winih Jambe menggebarak maju dengan serangan beruntun. Sekali lagi, Kinasih menyongsongnya tanpa mengubah tata geraknya yang tampak sederhana. Tangkisan, serangan pendek, benturan siku dan telapak tangan berlangsung tetap rapat. Hingga sedemikian jauh dalam hentakan tenga cadangan yang meningkau selapis demi selapis, pertarungan itu masih tampak seimbang.
Bagi sebagian orang yang menyaksikannya, perkelahian tanpa senjata itu sepintas bahkan tampak membosankan. Kecepatan gerak keduanya belum sampai membuat mata sulit mengikuti, apalagi menimbulkan decak kagum seperti ketika dua orang berilmu tinggi saling mengejar dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap pandangan.
Benturan-benturan yang terjadi pun tampak biasa. Tidak ada tubuh yang terlempar jauh, tanah yang pecah oleh hentakan kaki, atau kedahsyatan lain yang sering menjadi ukuran orang kebanyakan ketika melihat pertarungan orang-orang berilmu tinggi.
Namun Ki Astaman, Ki Kamejing, dan Ki Ajar Poh Kecil merasakan keadaan yang berbeda.
Mereka bertiga tahu bahwa Kinasih dan Ki Winih Jambe bukan sedang melakukan penjajagan. Justru tenaga cadangan telah meningkat selapis demi selapis dan setiap serangan yang dilontarkan itu sebenarnya sangat berbahaya apabila mengenai sasaran. Menurut anggapan mereka, jarak tiga langkah dari pukulan itu sudah memapu merontokkan isi dada, hanya saja, di balik pertukaran serangan yang tampak sederhana itu, keduanya sedang melakukan sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar mengukur kekuatan.
Mereka sedang saling membaca. Usia muda Kinasih tidak serta-merta membuatnya bernafsu menyelesaikan perkelahian. Dia cukup sabar. Demikian juga Ki Winih Jambe yang akhirnya harus mengakui dalam hati bahwa lawannya benar-benar bukan lawan yang berkemampuan rendah.
Setiap tangkisan maupun perubahan arah serangan sangatlah menarik bagi mereka yang benar-benar paham ilmu kanuragan.
Lambat laun Ki Winih Jambe menyadari adanya sesuatu yang aneh. Bukan aneh tepatnya tapi tata gerak Kinasih serta watak ilmua seakan pernah dilihatnya. Biarpun tata gerak gadis itu terlalu sederhana untuk menunjukkan asal perguruannya, tetapi terlalu matang untuk dianggap sebagai ilmu yang dipelajari tanpa dasar yang Ki Winih Jambe agaknya tidak ingin terlalu lama berada dalam keadaan itu.
Tiba-tiba dia mendorong perkelahian menuju tataran yang sejak tadi justru dibayangkan oleh orang-orang di sekeliling gelanggang. Tenaga cadangannya meningkat dengan cepat berlipat ganda dalam beberapa tarikan napas.
Dan perubahan itu segera terasa.
Sambaran kedua tangannya menimbulkan deru yang dapat didengar sampai ke gerbang pasukan khusus. Setiap sambaran tangan atau pun ayunan kaki ketika melayang membuat debu membumbung semakin tebal. Kerikil kecil di sekitar gelanggang berloncatan, bahkan sebagian berhamburan ketika tekanan tenaga yang menyertai tata geraknya menyapu permukaan tanah.
Kini, tidak seorang pun menganggap perkelahian itu membosankan.
Serangan demi serangan Ki Winih Jambe datang bertubi-tubi dengan gerak tangan yang menyambar dari samping, memotoang dari bawah ke atas yang terkadang diselingi lontaran tumit yang mengerikan—menyambar bagian atas tubuh Kinasih.
‘Dalam pada itu’, deru udara terdengar susul-menyusul dan terus menghamburkan debu hingga mengelilipi mata.
Tapi Kinasih tidak tampak terguncang. Gadis ini justru cuup berani membalas serangan. Ayunan berbalas ayunan, sambaran dibayar dengan sambaran. Demikianlah sepasang lengannya bergerak semakin cepat, berputar silih berganti di depan dan di samping tubuhnya untuk membendung serangan Ki Winih Jambe sekaligus memberi tekanan pada lawannya itu.
Semakin lama mereka semakin cepat dan makin sulit diikuti mata.
Dari kejauhan bahkan tampak seperti gulungan sinar putih bercampur hijau mengitari tubuh Kinasih. Padahal itu adalah warna kainnya, tapi begitu cepat dan saking cepatnya hingga tampak seperti gulungan cahaya membungkus dirinya.
Maka batas penglihatan pun semakin kabur dan samar ketika kedua lengan Ki Winih Jambe terlihat samar-samar berubah seperti berpendar pucat.
Deru serangan Ki Winih Jambe pun kadang tampak membelit gulungan warna itu, kadang kepyar—menjadi serpihan lalu berhamburan menjauh dan benturan-benturan pendek pun semakin rapat.
Ki Astaman menahan napas. Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik pun tidak lagi mengalihkan pandangan barang sekejap.
Perkelahian yang beberapa saat sebelumnya tampak terlalu sederhana bagi kebanyakan orang itu kini telah berubah. Namun bagi ketiga orang tersebut perubahan itu hanya masalah waktu. Dalam pikiran mereka, kelambatan dan pertarungan yang seolah berlangsung dengan enggan itu sebenarnya adalah bukti kesungguhan Kinasih dan Ki Winih Jambe.
Sejak tadi keduanya sudah bersungguh-sungguh.
Yang berubah adalah yang terungkap pada awal hanyalah sebagian kecil. Sekarang?
Orang-orang dapat melihat bahwa udara di sekitar gelanggang Kinasih dan Ki Winih Jambe tampak memuai—pertanda adanya hawa panas yang menguar dari salah satu petarung. Entah Kinasih, entah Ki Winih Jambe.
Yang pasti adalah Ki Winih Jambe merasakan keanehan, sekali lagi, betapa Kinasih sama sekali belum terlihat gelisah akibat hamburan tenaga cadangan yang bersifat panas yang diungkapkan olehnya.
Setiap kali tangan atau kaki Kinasih bergerak menahan tekanan serangannya, gadis itu tetap menunjukkan sikap yang sama. Tidak ada gerakan tergesa menarik anggota tubuhnya, tidak pula perubahan tata gerak untuk menghindari persentuhan tenaga lebih lama. Panas yang seharusnya menyertai tekanan itu seakan hanya angin lalu baginya.
Padahal tanpa sentuhan langsung, hawa panas yang melambari serangannya sudah cukup membuat orang lain merasa terbakar kulitnya. Dalam waktu itu, seolah-olah sifat panas dari kekuatan ilmunya kehilangan arti begitu memasuki pertahanan gadis muda itu.
Namun keadaan Kinasih sebenarnya tidaklah seperti yang dilihat Ki Winih Jambe.
Murid Nyi Banyak Patra tetap merasakan nyeri setiap kali kekuatan mereka berbenturan. Tekanan yang menghentak daya tahannya bahkan beberapa kali menimbulkan rasa pedih yang merambat dari ujung jari sampai ke pangkal lengannya. Ketika sifat panas tenaga cadangan Ki Winih Jambe ikut menyusup di dalam tekanan itu, rasa pedih tersebut menjadi semakin tajam.
Kinasih terus meningkatkan daya tahannya tetapi akibat benturan itu tidak serta-merta lenyap. Namun lapisan tenaga Kinasih membuatnya tertahan pada batas yang masih dapat diterima. Sesekali rasa pedih tetap menyusup ketika benturan berlangsung lebih keras, tetapi tidak cukup untuk mengacaukan tata geraknya.
Dari tempat Ki Kamejing maupun Ki Astaman, tata gerak Kinasih tetap bergerak dengan kecepatan serta ketenangan yang sama. Sebenarnyalah tenaga cadangan Kinasih tidak mempunyai sifat yang segera dapat dikenali. Tidak panas, tidak pula dingin. Bahkan bagi orang yang hanya mampu melihat akibat luarnya, tenaga itu seakan tidak memiliki kekhususan. Namun demikian justru itulah kekuatannya.
Tenaga cadangan itu sulit untuk dipahami. Meski nyaris serupa dengan angin tapi juga terasa padat dan keras. Hingga kemudian tenaga cadangan Kinasih dapat menembus pertahanan Ki Winih Jambe ketika tangannya justru masih berjarak satu langkah dari musuhnya.
Tersentak sekejap maka Ki Winih Jambe mulai menjaga jarak dengan serangan demi serangan yang kian rapat—seperti tidak memberi kesempatan musuhnya itu untuk mendekat.
Ki Kamejing mengerutkan kening, mencoba mengerti alasan Ki Winih Jambe mengubah caranya bertempur.
“Mungkinkah orang itu merasa bahwa lawannya masih cukup sulit ditundukkan dalam jarak dekat?” gumam Ki Kamejing perlahan.
Ki Ajar Poh Kecik mengangguk lalu katanya, “Dengan gerakan sederhana, gadis itu cukup cerdas dalam menghemat tenaga dari ruang tempur. Jika lawannya mulai menjaga jarak, mau tidak mau, gadis itu harus pula mengerahkan kemampuannya lebih tinggi bila tidak ingin remuk oleh tekanan lawannya.”
“Ada benarnya pendapat Kyai itu,” sahut lirih Ki Kamejing tanpa melepaskan tatapan matanya dari gelanggang.
- Pada saat hasil akhir perang tanding Kinasih melawan Ki Winih Jambe masih gelap, Bambang Satrukem akhirnya bisa meringkus Prabu Dwapara dan menyerahkannya kepada sang ayah pada lakon Basukesti Wisuda.
- Tentu saja peristiwa itu tidak terjadi di Tanah Perdikan Menoreh yang hampir sepanjang waktu belakangan ini didera Kerusuhan.
- Maka, Ki Patih Mandaraka kemudian berkata, “Benar. Apakah memang tidak ada tanda-tanda mereka akan menyerang secara terbuka?”Merebut Mataram 68.
