0%
Still working...

Badai dari Grajegan 9 – Ken Banawa Menghadap Bhatara Pajang

Dironda 38 kali

Malam berangsur larut makin pekat, Ki Wisanggeni tidak lagi menyimpan keraguan dan ganjalan hatinya. Dia harus katakan itu!

“Ki Tumenggung, Pajang mempunyai kekuatan yang tidak atau mungkin belum terlihat.” Ki Wisanggeni menggeser letak duduknya. Sejenak kemudian keningnya tampak berkerut.

Dia berdiri lalu menambahkan kata-katanya, “Saya tidak pernah melihat kiprah pasukan Ki Nagapati memasuki kota. Tidak pernah melihat mereka berlatih bersama para prajurit Pajang. Meski saya telah menerima laporan dan menjadi saksi pertemuan Ki Banyak Abang dengan orang tua itu, tetapi saya tidak dapat menarik perkiraan bahwa Pajang tidak sedang mencari bantuan.”

Pang Randu memandang Ki Wisanggeni dengan alis bertaut. “Berapa kali mereka terlihat seperti bertemu?”

“Dua kali.”

Pang Randu merenung sesaat, lantas ia berkata, “Dua kali pertemuan memang belum dapat memberikan gambaran apa pun. Tuan Senapati, aku pikir kita harus mengabaikan pertemuan itu!”

Orang yang berasal dari kotaraja itu berkacak pinggang kemudian berkata dengan nada tinggi, “Mungkin di antara kita telah mengetahui kehebatan pasukan Ki Nagapati. Ketangguhan, kecerdasan serta keuletan Ki Nagapati selalu mendapat perhatian lebih. Dan kita akan memperhatikan itu. Tetapi, kita tidak dapat menunda masa. Kehebatan mereka akan menjadi kenangan. Dalam waktu yang tidak lama, di tempat yang tidak jauh dari sini, kita akan mengubur mereka. Ketangguhan pasukan Ki Nagapati dan senapati mereka adalah kisah pengantar tidur, tidak lama lagi!”

Maka Pang Randu mengubah beberapa bagian dari rencana besar mereka. Dia menunjukkan kesungguhan. Dia ingin mengubah kehebatan pasukan berkuda itu menjadi ilalang kering yang termakan api!

“Kemusnahan pasukan berkuda Ki Nagapati harus segera terwujud. Supaya tak ada lagi kerikil tajam yang mengusik Dyah Balayudha!” Lantang suara hati Pang Randu mengobarkan semangat.

Bhatara Pajang dan Ken Banawa

Di tengah kesibukan orang-orang Pajang yang tengah menggeliat, seorang lelaki berusia lebih separuh baya, berambut panjang melebihi bahu tegak berdiri mengawasi kesibukan yang terjadi di alun-alun kota. Sebenarnya ia tidak tersamar atau sengaja bersembunyi , tetapi kehadirannya memang tidak menarik perhatian. Pakaian dan sikap juga terlihat biasa saja, kendati demikian tetap saja ada sesuatu yang tidak wajar padanya.

Sebilah pedang yang terbungkus dengan kain berwarna hijau tanpa lukisan terikat pada kaki sebelah kanan. Lelaki ini begitu rapi menata letak pedang sehingga tidak terlihat oleh mata telanjang. Sepintas tidak ada yang aneh.

Namun gurat wajah dan tatap matanya menjadi tanda bahwa lelaki ini tengah berpikir keras. Selewat waktu berselang, dia mengayun langkah menuju gerbang halaman istana Pajang. Beberapa orang menatapnya heran karena ia melangkah dengan satu kaki yang diseret. Namun lelaki itu tetap berlalu setelah melempar senyum dan menyapa mereka yang lekat beradu wajah dengannya.

Kepada seorang prajurit, dia merendahkan diri lalu mengucap sesuatu, begitu pelan sehingga prajurit itu terpaksa mendekatkan telinganya. Kening prajurit berkerut, dia tidak mengerti isi ucapan lelaki itu.

“Ki Sanak, dapatkah sedikit mengeraskan suara?” tanya prajurit dengan ramah.

Lelaki tua itu masih bergumam.

Tiba-tiba prajurit itu terhenyak! Ia terkejut saat mendengar kata-kata lelaki berambut panjang itu menyebut nama pemimpin prajurit Pajang. Tidak semua orang tahu nama itu! Itu adalah nama lurah prajurit yang diutus oleh Bhatara Pajang mengirim hadiah untuk Sri Jayanegara.

“Tikus Keting,” desis prajurit dengan mata terbelalak. Lantas ia berkata dengan suara bergetar, “Lalu siapakah Ki Sanak ini sebenarnya?”

“Anda dapat menyebutku Ken Banawa, Tuan!” jawab lelaki itu penuh hormat.

Prajurit itu tercenung sejenak, kemudian katanya, “Ki Banawa, Anda dapat menunggu jawaban. Silahkan Anda mengambil tempat duduk di sebelah sana!”

Sebatang pohon gayam berdaun lebar yang sekilas terlihat seperti payung yang cukup besar. Tempat yang teduh bagi Ken Banawa untuk sekadar menarik napas dengan longgar.

Panggilan pun kemudian datang menghampiri Ken Banawa melalui seorang pelayan dari bagian dalam istana. Dia mengatakan bahwa Bhatara Pajang berkenan untuk menemuinya. Ketika Ken Banawa berdiri dan akan mengayun langkah, tiba-tiba pelayan itu memintanya untuk melepas semua senjata. Tidak ada penolakan dari Ken Banawa, ia menyadari itu.

“Memang semestinya itu yang harus mereka lakukan,” desis Ken Banawa dalam hatinya.

“Di dalam juga telah menunggu Ki Banyak Abang yang sepertinya telah mengenal Anda, Tuan,” kata pelayan yang kemudian menenteng pedang dan senjata lain milik Ken Banawa. Mereka berjalan depan belakang, pelayan dalam menatap punggung Ken Banawa dengan kepala menggeleng berulang. Ia tidak menyangka bahwa pedang tipis Ken Banawa ternyata mampu disamarkan sangat baik pada salah satu kakinya.

“Cara menyembunyikan pedang yang sangat aneh!” gumam pelayan dengan pelan. Ken Banawa mendengarnya dan ia hanya tersenyum.

Disertai seorang prajurit, Ken Banawa mengayun langkah melalui gerbang kecil sisi kiri istana Pajang. Tidak ada percakapan di antara mereka meski benak masing-masing bergulat dengan berbagai praduga. Dari keterangan penjaga gerbang, Ken Banawa dapat membayangkan perasaan penguasa Pajang. Pada masa ia berjalan menuju beranda belakang, Ken Banawa secara sungguh-sungguh membuat sebuah persiapan. Dia harus menata hatinya untuk segala keadaan yang akan terjadi. Dia telah mendengar tentang api yang merambat di malam pernikahan Bondan.

“Jika Bondan tidak berada di dalam kota Pajang, apakah dia di bawah perlindungan Ki Buyut Menoreh? Tidak seorang pun dapat menjawab,” gumam Ken Banawa untuk pertanyaan yang terbit dari hatinya. “Aku dapat membayangkan perasaannya. Bondan bukan lagi anak-anak yang baru pulang bermain di kotaraja.”

Lima belas langkah lagi, Ken Banawa menghentikan langkahnya. Tiba-tiba dia lekat menatap sebongkah batu hitam yang terletak di ujung lorong. Sejenak ingatannya melayang, menembus kerapatan pohon di Tapak Liman.

“Tuan?” bertanya pengawal istana.

Ken Banawa mengangguk namun dia masih tegak berdiri lalu berkata, “Marilah.”

Selewat waktu sejenak, Ken Banawa berjalan meniti anak tangga yang berjumlah tidak lebih dari delapan sebelum berhadapan sepenuhnya dengan Bhatara Pajang.

Wajah ramah pun berpendar dari raut muka Bhre Pajang. Ucapan hangat dan sambutan yang menyenangkan segera dia lakukan sebagai tuan rumah. Bhre Pajang tidak memandang tamu yang datang karena memang seperti itulah kelapangan hatinya, meski dia kedatangan seorang rakyat jelata di istananya.

Begitu cepat mereka berdua mencairkan suasana dengan ucapan ringan yang membahagiakan.

Bhre Pajang lantas mengajak Ken Banawa ke masa kelam, malam pernikahan Bondan. Getar suara yang keluar dari bibirnya benar-benar menyiratkan kepedihan. Ken Banawa dapat mengetahui itu!

Dia begitu tenang bertutur kisah yang menyedihkan. Tidak ada orang tua yang tidak kecewa, malu dan marah apabila orang itu juga mengalami peristiwa yang dialami Bhatara pajang. Bahkan seorang Dharmawangsa pasti tersayat hatinya di malam itu. Ingatan Ken Banawa sekejap melesat menuju kisah yang sering diucapkan oleh orang-orang tua di masa mudanya.

“Saat ini Bondan berada di Sima Perdikan Menoreh. Dia akan tetap berada di sana,” berkata Bhre Pajang berusaha mendinginkan panas hatinya. Dia ingin menutup pernikahan penuh luka yang harus dilewati oleh keponakannya.

Dia meneruskan,  “Utusan dari Ki Buyut Argajalu telah datang mendahului Paman,”

Ken Banawa bernapas lega. Sejenak ia menerawang jauh. Dia tidak berpikir bahwa dirinyia tidak mempunyai pendapat tetapi persoalan yang dihadapi Bondan begitu rumit. Ditambah lagi peristiwa Tapak Liman, begitu dia mengingat kejadian yang menimpa mereka di lereng Gunung Wilis. Batin Ken Banawa bergolak hebat, dia harus dapat menimbang dan mengukur Setiap kata yang akan diucapkan. Musibah yang dialami keluarga Bhatara Pajang itu satu hal, dan pembantaian para prajurit Pajang di lereng Gunung adalah kabar derita.

“Aku dapat membayangkan gurat luka di dalam hatinya. Perasaan yang tersayat ketika satu wajah mulia dan penuh keagungan ditimpa ludah menghina,” ucap hati Ken Banawa sambil mencoba merasakan suasana hati Bhatara Pajang.

Sejenak Ken Banawa mengatur napas, ia harus menata hati dan kata-kata yang akan mengalir dari bibirnya.

“Saya tidak dapat membayangkan betapa hancur perasaan Bondan, Tuan Bhatara. Saya belum pernah menjumpai lelaki muda setangguh dirinya. Saya tahu pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan selama di wilayah timur, dan saya memiliki keyakinan kuat bahwa dia akan mampu melewati ini semua.” Ken Banawa mengawali laporan secara perlahan.

Bhre Pajang mengangguk. “Bondan akan mengakhiri semuanya jika dia telah merasa cukup. Dan ia segera memulai sesuatu yang baru dengan langkah dan persiapan yang baik. Tetapi, tentu saja, Bondan akan membutuhkan kehadiran Paman Banawa di bagian lain hatinya.”

Setengah berisik, Bhre Pajang melanjutkan ucapannya, “Ada rasa sesal dan bersalah yang memenuhi semua bilik perasaanku, Paman.”

Adalah kebiasaan Bhatara Pajang untuk menghormati lawan bicaranya dengan tidak menyebut nama secara langsung, meski ia berkedudukan lebih tinggi dan mungkin berusia beda tipis dengan Ken Banawa. Tetapi ia mengenal luar dalam senapati wreda Majapahit itu, maka bagi Bhre Pajang, Paman adalah penghormatan tertinggi darinya untuk Ken Banawa.

“Walau sebenarnya kesalahan dan kebenaran tentang satu peristiwa baru dapat diketahui setelah waktu berkenan mendampingi,” kata Bhatara Pajang melanjutkan. Sejenak dia menutup rapat bibirnya. Dia menunggu dan berharap Ken Banawa mempunyai sesuatu yang dapat menjadi pelipur hati dan perasaannya.

“Tuan Bhatara, di atas puncak Merapi masih ada awan yang bergantung dan itu mungkin yang terendah di antara awan yang lain,” berkata Ken Banawa dengan napas panjang. “Kebenaran yang kita yakini saat ini, mungkin akan menjadi satu kesalahan di masa mendatang. Dan sebaliknya, Tuan Bhatara.”

  • Grajegan yang konon terletak di wilayah yang berada di antara kaki Merbabu dan Merapi ini hanya sebuah kademangan. Terlampau kecil jika dibandingkan Majapahit, tapi rupanya mempunyai nilai lebih untuk menguji ketenangan permukaan air. Sejauh mana kesigapan prajurit dan para senapati Majapahit dalam menangani krisis di Grajegan cukup menantang untuk didatangi.
  • Dan sebuah perkelahian sengit mendahului Bondan. Dikatakan bahwa setelah Ki Lurah Wira Sembada, maka Ki Prayoga adalah orang yang menguasai ilmu sejenis Kakang Kawah dalam tingkatan yang sama dengan Agung Sedayu. Tepi Kali Progo menjadi gelanggang pertarungan yang tidak terlukiskan di rontal Jati Anom Obong 18 ketika Agung Sedayu meninggalkan kekebalannya.
  • Sementara perkelahian brutal, ganas dan tanpa kendali diri sedang berlangsung mengerikan di Serat Lelayu 2. Ditulis di atas Serat Witasem: Nyaris tidak ada orang yang dapat melihat kejadian saat Gagak Panji meloloskan keris dari warangkanya. Keris yang dinamai Kyai Brongot Gaharu oleh anak murid Empu Supa Madrangi ini seolah menjadi piranti yang tepat guna di tangan Gagak Panji.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.