0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 91 – Ketika Nama Agung Sedayu Menjadi Persoalan Keamanan

Dironda 46 kali

Wedaran sebelumnya: Pertempuran di barak pasukan khusus Mataram telah selesai. Pada waktu yang hampir bersamaan, Agung Sedayu berada di Kotaraja bersama Sunan Agung dan Pangeran Purbaya. Di hadapan keduanya, persoalan tembusnya barak pasukan khusus mulai dipandang bukan sekadar sebagai serangan kelompok perguruan, melainkan bagian dari persoalan yang lebih besar di Tanah Perdikan Menoreh.

Pangeran Purbaya memandang Agung Sedayu—mencoba menerka melalui garis-garis wajah pemimpin pasukan khusus itu.

“Kejadian yang berulang… sudah jelas tidak dapat dibiarkan reda dengan sendirinya. Seseorang harus dapat memberi jawaban untuk beban yang ada di pundaknya mengenai sebuah wilayah atau wewenang,” kata Sunan Agung dengan nada yang perlahan merendah.

Pangeran Purbaya menundukkan kepala beberapa saat. Ketika kembali mengangkat wajah, dia menarik napas perlahan. Katanya kemudian, “Jika yang dimaksud adalah wilayah, Sinuhun, saya kira kita tidak dapat meletakkan persoalan itu di hadapan Ki Gede Menoreh. Beberapa peristiwa memang terjadi di Tanah Perdikan, tetapi sebab-sebab yang melahirkannya tidak bersumber atau berhubungan dengan wewenang maupun tanggung jawab Ki Gede.”

Setelah berhenti sebentar, Pangeran Purbaya menatap Agung Sedayu. Dia berkata lagi, “Dalam keadaan tertentu, persoalan yang menyentuh seseorang secara pribadi memang tidak selalu mudah dipisahkan dengan tanggung jawab yang melekat pada kedudukannya.”

Agung Sedayu menggerakan kepala, mengangguk-angguk. Dia dapat menerima pendapat Pangeran Purbaya selama masih belum menyentuh Ki Gede Menoreh.

“Orang dapat datang ke sebuah barak bukan karena mempunyai persoalan dengan barak itu sendiri,” lanjut Pangeran Purbaya. “Ada kalanya tempat itu justru dipilih karena orang yang hendak mereka cari berada di sana. Bahkan mungkin ada orang yang merasa dirinya akan menjadi lebih besar hanya karena pernah datang menantang seseorang yang memimpin pasukan khusus.”

Sunan Agung cepat menyambar wajah Agung Sedayu melalui sorot mata yang sulit dimengerti.

Sejenak mata mereka beradu.

Agung Sedayu merasakan sesuatu menyentuh perasaannya dalam tatapan yang singkat itu. Seolah ada bagian dari persoalan yang telah berada di dalam pikiran Sinuhun, tetapi seperti sedang ditahan atau menunggu pertimbangan. Untuk beberapa waktu lamanya, senapati Mataram tersebut tidak mencoba menerka lebih jauh lantas dia kembali menundukkan wajah perlahan.

Sebaliknya, Sunan Agung pun merasakan sesuatu yang tertahan di sana. Mungkin sebuah pertanyaan atau persoalan yang menunggu waktu, mungkin juga tidak. Tapi hanya hanya sepasang mata yang menyipit tampak darinya.

Beberapa saat kemudian Sunan Agung bangkit dari tempatnya. Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu segera memberikan hormat ketika penguasa Mataram itu meninggalkan ruangan. Benar, Sunan Agung meninggalkan mereka berdua tanpa pesan atau perintah, tanpa ucapan yang mengiringi sebuah pekerjaan. Dengan diam, putra Panembahan Hanykrawati mengayunkan langkah.

Keheningan masih tertinggal setelah langkah Sunan Agung tidak lagi terdengar.

Tidak lama kemudian seseorang muncul dari lorong kecil di samping ruangan. Lorong itu biasa dipergunakan oleh orang-orang yang bertugas melayani berbagai keperluan di bagian dalam Keraton. Ki Wira Sentanu sesaat berdiri di mulut lorong. Pandangannya menyapu ruangan yang baru saja ditinggalkan Sunan Agung, kemudian beralih kepada Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu.

Tidak ada kata yang diucapkannya lalu dia bergerak mengiringi kepergian Sunan Agung yang sudah beberapa langkah di depannya.

Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di dalam ruangan itu, Pangeran Purbaya bangkit lalu memberi tanda pada Agung Sedayu dengan gerakan tangan ke arah tertentu.

Pangeran Purbaya melangkah meninggalkan ruangan itu. Agung Sedayu ada selangkah di belakangnya.

Sedikit sekali pembicaraan yang terjadi di antara mereka berdua sejak melewati beberapa bagian dalam Keraton. Bahkan setelah berada di halaman dan kemudian berjalan menuju regol, pun tidak ada pembicaraan yang berkaitan dengan tembusnya barak pasukan khusus.

Sepanjang waktu itu, Agung Sedayu tidak bertanya tentang tujuan atau tempat yang dimaksud Pangeran Purbaya.

Ketika mereka sudah berada di luar dinding halaman Keraton, Pangeran Purbaya berkata pendek, “Kita ke Kepatihan.”

Agung Sedayu mengangguk.

Matahari sudah bergulir ke arah belakang punggung Merapi.

Jarak menuju Kepatihan tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan itu Pangeran Purbaya sedikit bertanya kembali mengenai tiga perondaan pasukan khusus sebelum barak diserang. Sesekali percakapan mereka terpotong orang yang berpapasan lalu menyapa. Orang-orang itu sama sekali tidak mengetahui bahwa salah satu dari dua orang yang berlawanan arah itu adalah pangeran Mataram. Dari pakaian, keduanya tidak tampak mencolok dan tiada lambang-lambang keprajuritan atau garis-garis bangsawan. Benar, Pangeran Purbaya jarang terlihat oleh banyak orang. Yang lebih sering beredar hanya namanya saja.

Ketika keduanya memasuki halaman Kepatihan, seorang prajurit yang berada di pendapa segera menyongsong. Setelah mengetahui yang datang, dia cepat berbagi tugas dengan kawannya.

Tidak lama kemudian seorang prajurit datang dari bagian dalam Kepatihan.

“Ki Patih sudah menunggu, Pangeran.”

Pangeran Purbaya mengangguk. Bersama Agung Sedayu dia kemudian mengikuti prajurit itu menuju sebuah ruangan yang tidak terlalu besar di bagian dalam Kepatihan.

Ki Patih Singaranu telah berada di sana. “Pangeran,” katanya sambil bangkit.

Pangeran Purbaya membalas penghormatannya.

Ki Patih Singaranu kemudian memandang Agung Sedayu lalu menganggukkan kepala. “Ki Tumenggung.”

“Ki Patih,” sapa Agung Sedayu.

Setelah ketiganya duduk melingkar dan berhadapan, Ki Patih Singaranu tidak segera membuka pembicaraan. Tangannya sempat bergerak merapikan ujung kain di atas lututnya. Pandangannya kemudian beralih dari Pangeran Purbaya kepada Agung Sedayu.

“Saya mendengar beberapa keterangan mengenai barak,” katanya akhirnya.

Agung Sedayu menunggu. Demikian juga Pangeran Purbaya.

“Banyak orang membicarakan dan bertanya, bagaimana sebuah barak dapat dimasuki orang luar? Mereka bahkan dapat mengetahui secara perkiraan yang hampir tepat jumlah orang yang berada di dalamnya ketika itu, lalu bertanya mengapa kekuatan yang tersedia tidak seperti biasanya?” Ki Patih Singaranu berhenti sejenak. “Tetapi saya kira kita tidak perlu terlalu lama berada pada persoalan itu.”

Agung Sedayu mengangguk saat Pangeran Purbaya berpaling sekilas padanya.

“Ki Patih melihat persoalan lain?” tanya Pangeran Purbaya.

“Saya belum dapat melihat sesuatu yang lain itu lalu meletakkannya sebagai sebuah persoalan,” jawab Ki Patih Singaranu. “Barangkali baru sebuah pertanyaan atau perkembangan.”

Pangeran Purbaya mengangguk, demikian pula Agung Sedayu.

Ki Patih Singaranu melanjutkan, “Beberapa orang yang sudah memperlihatkan dirinya tetap saja tidak dapat dituduh, bahkan kecurigaan pun belum mempunyai bahan yang cukup. Saya hanya mengetahui tujuan serta alasan yang mereka gunakan. Sejauh ini, saya sedikit berani memastikan alasan yang mengguncang Tanah Perdikan.”

Ki Patih Singaranu kemudian memandang Agung Sedayu sedikit lebih lama. Katanya kemudian, “Sekelompok orang yang sebenarnya berangkat tidak bersamaan, menurut keterangan yang sampai ke ruangan saya, sedang berada di Dusun Benda.”

“Kelompok itu, apakah terkait dengan serangan ke barak?” sahut Pangeran Purbaya dengan nada datar. Tidak cepat dan tak juga tajam.

“Saya belum mendapatkan keterangan lagi, Pangeran,” jawab Ki Tumenggung Singaranu.

Ruangan menjadi hening beberapa saat. Hanya sorot tipis sinar matahari yang menerobos celah-celah bangunan yang tidak sepenuhnya tertutup rapat itu.

“Saya pikir, tanpa mendahului gagasan dan rencana mereka, Tanah Perdikan sedang terkekang atau terpantau diam-diam dengan sebuah alasan,” lanjut Ki Patih Singaranu. “Tetapi, alasan itu, apakah sama dengen kepentingan sebelumnya? Saya maksudkan adalah serangan yang terakhir kali, bukan yang berlanjut secara terbuka di depan kediaman Ki Gede Menoreh.”

Agung Sedayu mengerutkan kening dan Pangeran Purbaya belum mengatakan sesuatu.

Ki Patih Singaranu kemudian menambahkan, “Mungkin Ki Tumenggung sudah mengetahui pula kelompok lain yang sementara ini berdiam di Dusun Separang.”

“Dusun Benda dan Separang,” ulang Agung Sedayu sambil mengangguk-angguk.

Pangeran Purbaya melihat ke arahnya.

“Saya juga menerima keterangan yang hampir sama dengan Ki Patih Singaranu, Pangeran,” lanjut Agung Sedayu. “Pada hari ini, Ki Sanggabaya setidaknya sudah menjalankan sebagian pesan yang saya tinggalkan untuk beliau dan barak.”

Agung Sedayu kemudian merinci pesan dan perintah yang diterapkan di Tanah Perdikan. Pengamanan dan penjagaan, perondan dan pergantian serta jalur-jalur yang akan digunakan oleh seluruh regu pengawal dan pasukan khusus Mataram.

Dalam paparan itu, Agung Sedayu juga menjelaskan keadaan Gunung Kendil terakhir kali. Sehingga di depan dua pemimpin Mataram tersebut, dia menambahkan sedikit lebih dalam alasannya memandang perlu menarik garis keamanan yang lebih ketat untuk Gunung Kendil.

  • Pada suasana seperti itu beberapa orang terkejut, tapi Agung Sedayu tidak. Sikapnya cukup tenang ketika ketegangan meningkat saat putra raja Mataram berselisih paham dengan putri tunggal Ki Gede Menoreh di Bara Menoreh 44.
  • Dan sebagian orang merasa lega karena perselisihan itu tidak merembet sampai terjadi Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Mungkin termasuk sejumlah orang yang sudah membaca sejak wedaran pertama.
  • Hingga kemudian Ki Tunggul Pitu berbicara dengan Agung Sedayu untuk mengajaknya memberontak. “Tidak ada kerugian bagi Mataram bila Anda berbalik badan,” kata Ki Tunggul Pitu di Membidik 22.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.