Dironda 73 kali
Amuger Klinter perlahan memutar tubuhnya—menghadap sepenuhnya kepada Sabungsari yang baru saja menjejakkan kedua kaki di halaman sebelah dalam. Tatapan mereka bertaut sesaat tetapi cukup untuk saling mengukur kekuatan lawan.
“Lanjutkan!” bentak Amuger Klinter.
Suaranya menggaung keras, menembus hiruk-pikuk pertempuran di gerbang barat. Perintah itu jelas ditujukan kepada anak buahnya. Tanpa menoleh lagi, mereka segera menerobos celah yang telah terbuka, berusaha memperlebar jalan masuk sebelum pasukan Mataram sempat membentuk pertahanan baru.
Pada saat yang sama, Amuger Klinter merendahkan tubuh dengan menekuk lutut secukupnya. Kedua kakinya merenggang, dengan sikap siap menyerang yang sangat mantap. Sejenak dia membeku tapi hanya sekejap mata.
Tiba-tiba Amuger Klinter melesat.
Serangan pertamanya datang dengan hentakan yang betul-betul menggebrak. Telapak tangan kanannya meluncur lurus disertai dorongan tenaga yang dahsyat, seolah hendak merobohkan dinding batu di hadapannya. Hawa pukulannya membelah udara hingga terdengar desir panjang yang membuat debu di halaman berhamburan.
Sabungsari bergeser setapak ke samping sambil memutar pinggang. Dia menyambut terjangan lawannya dengan gagah berani—lengannya menyambar dari arah bawah, berusaha memotong keseimbangan lawan sebelum Amuger Klinter sempat menarik kembali tenaganya.
Namun tampaknya Amuger Klinter sudah memperhitungkan kemungkinan itu. Serangannya terus berlanjut tanpa terputus. Dia menyusulkan hantaman kedua yang lebih berat daripada sebelumnya, memaksa Sabungsari mengurungkan niat untuk balas menyerang dan memilih menyilangkan kedua lengannya sebagai penahan.
Benturan keras mengguncang udara.
Sabungsari terdorong beberapa langkah ke belakang dengan ujung kain yang berkibar diterpa gelombang tenaga yang masih tersisa.
Sekejap dia melirik ke arah yang berbeda maka tenanglah dirinya. Rupanya Ki Prana Aji sudah terlibat perkelahian seru dengan kawanan Amuger Klinter. Mereka berkelahi sangat rapat dan cukup ketat di samping bangunan yang menjadi ruang tahanan. Tampak pula olehnya kelebat cambuk yang diayunkan para prajurit dari Jati Anom.
“Apakah mereka ini datang untuk membebaskan orang-orang yang ditahan Ki Rangga Sanggabaya?” tanya Sabungsari dalam hati tapi dia tidak memerlukan jawaban pada saat itu. Lawannya, Amuger Klinter, terus menghujani dirinya dengan serangan-serangan yang mematikan.
Dalam perkembangan pertempuran yang terjadi di dalam barak, orang-orang yang datang atas perintah Ki Tumenggung Adiyasa cepat menilai keadaan. Barak ternyata mempunyai berlapis. Tiadanya penjagaan di bagian luar bukan berarti pasukan khusus Mataram ini membiarkan tapi lebih memilih menunggu di dalam. Maka, apakah terjadi kebocoran atas rencana serangan yang disusun Ki Panji Danutirta ini? Beberapa orang suruhan dari Kotaraja ini tampak mengendurkan tekanan—barangkali mereka memikirkan kemungkinan kebocoran itu.
Seseorang dari kelompok penyerang ini seketika meneriakkan sesuatu yang mengingatkan seluruh orang dalam kelompoknya agar kembali pada tujuan utama. Maka tekanan berat pun kembali datang menerjang barisan prajurit Mataram yang dipimpin oleh Ki Prana Aji.
Namun gelar yang diperkuat oleh sebagian prajurit dari Jati Anom itu tidak mudah terguncang.
Bila ada celah terbuka dari sisi pasukan khusus, prajurit Jati Anom cepat menutup dengan keluwesan tersendiri. Begitu pun yang dilakukan oleh pasukan khusus yang rupanya mampu membaca arah serangan lawan. Mereka kerap memotong aliran serang hingga ketajamannya memudar sebelum benar-benar menyentuh orang-orang Jati Anom.
Sekilas laskar gabungan itu seperti telah saling memahami satu sama lain padahal mereka baru bertempur bersama pada malam itu. Adalah Ki Prana Aji yang cakap meramu penyesuaian agar perbedaan pemahaman tidak membuat lubang yang cukup besar hingga dapat meruntuhkan gelar.
Mereka semua, baik pasukan khusus maupun prajurit Jati Anom, tetap mematuhi setiap aba-aba Ki Prana Aji, bergeser bersama, menutup celah bersama, lalu maju serempak ketika perintah itu datang.
Namun ketika benturan seorang lawan dengan seorang prajurit tak lagi dapat dihindarkan, tampaklah bahwa prajurit Jati Anom mempunyai perbedaan yang sebenarnya sulit terlihat.
Mereka tidak bertempur dengan tata gerak yang umum diajarkan di keprajuritan Mataram. Setiap orang memiliki cara bergeraknya sendiri. Ada yang merendahkan tubuh sambil berputar menghindari pukulan, ada yang melangkah menyilang sebelum melepaskan serangan, ada pula yang seolah membiarkan lawannya mendekat lebih dahulu sebelum tiba-tiba menyelinap ke sisi yang terbuka. Gerakan-gerakan itu mengalir tanpa meninggalkan kedudukannya di dalam gelar.
Hampir seluruh prajurit Jati Anom yang bertempur di barak pasukan khusus itu juga belajar di Perguruan Orang Bercambuk yang diasuh Ki Widura. Karena itu tata gerak mereka lebih mirip dengan para cantrik padepokan tersebut.
Ki Prana Aji sama sekali tidak berusaha mengubah watak perkelahian mereka. Senapati pasukan khusus ini tetap membiarkan kelebihan itu tumbuh di dalam gelar yang dipimpinnya. Setiap perintahnya dipatuhi tanpa ragu, tetapi cara masing-masing prajurit menunaikan perintah itu tetap memberi ruang bagi kecakapan pribadi yang telah melekat bertahun-tahun.
Akibatnya, setiap kali kawanan Amuger Klinter merasa telah menemukan celah untuk menerobos gelar, celah itu justru menutup kembali oleh gerakan-gerakan yang lahir tanpa aba-aba yang kentara, tertutup oleh sabetan cambuk yang menjadi ciri khas Perguruan Orang Bercambuk.
Dalam sekejap, dua atau tiga prajurit Jati Anom telah bergeser saling mengisi tempat—mengeguhkan langkah sehingga garis pertahanan belum dapat digeser lawan walau setapak.
Oleh sebab itu, kelompok suruhan Ki Tumenggung Adiyasa ini akhirnya benar-benar bertempur dengan seluruh kekuatan yang ada. Keterangan yang didapat dari petugas sandi mereka sebetulnya tidak salah, tapi kehadiran prajurit Jati Anom rupanya tidak diketahui oleh mereka. Keadaan itu terjadi karena orang jati Anom bermalam di rumah Agung Sedayu, hanya Sabungsari seorang yang tinggal di barak pasukan khusus.
Dan jika mengambil perbandingan, maka kemampuan orang per orang dari pasukan khusus dan Jati Anom berada sedikit di bawah para penyerang. Tapi, sekali lagi, keberadaan Ki Prana Aji dan terpisahnya Amuger Klinter dari kelompoknya menjadi pembeda yang cukup kuat.
Agak jauh dari kerumunan yang dipenuhi senjata berayun itu, Sabungsari cukup tenang menghadapi lawannya yang bertempur dengan sangat keras dan terus menekan. Sabungsari pun tak sellau menerima, tapi dia sesekali membalas serangan.
Namun demikian, dua orang ini tampaknya sama-sama tidak tergesa-gesa untuk saling mengalahkan. Barangkali mereka masih saling menunggu hingga terjadi kelengahan atau mungkin sedikit celah untuk lebih menekan lagi.
Sesungguhnya Amuger Klinter itu berkelahi dengan sangat garang tapi ketenangannya memang patut mendapat pujian. Dia tidak terburu menaikkan lapisan kemampuan tapi tidak juga berniat untuk mengukur kedalaman lawannya.
Mungkin usia dan kemampuan mereka membaca perkembangan tata gerak lawan memang berada di tingkat yang sama, maka dari itu, keduanya sama-sama merasa sedang membentur dinding batu cadas.
Hingga masing-masing merasa bahwa sedang menghadapi seseorang yang sedang mengetrapkan ilmu kebal. Setiap benturan tangan dan kaki tidak lagi memberi kesan sedang menghajar sesama manusia, tapi seperti menghantam selapis baja yang tebal atau batu kali berwarna hitam.
Sabungsari beberapa kali merasa telapak tangannya bergetar hingga ke siku setiap kali pukulannya bertemu lengan Amuger Klinter. Getaran itu sangat keras seolah dia baru saja menghantam baja setebal paha kerbau. Sebaliknya, Amuger Klinter pun merasakan hal yang tidak berbeda. Tendangan-tendangannya yang berhasil ditangkis Sabungsari seakan membentur batang pohon yang terbuat dari besi, memantulkan daya bentur yang justru mengalir kembali ke kakinya sendiri.
Sesaat timbul dugaan yang sama di dalam benak mereka. apakah orang ini menguasai ilmu kebal?
Tetapi pengalaman panjang yang mengasah naluri keduanya segera menepis kesimpulan yang terlalu mudah itu. Tidak ada tanda-tanda pengerahan tenaga yang lazim dilakukan oleh seseorang yang sedang melapisi tubuhnya dengan ilmu kebal.
Itulah yang justru membuat mereka semakin berhati-hati.
Mereka akhirnya sadar bahwa yang mereka hadapi bukanlah tubuh yang kebal terhadap pukulan, tapi seseorang yang mapan memperkuat daya tahan tanpa perlu tabir lagi dari kekebalan.
Mereka paham bahwa masing-masing lawan memiliki tenaga cadangan dan ketepatan yang sangat baik saat menyalurkan hingga permukaan kulit.
Sebab itu, setiap benturan selalu terjadi pada saat yang paling, ketika lapisan tenaga di balik kulit sedang mencapai puncaknya. Karena itulah, tidak ada pukulan yang benar-benar menembus, dan tidak ada tendangan yang sanggup menggoyahkan keseimbangan lawan.
Maka tak heran, suara paling berisik justru muncul dari lingkar perkelahian Sabungsari dan Amuger Klinter. Dentuman tenaga terdengar seperti baja yang diadu, seperti batu yang saling bertumbuk. Gelegarnya tidak nyaring, tapi cukup menganggu pertempuran sengit yang berada di dekat mereka—benturan hebat antara laskar gabungan Mataram dengan kawanan Amuger Klinter.
Pada pertarungan yang paling keras di gerbang barat itu, baik Sabungsari maupun Amuger Klinter mulai meraba bahwa semakin dahsyat mereka menekan lawan, semakin keras pula getaran yang menjalar sepanjang lengan atau kaki mereka. Lepasan tenaga cadangan yang menyertai setiap benturan tidak lagi lenyap di tubuh lawan.
Tenaga cadangan itu justru terpental.
- Jati Anom Obong 17, ledak cambuk Swandaru yang mampu menggedor jantung dapat diredam oleh desing belati. Dengan demikian, enam orang kawan Ki Suladra sedikit terbebas dari tekanan. Dan saat itu, Agung Sedayu benar-benar sibuk!
- Seperti kesibukan Agung Sedayu hingga sanggup melontarkan Swandaru ke gelanggang Hari Bising di Bukit Menoreh 35?
- Ya, sudah pastia sulit untuk menjawabnya karena kita sedang berada di tengah kekalutan oleh sebab Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh yang perlahan-lahan mulai mengguncang Tanah Perdikan.
