Dironda 37 kali
Tenaga cadangan itu justru terpental.
Amuger Klinter merasakan lontaran tenaga dalamnya seolah membentur dinding yang tidak dapat ditembus. Dalam sekejap, daya itu memantul kembali ke arah dirinya, bahkan seperti memperoleh dorongan tambahan dari tenaga Sabungsari yang datang berlawanan. Getaran yang semula dilepaskannya kini kembali menyusuri lengannya dengan kekuatan yang lebih besar daripada saat ia mengirimkannya.
Sabungsari pun mengalami hal yang sama. Setiap kali dia menyalurkan tenaga cadangan melalui pukulan atau tangkisan, tenaga itu tertolak mentah-mentah oleh lapisan kekuatan Amuger Klinter. Pantulannya membalik, lalu menghantam kembali ruas-ruas lengannya dengan tambahan daya yang berasal dari desakan tenaga lawannya.
Seolah-olah dua arus besar sedang saling berbenturan di sebuah dinding batu yang licin. Tidak ada yang pecah atau menembus, tetapi masing-masing memantul ke arah semula sambil membawa sebagian kekuatan lawan. Semakin besar tenaga yang mereka lepaskan, semakin besar pula tenaga yang kembali membebani tubuh mereka sendiri.
Kenyataan itu membuat keduanya berpikir ulang untuk menyerang dengan cara yang sama. Jika mereka terus memaksakan keseimbangan melalui tata gerak atau pengerahan tenaga pada kadar yang sama, bukan mustahil justru tubuh mereka sendirilah yang lebih dahulu tertimpa luka dalam yang jelas sangat berat.
Berpikir ke arah itu, Sabungsari pun tak ingin gegabah dengan pengerahan ilmu puncaknya melali sorot mata. Dia sudah mengerti bahwa pergerakan Amuger Klinter tidak dapat dikatakan menetap dengan jarak tempur yang kerap berubah-ubah.
Apabila dia menjauh, Amuger Klinter cepat memutar tapi tetap tidak meninggalkan serangan. Jika Sabungsari mendekat, Amuger Klinter mempunyai keberanian untuk lebih merapatkan jarak. Keputusan-keputusan lawannya itulah yang mempengaruhi Sabungsari dalam membuat pertimbangan sebelum melepas ilmu puncaknya.
Sedangkan Amuger Klinter sendiri sedang menimbang, apakah perlu menggunakan senjata? Tapi jika melihat tandang Sabungsari, orang ini yakin bahwa senjata bagi Sabungsari hanyalah sebuah alat bantu yang tidak menjamin
Namun, semakin lama dia mengamati tata gerak Sabungsari, semakin kuat pula keyakinannya bahwa senjata bagi perwira Mataram itu bukanlah penentu hasil akhir sebuah pertarungan. Pedang, tombak, atau segala senjata jika sudah di tangan Sabungsari maka itu hanyalah alat untuk memperluas pilihan gerak, bukan penentu kemenangan.
Amuger Klinter bahkan merasa bahwa apabila Sabungsari benar-benar menghunus senjata, orang itu tidak serta-merta menjadi lebih berbahaya daripada saat bertempur dengan tangan kosong. Seluruh ancaman justru terpancar dari ketenangan, ketepatan membaca lawan, serta ledakan tenaga yang disalurkan pada saat yang paling menentukan. Dan dia sudah membuktikan sebelumnya ketika Sabungsari tetap mengejarnya meski terhadang beberapa kali oleh kelompoknya.
Karena itulah, keraguannya segera lenyap. Dia tidak lagi memikirkan senjata yang terselip di pinggangnya. Pertarungan ini, menurut perhitungannya, memang seharusnya diselesaikan dengan tangan kosong. Bila dia mampu mematahkan Sabungsari tanpa bantuan senjata, maka kemenangan itu adalah bukti bahwa tingkat kemampuannya benar-benar berada di atas perwira pilihan Mataram tersebut.
Dinding Utara, Glagah Putih menghadapi Ki Wirya
Dinding utara barak pasukan khusus.
Dari sudut matanya, Glagah Putih melihat pergeseran dan juga lontaran tambang pengait. Seketika muncul dugaan kuat dari dalam dirinya, “Apakah mereka akan menerobos ke dalam melalui dinding?”
Sikap serta perubahan air muka yang terjadi pada Glagah Putih tidak lepas dari pengamatan Ki Wirya. Orang ini seperti mendapat kesempatan untuk meningkatkan kekuatannya lebih tinggi lagi. Tanpa teriakan nyaring atau bermacam-macam perintah pada anak buahnya atau bertujuan menciutkan nyali musuhnya, Ki Wirya menerjang garang pada Glagah Putih yang dianggapnya ada gelagat akan meninggalkan lingkar perkelahian mereka.
Dilambari tenaga cadangan tingkat tinggi, sepasang tangan Ki Wirya terulur bergantian menyambar bagian atas tubuh Glagah Putih.
Setiap sambarannya diikuti suara yang mendesir tajam membelah udara akhir malam. Dan terus berubah ketika berikutnya deru pendek seolah hendak mengguncang rongga dada glagah Putih. Gelombang kecil angin yang melintas pada jalur serangan Ki Wirya menerpa wajah dan pakaian sepupu Agung Sedayu itu hingga terasa pula hawa panas dan dingin saat menerpanya secara bergantian.
Namun demikian, Glagah Putih ternyata mampu bergerak pada kecepatan yang sepadan dengan musuhnya itu. Tubuhnya melenting ringan, bergeser sejengkal demi sejengkal dari lintasan maut itu. Walaupun angin tenaga yang memburunya belum mereda tapi Ki Wirya tampaknya masih kesulitan menjangkau Glagah Putih.
Dalam sebentar waktu kemudian, bayangan dua orang itu terlihat seperti saling bertindihan. Suatu saat terpisah dan saling menjauh, lalu bertabrakan lagi dalam sekejap mata. Bagi mereka yang memiliki penglihatan biasa, sukar membedakan antara orang yang sedang menyerang atau yang sedang menghindar karena keduanya bergerak dalam aliran kecepatan yang sukar dinalar.
Ki Wirya terus memperkuat tekanan.
Setiap ayunan lengannya menimbulkan pusaran angin yang memaksa debu dan serpihan daun menari liar di bawah kaki mereka. Glagah Putih tetap lolos dari setiap lintasan serangan itu. Walau begitu, setiap kali kakinya menjejak tanah, serangan Ki Wirya berikutnya datang bertubi-tubi.
Tambang pengait yang masih menggantung itu benar-benar menyita perhatian murid Ki Jayaraga ini. Setiap kali dia bergerak lalu pandang matanya terarah pada dinding barak, maka secuil gelisah singgah di pikirannya.
Dugaan telah datang terlebih dulu padanya, berikutnya adalah mencari jalan keluar meski satuan prajurit yang dipimpinnya masih tampak perkasa mempertahankan garis akhir.
Tapi sepertinya Glagah Putih tidak akan membiarkan dirinya terikat lebih lama dalam perkelahian melawan Ki Wirya. Dia meloncat beberapa kali dengan perubahan arah yang tajam dengan kesan seakan menjauh dari dinding barak. Tapi ketika serangan Ki Wirya datang lagi, Glagah Putih membalasnya dengan serangkaian serangan yang membadai. Sepasang tangannya tiba-tiba berubah seolah puluhan atau ratusan..
Sepasang tangannya tiba-tiba berubah seolah puluhan bahkan ratusan kepalan yang berhamburan tanpa putus. Mengepung Ki Wirya dalam hujan pukulan yang datang dari berbagai arah. Deru angin berpilin mengiringi rentetan pukulan yang menghantam ruang sekitar Ki Wirya.
Kaki Glagah Putih bergeser seperti sedang menggambar sesuatu di atas tanah tapi bukan itu. Glagah Putih berusaha keras menempatkan punggungnya menghadap dinding barak sambil terus melepaskan hujan serangan yang belum pernah dilakukan olehnya. Di balik hujan pukulan yang dahsyat itu, Glagah Putih ternyata sedang menggeser kedudukannya sedikit demi sedikit mendekati dinding barak.
Ki Wirya segera menangkap maksud lawannya. Seketika orang ini mengubah caranya bertahan. Dia tidak lagi sekadar menangkis atau memecah serangan, tetapi menggerakkan kakinya pula dengan sangat cepat—berusaha memotong lintasan yang akan ditempuh Glagah Putih.
Maka terjadilah adu cepat yang nyaris mustahil diikuti pandangan mata. Dua orang itu terus berputar sambil saling melepas dan mematahkan serangan.
Dari kejauhan, bayangan mereka seolah telah melebur menjadi satu pusaran yang berputar kian cepat seperti gasing yang diputar dengan tenaga penuh. Debu yang terhisap oleh putaran langkah mereka membentuk lingkaran di atas tanah, sementara udara berputar-putar, menyatu lalu ambyar seiring dengan benturan demi benturan yang makin rapat terjadi.
Terbuka kemudian celah meski sangat sempit.
Seketika Glagah Putih mengubah arah dengan sangat tajam, melesat serong, lolos dari lintasan yang hendak ditutup Ki Wirya, lalu meluncur deras meninggalkan lawannya.
Ki Wirya menderap kaki mengejar Glagah Putih yang sudah selangkah di depannya. Jarak yang sudah cukup memadai untuk melepaskan pukulan jarak jauh, tapi laju murid Ki Jayaraga itu telah mengarah lurus ke dinding barak tempat tambang pengait menggantung.
Ternyata Ki Wirya memang orang yang sukar ditemui tandingannya.
Dalam laju yang luar biasa cepat, yang tidak memberi kesempatan berpikir, dia masih sanggup menghimpun tenaga pada satu lengannya. Sesaat kemudian, telapak tangannya menghentak ke depan. Gelombang tenaga melesat tanpa wujud, membelah udara dan mengejar Glagah Putih yang hanya terpaut selangkah di depannya.
Glagah Putih tidak menoleh ketika panggraitanya sudah terlebih dulu menyatakan datangnya bahaya. Pertanda yang jauh lebih cepat dari lontaran ilmu Ki Wirya. Glagah Putih memaksa tubuhnya untuk meluncur lebih cepat lagi tapi pukulan jarak jauh Ki Wirya masih sanggup menyentuh punggungnya.
Sekalipun tidak terjangkau hantaman langsung inti tenaga cadangan Ki Wirya tapi punggung Glagah Putih terasa nyeri seperti ditusuk puluhan jarum baja. Dia melenting, kurang dari sekejapan mata.
Secepat kilat Glagah Putih memutar tubuh di udara—memanfaatkan daya dorong lompatan. Kedua telapak tangannya menghentak serentak ke belakang. Dua lapis tenaga cadangan meluncur beruntun.
Udara kembali bergetar tapi Glagah Putih belum terhentikan.
Agak gelisah dia saat semakin dekat dengan pertempuran berkelompok itu. Gugus pengawal yang menjadi wewenangnya mulai bergeser. Yang lebih buruk adalah mereka berada agak jauh dari dinding barak.
Tambang pengait masih menggelantung bebas, bergoyang perlahan diterpa sisa-sisa gelombang tenaga yang berseliweran di sekitarnya.
Glagah Putih segera menangkap bahaya yang sesungguhnya. Apabila kelompok Ki Wirya berhasil mendesak enam atau delapan langkah lagi, maka dinding barak bukan lagi menjadi penghalang. Tambang itu akan berubah menjadi jalan yang terbuka lebar bagi lawan untuk menerobos ke dalam.
Kedatangan orang-orang Jati Anom bersama Sabungsari, sejauh itu, sebenarnya memang sangat membantu pasukan khusus mempertahankan keseimbangan pertempuran. Laskar gabungan itu masih bertahan dengan kepatuhan gelar yang mengagumkan.
Namun, lawan yang mereka hadapi sepertinya juga memiliki kemampuan bertempur secara berkelompok. Gelar yang mereka kembangkan mengingatkan prajurit Mataram pada putaran cakrabyuha.
Susunan mereka tidak pernah benar-benar tetap. Setiap orang bergeser dengan luwes, saling mengisi ruang yang kosong, lalu kembali membentuk lingkaran yang memanjang, menggilas prajurit Mataram dengan kemampuan yang menggetarkan.
- Pada waktu sebelumnya masih di Mataram, barangkali hitungan bulan atau tahun, dikabarkan seseorang rupanya tidak menyangka bahwa begitu hebat Ki Garu Wesi membuat dirinya terjebak. Seperti ada lubang besar pada bagian kanannya, Ki Garu Wesi tiba-tiba melambatkan geraknya. Ia membiarkan Ki Gatrasesa menyendal pancing ujung selendang yang tertangkap di Pedukuhan Janti 21.
- Sikap Pandan Wangi ini, apakah dia memang sengaja menantang Pangeran Selarong? Ini pertanyaan yang menakutkan jika berpikir akibatnya: tuduhan makar. jadi, Bara di Bukit Menoreh 19 rupanya sedang membara saat terjadi pertemuan dua tokoh besar tersebut.
- Ah, masih juga ada pertanyaan yang menggoda: mengapa di setiap tempat ada Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh?
