0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 92 – Pertemuan Segitiga di Kepatihan

Dironda 45 kali

Wedaran sebelumnya: Sunan Agung tiba-tiba meninggalkan pembicaraan tanpa pesan atau perintah yang ditinggalkan untuk Pangeran Purbaya dan Agung Sedayu. Dalam waktu itu, Ki Wira Sentanu pun berjumpa lagi dengan Agung Sedayu dengan kehendak dan rencana yang belum terungkap secara benderang.

Pangeran Purbaya hampir bersamaan dengan Ki Patih Singaranu saat menarik napas dalam-dalam.

Rencana Agung Sedayu, dalam pikiran mereka berdua, serba mungkin memang dapat menghindari benturan senjata. Mereka pun dapat menerima karena terbuka kemungkinan pula untuk menyatukan kelompok di Dusun Benda dengan yang berkemah di Separang.

“Itu jauh lebih masuk akal,” ucap Ki Patih Singaranu pada akhirnya. “Bagaimanapun juga, rakyat Tanah Perdikan mempunyai hak untuk jauh dari segala keributan.”

Pangeran Purbaya mengangguk.

“Namun begitu, dulu, sebelum Ki Tumenggung menjadi prajurit, persoalan itu datang dalam bentuk yang berbeda dengan sekarang.  Dengan apa yang ada dalam diri kita sekarang, kita tahu bahwa kita tidak dapat mengendalikan perasaan beberapa orang dengan kesuraman masa lalu mereka,” ucap Pangeran Purbaya kemudian ditutup dengan helaan napas panjang.

“Yang membuat seolah semua persoalan berpusat dan bertumpu pada Ki Tumenggung itu tidak dapat dilepaskan seluruhnya dari masa lalu. Yah, kita tahu Ki Tumenggung tidak dapat disalahkan karena keputusan-keputusan masa lalu,” ucap Pangeran Purbaya yang kemudian terkenang kesaksian Sunan Agung ketika memburu kelompok Raden Atmandaru di Alas Krapyak.

Agung Sedayu menarik napas panjang lalu menyandarkan punggung yang tidak lelah.

Ki Patih Singaranu tampak memijat kening beberapa lama seperti sedang menimbang sesuatu. Bahasa tubuhnya seakan sulit menyembunyikan isi pikirannya.

“Ki Tumenggung..,” kata Ki Patih Singaranu kemudian,… beberapa tempat di luar Kotaraja—“

Tiba-tiba Pangeran Purbaya mengangkat tangan, memotong kalimat Ki Patih Singaranu, katanya, “Keadaan itu akan saya sampaikan sendiri pada Ki Tumenggung, Ki Patih.”

Agung Sedayu hanya menautkan alis lalu memandang dua petinggi itu bergantian. Dia sudah dapat menduga arah dan maksud kalimat Ki Patih Singaranu berdasarkan laporan Ki Demang Brumbung sebelumnya. Tapi, sejujurnya, memang tidak ada yang dapat dilakukan bila keterangan Ki Demang Brumbung pada akhirnya memang nyata atau terbukti.

Maka Agung Sedayu menunggu beberapa saat, tetapi Ki Patih Singaranu dan Pangeran Purbaya ternyata tidak menambah sedikit pun dari ucapan yang terpotong.

Hingga kemudian tiga orang tersebut pun berdiam diri. Masing-masing berkutat dengan pikiran yang tidak hanya satu persoalan barak pasukan khusus atau Tanah Perdikan tetapi bercabang-cabang.

Keheningan kembali bergolak ketika Ki Patih Singaranu mengucap beberapa kata. Namun sepertinya itu pembicaraan yang ringan karena seutas senyum sudah terlihat dari mereka bertiga. Setelah beberapa hal yang dianggap perlu telah disampaikan sebagai penutup, Pangeran Purbaya bangkit dari tempat duduknya.

“Ki Patih , saya akan mengambil waktu istirahat,” katanya.

Ki Patih pun bangkit pula kemudian mengangguk. “Sudah semestinya, Pangeran,” ucapnya singkat.

Agung Sedayu beranjak pula lalu memberi hormat ketika Pangeran Purbaya meninggalkan ruangan.

Beberapa saat kemudian langkah Purbaya telah terdengar semakin jauh di lorong Kepatihan. Seorang prajurit mengiringinya sampai ke halaman, sementara Agung Sedayu masih berada di dalam bersama Ki Patih Singaranu.

Waktu terus berjalan. Kesibukan di Kepatihan perlahan-lahan berkurang ketika hari beranjak malam.

Agung Sedayu masih berada di sana.

Usai makan malam bersama, Ki Patih Singaranu dan Agung Sedayu kembali terlihat berbicara. Kali ini pembicaraan mereka tampak lebih bersungguh-sungguh. Tumenggung yang ditunjuk untuk menggantikan Ki Patih Madaraka itu tampak beberapa kali berkata dengan suara rendah, sementara Agung Sedayu mendengarkannya dengan saksama sebelum sesekali memberikan tanggapan.

Namun pembicaraan itu tidak berlangsung terlalu lama.

Beberapa saat kemudian Ki Patih Singaranu bangkit. Agung Sedayu juga beranjak dari tempatnya.

Keduanya berjalan menyusuri bagian samping Kepatihan. Ki Patih Singaranu membawa langkahnya ke sebuah pintu butulan. Agung Sedayu berjalan bersamanya.

Cahaya oncor yang remang sepertinya tidak berusaha menyembunyikan mereka berdua. Tidak pula ada penyamaran pada kedua orang itu. Tidak pula mereka berusaha agar kepergian itu tidak diketahui orang. Beberapa prajurit yang bertugas di bagian tersebut melihat keduanya melintas dan memberikan hormat sebagaimana biasa.

Benar, segalanya tampak wajar dan tidak dibuat-buat.

Ki Patih Singaranu dan Agung Sedayu kemudian keluar bersama-sama melalui pintu butulan itu.

Malam semakin berwajah muram. Bayang-bayang bangunan Kepatihan semakin tampak pula menyatu di dalam kelam. Pada waktu itu, kesibukan yang memenuhi beberapa bagian tempat itu terlihat mulai berkurang.

Dalam perjalanan yang tidak disertai pengawal dan tidak pula kuda, mereka mengambil arah yang sama. Percakapan mereka tidak lagi menyentuh persoalan yang baru saja dibicarakan di dalam Kepatihan. Beberapa kali Ki Patih Singaranu hanya mengatakan sesuatu mengenai keadaan Kotaraja, kemudian berhenti ketika mereka sampai pada sebuah persimpangan.

“Aku mengambil jalan ini,” kata lalu memandang jurusan yang mengarah pada salah satu barak prajurit Mataram.

Setelah mengedarkan pandangan, lalu mengatakan sesuatu dengan suara lirih dan sungguh-sungguh, Agung Sedayu mengangguk. Dia berkata kemudian, “Ki Patih, kita berpisah di sini.”

Ki Patih Singaranu memandangnya sejenak. “Baiklah.”

Patih Mataram ini mengambil jalan yang membawanya ke ke arah barak prajurit, sedangkan Agung Sedayu meneruskan perjalanan pada arah yang telah disebutkannya.

Tidak lama kemudian keduanya telah hilang di antara orang-orang dan kesibukan menjelang malam.

Permulaan malam telah menyelimuti kediaman Pangeran Purbaya. Halamannya tampak lengang. Namun beberapa prajurit yang berjaga pada tempat-tempat tertentu menunjukkan bahwa penjagaan di lingkungan itu tidak pernah benar-benar mengendur.

Sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat di antara rimbun pepohonan. Begitu ringan geraknya dan sangat cepat hingga sulit dilihat ketika melintas dari satu dahan ke dahan yang lain. Bayangan yang semula bergerak cepat itu telah menjejak tanah. Tanpa sedikit pun menunjukkan sikap tergesa-gesa, dia kemudian berjalan melintasi halaman seperti seseorang yang sudah mengenal setiap sudut tempat itu.

Dua orang prajurit yang melihat gerakan itu segera bergeser dari tempatnya. Sementara beberapa prajurit yang berpapasan dengannya menghentikan langkah lalu menundukkan kepala.

Nyi Banyak Patra terus berjalan dengan tenang—menuju salah satu ruangan di bagian dalam kediaman Pangeran Purbaya.

Nyi Banyak Patra berhenti di depan sebuah pintu. Seorang prajurit yang berjaga di tempat itu segera bergeser sambil menundukkan kepala. Tanpa perlu menunggu pemberitahuan lebih dahulu, perempuan tua itu membuka pintu dan melangkah masuk.

Pangeran Purbaya telah menunggunya.

“Bibi,” sapa Pangeran Purbaya sambil menganggukkan kepala.

“Pangeran,” balas ramah Nyi Banyak Patra lalu mengambil tempat setelah Pangeran Purbaya mempersilahkannya.

Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara. Beberapa waktu di Tanah Perdikan Menoreh rupanya masih meninggalkan jejak pada wajah putri Ki Gede Pemanahan tersebut.

“Saya berada di Menoreh selama beberapa hari,” kata Nyi Banyak Patra membuka percakapan. “Dan selama itu pula keadaan tidak benar-benar tenang.”

Wajah Pangeran Purbaya tampak tenggelam. Dia menunduk dalam-dalam.

“Gangguan tidak hanya terjadi sekali. Beberapa di antaranya mungkin terlihat seperti peristiwa yang berdiri sendiri. Orang datang, membuat keributan, kemudian menghilang. Tetapi kejadian semacam itu muncul lagi pada hari berikutnya atau di tempat yang lain.”

“Apakah semuanya menyentuh Tanah Perdikan? Atau ada yang secara langsung membahayakan Ki Gede Menoreh?”

“Aku tidak dapat memastikan itu sengaja, terutama serangan terakhir dari arah depan kediaman beliau,” kata Nyi Banyak Patra lantas menceritakan serba sedikit yang dihadapinya saat itu. Jumlah dan waktu yang dibutuhkan penyerang beberapa saat sebelum mencapai regol kediaman.

Usai mengatakan yang diketahui dan dialaminya, Nyi Banyak Patra menarik napas sejenak.

“Setiap serangan, setiap kerusuhan yang mereka timbulkan…,” lanjut Nyi Banyak Patra sambil menggelengkan kepala. “sepertinya mereka bukan berasal dari satu kelompok meski hampir seluruhnya mempunyai tujuan. Dan mungkin niat yang sama.”

Alis Pangeran Purbaya berkerut. Ucapnya lirih, “Antara Ki Gede dan Ki Tumenggung Agung Sedayu.”

Nyi Banyak Patra mengangguk. “Mereka berdua memang seolah satu tubuh dan kepala. Kadang-kadang dua kepala satu hati. Hubungan yang menarik. Membicarakan Agung Sedayu tanpa menarik Ki Gede itu seperti memelihara sesuatu yang tidak seimbang.”

Pangeran Purbaya terdiam sejenak.

“Bibi,” katanya beberapa saat kemudian, “orang-orang itu pada akhirnya menganggap mereka berdua adalah orang yang sama. Menyerang Ki Gede, kemungkinan besar juga akan diartikan sama dengan menyerang Ki Tumenggung Agung Sedayu, begitu pun sebaliknya.”

“…dan ada yang mengganggu pikiran saya sebenarnya,” lanjut Pangeran Purbaya setelah hening agak lama.

“Hanya sedikit orang di barak,” kata Nyi Banyak Patra seakan tahu yang sedang dipikirkan keponakannya itu. “

Pangeran Purbaya mengangguk. Dia berkata lagi, “Ki Gede, Nyi Pandan Wangi belum dilaporkan meninggalkan Tanah Perdikan sepanjang waktu itu.”

Nyi Banyak Patra mengangguk perlahan.

“Barak sedang menjalankan perintah Mataram jadi kekosongan itu sebenarnya keadaan yang memang wajar,” lanjut Pangeran Purbaya.

Dalam pikirannya, Pangeran Purbaya mempunyai penilaian bahwa keadaan barak sudah diketahui atau bahkan sudah masuk dalam pertimbangan yang nyaris sempurna. Orang itu, pikir Pangeran Purbaya, berarti bukan sebatas mengetahui saat barak mengirimkan satuan-satuan prajurit atas perintah Sunan Agung tapi ada kemungkinan juga tahu saat barak terisi prajurit lagi.

  • Sedikit ada kenyamanan setelah membaca wedaran ini. Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh ternyata meneguhkan hubungan antara Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh melalui simbol jasmani.
  • Ada baiknya dengan keadaan itu karena kesehatan Ki Demang Sangkal Putung masih belum membaik sejak di Membidik 49.
  • Keadaan yang juga membaik adalah keteguhan oang-orang Majapahit yang sebelumnya digempur habis-habisan oleh lawan yang ternyata diperkuat dengan kehadiran gajah perang di padang Sumur Welut. Pertempuran Hari Kedua 7. Kisah Bondan di Langit Hitam Majapahit.

Dapat dimiliki sebagai koleksi pribadi. PDF. Tanpa mahar wajib.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.