0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 93 – Permintaan Terselubung Ki Wira Sentanu kepada Pangeran Purbaya

Dironda 58 kali

wedaran sebelumnya: Pertemuan antara Nyi Banyak Patra dan pangeran Purbaya mengungkap cara pandang permasalahan barak pasukan khusus dari sisi yang berbeda.Dari pembicaraan itu, mereka berdua menduga ada pihak yang bergerak di balik gangguan.

“Sudah jelas dan sedikit terang bahwa mereka melakukan pengamatan dalam waktu yang cukup memadai,” kata Pangeran Purbaya dalam hati.

“Serangan itu, Pangeran, pasti telah melalui perencanaan dan pertimbangan yang masak. Kemampuan orang per orang, aku kira, bukanlah seperti kemampuan prajurit biasa dalam bertempur. Menembus gerbang, merobek benteng…yah, sudah barang tentu bukan kemampuan kanuragan biasa, bukan sekadar pengetahuan perang yang juga biasa,” kata Nyi Banyak Patra.

Pangeran Purbaya mengangguk, lalu dia menggerakkan bibirnya lagi, “Yah, Yang Maha Kuasa mengirim bantuan yang tidak terduga.”

Ucapan pangeran Mataram itu mengacu pada kehadiran prajurit Jati Anom dan cantrik Perguruan Orang Bercambuk di barak pasukan khusus. Kakak Agung Sedayu, Ki Untara, mengrim laporan pergerakan pasukannya ke Tanah Perdikan selang sehari keberangkatan Sabungsari dan kawan-kawannya.

Pangeran Purbaya menarik napas perlahan kemudian berkata pelan-pelan seperti sedang menimbang setiap yang akan diucapkan, “Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak meninggalkan barak begitu saja. Ada Ki Sanggabaya serta dua lurah lain yang tegas menjalankan tugas. Penjagaan berjalan, perondaan bergulir saling mengisi dengan pengawal Tanah Perdikan, serta pembagian kewenangan juga sudah ditinggalkan dengan cukup jelas. Dengan sebuah tambahan, saya dapat katakan barak justru jauh lebih ketat saat pemimpinnya tidak berada di tempat.”

Nyi Banyak Patra menunggu sejenak kemudian berkata, ”Mereka berhasil masuk.”

“Ya,” jawab Pangeran Purbaya pendek. “Mereka berhasil masuk dan gagal keluar.”

Nyi Banyak Patra memandangnya beberapa saat.

Pangeran Purbaya kemudian bangkit dan berjalan beberapa langkah. “Pada saat jumlah orang yang berada di barak jauh di bawah kekuatan yang biasanya, orang dapat menyerang barak dengan segala keberanian yang dimilikinya. Tetapi memilih waktu karena mengetahui kekuatan di dalamnya sedang sangat berkurang adalah persoalan yang lain.”

Sambil memandang suasana di luar jendela yang gelap, dia berkata lagi, “Keadaan di barak saat itu sudah tentu dapat diketahui dari luar. Dari biasanya penuh hiruk pikuk dan banyak latihan lalu mendadak sunyi. Tapi, seberapa banyak yang tertinggal? Itu bukan angka yang dapat diperkirakan dari luar.”

“Tidak dapat diperkirakan?”

“Mungkin,” jawab Pangeran Purbaya. “Pengawal Menoreh adakalanya ikut berlatih di dalam, di semua halaman yang mengelilingi barak. Bagi orang yang tidak terbiasa melihat keadaan itu, perkiraan hanya akan berakhir sebagai anggapan saja. Tapi dari orang yang memahamai unsur maupun bagian, itu adalah keadaan yang menjadi dasar perhitungan.”

Pangeran Purbaya kembali ke tempat duduknya. Dia mengatakan sedikit panjang tapi dengan suara yang sangat lirih dan mungkin hanya Nyi Banyak Patra yang mendengar. Yang diungkap olenya adalah kecurigaan—kemampuan tempur, gelar perang yang terus menerus dapat menyesuaikan dengan perubahan pasukan khusus atau pengawal Menoreh, lalu keteguhan dalam barisan.

“Itu benar-benar di luar kewajaran,” tutup Pangeran Purbaya.

Percakapan lebih mendalam kemudian mengarah ke beberapa orang yang belum dapat sepenuhnya dicurigai. Tetapi jika mengaitkan dengan segala yang muncul di permukaan, maka sejumlah nama memang tidak dapat berkelit lagi seandainya ada tuduhan mengarah pada mereka.

“Tentu saja Sinuhun juga tidak gegabah membuat keputusan hanya untuk memuaskan orang di dekat beliau,” ucap Pangeran Purbaya dengan nada datar.

“Mudah-mudahan seperti yang Angger harapkan,” kata Nyi Banyak Patra lalu mengangguk.

Keheningan datang lalu memenuhi ruangan.

Dari luar terdengar langkah dua atau tiga peronda melintas sambil bercakap pelan, kemudian semakin jauh dan lenyap di bagian lain halaman.

Nyi Banyak Patra tidak mengucapkan kata-kata lagi. Pangeran Purbaya pun tidak segera mengatakan sesuatu. Dusun Benda, Separang, dan serangan terhadap barak telah mereka letakkan dalam satu rangkaian pembicaraan. Belum ada alasan untuk memastikan bahwa ketiganya benar-benar mempunyai hubungan dengan seseorang atau suatu kelompok. Keduanya paham, perkara semacam itu tidak perlu tergesa-gesa disimpulkan.

Pada malam yang sama dengan pembicaraan Pangeran Purbaya dengan Nyi Banyak Patra, di salah satu tempat di dalam Keraton, Ki Wira Sentanu tidak mempunyai alasan untuk menganggap bahwa keberadaannya di lorong samping ruangan itu sama sekali tidak diketahui.

Pangeran Purbaya jelas orang berilmu tinggi jadi sangat tidak mungkin tidak mengetahui keberadaannya pada siang sebelumnya. Agung Sedayu yang juga berada di ruang yang sama pun hampir mustahil tidak mendengar detak jantungnya.

Meskipun tidak seorang pun dari mereka berdua menoleh ke arah lorong selama pembicaraan berlangsung, Ki Wira Sentanu tetap yakin dua orang itu tahu mengenai dirinya di tempat yang biasa digunakan pelayan dalam menunggu perintah.

Tapi dua orang itu tidak ada menunjukkan keberatan dengan meminta perintah agar orang-orang yang bertugas di sekitar ruangan menjauh. Tidak pula ada tanda bahwa pembicaraan harus berlangsung tanpa kehadiran orang lain selain mereka yang berada di hadapan Sunan Agung.

Karena itulah beberapa kata yang didengarnya dari Sinuhun dan Pangeran Purbaya seolah mendapatkan ruang istimewa di dalam pikirannya.

Seberapa pantas sebuah barak pasukan khusus dapat ditembus oleh satu atau dua kelompok perguruan kanuragan?

Kalimat yang diucapkan Sinuhun itu masih jelas dalam ingatan Ki Wira Sentanu. Menurut orang ini, pertanyaan itu tidak berhenti begitu saja sebagai pertanyaan mengenai serangan yang dapat dianggap memalukan atau menjatuhkan harga diri Mataram. Ada tanggung jawab yang melekat pada barak itu. Ada pula seseorang yang memegang tanggung jawab tersebut.

“Agung Sedayu,” ucap Ki Wira Sentanu dalam hati.

Dia juga memandang apabila dirinya tetap dibiarkan mendengar pembicaraan itu sejak awal sampai akhir, maka tidak perlu merasa bersalah dan berdosa jika kemudian pertanyaan itu dibawanya kepada Pangeran Purbaya.

Satu atau dua hari kemudian, sebagaimana hari-hari yang lain, Ki Wira Sentanu menjalankan tugas yang menjadi kewajibannya. Menjelang tengah hari, beberapa pekerjaan membawanya berada tidak jauh dari Pangeran Purbaya. Orang-orang yang sebelumnya berada di ruangan itu satu demi satu telah meninggalkan tempat setelah menyelesaikan keperluan masing-masing.

Akhirnya hanya tinggal mereka berdua—sebuah keadaan yang memang seringkali terjadi dalam keseharian.

Pangeran Purbaya masih duduk di tempatnya dengan kesibukan juga seperti hari-hari yang telah berlalu. Sesekali tangannya bergerak membalik lembaran, lalu memandang pda satu bidang agak lama seperti sedang memikirkan sesuatu.

Ki Wira Sentanu hampir saja meninggalkan ruangan. Namun dia teringat rencananya yang diyakini sudah berada di waktu yang tepat.

“Pangeran.”

Pangeran Purbaya mengangguk.

“Ada semacam atau sesuatu yang cukup menganggu pikiran tapi itu bukan sesuatu yang penting, Pangeran,” jawab Ki Wira Sentanu.

Pangeran Purbaya tidak bertanya tapi mengulang sebagian ucapan Ki Wira Sentanu, “Menganggu tapi bukan hal penting.”

Ki Wira Sentanu mengangguk kemudian menarik napas.

“Sedikit yang saya dengar. Tapi apakah benar barak di Tanah Perdikan itu dibentuk bukan seperti barak kebanyakan?”

“Saya mendengar Kyai.”

“Orang-orang yang berada di dalamnya tentu bukan prajurit yang baru kemarin mengenal senjata. Saya pikir begitu karena juga mendengar percakapan prajurit tinggi mengenai sebagian perintah Sinuhun.”

Pangeran Purbaya kembali mengangguk.

“Tetapi sekelompok orang ternyata dapat memasuki barak dan membuat kerusuhan di dalamnya,” lanjut Ki Wira Sentanu. “Memang, mereka gagal menyelamatkan diri. Sebagian bahkan tidak pernah dapat meninggalkan tempat itu. Jika hanya hasil akhirnya yang dilihat, barak telah memenangkan pertempuran.”

“Begitulah kenyataan dan keadaan sebenarnya, Kyai,” sahut Pangeran Purbaya.

“Tetapi menurut saya, Pangeran, persoalannya bukan sekadar mencari pemenang,” kata Ki Wira Sentanu.

Pangeran Purbaya mengangguk lagi. “Silakan.”

“Orang-orang itu dapat menembus lapisan barak,” kata Ki Wira Sentanu. “Itulah yang mengganggu pikiran saya. Barak pasukan khusus dapat dimasuki sekelompok orang hingga pertempuran berlangsung di dalam lingkungan mereka sendiri. Sekalipun para penyerang akhirnya gagal, bukankah keadaan itu tetap menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya?”

“Benar, seperti saya katakan, begitulah kenyataan dan keadaannya di sana, Kyai. Kabar sudah menyebar. Berita itu memanglah kebenaran,” ucap Pangeran Purbaya.

Dengan segala ketenangan dan jangkauan pengalaman, sikap Ki Wira Sentanu masih belum berubah meski hatinya bersorak. Ini di luar dugaan. Tanggapan Pangeran Purbaya di luar perkiraannya. Awalnya dia merasa Pangeran Purbaya memberikan alasan atau setidaknya mengatakan bahwa keadaan pada waktu itu memang berbeda. Ternyata tidak.

Ki Wira Sentanu pun melanjutkan, “Lalu terjadi serangan berikutnya.”

Terdengar hembus napas halus dari orang itu sebelum meneruskan kata-kata. “Gerbang barat, katanya, kembali diserang dan, lagi-lagi, katanya, yang bertahan di sana justru pengawal Tanah Perdikan. Dan menurut saya, itu aneh.”

  • Mendengar kata aneh yang tidak ditujukan padanya, Orang itu pun mengerutkan dahi. Pikirnya, berapa lama lagi Swandaru akan pulang ke Sangkal Putung sehingga tidak terbelit Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh? Hingga sejauh ini, orang itu dan Kademangan Sangkal Putung belum mendapatkan jawaban. Mungkin baru ada ketika Buku 7 Kitab Kyai Gringsing – Waru Geni sudah mulai ditayangkan.
  • Namun sebelum itu, setelah membaca Bara di Bukit Menoreh 31 dari samping padepokan ini, Pangeran Purbaya berkata pada Ki Patih Mandaraka, “Permintaan pada ayahnya agar mengundurkan diri lalu menyerahkan Sangkal Putung sepenuhnya pada pemberontak, itu sudah jelas bukan lagi perangkap.”
  • Dengan begitu, Ken Arok mempunyai alasan untuk menjalankan niatnya: tidak mengabarkan kedatangan Toh Kuning pada pemimpin Padepokan Branjangan Putih. Bergabunglah di bangsal 6 bersama Toh Kuning dan Ken Arok.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.