0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 94 – Sebuah Usulan: Copot Agung Sedayu dari Kedudukan Pemimpin Barak Pasukan

Dironda 92 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Wira Sentanu masih terngiang percakapan yang didengarnya di Keraton. Persoalan barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh mendorongnya menyampaikan kegelisahan kepada Pangeran Purbaya. Pembicaraan itu kemudian menyingkap keadaan yang tidak biasa: barak dapat ditembus dari dalam, sementara serangan berikutnya di gerbang barat kembali melibatkan pengawal Tanah Perdikan.

“Aneh? Yah, Kyai benar karena seharusnya yang bertahan adalah prajurit Mataram. Benar, Kyai benar jika merasa aneh dan saya juga sudah menerima laporannya dan memang seperti itu, Kyai,” sahut Pangeran Purbaya.

“Tetapi, Pangeran, ada lagi yang aneh, menurut saya. Kata orang-orang, serangan susulan itu kemudian berakhir tiba-tiba. Mereka bilang penyerang itu mendadak mundur,” Ki Wira Sentanu menambahkan.

“Orang-orang dan mereka,” ulang Pangeran Purbaya kemudian memandang Ki Wira Sentanu.

“Kyai, siapakah orang-orang dan mereka itu?”

“Yah, orang-orang itu, Pangeran. Maksud saya, banyak orang yang bercakap-cakap di kedai belakang Keraton dengan kabar seperti yang saya katakan pada Panjenengan sekarang,” jawab Ki Wira Sentanu dengan nada datar dan raut wajah seakan-akan benar dia tidak tahu selain mendengar.

Pangeran Purbaya terdengar bergumam pelan tapi tidak terdengar jelas kalimat yang keluar darinya.

Ki Wira Sentanu memandang wajah putra Panembahan Senapati itu dari samping barang sesaat—seperti sedang meraba jalan pikirannya.

Agak lama kemudian, pelayan yang dekat dengan Sunan Agung itu berkata lagi, “Pangeran, saya tidak bermaksud buruk dengan mengatakan yang tidak pantas untuk pengawal Menoreh. Mereka sudah menyatu dengan barak dalam waktu lama. Mereka juga orang baik yang mungkin kemampuan beberapa orang di antara mereka berada di atas prajurit biasa.”

Pangeran Purbaya menghela napas pendek, ucapnya kemudian, “Yah, itu adalah kenyataan yang lain lagi.”

Seberapa pantas…. Ucapan Sunan Agung itu mengisi ruang pikiran Ki Wira Sentanu lebih lama. Dia membutuhkan waktu untuk mengungkapkan pikirannya. Sudah barang tentu dia merasa aman jika menggunakan kata lain yang senada.

“Saya hanya tidak ingin salah menempatkan diri dalam memandang barak yang sebenarnya milik Mataram, Pangeran,” kata Ki Wira Sentanu akhirnya.

Pangeran Purbaya mengangguk.

“Karena sudah terang dan jelas bahwa saya ini bukan siapa-siapa di segala lingkungan, hanya orang biasa yang melayani Sunan Agung,” lanjut Ki Wira Sentanu. “Maka tetap saja pertanyaan itu sangat menganggu, apalagi ketika ada orang bertanya mengenai sikap atau pendapat saya tentang barak yang diserang.”

“Bagaimana itu?” tanya Pangeran Purbaya dengan alis tertaut.

“Saya hanya sering bertanya sendiri, ke mana sebenarnya prajurit Mataram saat itu? Jika dalam keadaan genting seperti malam itu, gerbang memang tidak kosong, tapi mengapa justru dipenuhi oleh pengawal Menoreh?”

Ki Wira Sentanu diam sejenak, lalu berkata lagi, “Tapi saya sadar bahwa itu sangat jauh dari jangkauan saya dan bukan hak saya untuk membicarakannya. Ini hanya sekadar gangguan pikiran semata.”

Pangeran Purbaya menggerakkan tangan, lalu berkata, “Pendapat Kyai tidak salah seluruhnya. Bahkan adanya pengawal Menoreh yang turut bertempur pun seolah menyadarkan saya bahwa ada yang tidak wajar terkait keadaan itu.”

Ki Wira Sentanu menunggu. Dia sadar bahwa besar kemungkinan Pangeran Purbaya menyebut nama Agung Sedayu atau mungkin yang lebih tua, Ki Gede Menoreh. Itu jelas dapat menempatkan dirinya dalam kedudukan yang tidak tepat dalam persoalan itu meski hanya sebatas percakapan senggang.

Pangeran Purbaya bersandar sedikit. “Sebuah barak Mataram sudah seharusnya mempunyai kekuatan yang cukup untuk menjaga dirinya sendiri. Jika pada keadaan tertentu orang-orang dari luar harus ikut menutup kekurangan, tentu wajar bila seseorang kemudian mempunyai pendapat yang sama dengan Kyai.”

Angin berhembus perlahan, mengisi setiap jengkal ruangan yang lengang itu.

Dalam kesempatan itu, Ki Wira Sentanu merasa bahwa  pembicaraan itu mulai bergerak menuju arah yang sejak semula berada di dalam pikirannya.

“Tetapi saya bisa juga keliru dan salah, Pangeran,” katanya kemudian.

Pangeran Purbaya menggeleng kemudian berkata, “Apa pun itu, apa saja yang menjadi pendapat atau anggapan orang, kenyataan bahwa Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak dapat menangani begitu banyak persoalan yang dihadapi barak itu tentu tidak dapat diabaikan.”

Ki Wira Sentanu menarik napas perlahan sebelum melanjutkan, “Saya pernah menjumpai keadaan seperti itu ketika masih berguru dahulu. Beberapa perguruan menempatkan putut atau murid pertama pada kedudukan yang tinggi. Pada mulanya tidak ada persoalan. Mereka menjalankan kewajiban sebagaimana yang dikehendaki gurunya.”

Pangeran Purbaya mendengar dengan saksama.

“Waktu yang panjang terkadang mengubah sesuatu.” Ki Wira Sentanu menarik napas. “Bukan kemampuan mereka yang berkurang. Bukan pula karena mereka menjadi orang yang buruk. Tetapi perlahan-lahan tumbuh perasaan bahwa perguruan itu adalah perguruannya. Orang-orang di dalamnya adalah orang-orangnya. Bahkan aturan yang semula harus dijaganya mulai dipandang sebagai sesuatu yang dapat ditentukan menurut pertimbangannya sendiri.”

Pangeran Purbaya masih cukup nyaman dengan diamnya.

“Memandang keadaan itu, saya pikir batas antara pengawal Menoreh dan prajurit Mataram menjadi sesuatu yang samar untuk diperkirakan atau dinilai.”

Untuk beberapa saat Pangeran Purbaya hanya memandangnya kemudian mengangguk berulang-ulang sebelum bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah memasuki sebuah bilik di bagian dalam ruangan.

Ki Wira Sentanu mengikuti kepergiannya dengan pandangan. Dia tidak mengetahui jika ada perkataannya telah menyinggung sesuatu yang seharusnya tidak dikatakannya. Namun sebelum sempat membuat dugaan lebih jauh, Pangeran Purbaya telah muncul kembali.

Pangeran Purbaya kembali duduk, kemudian meletakkan benda itu di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arah Ki Wira Sentanu. Sebuah lencana satuan sandi Mataram yang serupa dengan milik Ki Wedoro Anom.

Ki Wira Sentanu menundukkan wajah. Pandangannya tertahan pada benda itu beberapa saat sebelum beralih kepada Pangeran Purbaya. Sesaat dia mengerutkan kening.

“Bukan, bukan itu maksud saya, Pangeran,” kata Ki Wira Sentanu dengan sungguh-sungguh. nya. “Saya tidak sedang berbicara atau mengusulkan untuk mencopot atau mengganti Ki Tumenggung Agung Sedayu. Bahkan memikirannya pun tidak. Saya jelas melakukan kesalahan jika menyelidiki Ki Tumenggung.”

Pangeran Purbaya mengangguk perlahan. “Kami tahu. Kyai memang tidak mengatakan atau berniat seperti itu.”

Sejenak Pangeran Purbaya memandang lencana di atas meja lalu memperhatikan sekilas wajah Ki Wira Sentanu. Tetap tenang, pikirnya.

“Tetapi kami pikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengganti Ki Tumenggung Agung Sedayu dari kedudukannya sebagai pemimpin barak.”

Hening datang beberapa saat lalu Pangeran Purbaya berkata lagi, “Kami memang atasan Agung Sedayu, tetapi kami tidak mempunyai hak untuk begitu saja melepaskan kedudukannya sebagai pemimpin barak pasukan khusus di Tanah Perdikan.”

Ki Wira Sentanu berpikir lebih keras tapi belum muncul dugaan dalam pikirannya.

“Pertimbangan dan penilaian mengenai kedudukannya sepenuhnya berada di tangan Ki Gede Menoreh sebagai penguasa dan pemangku wilayah.”

Ki Wira Sentanu mengangguk sambil memandang lencana di atas meja. Untuk beberapa saat dia masih mengamatinya. Pikirannya bergerak cepat bahwa sebelumnya dia datang membawa persoalan tentang Agung Sedayu dan barak pasukan khusus. Namun Pangeran Purbaya justru mengirimnya menghadap Ki Gede Menoreh dengan sebuah lencana satuan sandi Mataram di tangannya. Untuk penyelesaian.

Sangkal Putung.

Pada waktu yang hampir dapat dikatakan bersamaan dengan banyak pembicaraan di Kotaraja, sinar matahari yang menyentuh atap-atap rumah dan pepohonan di sekitarnya.

Agung Sedayu berada di rumahnya.

Sekar Mirah yang sejak beberapa saat sebelumnya berada di bagian belakang rumah kemudian muncul sambil membawa sesuatu di tangannya. Sekar Mirah duduk tidak jauh darinya.

“Kakang tidak beristirahat?”

Agung Sedayu tersenyum lalu memandang putri kecilnya. “Sulit jika anak ini masih saja tersenyum dan tertawa sendiri.”

Sekar Mirah mengembangkan senyum lalu membelai wangi Sriwedari.

Untuk beberapa saat keduanya membicarakan beberapa hal yang tidak jauh dari kehidupan mereka sendiri. Keadaan rumah, orang-orang yang dikenalnya di Sangkal Putung, serta beberapa pekerjaan yang selama ini lebih banyak ditinggalkan Agung Sedayu kepada Sekar Mirah.

“Kapankah Kakang kembali ke barak?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Entahlah, aku hanya merasa sedikit tidak nyaman jika kembali dalam waktu yang pendek.”

Sekar Mirah memandangnya.

“Ada yang harus Kakang kerjakan?”

Agung Sedayu mengangguk kecil. “Ada beberapa hal.”

Sekar Mirah tidak bertanya lebih jauh. Dia telah terlalu lama mengenal suaminya untuk mengetahui bahwa tidak semua persoalan yang dibawa Agung Sedayu dapat dibicarakan setiap saat bertemu.

Beberapa saat kemudian percakapan mereka beralih lagi kepada persoalan-persoalan sederhana di Sangkal Putung. Termasuk kesehatan Ki Demang yang terus menurun kemudian menyentuh juga masalah rumah tangga Swandaru.

Sekar Mirah menarik napas panjang. “Bagaimana keadaan Kakang Swandaru sekarang?”

“Dia masih di barak pasukan khusus untuk perawatan,” ucap Agung Sedayu dengan nada sedikit getir. Terasa pula getar lain dari suaranya. Hubungannya dengan Swandaru telah terjalin terlalu lama untuk dapat dipisahkan hanya oleh satu atau dua peristiwa. Mereka adalah murid Kyai Gringsing yang telah mengalami berbagai kesulitan, bahaya, bahkan mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan yang sama. Kemudian hubungan itu menjadi semakin dekat ketika mereka dipertautkan pula oleh ikatan keluarga.

Karena itu, yang kemudian terjadi di antara mereka cukup sulit untuk diterima Agung Sedayu sebagai persoalan seorang lawan yang harus dikalahkan. Swandaru tetaplah adik seperguruannya, sekaligus kakak dari perempuan yang menjadi istrinya.

Sekar Mirah menangkap nada itu. Bahkan pikirannya telah bergerak lebih jauh. Atas keterlibatan Swandaru pada gerakan Raden Atmandaru, dia sudah merasa sulit bagi kakaknya untuk menghindari tatap mata dan penilaian orang. Lalu, bagaimana dengan masa depan Sangkal Putung sendiri.

“Hubungan Kakang Swandaru dengan Mbokayu Pandan Wangi agaknya menjadi rumit seiring keputusannya mengikuti Raden Atmandaru,” ucap Sekar Mirah kemudian. “Meskipun akhirnya Kakang Swandaru mengurungkan niatnya dan meninggalkan gerakan itu di tengah jalan.”

Agung Sedayu mengangguk perlahan. Dia sadar jika sudah menyentuh dua persoalan itu, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, maka batasan yang tegas dan jelas harus segera dibuat. Putra bungsu Ki Sadewa ini mengerti arah pikiran istrinya. Setiap pilihan dan keputusan Swandaru tentu tidak dapat dilepaskan begitu saja akibatnya dari dua wilayah tersebut. Pandan Wangi adalah istrinya sekaligus putri tunggal Ki Gede Menoreh. Maka menjadi jelas dan tidak perlu diduga apabila Ki Gede Menoreh sendiri pun mempunyai pertimbangannya sendiri, terlebih jika persoalan itu disentuhkan dengan kedudukan dan kepentingan Tanah Perdikan Menoreh.

  • Dia tidak ingin melepas Agung Sedayu sebagai sasaran tembak. Tapi bagaimana bila kemudian dia membiarkan Agung Sedayu? “Apabila engkau melepas diri dari perintah Ki Rangga, maka itu adalah tali yang putus,” demikian pesan Mpu Nambi kepada Bondan saat Majapahit melakukan Persiapan 1.
  • Yang terjadi malah kekacauan ketika seseorang mengabaikan. Benar, dua orang di zaman Mataram tidak mendengar. Maka pertarungan tetap berlangsung di gelanggang Agung Sedayu Terperdaya 30. Dalam waktu itu, tandang Ki Tunggul Pitu ternyata mendatangkan kesulitan tersendiri bagi Agung Sedayu.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.