Dironda 73 kali
Namun begitulah, setiap tekanan Ki Sanggabaya pada Ugrasena selalu terhalang Ki Warujayeng. Sebaliknya, setiap kali Ki Warujayeng berusaha melampiaskan dendamnya kepada Ki Sanggabaya karena sakit hati pada Agung Sedayu, Jaka Awar-Awar telah lebih dahulu menghadang jalurnya.
Dengan demikian, pertempuran itu seakan membelah diri menjadi dua arus yang saling mengikat, tanpa memberi kesempatan kepada seseorang dapat berbuat sesuai kehendak sendiri.
Sejak saat itu, setiap upaya untuk menerobos kerumunan selalu berakhir dengan benturan yang memaksanya kembali ke tengah pertempuran. Sebaliknya, setiap kali seseorang berusaha memaksa perkelahian menjadi rapat, lawannya selalu menemukan jalan untuk menyeret gelanggang melebar.
Gelanggang runit itu begitu sengit sehingga dapat mempengaruhi pertempuran makin meluas hingga melewati halaman timur barak pasukan khusus.
Secara menyeluruh, pertempuran yang pecah di seputaran barak itu memang dahsyat. Tidak hanya terpusat pada pemimpin setiap medan tetapi juga kedahsyatan itu menjalar hingga pelaksanaan gelar.
Rupanya para penyerang yang sebenarnya gabungan dari perguruan Ki Jabon Seta dan orang-orang suruhan Ki Tumenggung Adiyasa itu tidak hanya mempunyai kelebihan kanuragan. Mereka serba sedikit memahami pula cara mengembangkan atau melemahkan gelar lawan. Namun dan tentu saja, kemampuan mereka tidak dapat dibandingkan dengan pengikut Raden Atmandaru meski sama-sama cakap dan lihai bertempur.
Kerja sama dan pengertian yang sangat baik di antara mereka, diakui atau tidak, tetaplah dapat disebut pembeda walau belum dapat menentukan hasil akhir.
Sebuah bayangan berderap dengan kecepatan melebihi lari seekor kuda datang dari arah timur. Dia meluncur dari arah timur tapi bukan jurusan dari kediaman Ki Gede.
Ki Demang Brumbung.
Setelah beberapa lama mengikuti perkembangan pertempuran yang berkecamuk di sekeliling barak, dia akhirnya memutuskan untuk bergerak. Agung Sedayu telah memberinya tugas khusus: pengamatan dari luar barak sekitar satu atau dua hari sebelum perang tanding Pancuran Watu Item.
Sedikitnya prajurit yang tinggal di dalam barak sudah tentu tidak sebanding dengan ancaman yang meningkat di pedukuhan induk. Atas pertimbangan keadaan yang rawan dengan pecahnya benturan sesama perguruan atau justru dengan pengawal Menoreh, mendorong Agung Sedayu untuk melibatkan pula pengawal dari dusun yang berada di seputar pedukuhan induk. Demikianlah kemudian Ki Demang Brumbung berkeliling antardusun untuk meminta bantuan mereka sebagai pelapis gelanggang luar dan berjaga di titik-titik yang ditetapkan Agung Sedayu. Tempat-tempat tersebut bersesuaian dengan jalur yang menghubungkan barak dengan wilayah masing-masing dusun.
Kurang dari dua kejapan mata, Ki Demang Brumbung telah melabrak gelanggang Ki Sanggabaya. Kedatangannya yang mendadak memaksa Jaka Awar-Awar mengubah perhatian. Desakan demi desakan Ki Demang Brumbung mampu memaksa Ki Warujayeng dan Jaka awar-awar terdorong semakin dekat ke arah gelanggang Jatayu.
Tanpa mengurangi ketajaman serangannya, Ki Demang Brumbung terus menggiring lawannya mendekati barisan pasukan khusus. Ketika jaraknya telah cukup dekat, Ki Demang Brumbung melantangkan perubahan gelar perang. Para prajurit pasukan cepat bergser tempat, menyusun kembali barisan yang sempat porak poranda. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka kembali menjadi barisan yang tegar dan cukup kuat. Mereka bahkan sanggup mempersempit ruang gerak Ki Warujayeng dan Jaka Awar-awar sehingga dua orang ini sedikit jauh dari Ki Sanggabaya.
Kehadiran Ki Demang Brumbung agaknya benar-benar mampu mengubah keadaan.
Jatayu menjadi tak lagi leluasa menyerang setiap prajurit Mataram seperti sebelumnya. Ki Demang Brumbung adalah batu cadas yang dapat melukainya bila dia memaksa.
Ki Sanggabaya pun mendapatkan ketenangannya kembali sehingga senapati ini pun dapat menekan Ugrasena dengan sangat kuat. Tidak ada lagi Ki Warujayeng yang dapat sewaktu-waktu memotong jalannya. Tidak ada pula Jaka Awar-Awar yang membuat pertempuran menjadi rumit. Dengan segenap perhatian dan ilmu yang tersimpan dalam dirinya, Ki Sanggabaya pun bertarung dengan cara yang belum pernah dilihat oleh banyak prajurit Mataram.
Jaka Awar-Awar menangkap perubahan yang sedang terjadi. Tanpa membuang waktu, dia meraih lengan Ki Warujayeng, menariknya dengan paksa keluar pengaruh kehadiran Ki Demang Brumbung.
“Kyai, mari! Dendam Kyai tidak akan dapat ditunaikan malam ini!” ucap Jaka Awar-Awar agak keras.
Ki Warujayeng masih berusaha menghentakkan kapak kecilnya untuk mematahkan serangan Ki Sangabaya yang mengejar Ugrasena. Namun Jaka Awar-Awar tidak memberi kesempatan lagi. Dengan tetap menggenggam lengan orang tua itu, dia memaksanya bergeser meninggalkan gelanggang.
Sementara dari luar gelanggang, Ki Astaman melihat Ki Demang Brumbung telah memasuki pertempuran. Arah pertempuran dapat dibaca kembali.
Sorot matanya seketika berubah.
“Orang ini,” desisnya dalam hati. “Panji kemenangan di Kendil rupanya belum membuatnya puas. Sekarang dia datang pula mengacak-acak orang-orang Ki Jabon Seta.”
Tanpa membuang waktu, dia berlari kecil menuju bagian timur gelanggang. Tapi Ki Astaman tidak berniat turut bertempur. Kekacauan ini tidak membawa kepentingannya, demikian pikirannya.
Ki Astaman menggebrak kerumunun timur untuk membuka ruang yang cukup bagi Jaka Awar-Awar dan Ki Warujayeng lepas dari pertempuran.
Ki Warujayeng dan Jaka Awar-Awar yang meninggalkan gelanggang Ki Sanggabaya pun cepat memanfaatkan celah yang terbuka sesaat. Setelah itu, mereka bertiga meninggalkan gelanggang tanpa lagi menoleh ke belakang.
Namun harapan itu tidak berlangsung lama.
Belum jauh mereka bergerak, langkah ketiganya serentak tertahan.
Di hadapan mereka berdiri deretan bayangan hitam yang nyaris tidak bergerak. Jumlahnya banyak. Dalam remang malam, sosok-sosok itu tampak tegak membisu seperti patung-patung yang tumbuh dari bumi.
Tiba-tiba terdengar sebuah aba-aba yang lantang memecah kesunyian.
“Nyalakan oncor!”
Api pun menyala hampir bersamaan. Cahaya yang kemudian berpendar di beberapa titik seketika menerangi wajah-wajah yang sejak tadi bersembunyi di balik gelap. Barisan itu ternyata telah bersiap menunggu untuk menutup jalan pelarian.
Di barisan paling depan berdiri Sayoga dengan sikap tenang tapi kegarangan tidak dapat disembunyikan dari sorot matanya. Di sisi kanan dan kirinya tampak Nyi Banyak Patra serta Kinasih, sementara para pengawal Tanah Perdikan membentuk barisan rapat di belakang mereka, menutup setiap jengkal jalan yang masih mungkin dilalui.
Ki Warujayeng, Ki Astaman, dan Jaka Awar-Awar hanya berhenti sekejap. Dalam satu lirikan mereka telah mengukur kekuatan yang menghadang. Tanpa sepatah kata pun, ketiganya segera membelok, lenyap ke dalam gelap melalui arah yang lain.
Sayoga hanya melihat saja dengan sedikit dugaan seperti pernah melihat sosok Jaka Awar-awar. Demikian pula Nyi Banyak Patra, Kinasih, dan para pengawal Tanah Perdikan. Mereka tetap berdiri pada tempatnya, menutup jalan menuju kediaman Ki Gede Menoreh.
Yang demikian itu terjadi karena pesan Agung Sedayu yang disampaikan Sayoga pada Pandan Wangi. Rupanya isi pesan itu adalah pengawal Tanah Perdikan diminta siap untuk menghadang pertempuran agar tak sampai memasuki pedukuhan induk, terutama kediaman Ki Gede Menoreh.
Keputusan Amuger Klinter untuk mengabaikan senjatanya bukan lahir karena kesombongan semata. Dia mempunyai alasan sangat kuat untuk tetap percaya diri.
Hasrat Amuger Klinter memang masuk akal dan mempunyai kemungkinan besar dapat diwujudkan. Tapi itu hanya dapat terjadi di dalam angan-angannya. Sabungsari sama sekali belum menunjukkan kelemahan yang dapat menjadi keuntungan bagi musuhnya. Putra Ki Gede Telengan ini adalah prajurit Mataram yang sudah menguasai dasar kanuragan yang hebat dari ayahnya. Ditambah kesempatan berlatih di Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom, maka tingkat kemampuan Sabungsari sudah jauh di atas prajurit yang seusia atau setingkat dengannya.
Dalam waktu itu, keputusan Sabungsari tetap berkelahi dengan tangan kosong ternyata menjadi tantangan yang menyulitkan Amuger Klinter. Justru kematangan dirinya dan kehebatan yang tersimpan di balik rangkaian tata gerak Perguruan Orang Bercambuk terungkap melalui setiap serangan Sabungsari. Perpaduan itu tidak memberi kesempatan kepada Amuger Klinter untuk menebak arah berikutnya.
Setiap kali tangan Sabungsari meluncur maka kecepatannya nyaris seperti cambuk yang terlecut. Serangan demi serangan kawan dekat Agung Sedayu ini pun tidak selalu lurus menuju sasaran, tetapi dapat melengkung pada saat terakhir sehingga sulit diduga arahnya. Bahkan ketika kakinya menyapu rendah, geraknya menyerupai ujung cambuk yang mematuk dengan tiba-tiba, Amuger Klinter berulang kali menarik kaki atau melompat ke samping.
Sabungsari, tanpa perlu menggunakan senjata, tampaknya sudah sanggup mengubah setiap bagian tubuhnya menjadi alat serang yang sama berbahaya dengan senjata tajam mematikan.
Amuger Klinter segera merasakan akibatnya.
Dia sadar bahwa di balik setiap ayunan tangan dan setiap tebasan kaki tersembunyi lambaran tenaga cadangan yang deras mengalir dari ilmu jalur Ki Gede Telengan. Tenaga itu tidak meledak keluar dengan sia-sia, namun menggumpal padat menjadi selubung kaki dan tangan. Sehingga sering kali jika terjadi benturan, maka Amuger Klinter selalu merasa ada seekor kerbau yang dilemparkan padanya, seolah-olah dia bukan sedang menahan lengan dan kaki seorang manusia, tapi juga gelombang tenaga yang dapat mencapai puncaknya tepat ketika bersentuhan.
Di dekat ruang tahanan.
Ki Prana Aji bukannya tidak mengalami kesulitan berarti. Pasukan gabungan dari satuan khusus dan prajurit Jati Anom juga bukan tidak mampu mengalahkan kelompok lawan. Lawan mereka dapat dikatakan mempunyai kemampuan yang setara atau di atas lebih sedikit dari pasukan khusus.
Kesulitan itu semakin terasa karena anak buah Amuger Klinter ternyata tidak terpengaruh oleh keadaan pemimpinnya. Walaupun Amuger Klinter belum berhasil menjebol pertahanan Sabungsari, tidak seorang pun di antara mereka kehilangan ketenangan atau memecah perhatian. Tanpa aba-aba, mereka tetap bergerak sebagai sebuah gugus tempur yang utuh. Pergeseran kedudukan tetap luwes mengalir dan berbahaya.
Meski jumlah mereka tidak banyak dan tersebar ke beberapa penjuru barak, tetapi kehadiran prajurit-prajurit Jati Anom dapat mengaburkan ketimpangan itu.
Segenap prajurit dari Jati Anom ini memutar cambuk tidak lagi sebagai senjata untuk menyerang. Dalam putaran yang saling bertaut, cambuk-cambuk itu membentuk semacam jaring hidup yang sanggup menghambat gerak lawan memasuki ruang tempur yang diincar.
- Semburat pertanyaan muncul dari dalam hati mereka—tapi bukan dari prajurit Mataram yang sedang bertempur mempertahankan barak pasukan khusus, siapakah orang yang begitu berani melempar keburukan pada Raden Trenggana? Saya tidak ada wewenang untuk menjawa pertanyaan prajurit-prajurit itu. Serat Lelayu 4 hanya sebuah kisah silat fiksi sejarah zaman yang berlatar Kesultanan Demak.
- Dan jauh sebelum percakapan antra prajurit Demak dan Blambangan terjadi, Raden Trenggana berkata, “Paman Patih, aku akan katakan pada mereka bahwa ini semua adalah urusan keluarga yang belum terselesaikan.” Nah, sekarang kita punya bahan baru untuk turut memikirkan awal mula itu semua di Sabuk Inten 1. Apakah ada ukiran tertentu di batang keris pusaka tersebut?
- Akhir episode 61 ini, kerusuhan di barak ini tentu berdampak pada sepinya pasar dan gardu yang makin ramai penjagaan. Bagikan perhatian yang terbaik agar rakyat Tanah Perdikan, termasuk pengawal, dapat mengiringi setiap langkah Agung Sedayu dan Ki Gede menata ulang wilayah. Perhatian dan sokongan dipusatkan di lumbung wilayah.
