Dironda 29 kali
Pengejaran kelompok Ra Jumantara mencapai hasil.
Malam di tengah hutan berubah menjadi medan pertarungan ketika orang-orang Menoreh harus menghadapi serbuan Padepokan Sanca Dawala. Dalam keadaan yang tidak lagi utuh karena luka, orang-orang dari Menoreh itu terdesak, tapi mereka bertahan dengan sisa tenaga serta tekad yang tidak mudah dipatahkan. Kehadiran Ken Banawa memberi harapan baru, tetapi juga membuat pertempuran bergerak menuju benturan yang jauh lebih berbahaya.
Satu demi satu lingkaran pertempuran berubah menjadi pertarungan hidup dan mati. Jalutama berusaha mempertahankan orang-orang yang tersisa, sementara Ki Swandanu dan para pengawal Menoreh menghadapi lawan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Ken Banawa kemudian berhadapan dengan Ki Arumbaya, seorang lawan yang menyimpan kemarahan besar dan kekuatan yang tidak dapat diremehkan. Dua orang yang sama-sama menguasai olah kanuragan tingkat tinggi itu tidak sekadar saling menguji batas kemampuan tapi ada semacam batas pertaruhan: keselamatan banyak orang.
Di tempat lain, Ki Hanggapati menghadapi Nyi Kirana dalam perkelahian yang menyimpan sesuatu di luar sekadar permusuhan. Sedangkan Bondan harus menghadapi kecepatan Ra Jumantara yang sulit ditangkap mata. Pemuda itu terdesak, tetapi justru memilih mengandalkan dasar ilmu yang telah ditanamkan Resi Gajahyana sejak masa kecilnya.
Ketika sebagian besar pertempuran mulai menemukan ujungnya, satu pertarungan masih berlangsung dengan ketegangan yang semakin tinggi. Malam belum berakhir, dan belum semua rahasia dari bentrokan di tengah hutan itu tersingkap. Siapa yang akan bertahan? Siapa yang merasa tidak perlu ada sesal karena pertempuran malam itu?
- Satu demi satu para petarung pun seakan terikat oleh garis takdir yang mustahil dihindari. Siapa melawan siapa? Mereka tidak dapat memilih ketika Gunung Wilis enggan bersikap ramah.
- Siapa yang akhirnya dapat mengira bahwa Agung Sedayu pun menduga bahwa besar kemungkinan Raden Atmandaru pun menempatkan banyak mata-mata di dalam dusun atau sebagian besar wilayah yang mengitari kotaraja? Saya tidak tahu jadi mari kita menuju Bara di Bukit Menoreh 6 untuk mencari jawaban.
- Menjaga hati. Ini adalah sikap batin Dyah Murti ketika sedang bertapa di Rembulan Jingglang 10. Dia melepaskan satu demi satu hingga tak lagi ada sehelai benang yang menempel padanya.
