Dironda 20 kali
Bhre Pajang anggukkan kepala perlahan. “Kita tidak akan pernah tahu, Paman. Tidak akan tahu kebenaran sejati. Kita, sejauh ini, sedalam yang kita pahami, masih berkutat pada prasangka. Bahkan kebenaran menurut pikiran kita, belum tentu menjadi kebenaran oleh orang lain. Perbedaan kepentingan dan tujuan terkadang menjadi ukuran bagi sebuah kita menilai satu keputusan.”
Raut wajah pemimpin Pajang itu sedikit berubah, meski sekilas namun terlihat oleh Ken Banawa. Dalam hatinya, Ken Banawa ingin mengatakan bahwa dirinya tidak dapat mengatakan Bhre Pajang telah melakukan kesalahan karena sering kali perubahan mampu memaksa satu pendapat secara menyeluruh. Tapi dia percaya karena memang harus percaya pada Bhatara Panjang, percaya bahwa keputusan Bhre Pajang adalah jalan terbaik bagi Bondan. Musibah ini harus mampu dilihat sebagai batu uji. Satu bagian yang harus dilampaui Bonda dengan baik.
Sesaat keduanya bertahap mata secara langsung. Dan Bhre Pajang mengerti bahwa Ken Banawa mempunyai satu pokok bahasan yang akan dinyatakan.
“Tentu Paman Banawa dapat melihat persiapan keras yang dilakukan Pajang. Dia mempunyai dugaan yang kuat dan aku yakin dia telah membuat sebuah kesimpulan,” kata Bhre Pajang dalam hatinya. Setelah merasa sedikit tenang, Bhatara Pajang memberi perkenan untuk Ken Banawa mengatakan hal yang menjadi inti utama pembicaraan itu.
“Tuan Bhatara, saya memang meminta Bondan, Nyi Kirana dan Ki Swandaru tidak mengatakan seluruh yang kami alami di lereng Gunung Wilis,” ucap Ken Banawa.
Bhre Pajang mengangguk, lantas Ken Banawa melanjutkan, “Saya tidak dapat gegabah sebelum mengetahui latar belakang penghadangan itu. Adalah tindakan yang sangat mengusik ketenangan serta kedaulatan rasa aman bagi mereka yang berdiam di seluruh lereng Gunung Wilis. Saya berkata tentang perampasan hadiah dari Ki Buyut Argajalu yang sebenarnya itu adalah persembahan bagi Maharaja Jayanegara. Banyak segi yang dapat membenarkan jika Majapahit mengirim pasukan untuk menumpas mereka. Kedaulatan Majapahit sebagai induk dari seluruh wilayahnya telah diguncang sangat keras ketika sejumlah orang merampas benda berharga yang dikirim dari Pajang untuk Trowulan.”
Bhre Pajang terhenyak. Dadanya berdesir dengan darah yang mengalir lebih cepat di dalam tubuhnya.
“Peristiwa itu telah berlalu sangat lama,” kata Bhre Pajang agak pelan. “Saya tidak dapat mengirim prajurit ke wilayah itu setelah mendengar berita yang menyedihkan keluarga para pengawal dan rakyat Pajang. Bahkan keputusan itu telah menjatuhkan namaku. Aku dikenal sebagai orang yang lemah.”
Ken Banawa memilih untuk menanti Bhatara Pajang mengutarakan alasan kuat di balik keputusannya itu. Dia tidak ingin salah bicara. Satu kesalahan memilih kata akan dapat menyebabkan hancurnya harga diri Bhatara Pajang. Tetapi dia mendengar tepuk sebelah tangan ketika Bhatara Pajang justru meminta Ken Banawa menyampaikan berita yang perlu diketahui olehnya sebagai penguasa Pajang.
Kata Bhre Pajang, “Paman dapat melanjutkan laporan, saya akan menunggu giliran.”
Ken Banawa mengangguk lalu melanjutkan laporannya, “Saat saya berpisah dengan orang-orang, wilayah lereng Gunung Wilis menjadi tempat pertama saya memulai penyelidikan. Sejumlah keterangan telah saya peroleh dan salah satu diantaranya adalah keterlibatan seorang lurah prajurit. Tentu saja itu sangat mengejutkan, dan setelah mendengar kejadian di malam pernikahan Bondan…” Ken Banawa berhenti sejenak. Dia membutuhkan waktu untuk mengatakan kembali yang didengarnya.
Bhre Pajang menunjukkan wajah ingin tahu tetapi dia tidak mengucap sepatah kata. Hanya gerak tangan dan sorot mata yang menjadi tanda bahwa dia sedang menunggu kelanjutan kata-kata Ken Banawa.
“Saya hanya berharap orang itu berada di sini. Orang yang menjadi sebab bagi Pajang tidak mengirim orang untuk berbuat sesuatu atas kejadian yang menimpa para prajuritnya di lereng Wilis.” Sorot mata Ken Banawa menyiratkan gejolak di balik dadanya.
“Saya belum dapat menduga arah laporan Paman,” kata Bhre Pajang.
Ken Banawa menggerakkan kepala. Katanya kemudian, ”Orang yang berpangkat sebagai lurah prajurit itu memotong setiap arus kabar yang bergerak menuju Pajang. Bahkan, menurut keterangan yang saya peroleh, orang itu berhasil meyakinkan Tuan Bhatara untuk tidak mengirim pasukan dengan tujuan mengejar segerombol orang yang membunuh semua prajurit Pajang.”
Dada senapati Majapahit itu agak bergetar. Setelah menata napas sesaat, Ken Banawa berkata lirh namun cukup tajam, “Rangga Jati, tentu Tuan mengingat nama itu. Salah seorang kerabat dekat dengan besan Tuan Bhatara!”
“Sulit untuk tidak berkata saya tidak terkejut! Terlalu sukar untuk mengatakan pada keluarga para prajurit mengenai ayah dan suami yang tidak kunjung pulang! Sangat terjal jika menuruni sebuah tebing tegak lurus untuk berkata di depan banyak orang tua mengenai anak-anak yang tak akan pernah kembali ke rumah!” ucap lirih Bhatara pajang dengan mata menyapu permukaan lantai.
“Paman Banawa, saya memercayai Anda sebagai seseorang yang dianggap sebagai paman oleh keponakan saya. Saya meyakini kebenaran kata-kata yang Anda ucapkan sebagai seorang panglima perang.” Nada suara Bhatara Pajang menggelepar hebat!
Namun begitu, di masih berusaha tenang meski ledakan dahsyat tiba-tiba mengguncang seluruh perasaan dan menggetarkan tubuhnya. Sebilah keris telanjang mendadak berada dalam genggamnya!
“Paman, saya tidak berkata jika pada masa itu saya tidak mendengar pertimbangan Ki Banyak Abang, tetapi dua orang secara meyakinkan mampu menahan kepergian saya!”
Menyadari jika dirinya mulai kehilangan kendali, Bhatara Pajang menghentikan ucapannya. Dia merasa harus dapat menenangkan diri meski secara nyata telah dikelabui oleh penglihatannya sendiri. Berita yang dikatakan oleh Ken Banawa telah mengubah segalanya, terlintas satu pikiran di dalam benak Bhatara Pajang.
Sejenak Bhre Pajang menata diri, menarik napas panjang perlahan. Seluruh guncangan harus dapat diredam sebelum melanjutkan kembali perkataannya.
Ketika merasa amarahnya mereda, Bhre Pajang berkata, “Rangga Jati datang menemui saya dengan sejumlah prajurit dengan luka dan darah yang telah mengering. Dia berkata tentang pertempuran yang terjadi di antara pasukan Pajang dengan sekelompok orang. Dia juga melaporkan pada saya bahwa pasukannya harus meninggalkan lereng Wilis untuk menjauh dari kejaran para pembantai pasukan Pajang. Dan Rangga Jati meminta saya untuk tidak mengirim pasukan untuk menuntut balas.”
Sesaat kesunyian menyergap ruang yang menaungi mereka berdua.
Bhatara Pajang melanjutkan ucapannya, “Saya mengingatnya, saya ingat ucapannya. Dia mengatakan ‘Tidak ada jaminan keamanan apabila Bhatara Pajang memimpin pasukan untuk berburu di Gunung Wilis. Sebuah perangkap telah disiapkan untuk membunuh Bhre Pajang.’
“Pada saat yang nyaris bersamaan, Eyang Resi memberi kabar tentang beberapa kelompok orang yang berkemah dan tersebar secara merata di sepanjang jalur Pajang-Wilis. ‘Engkau tidak akan dapat kembali’ itu adalah ucapan Eyang Resi padaku.”
Bhre Pajang menghela napas. Dia mengambil masa untuk mendiamkan diri barang sejenak sebelum menyarungkan kembali kerisnya. Lalu melanjutkan kembali, “Pada saat itu kami kedatangan seorang lelaki, utusan dari kotaraja. Sebenarnya aku tidak mengetahui tujuan kedatangan seseorang yang kabarnya, waktu itu, berdasarkan pengakuannya, adalah utusan Mpu Nambi. Utusan ini memberi keterangan yang nyaris sama dengan Eyang Resi. Bahkan dia menemukan kenyataan lain yang akhirnya membenamkan diriku sangat dalam.”
“Utusan Mpu Nambi,” gumam Ken Banawa. Dia bertanya pada dirinya tentang jati diri utusan itu. “Tentu bukan orang biasa atau prajurit yang berkemampuan rata-rata. Menjadi utusan seorang Mpu Nambi adalah keadaan yang luar biasa. Siapakah orang ini?”
“Utusan ini, orang ini begitu meyakinkan dan ia memintaku untuk tetap merahasiakan namanya.” Suara Bhre Pajang telah terdengar cukup tenang. “Ia menemuiku dua kali.”
“Dua kali.” Ken Banawa mengulang.
“Pertemuan pertama adalah permintaan dari Mpu Nambi agar aku tidak keluar dari kota Pajang. Selepas itu, dia meninggalkan istana dan kembali sepekan kemudian untuk bicara empat mata denganku. Pada pembicaraan yang kedua, dia melaporkan penemuannya. Katanya, dia melihat banyak kelompok telah bersiap mengambil alih Pajang dari tanganku. Dan aku harus percaya padanya! Dia mengeluarkan sebongkah kuningan berbentuk lingkaran dengan tanda khusus, tanda yang hanya dikenali oleh para adipati, tanda yang hanya berjumlah satu biji dan dimiliki oleh seorang petinggi Majapahit.”
Ken Banawa merasa hampir tak sanggup memandang wajah Bhatara Pajang.
“Orang ini adalah petinggi Majapahit. Dia adalah Mpu Nambi dalam tubuh yang berbeda! Paman, saat itu saya merasa wajib percaya padanya!” Bhre Pajang mengatup erat bibirnya lalu mengalihkan pandang matanya. Dia melihat ke bawah lalu memejamkan mata.
- Toh Kuning memang bukan Mpu Nambi, maka dengan demikian dapat dibayangkan betapa hebat pertarungan yang terjadi di antara mereka. Ken Arok sesekali mengeluarkan kata-kata kasar untuk merobek ketenangan saudara seperguruannya itu di Tanah Larangan 4.
- Meski begitu, Trowulan bukanlah Tanah Larangan yang dimaksud oleh Toh Kuning meski seseorang mengatakan Arahkan penculik itu ke Trowulan! Tapi kita lebih baik menunggu mereka di Penculikan 2, bukan di Trowulan.
- Badai dari Grajegan ini banyak menyebut nama Mpu Nambi, ataukah nama itu sudah muncul sebelumnya di Langit Hitam Majapahit?
- Padepokan Witasem mempunyai kisah, Anda bervisual. Mari berkolaborasi
