0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 60 – Badai Pertempuran di Sisi Timur Barak Pasukan Khusus

Dironda 106 kali

Di tempat yang agak jauh dari gelanggang, dekat kebun singkong yang memisahkan lingkungan barak dengan jalan menuju kediaman Ki Gede Menoreh, Ki Astaman dan Jaka Awar-awar saling berpandangan. Untuk beberapa saat mereka hanya mampu menggelengkan kepala berulang-ulang.

“Ki Warujayeng, mengapa seperti lepas kendali?” begitu kata hati Jaka Awar-awar.

Pada mulanya, mereka bertiga sengaja berpencar, mengawasi beberapa tempat yang sejak awal mereka curigai dapat menjadi jalan munculnya perubahan keadaan. Setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka kembali berkumpul di tepi kebun singkong itu untuk menyatukan pengamatan masing-masing.

Namun, belum sempat mereka mengambil keputusan berikutnya, Ki Warujayeng tiba-tiba melesat meninggalkan mereka.

Selain Jaka Awar-awar yang mengetahui alasan pasti Ki Warujayeng, maka tidak seorang pun dapat menebak latar belakang yang memicu kegilaan itu terjadi. Tidak juga Ki Astaman yang belum sempat bertanya-tanya pada dua orang yang baru dikenalnya itu. Yang pasti hanya satu hal: dua orang ini sadar bahwa mereka terlambat.

Ki Astaman menyayangkan jika kegilaan itu terjadi tanpa tujuan dan hanya sebagai pelampiasan saja. Dia sudah menduga bahwa kehadiran Ki Warujayeng dan Jaka Awar-awar di sekitar barak bukan tanpa maksud dan niat yang sangat kuat.

Pada waktu itu, Jaka Awar-awar cepat berpikir untuk menyusul masuk ke dalam gelanggang pertempuran.

“Boleh saja membalas dendam, tapi ini bukan jalan yang tepat,” katanya dalam hati saat melihat sepak terjang Ki Warujayeng yang memang memperlihatkan perasaan saja.

Baik Ki Sanggabaya, Ugrasena dan Jatayu yang bertempur dengan pertanyaan baru: apakah dia datang untuk membantu salah satu kubu? Mataram dan Menoreh atau penyerang?

Kekacauan besar pun cepat terjadi lalu mengacaukan seluruh siasat yang sejak semula telah disusun oleh setiap pemimpin yang tidak berada di sekitar gelanggang.

Jaka Awar-awar mengembuskan napas panjang. Pandangannya tidak pernah lepas dari Ki Warujayeng yang semakin jauh menerobos ke tengah gelanggang. Dia paham bahwa sekali dendam menguasai hati Ki Warujayeng, sangat sukar bagi orang lain untuk mengubah arah langkahnya. Bahkan apabila Ki Rangga Sanggabaya benar-benar dapat dikalahkannya sekalipun, Warujayeng justru akan menjadi sasaran berikutnya bagi seluruh pasukan khusus Mataram.

Itu bukan hasil yang mereka kehendaki. Karena sasaran sesungguhnya adalah Agung Sedayu, bukan orang lain. Tapi bagi Ki Warujayeng, selama masih dapat melukai orang-orang dekat Sedayu maka pembalasannya sudah mendekati akhir. Kematian Ki Kebo Surongudan di tangan Agung Sedayu rupanya menjadi kenangan oahit yang sangat tajam menggores perasaan Ki Warujayeng

Jaka Awar-awar tidak membuang waktu lebih lama.

Tubuhnya melenting deras, membelah gelap malam melalui celah yang terbuka di antara para prajurit yang sedang bertempur. Gerakannya tidak mengarah kepada Ki Rangga Sanggabaya ataupun prajurit-prajurit Mataram yang berada di sekitarnya. Seluruh perhatiannya tertuju pada satu orang. Ki Warujayeng.

Baginya, menarik Ki Warujayeng keluar dari pusaran pertempuran jauh lebih penting daripada membiarkan orang itu memuaskan dendamnya pada malam itu.

Ki Astaman tetap tidak bergeser dari tempatnya. Pandangan matanya bergantian menyapu gelanggang di depan gerbang timur, kebun singkong yang memisahkan barak dengan jalan menuju kediaman Ki Gede Menoreh, lalu kembali pada pertempuran yang semakin sengit.

Tidak seperti Ki Warujayeng yang dikuasai dendam ataupun Jaka Awar-awar yang akhirnya turun tangan demi menyelamatkan kawannya itu, Ki Astaman tidak mempunyai kepentingan pribadi pada malam itu. Karena itulah pikirannya tetap jernih menimbang setiap perubahan yang terjadi.

Menurut pengamatannya, keseimbangan pertempuran belum benar-benar berpihak kepada salah satu kubu. Pasukan khusus Mataram memang perlahan menguasai gelanggang, tapi kelompok penyerang pun masih memiliki daya gempur yang berbahaya. Selama keadaan tidak berubah, pertempuran itu agaknya akan berlangsung cukup lama.

Namun pengamatan itu pun menjadi berbeda saat pandang matanya beralih ke satu jurusan: arah kediaman Ki Gede Menoreh.

Keningnya berkerut tipis.

Bagaimana jika pada saat yang menentukan nanti para pengawal Menoreh justru muncul dari arah itu?

Nalar Ki Astaman segera merangkai segala kemungkinan. Apabila orang-orang Menoreh bergerak keluar dari kediaman Ki Gede pada saat pasukan penyerang sedang terikat sepenuhnya di depan gerbang, maka keadaan dapat berbalik dalam waktu yang sangat singkat. Barisan penyerang akan terjepit dari dua arah tanpa mempunyai cukup ruang untuk mengatur diri. Sedikit sekali yang mungkin dapat menyelamatkan diri, bahkan bukan mustahil seluruh kekuatan yang malam itu menyerbu barak akan musnah di tempat.

Ki Astaman tidak pernah menganggap Menoreh sebagai sebuah wilayah lemah yang mudah dibaca. Dua kali pengalaman buruk di lereng Gunung Kendil membuatnya lebih berkati-hati.

Dan sampai saat itu, menurut perhitungannya, Menoreh masih belum mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

“Seperti biasa, mereka seolah tidak peduli dan tetap tenang melewati hari,” ucapnya dalam hati. Kenyataan itulah yang benar-benar mengusik ketenangan hati Ki Astaman.

Sementara itu, perkelahian rumit sungguh terjadi di tengah gelanggang. Ki Sanggabaya seorang diri bertempur dengan dahsyat melawan Ki Warujayeng dan Ugrasena. Dua orang yang tidak saling mengenal itu bertarung seolah telah dan pernah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Keadaan itu nyaris tak terbantah ketika setiap tekanan pada salah seorang lawan dari Ki Sanggabaya, maka datang kemudian dari sisi yang lain untuk membukanya dengan gebrakan yang luar biasa.

Ki Warujayeng bertempur seperti orang yang kehilangan arah. Tampaknya dia benar-benar mencari pelampiasan dari kekalahan atau pengusiran kemah utara sebelumnya. Kehormatan perguruannya dilindas tanpa ampun oleh sekelompok lelaki muda bersama dua perempuan. Kenangan itu masih membakar dadanya.

Yang lebih menyakitkan lagi, bukan sekadar kekalahan itu sendiri, tetapi sebuah kenyataan bahwa ilmu Panglimunan—warisan sebuah perguruan tua yang selama ratusan tahun dipandang sebagai salah satu puncak ilmu olah kanuragan—ternyata dapat dipatahkan oleh Agung Sedayu. Kepercayaan yang selama ini tumbuh bahwa ajaran Panglimunan hampir tak memiliki tandingan seketika runtuh dalam satu pertempuran.

Karena itu, sejak awal serangan Ki Warujayeng tidak mengenal ukuran. Senjatanya menebas datar, menyilang, memotong sambing dengan tata gerak yang nyaris suli dipahami. Dalam pikirannya, yang tersisa hanya hasrat untuk menegakkan nama besar ilmu yang diyakininya, meskipun yang mati bukan Agung Sedayu dan itu sudah pantas untuk saat ini.

Meskipun masih mengandalkan tenaga wadag serta kelincahan gerak yang hebat, ayunan kapak beliung yang mengalir melalui tata gerak yang hebat tetap saja mendesing tajam. Serangan demi serangan Ki Warujayeng mampu memaksa Ki Sanggabaya mengurungkan niat ketika akan mendesak Ugrasena.

Di sisi lain, Ugrasena memperlihatkan kelincahan yang cukup merepotkan Ki Sanggabaya. Dia jarang memaksakan benturan tenaga. Sebaliknya, lelaki yang mungkin sepantaran dengan Glagah Putih ini memilih terus bergerak mengitari gelanggang, muncul dan lenyap dari sudut pandang Ki Sanggabaya, menyisipkan serangan-serangan pendek yang dapat menghilangkan nyawa. Dan ternyata gangguan-gangguan kecil itulah yang memberi kesempatan bagi Ki Warujayeng untuk melepaskan serangan-serangan yang semakin berbahaya.

Setiap kali berhasil memaksa salah seorang mundur selangkah, lawan yang lain telah lebih dahulu mengambil tempat yang kosong. Lambat laun, keunggulan jumlah benar-benar mulai menunjukkan pengaruhnya—menekan ki Sanggabaya dengan sangat hebat.

Beberapa saat kemudian, Ki Sanggabaya mulai terdesak. Untuk sementara, dia masih mampu mempertahankan keseimbangan tetapi ruang geraknya makin sempit.

Tanpa menimbang lebih lama, seketika pertempurannya meningkat selapis lebih tinggi. Tenaga cadangan yang selama ini masih disimpannya mulai mengalir deras memasuki keris di tangannya. Bilah logam berlekuk pendek itu berputar sangat cepat hingga memancarkan gaung nyaring yang menggetarkan udara di sekitarnya. Putaran angin pun terbentuk, menyapu debu dan dedaunan kering yang beterbangan mengelilingi tubuhnya.

Tandang Ki Sanggabaya memang luar biasa. Serangannya terus datang, menyapu dua musuhnya seperti gelombang yang tak henti bergulung-gulung. Kerisnya berkelebat dari berbagai arah dalam rangkaian serangan yang rapat dan dahsyat.

Ki Warujayeng dan Ugrasena pun terpaksa meloncat surut untuk menjaga jarak. Namun begitu, ujung keris Ki Sanggabaya mampu menjangkau Ugrasena meski belum benar-benar tepat sasaran. Tikaman ujung senjata senapati Mataram sedemikian tajam hingga terdengar robekan kain. Bagian lengan pakaian Ugrasena terkoyak memanjang, meninggalkan garis tipis pada kulitnya padahal keris Ki Sanggabaya masih berjarak sejengkal dari tubuhnya.

Tapi kemenangan kecil yang baru saja diperoleh Ki Sanggabaya tidak berlangsung lama.

Dari tepi gelanggang, sesosok tubuh melesat cepat seperti bayangan menerobos kepungan orang-orang yang melingkari gelanggang pertempuran. Geraknya ringan dan melewati banyak orang tanpa sekalipun terlihat tangannya berayun menolak senjata salah sasaran.

Dalam waktu singkat, Jaka Awar-Awar telah berada di arena, mengambil kedudukan yang memungkinkan dirinya segera terlibat dalam pusaran perkelahian yang sedang berkecamuk.

Sekejap kemudian, Jaka Awar-Awar pun menerjang ke dalam gelanggang. Pedangnya menyambar dengan kecepatan yang memaksa Ki Sanggabaya mengubah arah kerisnya beberapa kali. Namun, setiap serangan itu ternyata tidak dimaksudkan untuk benar-benar menghimpit lawannya.

Di sela-sela gebrakannya, Jaka Awar-Awar justru memotong jalur gerak Ki Warujayeng sehingga orang itu berkali-kali kehilangan kesempatan untuk merapat dan melancarkan tekanan bersama Ugrasena. Seketika, pertempuran yang semula telah cukup rumit berubah menjadi pusaran yang semakin sukar dibaca. Masing-masing orang harus mengubah serangan atau pertahanannya dalam hitungan tarikan napas.

Sejenak kemudian, Ki Sanggabaya mulai menangkap sesuatu. Laporan para prajurit yang ikut bertempur di kemah utara berkelebat dalam ingatannya. Namun demikian, dia tidak dapat mengizinkan dirinya hanyut oleh kejadian itu.

Menurut penuturan para prajurit, ketika jalan untuk melepaskan diri telah tertutup rapat dan pertempuran tidak lagi memberikan harapan, salah seorang lawan cepat mengubah arah gelanggangnya sedikit demi sedikit mendekati barisan orang-orang yang menyaksikan. Sesaat kemudian, dia melancarkan serangan mendadak ke arah kerumunan, memecah perhatian banyak orang, lalu menggunakan kekacauan yang timbul untuk meloloskan diri.

Pada peristiwa itu seorang dari kawanan Ki Kebo Surongudan dapat membaca gelagat tersebut. Tanpa tergesa-gesa, dia memindahkan gelanggang sedikit demi sedikit ke arah yang sama sehingga setiap jengkal lintasan yang hendak dipakai untuk meloloskan diri tetap berada dalam jangkauan pengawasannya.

Tapi pengamatan tajam Ki Sanggabaya pun akhirnya menitikberat pada Ugrasena yang diyakininya bukan termasuk bagian kelompok Ki Kebo Surongudan.

  • Oh, ternyata ada pengikut Ki Kebo Surongudan ada yang mampu lepas dari sergapan pasukan khusus dan pengawal Menoreh di perkemahan. Kerusuhan Besar ini memang menantang untuk diikuti dari awal, menurut saya, tapi bukan sedang promosi.
  • Sebagian orang pernah berpikir untuk meninggalkan arena tapi seseorang tidak mungkin melarikan diri dari pertempuran tentu tidak dapat dilakukannya. Sebab Arya Penangsang tidak akan melepaskannya dari Serat Lelayu 2.
  • Apakah karena udara penuh kabut ketika terjadi Kebisingan 12 atau kali sedang banjir? Kemungkinan itu bisa menjadi alasan untuk melarikan diri jika memang dapat menjadi jalan keluar. Maka Pandan Wangi pasti membagi pasukan pejalan kaki yang merupakan gabungan pasukan khusus dengan Tanah Perdikan.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.