0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 83 – Penerus Empu Pinang Aring Mendatangi Agung Sedayu

Dironda 26 kali

wedaran sebelumnya: Ki Winih Jambe semakin menyadari bahwa kekuatan Menoreh tidak dapat diukur hanya dari kemampuan para pengawalnya. Setelah mengirim orang untuk mengamati keadaan, ia memutuskan kembali pada tujuan semula: mendatangi Agung Sedayu untuk meminta pembebasan tiga muridnya sekaligus menyelesaikan perkara lama yang diwariskan Empu Pinang Aring

“Ini menarik,” ucap pelan Ki Winih Jambe. Untuk beberapa lama, Ki Winih Jambe mencoba menyusun kembali keterangan Ki Dawar Blandong.

Orang tua itu agaknya tidak mempunyai kewenangan untuk memerintah para pengawal. Bahkan orang yang menerima ucapannya tidak segera berbuat sesuatu. Baru setelah seorang pengawal menyebut kepercayaan Agung Sedayu kepada orang tua itu, perintah kemudian diteruskan.

Orang yang meneruskan perintah itu tentu juga bukan pengawal biasa. Mungkin dia termasuk orang bertanggung jawab atas keamanan Tanah Perdikan. Sedangkan orang tua itu sendiri berada pada kedudukan yang lebih sulit diterka. Dia tidak dapat memerintah, tetapi kepercayaan Agung Sedayu kepadanya ternyata malah membuat keseimbangan kembali tegak dan terjaga. Jadi, siapa orang tua itu hingga mampu mengendalikan pertempuran?

Ki Winih Jambe mengusap dagunya pelan.

Sehingga sangat terbuka kemungkinan orang itu bukan orang yang baru dikenal Agung Sedayu. Dan juga bukan orang biasa, bila dia dulu adalah prajurit maka dapat dipahami bahwa penguasaan gelar perangnya tentu telah ditempa oleh pengalaman yang panjang. Dia bukan sekadar mengetahui cara menyusun orang dalam gelar, tetapi mampu melihat kekurangan mereka lalu mengubah gelar supaya perbedaan kemampuan orang per orang menjadi ikatan yang sulit ditembus lawan.

Ki Winih Jambe dapat membayangkan yang terjadi di gerbang barat. Kemampuan pribadi para pengawal mungkin berada di bawah orang-orang yang menyerang mereka. Namun ketika setiap orang ditempatkan untuk saling menutup kelemahan, kelebihan lawan tidak lagi dapat digunakan dengan leluasa. Orang-orang yang semula dapat didesak pun akhirnya mampu bertahan, bahkan menghalau lawannya.

Pengetahuan semacam itu tentu tidak diperoleh hanya dengan melihat beberapa pertempuran.

Hari itu dia tidak membawa orang-orangnya meninggalkan perkemahan. Mereka yang turut mendatangi barak mendapatkan waktu istirahat setelah melewatkan malam yang panjang, sebagian melakukan kegiatan seperti biasa ketika Ki Winih Jambe memerintahkan membuat dua kelompok yang ditugaskan pergi ke pedukuhan induk. Regu pertama bergerak ke arah kediaman Ki Gede Menoreh. Mereka tidak mendapat tugas untuk melakukan sesuatu selain melihat keadaan dan mendengar yang dapat didengar tanpa menarik perhatian. Regu kedua mengamati lingkungan barak dan rumah Agung Sedayu dengan batasan yang sama; melihat dan mendengar tanpa menarik perhatian.

Menjelang sore, dua kelompok itu kembali ke perkemahan tidak bersamaan.

Masing-masing mempunyai keterangan yang berbeda, tapi seluruhnya sudah cukup bagi Ki Winih Jambe untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan Tanah Perdikan setelah serangan. Pasar tetap ramai. Jalan utama yang megnarah ke Kali Progo tetap terlihat seperti hari-hari yang telah lewat. Demikian pula penjagaan di beberapa tempat masih belum berubah, sementara di sekitar kediaman Ki Gede Menoreh para pengawal tetap menjalankan tugas mereka. Rumah Agung Sedayu tampak lengang dengan beberapa anak muda yang sesekali tampak dari balik dinding bambu yang rendah.

Ki Winih Jambe mendengar seluruhnya dengan perhatian penuh. Dia tidak ingin menganggap ringan semua laporan. Orang ini serba sedikit sudah mendengar kabar pengusiran kelompok perguruan tertentu dengan akhir yang buruk. Dia sudah mendengar pula cara pengawal meredam tawuran perguruan yang melibatkan tiga anak muridnya. Memang pengawal Menoreh gagal meredam benturan itu tapi  kemampuan mereka tetap tidak dapat dipandang sebelah mata.

Menurut ukurannya, kemampuan sebagian besar pengawal Menoreh mungkin masih berada di bawah beberapa murid yang dibawanya. Tetapi Ki Winih Jambe sudah mendengar banyak hal hingga pada kesimpulan bahwa Tanah Perdikan tidak pernah menampakkan wajah dan kemampuan sesungguhnya hingga keadaan tertentu. Sehingga, pikirnya, kemampuan seseorang bukan satu-satunya ukuran dalam sebuah benturan. Para pengawal itu tentu bukan orang-orang yang baru sekali atau dua kali memegang senjata. Mereka mengenal wilayahnya, terbiasa bergerak bersama, dan sebagian dari mereka agaknya telah mengalami pertempuran yang sebenarnya. Pengalaman semacam itu membuat perbedaan.

Ki Winih Jambe mengangguk sendiri sedangkan Ki Dawar Blandong hanya memandang lekat tanpa suara di dekatnya.

Lintasan pikiran Ki Winih Jambe berujung pada satu kesimpulan lagi; dia tidak ingin membawa orang-orangnya memasuki pedukuhan induk dengan cara yang dapat menimbulkan salah pengertian. Apalagi uraian Ki Dawar Blandong yang kemudian membuatnya yakin bahwa masih ada orang-orang tertentu di Menoreh yang belum mereka kenal.

Malam itu Ki Winih Jambe kembali membicarakan beberapa kemungkinan bersama Ki Dawar Blandong.

“Dalam sehari atau dua hari lagi, kita datangi Agung Sedayu,” katanya kemudian. “Kita berangkat sebelum fajar. Persiapkan diri dan orang-orang dalam sisa waktu yang ada. Mungkin kau dapat menjadikan pengalaman buruk orang lain sebagai pelajaran terbaik.”

Ki Dawar Blandong memandang tetua perguruannya itu.

“Kita kembali ke tujuan utama. Tidak ada gunanya membuat persoalan baru yang tidak perlu dengan orang-orang Menoreh,” lanjut Ki Winih Jambe. “Tiga anak murid kita masih ditahan di barak. Kita dapat meminta mereka dibebaskan.”

Ki Dawar Blandong mengangguk sambil menggurat ukiran di atas tanah dengan tenaga wadag yang sangat kuat. Entahlah, hanya dia yang tahu alasan berbuat seperti itu.

Ki Winih Jambe kemudian mengenang masa yang telah lama tenggelam. Empu Pinang Aring menyerah kepada Mataram sebelum pertarungannya melawan Kyai Gringsing benar-benar selesai. Ketika para pengikutnya terkepung dan keselamatan mereka menjadi taruhan, pemimpin perguruan itu memilih menghentikan semuanya. Dia menyerahkan kedua tangannya untuk diikat.

Keselamatan para pengikut memang dapat dijaga. Namun keputusan itu meninggalkan perkara yang tidak pernah benar-benar selesai. Nama Empu Pinang Aring menjadi pembicaraan buruk di kalangan orang-orang kanuragan, sementara pertarungannya melawan Kyai Gringsing berhenti tanpa menentukan akhir.

Justru benturan yang tidak punya ujung itulah yang membawa Ki Winih Jambe sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.

Kini keadaan seakan mempertemukannya dengan bagian lain dari peristiwa yang sama. Tiga orang muridnya berada dalam tahanan barak Mataram. Dia dapat meminta mereka dibebaskan, tetapi kedatangannya tentu tidak akan berhenti hanya pada permintaan itu.

Ki Winih Jambe memejamkan mata lalu menarik napas perlahan.

Agung Sedayu. Yah, pada akhirnya, jalan untuk menyelesaikan perkara lama dan membawa ketiga muridnya pulang ternyata mengarah kepada penerus Kyai Gringsing.

Waktu bergulir, hari berganti, pada saat matahari telah tampak penuh, seorang pengikut Ki Kamejing yang berada tidak terlalu jauh dari jalan menuju Pedukuhan Separang melihat sekelompok orang melintas.

Semula dia tidak memberikan perhatian berlebihan. Jalan itu memang tidak pernah benar-benar sepi. Penduduk dari beberapa pedukuhan sering melewatinya, demikian pula orang-orang yang mempunyai keperluan ke pedukuhan induk atau wilayah lain di Tanah Perdikan.

Namun muncul kemudian pergerakan orang-orang yang berbaris tidak teratur membuatnya memperhatikan lebih lama.

Dia pernah melihat mereka.

Pengikut Ki Kamejing itu bergeser ke tempat yang lebih terlindung sambil mengikuti kelompok tersebut dengan pandangan. Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Mereka juga tidak bergerak seperti orang-orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Tetapi dari pakaian, senjata yang tersembul meski rapi disembunyikan di balik kain, serta beberapa wajah yang masih dapat dikenalinya, dia semakin yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah berpapasan dengannya di sebuah tempat—mungkin sekitar permukiman usang menjelang siang.

Dia tidak menunggu sampai rombongan itu lenyap seluruhnya dari pandangan.

Dengan langkah cepat dia kembali ke perkemahan, menemui Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik.

“Kyai berdua.”

Ki Kamejing dan Ki Ajar cepat berpaling.

“Saya melihat banyak orang bergerak ke arah pedukuhan induk,” kata orang itu agak tergesa-gesa.

Kening Ki Kamejing berkerut. “Orang-orang yang mana?”

“Kelompok yang tiga orangnya kemudian ditahan di barak.”

Ki Kamejing segera mengubah sikap duduknya. Ki Ajar merendahkan punggung.

“Banyak orang,” gumam Ki Ajar, “pedukuhan induk.”

Ki Kamejing masih berdiam diri.

Hampir bersamaan, pikiran kedua pemimpin perguruan itu tertuju pada keadaan pedukuhan induk. Belum lama berselang tempat itu diguncang benturan di lapangan utara pedukuhan.  Bahkan belum sampai sepekan pertempuran di barak pasukan khusus berakhir dengan kematian Ki Jabon Seta.

Kini sekelompok orang dalam jumlah yang tidak sedikit kembali bergerak ke arah yang sama.

Ki Ajar Poh Kecik mengangkat wajah. Pandangannya bertemu dengan Ki Kamejing sejenak. Mereka agaknya sedang menimbang kemungkinan yang tidak jauh berbeda.

“Perguruan lagi?” desis Ki Ajar.

“Bisa jadi,” jawab Ki Kamejing pendek.

Tidak ada yang dapat memastikan tujuan orang-orang itu. Namun setelah segala yang terjadi di Menoreh, sulit bagi keduanya untuk menganggap pergerakan sebuah kelompok perguruan menuju Pedukuhan Induk sebagai perjalanan biasa.

Apalagi ada satu nama yang sejak beberapa waktu terakhir seperti menjadi arah bagi orang-orang yang datang dari berbagai tempat. Agung Sedayu.

Keterangan salah satu pengikut Ki Kamejing membuat dua pemimpin tersebut tidak dapat menilai pergerakan itu sebagai sesuatu yang dibiarkan lewat begitu saja. Tiga orang dari kelompok tersebut masih berada dalam tahanan pasukan khusus Mataram. Jika sekarang mereka bergerak menuju pedukuhan induk, sangat mungkin perjalanan itu mempunyai hubungan dengan orang-orang yang belum dibebaskan tersebut.

Namun Ki Kamejing tidak ingin mendahului keadaan dengan dugaan yang terlalu jauh.

“Ke mana tepatnya mereka bergerak?”

“Sejauh yang saya lihat, ke arah pedukuhan induk.”

Ki Kamejing bangkit.

Beberapa orang di sekitarnya ikut berdiri, tetapi dia mengangkat tangan.

“Tidak perlu semuanya,” ucap Ki Kamejing lalu berpaling pada Ki Ajar Poh Kecik,”mari, Kyai.”

Dia memandang orang yang baru saja membawa laporan itu, lalu kepada dua orang lainnya.

“Siapkan kuda.”

Tidak lama kemudian Ki Kamejing meninggalkan tempatnya bersama Ki Ajar Poh Kecik. Tidak ada yang tahu tujuan kelompok yang bergerak itu, apakah benar-benar hendak menuju barak atau mempunyai kepentingan lain di pedukuhan induk?

Tetapi setelah benturan yang pernah terjadi di antara mereka, Ki Kamejing tidak ingin mengetahuinya setelah semuanya terlambat.

  • Merampas, mencuri atau menggarong ternyata mempunyai arti berbeda bagi Toh Kuning dan Ken Arok. “Mengambil harta benda orang-orang kaya bukanlah perbuatan jahat apabila aku membagikannya pada banyak orang”.Toh Kuning: Antara Cita-Cita dan Kejahatan
  • Serial Kitab Kyai Gringsing 1-5 dapat diperoleh dengan mahar yang wajar tapi bukan usaha komersial. Kontribusi digunakan mendukung penuh agar bacaan tetap dapat diakses bebas oleh semua kalangan.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.