Dironda 20 kali
Agung Sedayu, kita kenal sebagai seorang anak muda yang peragu. Bahkan, pada bagian-bagian awal kisahnya, rasa takut adalah sesuatu yang sangat dekat dengannya. Ada saat-saat ketika dia harus berperang lebih dahulu melawan dirinya sendiri sebelum berhadapan dengan lawan yang sebenarnya. Saat menghadapi Sidanti, misalnya, hingga kita membaca adegan demi adegan perlombaan panah.
Hahaha…. Itu bagian yang menyenangkan sekaligus menggemaskan bagi saya saat membacanya.
Tetapi perjalanan yang panjang tentu mengubah banyak hal.
Ketika Agung Sedayu kemudian hadir kembali dalam Kitab Kyai Gringsing, waktu telah berjalan jauh. Dia bukan lagi anak muda yang berdiri ragu-ragu di belakang Kyai Gringsing. Pengalaman, pertempuran, kehilangan, serta tanggung jawab telah membentuknya menjadi orang yang berbeda.
Persoalannya bagi saya sebagai pengarang justru muncul di sini: seberapa jauh Agung Sedayu boleh berubah?
Saya tidak ingin suatu pagi dia bangun tidur, membasuh diri, berbenah, lalu mengenakan pakaian keprajuritan dan tahu-tahu sudah menjadi seorang tumenggung.
Hahaha…. Yah, saya ingin ada proses sebagaimana dunia nyata.
Karena itu, bahkan setelah jasanya dalam penumpasan makar Raden Atmandaru (Geger Alas Krapyak) perjalanan Agung Sedayu dalam keprajuritan tetap dibuat bertahap. Pangkat bukan hadiah yang jatuh dari langit atau masuk dalam pliridan Sukra hanya karena seorang tokoh adalah tokoh utama. Ada perjalanan, pertimbangan, tugas, dan tanggung jawab yang harus dilalui.
Demikian pula sifat dasarnya. Keragu-raguan Agung Sedayu tidak begitu saja saya hapus. Kecerdasannya pun tidak hilang begitu saja. Justru saya ingin menampilkan kejeniusan dan dinginnya Agung Sedayu ketika beradu taktik, kesabaran, serta kanuragan di lereng utara Gunung Kendil.
Saya hanya menambahkan sedikit: caranya menghadapi keraguan itu.
Agung Sedayu yang telah matang masih berpikir panjang, masih mempertimbangkan banyak kemungkinan, bahkan terkadang masih tampak terlalu berhati-hati. Namun sekarang, orang-orang di sekelilingnya justru menunggu hasil pertimbangannya.
Dalam hal kesaktian—eh, kanuragan—Agung Sedayu juga tidak akan saya buat terbang atau melakukan sesuatu yang ajaib, apalagi semacam mukjizat, meskipun kisah fiksi sebenarnya mengizinkan.
Bukan tanpa alasan. Ketika membaca ulang sebuah perang tanding, saya tidak ingin kemudian mengadaptasinya menjadi semacam Superman atau Spiderman. Bila suatu saat Sedayu diharuskan terbang, maka dia harus berproses sebagaimana Gatotkaca berproses.
Jawa tetap Jawa.
Superman dapat terbang karena dia alien, dan menjadi lemah ketika berdekatan dengan batu Krypton yang berasal dari planetnya. Agung Sedayu tidak memerlukan batu semacam itu untuk menjadi lemah.
Dia lemah karena dia manusia. Dia kuat karena latihan dan terus belajar.
Di sini, sekarang, anak muda peragu itu masih ada. Kita bahkan masih dapat melihatnya hingga Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
Dan tentu saja, Agung Sedayu bukan satu-satunya.
Pada kesempatan berikutnya saya juga ingin berbagi tentang bagaimana Kinasih dimunculkan, bagaimana Nyi Banyak Patra mendapatkan tempatnya, dan bagaimana saya memperlakukan kesayangan kita bersama….Swandaru.
Hahaha….
Rahayu
