Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 61 – Gondang Wates

Simbara mengulur waktu sebelum bergeser tempat menuju beranda. Ia tidak ingin terlalu lama berada di beranda selagi ada orang selain Agung Sedayu. Ketika seorang pengawal menanyakan mengenai keperluannya, Simbara tidak berterus terang bahwa ia ingin menghadap Agung Sedayu. Maka yang dibincangkan olehnya bersama pengawal kademangan di sekitar regol adalah suasana terakhir di Jagaprayan dan Randulanang. Namun sayang, Simbara tidak banyak mendengar keterangan baru dari para pengawal.

“Kami tidak banyak tahu keadaan di dua pedukuhan itu, Simbara. Setiap penghubung yang melewati regol hanya memberi isyarat bahwa mereka tidak mendapat perkenan dari Ki Rangga. Meski sedikit bicara, para penghubung memberitahu kami bahwa semua masih dalam kendali,” demikian kata kepala regu jaga.

Agung Sedayu diam-diam mengetahui kedatangan seseorang di regol, tetapi tidak memberitahukan itu pada empat orang di sekelilingnya. Pemimpin pasukan khusus itu lebih memilih menguraikan rencana dan sebagian siasat yang telah dikembangkannya pada setiap jalan-jalan pikirannya. Kabar buruk telah berulang diterima olehnya, tetapi Agung Sedayu tidak ingin tergesa-gesa mengetrapkan isi pikirannya pada sejumlah wilayah yang telah menjadi sasaran bidik Raden Atmandaru. Ia masih menunggu setiap rinci perkembangan dengan segala akibat dari siasat-sasat pendek yang disampaikannya pada penghubung, terutama dari Jagaprayan.

“Apakah ada yang kurang untuk dipahami?” tanya Ki Rangga pada empat orang di sekitarnya.

Sukra kembali mengerutkan kening sewaktu mendengar pertanyaan Agung Sedayu. Menurutnya, siasat Ki Rangga sebenarnya belum usai dijabarkan tetapi mengapa penjelasan dihentikan? Tiga orang lain justru memandang Sukra dengan perasaan janggal. Kebanyakan mereka berpikir bahwa Agung Sedayu memang memberikan siasat sepotong demi sepotong untuk pencegahan kemungkinan terburuk. Bila terjadi kebocoran di antara mereka ketika menyampaikan itu pada pengawal, maka lawan tidak akan mudah menerka perkembangan rencana Agung Sedayu.

Sebagai orang yang telah mengenal Sukra, Agung Sedayu menanggapi paras wajah itu dengan senyum, lalu berkata lirih, “Kita kedatangan tamu.”

“Ooh,” seru empat orang perlahan. Namun mereka tetap bersikap biasa saja sesuai perintah Agung Sedayu yang menggerakkan tangan agar mereka tidak mengubah kedudukan tubuh. Keempatnya menganggukkan kepala sambil bertanya-tanya dalam hati masing-masing, “Siapakah ia? Dan mengapa Ki Rangga tidak berlaku seperti biasa?” Walaupun demikian, mereka kebanyakan telah mengerti bahwa  menjaga rahasia atau siasat telah menjadi bagian sangat penting pada malam itu di Sangkal Putung.

Agung Sedayu mengganti pokok pembicaraan, Sukra dan yang lainnya segera mengikuti. Meski terasa hambar tetapi itulah kenyataannya. Kenyataan bahwa selain mereka, tidak boleh ada orang lain yang tahu.

Meski pembicaraan Agung Sedayu dan yang lain adalah perihal remeh tetapi senapati Mataram itu meminta mereka berpura-pura dalam kesungguhan. Ketika melihat suasana di beranda telah beralih menjadi lebih sungguh-sungguh, diam-diam Simbara bergerak pelan. Ia bergeser langkah tanpa suara  meninggalkan regol halaman. Ia mampu memilih waktu yang tepat ketika tidak seorang pun menaruh perhatian padanya. Untuk itu, untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang akan datang kemudian padanya, Simbara telah menyiapkan jawaban atas kepergiannya secara rahasia. Sejenak ia menyungging senyum, rahasia? Tidak lama lagi mereka akan tahu bahwa Simbara berada di beranda.

Kedatangan Simbara segera diketahui oleh mereka yang berada di beranda. Seperti pesan Agung Sedayu, mereka tidak memperlihatkan kejanggalan atau sesuatu yang sama dengan sambutan penjaga regol ketika Simbara mendekat.

“Maaf, apakah saya menganggu Ki Rangga dan kawan-kawan yang lain?” tanya Simbara sebelum benar-benar mengayun kaki menggabungkan diri.

“Tidak,” sahut Agung Sedayu, “marilah, engkau dapat duduk bersama kami.”

Empat orang lain segera meluaskan lingkaran. Simbara duduk di antara mereka. Sekilas pandangnya menatap wajah Sukra, Bunija dan dua orang lain. Ia kurang begitu mengenal tetapi segera raut wajahnya kembali menjadi datar.

Setelah Agung Sedayu berucap kata saling mengenalkan satu sama yang lain, ia kemudian berkata, “Simbara, agaknya engkau yang terpilih untuk peninjauan suasana di Randulanang.”

“Oh, begitukah?” Simbara menyahut dengan selarik tanya dalam hatinya. Mustahil Agung Sedayu dapat mengetahui isi hatinya sementara tidak ada orang dari banjar yang berada di sekitar rumah Ki Demang, pikirnya. Ada apakah ini?

Agung Sedayu telah melewati perang dan pengintaian begitu banyak. Dalam pertimbangannya, kedudukan Randulanang yang berada di sekitar pertengahan Jati Anom dan Sangkal Putung serba sedikit akan mempunyai nilai penting. Apabila ia dapat melindungi Randulanang, maka poros kekuatan Mataram sampai Sangkal Putung akan terjaga. Dan, menurut Agung Sedayu, KI Untara sudah semestinya memberi perhatian lebih pada pedukuhan yang sejauh ini belum melaporkan keadaannya sama sekali. Berbeda dengan Pedukuhan Janti yang terputus hubungan karena siasat lawan, maka Randulanang mempunyai dua kemungkinan yang sama-sama masuk akal.

Pertama, bekel pedukuhan dapat melaporkan keadaan wilayahnya pada Ki Untara sebagai penguasa keprajuritan tertinggi di lereng selatan Merapi. Agung Sedayu sebenarnya dapat memaksa bekel agar melapor padanya, tetapi ia harus menimbang kebijakan Ki Untara. Buruknya, jalur hubungan Sangkal Putung dengan Jati Anom belum juga kunjung dibuka oleh kakaknya. Hanya satu kegiatan prajurit yang sampai pada pendengaran Agung Sedayu, yaitu Ki Panuju di Gondang Wates. Praduga buruk pun dikesampingkan oleh senapati pasukan khusus dengan mengingat kerahasiaan yang disepakatinya dengan Ki Untara, Ki Lurah Sanggabaya, Prastawa dan Ki Widura semasa mereka berkumpul di Jati Anom.

Kedua, Ki Gandung Jati memang tidak melaporkan padanya maupun kakaknya. Agung Sedayu mengenal bekel pedukuhan itu sebagai orang yang sangat percaya diri. “Semoga Ki Gandung Jati dan pengawal pedukuhan dapat menangani kesulitan-kesulitan yang mungkin ditimbulkan oleh pengikut Raden Atmandaru. Namun apakah ia dapat menyediakan pangan dan tempat bagi pengungsi yang datang dari pedukuhan induk? Itu sungguh-sungguh pertanyaan besar,” demikian harap-harap cemas Agung Sedayu dalam hatinya.

Related posts

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 8 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 74 – Gondang Wates

kibanjarasman

Kiai Plered 73 – Gondang Wates

kibanjarasman

Leave a Comment