Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 63 – Gondang Wates

Gondang Wates

Tiba-tiba wajah Ki DIrgasana menjadi lebih sungguh-sungguh. Tidak hanya Ki Dirgasana seorang yang mendengar derap puluhan kaki menggetarkan tanah Gondang Wates, pasukan kecilnya pun merasakan itu. Sekumpulan hitam menyeruak muncul dari ujung tikungan yang merupakan jalur tersambung dengan Pedukuhan Janti.

Wajah-wajah pasukan pendahulu Raden Atmandaru terlihat lebih tegang setelah dapat mengenal orang-orang yang mendatangi mereka.

Terkesan dingin dan datar, pemimpin rombongan yang baru datang itu bertanya, “Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting?” Sorot matanya membentur langsung setiap pandang mata anak buah Ki Dirgasana. Terasalah bagi anak buah Ki Dirgasana, bahwa orang yang berdiri di depan mereka mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat dari pemimpin mereka. Bagaimana tidak? Pamor itu dapat dirasakan hanya melalui pandang mata yang beradu. Kulit mereka meremang!

“Tidak ada, Kiai. Tidak ada,” jawab Ki Dirgasana agak tergesa-gesa. Lebih tepatnya, Ki Dirgasana nyaris tidak dapat menguasai diri melihat Ki Sarjuma serta pasukannya mendadak muncul di tempat mereka memukul orang-orang Gondang Wates. Menurutnya, Ki Sarjuma adalah orang yang sering berbuat sekendak hati. Bila ia ingin menghukum anak buahnya, maka ia dapat lakukan itu tanpa menunggu alasan. Sehingga kendali yang sebelumnya erat dipegangnya, mendadak hilang ketika Ki Sarjuma tiba di situ. “Orang ini dapat saja membantaiku dan semua anak buahku tanpa sebab. Apalagi Raden Atmandaru tidak pernah mempersoalkannya. Ah, berat, berat,” gumam Ki Dirgasana dalam hati.

“Engkau berbohong padaku, Ki DIrgasana,” kata Ki Sarjuma setelah sapuan pandangnya dapat melihat bekas-bekas perkelahian seru di depan gardu jaga. Ki Sarjuma banyak menjumpai perang tanding dan perkelahian, maka tentu sulit menyembunyikan kenyataan darinya. Ia menunggu Ki Dirgasana menanggapinya dengan sikap dingin.

“Kiai, saya tidak berkata bohong. Bila ada bekas perkelahian yang masih terlihat jelas, kami memang bertempur melawan pengawal pedukuhan inu. Hanya saja mereka tidak begitu penting untuk dilaporkan dalam kedudukan yang menyulitkan. Kami telah memukul mereka.”

“Apakah tidak ada pengejaran dari kalian?”

“Kami mengejar mereka. Dan saat ini, ketika kami akan putuskan untuk mengepung mereka, Ki Sarjuma berkenan datang melihat keadaan kami.”

Sekilas tajam pandang Ki Sarjuma melabrak dua bola mata Ki Dirgasana. “Apakah engkau sedang mabuk kemenangan atau terlalu banyak peraman ketan?” Begitu kesal di dalam hatinya karena Ki Dirgasana yang  pandai bermain kata-kata.

“Saya tidak sedang mabuk, Kiai. Tetapi mereka berjumlah banyak dan berada di tempat yang terlindung sangat baik. Tentu saja, Kiai tidak ingin kehilangan pengikut setia seperti kami semua dengan cara yang konyol dan bodoh.”

“Antarkan kami ke sana,” perintah Ki Sarjuma.

“Ah, ya, baiklah, baik,” Ki Dirgasana berkata dengan disertai anggukan kepala. Sekilas ia dapat membayangkan puja dan puji beterbangan padanya. “Selalu adalah aku yang dapat diselamatkan,” puji Ki Dirgasana pada dirinya sendiri.

Dua pasukan itu segera bergabung lalu menyusur jalan menuju banjar pedukuhan. Berlainan dengan suasana sebelumnya, pasukan gabungan itu lebih bersikap hati-hati. Sedikit pun suara tidak terucap dari mereka, terutama anak buah Ki Sarjuma. Mereka berjalan dengan rahang mengatup rapat. Tanpa bisik atau ucapan-ucapan yang dapat menerbangkan angan jauh menembus awang-awang. Suasana itu segera merengkuh kecairan sikap pengikut Ki Dirgasana. Sekejap saja, sepasukan Raden Atmandaru itu berada dalam kebekuan yang tidak biasa.

Sepanjang jalan menuju banjar tidak terlihat pelita yang menyala dari balik dinding rumah-rumah yang mereka lewati. Tidak pula ada bayangan yang bergerak di sekitar sumur atau parit-parit bila ada seseorang membutuhkan air. Gondang Wates menjadi lebih sepi dari sebelum terjadinya pertempuran di depan gardu jaga. Gardu-gardu yang lebih kecil pun terlihat lengang, dan sepertinya ditinggalkan dengan buru-buru. Nyala obor semakin menguncup dan lemah berkobar.

Sesaat lagi ataukah masih perlu waktu sedikit lama? Benak pasukan Raden Atmandaru penuh dengan janji dan semangat untuk melakukan perubahan. Mereka tak segan berpisah dari sanak dan kadang, dari istri dan anak untuk harapan besar yang digelorakan Raden Atmandaru sebagai puncak tujuan mereka. Kejayaan Mataram.

Namun dalam perjuangan ke arah itu, pasukan yang dipimpin Ki Sarjuma harus melewati tiga kelokan sebelum mencapai halaman banjar.  Ia mengatur pasukannya menjadi beberapa kelompok, lalu masing-masing mengambil arah yang berbeda. Ki Sarjuma menetapkan satu cara, pengepungan! Dan itu tidak sulit bagi orang-orang Raden Atmandaru untuk mencari jalan. Para petugas sandi mereka telah bekerja berpekan-pekan, berbulan-bulan untuk membuat gambar lingkungan Sangkal Putung, Jati Anom dan Tanah Perdikan Menoreh.

“Mengapa Kiai merasa harus mengepung mereka?”

“Karena kita tidak mengerti jumlah kekuatan dan segala yang tersimpan di banjar pedukuhan. Dengan mengepung, aku ingin memastikan mereka lumpuh terlebih dulu.”

Mereka cukup berhati-hati setiap kali harus menyeberangi tanah lapang yang ditumbuhi rumput setinggi lutut. Mereka cukup waspada bila melewati gerumbul semak. Tersimpan pesan yang terpatri kuat dalam  benak mereka, serangan dapat menyergap mereka setiap saat!

Setiap orang dari mereka seperti dapat mendengar gemuruh jantung yang berdebar-debar. Bila sebelumnya mereka memasuki Pedukuhan Janti bersama Ki Garu Wesi dengan perlawanan yang tipis, tetapi laporan yang datang dari Jagaprayan telah meningkatkan kesiagaan mereka. Menurut penghubung mereka, seorang perempuan berilmu tinggi telah membuat perbedaan di Jagaprayan. Setiap perintah dan siasatnya hampir seluruhnya dapat membendung serangan-serangan pasukan Raden Atmandaru.

Maka, suasana lengang sejak dari perbatasan hingga gardu jaga tidak membuat mereka melangkah dengan pongah. Hanya sepi dan sunyi yang menemani mereka sepanjang jurusan ke banjar pedukuhan.

“Kita dapat menuai malapetaka di padesan ini! Berhati-hatilah!” demikian pesan Ki Sarjuma kepada para pemimpin kelompok sebelum mereka memisahkan diri, menempuh jalur yang berbeda lalu mengepung banjar pedukuhan.

Related posts

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 8 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 74 – Gondang Wates

kibanjarasman

Kiai Plered 73 – Gondang Wates

kibanjarasman

Leave a Comment