Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 70 – Gondang Wates

Namun perintah Ki Sarjuma seakan tidak terdengar atau sengaja diabaikan oleh sebagian anak buah Ki Dirgasana. Mereka memisahkan diri untuk mengejar tiga orang Gondang Wates yang berpencar pada tiga jurusan. Walau telah mendapatkan sedikit pengetahuan tentang keadaan wilayah, tetapi para pengejar tetaplah orang asing. Mereka kehilangan jejak dan arah hingga kemudian terlihat oleh Sukra ketika melakukan tugas pengintaian dari Agung Sedayu.

Tanpa sengaja, pengejaran itu mengubah kedudukan pengikut Raden Atmandaru menjadi lebih menguntungkan. Sejumlah kelompok yang beranggotakan dua orang justru membuat kepungan meski tidak begitu rapat. Mereka berada pada jarak yang tak beraturan dan letak yang tidak terencana, tetapi satu kesalahan Gondang Wates akan berakhir buruk.

Demikianlah ketika Ki Sarjuma memimpin pasukannya berjalan lebih cepat menuju banjar pedukuhan, langkah kaki mereka pun terdengar.

Sejumlah pengawal yang berada di depan memasang wajah-wajah penuh ketegangan. Mereka hanya diizinkan menyerang bila lawan mencapai tempat mereka, namun bila musuh hanya melewati di samping kiri atau kanan, pengawal Gondang Wates hanya dapat melihat pergerakan itu dengan mata terpana saja. Tidak lebih.

Itu bukan keadaan yang menggembirakan. Ini adalah perang mempertahankan wilayah dan harga diri? Mengapa kami dilarang menyerang lawan? Begitulah kebanyakan kegaduhan yang terjadi dalam pikiran para pengawal.

Sekonyong-konyong mereka dikejutkan oleh bentakan yang saling bersahutan dan meraung di udara pedukuhan. Sekali dan berulang kali tetapi serangan yang diharapkan kebanyakan pengawal datang dari selatan tak kunjung tiba.

Mereka masih menunggu dan menunggu dengan telinga pekak yang penuh umpatan kasar.

Kejutan kembali terjadi!

Mendadak kelompok besar itu berlarian tanpa arah. Suasana begitu ribut dan sangat gaduh. Sungguh, sangat berisik! Seketika itu lorong-lorong yang gelap, jalanan kecil yang bercabang-cabang, pekarangan  serta halaman dipenuhi orang-orang yang bergerak cepat sambil berteriak seperti orang kesurupan atau kesetanan. Di samping itu, mereka memukul setiap pintu dan jendela yang dijumpai dalam kekacauan yang sengaja diledakkan.

Berkelahi adalah keadaan yang telah direncanakan dan dihadapi dengan persiapan yang baik. Bahkan disiapkan sangat baik, tetapi perubahan yang terjadi di sekitar Watu Sumping memukul ketahanan jiwani pengawal kademangan dan perasaan mereka tiba-tiba memburuk.

Mereka menjadi saksi ketika tanaman yang tengah tumbuh berkembang harus menerima keadaan buruk. Dahan dan ranting pendek tiba-tiba terpotong tanpa sebab. Tanaman berusia muda terinjak dan sengaja dirusak oleh lawan. Seberapa besar harapan mereka pada tanaman muda usia itu? Sebesar apa perhatian mereka pada dahan dan ranting yang pendek itu? Kedekatan batin mereka dengan segala yang dirawat oleh sepasang tangan mendadak hangus terbakar.

Kentongan dan lincak pun bertebaran di banyak halaman. Musuh mereka melempar benda yang dijumpai ke segala penjuru. Mereka berkata-kata tentang kehangatan perempuan Gondang Wates. Mereka berkata tentang bocah-bocah lelaki dan perempuan yang dihargai mahal di pesisir utara. Setiap percakapan mereka suarakan dengan keras dan kebanyakan berisi ancaman yang membuat kuit meremang.

Kekacauan benar-benar melanda sekitar Watu Sumping sangat hebat!

“Hey, tidak adakah lelaki di pedukuhan ini? Atau mereka telah berganti kemaluan dan memilih menjadi perempuan penghangat pembaringan?” Ki Sarjuma melantangkan suara begitu keras hingga mencapai banjar pedukuhan.

Kebanyakan pengawal kademangan adalah orang-orang dusun yang berpikir polos dan lurus, maka perkembangan itu menghempas mereka pada tekanan yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Tidak ada hal lain yang dapat mereka lakukan selain membiarkan musuh bergerak-gerak sekehendak hati dan setelanjang jidat mereka! Lagipula memang tidak ada yang dapat dikerjakan selain menunggu. Andaikata ketua regu mereka meneriakkan perintah, suaranya akan hanyut dalam pusar kegaduhan yang semakin meningkat. Di balik kepolosan para pengawal ternyata tersimpan kesadaran dan kesabaran yang hebat. Walau belum teruji tetapi mereka sadar bahwa tiadanya perintah yang jelas didengar akan menyeret mereka ke dalam jurang kebinasaan. Ditambah kenyataan bahwa senjata lawan hanya terayun-ayun di angkasa tanpa ada kulit yang tersayat. Meskipun demikian, keadaan yang berlangsung singkat dirasakan oleh pengawal pedukuhan seperti setengah malam lamanya.

Para pengawal masih menunggu hingga gerbang perang benar-benar dibuka oleh pemimpin mereka.

Sayoga menatap wajah Ki Panuju serta Sabungsari bergantian. Dua alis Sayoga berkerut. “Sedang terjadi apakah di luar halaman banjar?”

“Mungkin mereka tengah menjalankan siasat yang berlainan. Mereka tidak segera menggempur banjar. Aku pikir mereka tengah berusaha membakar para pengawal agar keluar menyongsong mereka,” kata Sabungsari pelan. Lurah muda Mataram ini agak berhati-hati memberi jawaban.

Ketegangan pun menjangkau hati Ki Panuju. Wajah tegang memancar tegas darinya. Ki Panuju tidak mengingkari bahwa suasana yang dihadapinya malam itu di Gondang Wates jauh lebih mendebarkan dibandingkan malam terbakarnya Jati Anom. Ia katakan itu pada dua orang muda yang berada di dekatnya sambil berpesan agar mereka bersikap tenang.

Terjadilah benturan keras untuk pertama kali di sekitar Watu Sumping!

Marmaya yang menempati kedudukan di garis depan, sedikit masuk ke pekarangan penduduk, terlanggar derap pasukan lawan. Ia mencoba menghindar dengan melompat ke samping tetapi seorang lawan menyambutnya dengan satu  tebasan menyilang.

Related posts

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 8 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 74 – Gondang Wates

kibanjarasman

Kiai Plered 73 – Gondang Wates

kibanjarasman

Leave a Comment