Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Dursasana

Mempertaruhkan hal berharga dalam judi adalah kepuasan. Kekalahan lawan merupakan harap yang tak pernah pudar. Pada sosok jelita, bermata indah itu aku telah pasungkan jiwa, mencintai milik orang lain meski berbalas neraka.

Aku tidak peduli tentang siksa!

Jika kenikmatan sedang menggoda penuh dengan peluh maka siksa adalah semilir angin yang berhembus di bawah nyiur yang tipis.

Aku lekat memandang pemilik mata indah itu meronta saat aku menghukumnya menuju meja perjudian. Ia taruhan terindah yang pernah ada. Setelah kekasihnya melepaskan perempuan ini menjadi tawanan, maka aku akan menjadi satu-satunya pemenang.

Aku adalah kawanan pemburu yang tak akan kembali sebelum buruan dalam kendali.
Pada seseorang jelita di atas meja penuh tawa dan tangis itu. Aku labuhkan hati, justru umpatan menjadi sebuah balasan.

“Dasar sundal!” pekikmu lantang.

Aku tersenyum penuh rasa pahit. Sepahit atas garis hidup yang Tuhan tuliskan. Tentang sundal, bedebah yang seringkali aku terima.

Akulah Dursasana yang sulit di atasi oleh dewa dan manusia.

Aku bukan raksasa.

Aku adalah binatang jalang.  Maka hujatan dari ranumnya bibirmu tidak akan mampu goyahkan aku.

Justru umpatanmu membuat aku bergetar penuh kerinduan. Deru nafasmu membuat aku mabuk kepayang. Berlarilah semaumu, maka aku akan terus mengejarmu. Seperti petang mengejar dinginnya malam.

Keringat yang bercucuran dari indahnya tubuhmu bertemu dengan tetesan keringat milikku. Aku melihat jelas setiap linangan air matamu. Bertahanlah sebentar saja, akan aku jadikan engkau kekasihku penuh dengan puja.

Dadu mulai menari di atas meja perjudian. Setiap hati berharap menjadi pemenangnya. Namun, setiap laga selalu hanya ada satu pemenang. Aku berharap mampu menduduki singgasana juara.

Ini adalah saat aku menikmati indah dirimu, wanitaku. Kamu adalah taruhan terbaik yang pernah ada. Di depan banyak orang aku lucuti benang yang bertengger pada badanmu. Satu demi satu, tanpa malu aku bermandikan keringat dan air liur.

“Langit sedang berpihak padamu! ” Aku memekik dalam hati. Sekuat daya aku mencoba menelanjangi setiap jengkal tubuhmu. Kain tetap saja melilitmu. Gunungan kain nyata di hadapan. Rambut hitam legam milikmu mulai terurai tak beraturan.

Aku lelah, aku resah, aku marah! Kita berdua dalam amarah. Kau angkat sebuah sumpah yang berubah wujud menjadi tombak kematianku.

“Aku tidak akan mengikat rambutku, sebelum aku jadikan darahmu untuk membasuh seluruh rambut milikku, Dursasana!”

Tetapi Pancali, kematian adalah cara lain bagiku untuk menyatakan cinta padamu.

Sebelum pedang dalam perang menusuk dada, sejatinya aku telah mati sejak kalimat pertamamu mendatangi hatiku.

 

 

Oleh Amri Evianti sebagai tugas menulis prosa liris dengan tokoh utama, Dursasana.

Kelas Lanjutan 1 Kepak Sayap Angsa.

Related posts

Leave a Comment