Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 8

Arum Sari memalingkan muka dengan wajah memancarkan kemarahan dan kebencian tiada tara.

“Engkau tak perlu mengingkari kenyataan bahwa kita pernah berbagi rasa. Dan engkau juga tahu jika aku telah menyediakan diri untuk melakukan  apa pun kehendakmu,” Patraman masih berkata-kata.

Arum Sari membisu dengan lidah yang tidak kelu. Ia masih memilih untuk menghujani Patraman dengan tusukan-tusukan melalui mata. Terasa baginya semua perkataan Patraman tak lebih dari racun berbisa yang menyusup jantungnya.

“Pengkhianat!” tiba-tiba Arum Sari berteriak sekuatnya hingga tiga lelaki di dekatnya menjadi terkejut. “Kau tidak berani berhadapan dengan ayahku. Engkau lebih suka membicarakan keburukan ayahku di depan para pemimpin lain. Dan, bahkan, kau juga mengumbar kelemahan ayahku di depan utusan dari kotaraja.

“Tetapi, apakah engkau pernah berbicara terus terang tentang kelemahan ayahku di hadapannya? Sekarang engkau berani berbicara tentang rasa seolah aku pernah menyatakan perasaanku padamu. Aku tahu engkau berani berkata seperti itu karena aku jauh dari rumah.

“Patraman! Engkau lelaki menjijikkan! Sungguh penjilat busuk!”

Laksa Jaya dan Ubandhana yang mendengar ucapan Arum Sari pun mengernyitkan kening, dan tanpa sadar, keduanya saling berpandangan.

“Lelaki sundal!” desis Ubandhana penuh geram.

Ia tidak menduga Arum Sari benar-benar menunjukkan keberanian dengan lontaran kata-kata penghinaan pada Patraman. Bagaimana ia yakin dapat selamat?  Mungkin ia memang telah berpikir tidak akan pernah pulang menemui ayahnya lagi, pikir Ubandhana. Sekian waktu ia berada di sebelahku dengan lidah membeku, tapi aku tahu jika perempuan itu mempunyai kekerasan hati yang melebihi banyak perempuan lain. Benar-benar pemberani. Dan Patraman harus disingkirkan!

Satu jalan pikiran menggores hati Ubandhana.

“Patraman, aku tahu engkau tak akan berani melakukan pekerjaan ini sendirian. Aku bahkan menduga bahwa engkau merencanakan ini dengan Laksa Jaya,” kata Arum Sari dengan bersedu tangis kemudian ia melanjutkan, ”aku tahu betul siapa Laksa Jaya itu. Sayang, seorang anak muda yang berpandangan luas seperti dirinya justru berkawan erat denganmu. Engkau benar-benar racun mematikan bagi Laksa Jaya!”

“Tutup mulutmu!” Patraman membentak keras.

Bentakan Patraman justru menjadi angin panas yang membakar rumput kering. Arum Sari seolah mendapatkan tantangan, ia tertawa tetapi sekarang berbalut lida api kemarahan. Kemudian ia berkata, “Apakah engkau takut Laksa Jaya akan berkhianat? Atau justru engkau telah mengancam Laksa Jaya dengan menghabisi seluruh keluarganya? Patraman, dulu kau datang mengetuk rumah kami sebagai seorang prajurit rendahan. Kebaikan ayahku yang membuka peluang bagimu untuk menjejak lebih tinggi.

”Engkau adalah seekor anak ayam yang mencari perlindungan. Setelah bangunan itu terbukti mampu menangkis segala badai dan terjangan hujan, engkau mulai mengikis bagian dalamnya. Jika bukan pengkhianat, istilah apa yang lebih tepat untukmu?”

Laksa Jaya membenarkan kata-kata anak perempuan Ki Demang, dalam hatinya. Ia memberi bantuan dan banyak hal karena ia sudah dapat menebak langkah Patraman selanjutnya.

Maka kini Laksa Jaya merasa cemas jika pada akhirnya Arum Sari dapat selamat dari penculikan ini. Tiang gantungan atau penggal kepala menjadi sebuah penanda akhir perjalananku jika Arum Sari beruntung, pikirnya. Kemudian ia berpaling pada Ubandhana dengan cemas, “Ubandhana, apakah tak sebaiknya engkau bunuh gadis itu?”

Dada Ubandhana sedikit terangkat, ia mendapatkan angin segar. “Hidup atau mati, gadis itu sebenarnya bukanlah urusanku. Karena aku hanya terikat satu kewajiban saja, membawa gadis itu hidup-hidup ke tempat ini,” ia melihat lurus wajah Laksa Jaya, “Bahkan engkau dan kawanmu itu belum memberikan apapun padaku.”

Pada waktu itu, suara keras Patraman tiba-tiba memenuhi angkasa. Ia kokoh di atas kakinya dengan rasa percaya diri menjulang.Telunjuknya mengacu pada Arum Sari yang duduk dengan lutut rapat sambil bersandar pada sebatang pohon.

“Wringin Anom tidak mengalami kemajuan dari waktu ke waktu, justru ia bergerak mundur. Hey! Bagaimana seorang pemimpin dapat membiarkan banjir melanda persawahan ketika musim hujan telah berhenti? Jika bukan karena aku yang memikirkannya, lalu mengerahkan segenap prajurit dan pengawal untuk membuat tanggul panjang, apa yang dapat dilakukan oleh lelaki tua yang kau akui sebagai ayah?

“Lalu kau datang, memohon dengan air mata agar aku bersedia membantu ayahmu. Dan kau melihatnya, Arum Sari! Kau melihat aku dan teman-temanku bermandi lumpur, mengeringkan tubuh di bawah matahari, kami lakukan itu tanpa keluh kesah.”

Related posts

Leave a Comment