Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 5

“Sangat halus,” desah Ubandhana tepat di telinga Arum Sari. Bergolak hasrat Ubandhana seperti gelombang air pasang. Darahnya mengalir cepat, napasnya berpacu, jemari dan ototnya meregang kuat.

Tiba-tiba ia meloncat mundur. Keinginannya telah mempunyai wujud dan tidak lagi dapat disamarkan, namun suasana cukup gelap saat ia membenahi keadaannya. Arum Sari tidak dapat melihatnya karena ia berpaling dengan mata terpejam ketika putus asa datang menyapa hatinya.

“Aku tidak ingin mati karena lendir yang tumpah pada perempuan,” tajam ia mendesis. Ubandhana mengerti akibat yang dapat terjadi padanya jika Ki Cendhala Geni mengetahui keadaan Arum Sari. Meski ia dapat mengabaikan rasa gentar, tetapi Ubandhana menyimpan harapan lebih tinggi dari sekadar menjadi pembantu setia patih Kahuripan.

Ubandhana beralih, ia melangkah lebih dekat ke arah bibir pantai. Melewatkan satu malam atau separuh malam bersama seorang gadis yang nyaris  dipaksanya untuk meletupkan urat menimbulkan kepayahan baginya. Tetapi ia harus mampu menjaga diri baik-baik demi cita-citanya yang besar. Maka Ubandhana mengayun kaki kembali menghampiri Arum Sari. Kini ia tidak lagi duduk lebih dekat. Ubandhana menjaga jarak sebatans indra penciumannya tidak dapat mnengendus wangi tubuh gadis itu.

Dengan tidak melepaskan kewaspadaan pada sekelompok orang yang berada di balik semak, Ubandhana memejamkan mata sambil berpikir keras untuk meloloskan diri. Ia mencoba berpikir ke arah itu agar dapat membawa Arum Sari jika penyergapan seperti di Sumur Welut terulang kembali. Ia merasakan desir yang aneh ketika menatap mata Arum Sari.

Ubandhana memasang tekad tidak akan menyerahkan Arum Sari kepada Patraman.

***

Sementara itu utusan Patraman, yang sudah tiba di Trowulan setelah melakukan sejauh sehari perjalanan, bergegas menuju candi yang cukup tua. Ia sudah mengetahui bahwa Ken Banawa sering berada di sebelah timur candi.untu bersemedi dan melakukan sejumlah pekerjaan

“Selamat pagi Tuan Rangga Ken Banawa. Hormat saya,” sapa utusan Patraman, yang ternyata Rajapaksi, kemudian melaporkan tentang penculikan Arum Sari dan pengejaran yang dilakukan Patraman.

Ken Banawa tidak terkejut karena ia telah mengetahui berita itu dari jalur lain.

“Berapa orang yang bersamamu, Rajapaksi?” bertanya Ken Banawa yang baru saja mengikuti pertemuan di bawah pimpinan Mpu Nambi.

“Seorang prajurit, Tuan.”

“Baiklah, beristirahatlah kalian dan esok pagi atau setelah kalian merasa cukup bugar, kalian dapat kembali ke Wringin Anom. Laporkan pada Ki Demang bahwa engkau telah bertemu aku dan katakan padanya bahwa aku akan mengambil alih pengejaran ini,” kata Ken Banawa. Ia kemudian memberi perintah seorang prajurit agar meminta Bondan Lelana dan Gumilang segera menyiapkan diri.

Ketika matahari telah menduduki ujung tanaman perdu, lima belas pasukan berkuda berderap dalam lima kelompok menuju Ken Banawa. Mereka menyembunyikan senjata di balik pelana, melingkari pinggang, menyisipkan di balik baju luar dan sebagainya. Dalam pesannya pada Bondan dan Gumilang, Ken Banawa meminta mereka untuk tidak memperlihatkan senjata seperi biasanya.

Pengarahan singkat diberikan oleh Ken Banawa pada Gumilang sebagai pemimpin pasukan berkuda. Dalam petunjuknya, Ken Banawa memerin-tahkan untuk memulai pengejaran ke Ujung Galuh.

“Paman, mengapa kita ke Ujung Galuh?” tanya Gumilang penasaran dengan arahan Ken Banawa.

“Aku sudah menerima keterangan dari beberapa petugas sandi bahwa mereka telah  melihat tiga orang yang berkuda dan seorang di antaranya adalah perempuan,” Ken Banawa melanjutkan kemudian, ”dan aku yakin mereka menuju Ujung Galuh berdasarkan jalan yang mereka tempuh ketika terlihat oleh petugas sandi. Selain itu, mereka pasti akan meninggalkan jalan-jalan utama, karena tentu, mereka melihat perondaan yang semakin rapat dan ketat.”

Senapati muda itu mendengarnya sambil bergumam. “Tapi mengapa kita harus ke Ujung Galuh? Bukankah itu justru akan menyulitkan mereka jika harus melalui sungai Brantas? Para prajurit akan mudah menemukan mereka.” Gumilang belum dapat menerima keterangan Ken Banawa dan terus mendesak demi sebuah alasan.

“Gumilang, Ujung Galuh mempunyai pantai kecil di sekitar rawa di sebelah timur Jatipurwo. Dari sana, mereka dapat dengan mudah menyebe-rang ke Songenep, atau, mungkin kembali ke Wringin Anom dengan menumpang kapal-kapal para saudagar. Bila mereka dapat memasuki kapal saudagar itu akan menjadikan keadaan ini semakin sulit.”

Related posts

Leave a Comment