Dironda 19 kali
TPU Tanah Kusir, 1910
Suryani memperlambat langkahnya ketika memasuki jalan tanah yang membelah kawasan pemakaman Tanah Kusir. Dia harus melewati tempat itu setiap kali pulang dari tempatnya bekerja.
Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tetapi senja mulai tampak turutn. Pepohonan besar yang tumbuh tidak beraturan membentuk bayangan panjang di atas tanah. Tidak banyak batu nisa yang tersembul keluar dari semak-semak. Ini pemakaman yang tidak terurus meski masih berada di Tanah Kusir.
Suryani sebenarnya setiap hari melewati tempat itu, tetapi sore itu ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan karena suasan senja yan gtemaram. Bukan pula karena keheningan yang mencekam tetapi seseorang sedang mengikutinya.
Suryani berhenti lalu menoleh ke belakang.
Jalan yang baru dilewatinya tampak kosong. Di antara pepohonan, beberapa makam berdiri dalam kesunyian. Tidak ada orang yang terlihat.
Dia meneruskan langkah dan ketika belum sampai sepuluh ayunan kaki, terdengar derap kuda dari arah belakang. Suaranya pelan, teratur, kemudian menghilang. Suryani menoleh sekali lagi. Kali ini dia melihat seorang penunggang kuda di kejauhan. Perawakannya sedang. Tidak terlalu tinggi, tidak pula tampak kekar. Dia mengenakan pakaian berwarna gelap dan duduk tegak di atas pelana.
Suryani tidak dapat memastikan wajahnya. Jarak mereka terlalu jauh dan cahaya sore semakin buruk. Dan dia kembali berjalan. Namun perasaan tidak nyaman itu semakin kuat. Suryani seperti merasa penunggang kuda tersebut selalu berada pada jarak yang sama, tidak pernah mendekat, tetapi juga tidak pernah benar-benar menjauh.
Ketika melewati sebuah persimpangan kecil, Suryani berhenti lalu berbalik arah—menghampiri penunggang kuda. Dia sempat melihat orang itu dari dekat.
“Orang Belanda?” pikir Suryani karena bentuk hidung dan warna wajahnya memberikan kesan demikian.
Namun, beberapa saat kemudian, saat berjalan ke arah rumahny, Suryani melihat lagi ke arah yang sama, sosok itu tampak berbeda. Rambutnya hitam, kulitnya kecokelatan, dan bentuk tubuhnya lebih menyerupai seorang lelaki Jawa.
Suryani mengerutkan dahi. Apakah dia keliru melihat?
Dia berhenti di dekat sebuah makam tua. Tangannya meraba lipatan kain yang membungkus benda kecil di pinggangnya. Bukan senjata, hanya sebuah benda peninggalan ibunya yang selalu dibawa ke mana-mana.
Derap kuda terdengar lagi dan terasa lebih dekat.
Suryani berbalik dengan cepat. Tidak ada seorang pun di belakangnya. Bahkan jalan tanah yang terbentang di antara pepohonan terlihat lengang. Ada yang tidak beres dengan, pikirnya.
“Siapakah dia sebenarnya?” gumamnya.
Suryani mempercepat langkah menuju rumahnya. Meski demikian dia tidak ingin menunjukkan kegelisahan, tetapi beberapa kali tanpa sadar Suryani menoleh. Setiap kali itu pula muncul kesan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya dari tempat yang tidak dapat dijangkau pandangannya.
Sesampainya di ujung jalan dekat rumahnya, dia berhenti sejenak.
Derap kuda terdengar sekali lagi. Suryani menoleh.
Di bawah sebatang pohon asam yang tumbuh tidak jauh dari pintu masuk, seorang penunggang kuda berdiri diam. Perawakannya sedang. Pakaian gelap. Wajahnya tidak begitu jelas.
Kali ini Suryani merasa mengenali sosok itu sebagai orang Jawa.
Penunggang tersebut mengangkat kepala lalu tiba-tiba lenyap ketika sebuah pedati melintas.
Suryani berdiri cukup lama. Dia terganggu oleh pikirannya: Bagaimana jika selama ini orang itu bukan sedang membuntutinya? Bagaimana jika dia justru sedang menunggu Suryani datang?
