Padepokan Witasem
Bab 2 Sampai Jumpa, Ken Arok!

Sampai Jumpa, Ken Arok! 8

Toh Kuning kemudian meningkatkan kecepatan serangannya dan ujung kerisnya seolah mejadi puluhan jumlahnya. Tiba-tiba tanpa disadari oleh lurah prajurit, satu goresan pendek telah mengoyak kulitnya. Lurah prajurit berteriak marah dan serangannya semakin lama semakin tidak menentu arahnya.

Menyadari usahanya untuk memancing amarah lurah prajurit telah membuahkan hasil, Toh Kuning meloncat surut jauh beberapa langkah. Ia mempersiapkan diri untuk melakukan rancangan serang selanjutnya. Tubuh Toh Kuning berloncatan ke segala arah dengan kecepatan luar biasa. Orang bertubuh kurus yang memimpin pengikut Ki Ranu Welang sulit mengikuti bayangan gerak Toh Kuning. Sementara lurah prajurit kemudian sadar jika lawannya telah berhasil menggedor pertahanannya yang terakhir.

Namun ia terlambat untuk memperbaiki kedudukan, Toh Kuning yang berloncatan kesana kemari berhasil menggapai tubuh lurah prajurit dengan dua-tiga pukulan, kemudian dalam satu gebrakan dahsyat, Toh Kuning berhasil memukul jatuh pedang lurah prajurit dan bersamaan dengan itu Toh Kuning menjatuhkan kerisnya. Ia memberi kesan pada pengikut Ki Ranu Welang bahwa senjata mereka berdua telah lepas dari genggaman karena benturan. Lalu tiba-tiba tangan kiri Toh Kuning yang terkepal telah menghantam bagian dada lurah prajurit sementara jari tangan kanan mencekik leher lurah prajurit dengan kuat.

“Kau!” desah lurah prajurit dengan mata membeliak.

“Ilmu yang tidak sebanding denganku. Jangan pernah berharap dapat mengalahkanku, Ki Lurah,” bisik pelan Toh Kuning yang kemudian mendorong jatuh tubuh lurah prajurit.

Dengan pandangan mata yang tajam, Toh Kuning memperhatikan tubuh lurah prajurityang tergolek lemas di bawah kakinya.

“Aku berhasil,” ia berkata pelan. Kemudian ia menoleh sekeliling dan berkata pada pengikut Ki Ranu Welang, ”Tidak ada prajurit Kediri yang tersisa untuk hidup. Marilah! Aku minta kalian untuk membersihkan tempat ini dari mayat-mayat prajurit yang malang ini. Aku akan mengubur jasad orang ini agak jauh dari sini.”

“Mengapa kau lakukan itu, Toh Kuning?” orang bertubuh kurus itu bertanya dengan dahi berkerut dalam.

“Supaya kawan-kawan mereka yang menjumpai mayat-mayat ini mempunyai pikiran jika lurah prajurit telah melarikan diri,” Toh Kuning memberi jawaban sambil memanggul tubuh lemas lurah prajurit lalu berjalan meninggalkan mereka.

Orang-orang yang mendengarnya kemudian menganggukkan kepala. Seorang di antara mereka berkata, ”Kau berpikiran bagus!”

“Itulah gunanya teman,” jawab Toh Kuning sekenanya dengan suara lantang.

Maka pengikut Ki Ranu Welang segera bekerja sama menyingkirkan mayat-mayat prajurit Kediri itu di balik rerumputan yang tumbuh tinggi di tepi telaga, sementara Toh Kuning mengubur tubuh lurah prajurit dengan menyisakan sebuah lubang yang dapat digunakan untuk bernapas.

Selanjutnya mereka bergeser ke tempat lain namun masih mengikuti petunjuk Toh Kuning. Satu iring-iringan yang tidak begitu panjang telah terlihat oleh seorang pengamat. Dengan cepat ia berlari menghampiri Toh Kuning yang duduk bersembuyi dibalik sebongkah batu besar bersama orang bertubuh kurus.

“Aku melihat satu rombongan dengan pedati dan kereta kuda,” lapor pengamat itu dengan napas terengah-engah pada orang bertubuh kurus.

“Marilah!” sahut orang itu lantas bangkit berdiri dan berjalan cepat mengikuti Toh Kuning yang ternyata lebih cepat beberapa langkah di depannya.

Sejenak kemudian mereka telah menyebar di sebuah tikungan yang lebar. Untuk masa yang agak lama, ketika matahari mendaki puncak langit, dari kejauhan terlihat tiga ekor burung terbang di atas pepohonan yang berada di tepi Alas Kawitan.

“Ken Arok telah berada di tempatnya, ia membenarkan laporan orangmu tadi,” kata Toh Kuning sambil berpaling ke arah orang bertubuh kurus. Lantas orang itu memberi aba-aba pada kawan-kawannya untuk bersiap melakukan penyergapan.

“Kita dapat mengurangi jumlah mereka dengan lontaran anak panah,” kembali Toh Kuning bersuara. Ia melihat keraguan pada wajah orang bertubuh kurus itu, kemudian, “Adakah kau keberatan dengan siasat ini? Sebenarnya engkau dapat mengingat dan menimbang sejenak, bukankah engkau dan pengikutmu telah bertempur setengah malam? Dan kita tidak tahu kekuatan orang yang menyertai Mahendra.”

Related posts

Leave a Comment