Dironda 35 kali
Selamat bertemu lagi.
Nah, sekarang kita tiba di wedaran selanjutnya dari Agung Sedayu Terperdaya. Awalnya di kampung sedang mengadakan kerja bakti. Saya kebetulan suka dengan perencanaan membuat taman. Yah, taman kecil yang pasti tidak selevel dengan Jonggring Saloka atau Taman Sriwedari.
“Dalam pada itu,” saya membawa alat pertanian, cangkul kecil, sambil menunggu beberapa tetangga yang kebagian tugas membuat taman. Saat itu sedang hangat-hangatnya mencari nama orang yang menantang Agung Sedayu di depan rumahnya. Pakai nama apa? Jawa Kawi? Sanskerta? Atau apa?
Pencarian dan penyusunan berlanjut di dalam pikiran di tengah-tengah kegiatan. Saya lihat dan amati cangkul mini yang berada di tangan.
Sambil berpikir, cangkul ini nama yang baik.
Kemudian ada yang berkata agak keras, “Opo gak ono ta sing nduwe garu cilik?” (Apa tidak ada yang punya garu kecil?)
Kring, kring… menyala!
Hahaha…
Garu Wesi. Ki Garu Wesi yang kemudian kita kenal sebagai panglima perang kelompok pemberontak yang dipimpin Raden Atmandaru. Kelak Ki Garu Wesi ini pula yang menghancurkan rumah Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh tapi sayang sekali, sejauh ini belum ada yang mengajukan tuntutan ganti rugi. Tapi untunglah ada Ki Gede Menoreh yang mengambil alih pembangunan ulang rumah senapati Mataram tersebut.
Dan agak lama dari itu muncul nama Tunggul Pitu.
Tapi Ki Tunggul Pitu bukan tanpa cerita. “Tunggul” itu berasal dari nama tempat, Tanggul di Kabupaten Jember. Saat belum menikah, saya suka mendapat pekerjaan kirim barang ke wilayah Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Bahkan kadang sampai Banyuwangi, dan Tanggul adalah rute yang nyaris tetap saya lewati.
Yah, jadilah Ki Tunggul Pitu sebagai karakter pendukung.
ikut serta pula referensi bacaan Agung Sedayu Terpedaya, Membidik, atau pinarak di Kitab Kyai Gringsing, monggo.
