Sampai Jumpa, Ken Arok! 9

Pengikut Ki Ranu Welang harus berjuang lebih keras meskipun mereka telah membunuh beberapa orang dengan lontaran panah, tetapi lawan mereka adalah orang yang menguasai olah gerak dengan sangat baik. Lawan mereka juga orang yang terlatih seperti halnya para prajurit Kediri.
Seorang pemimpin kelompok Mahendra, yang berkalung rantai besi berukuran kelingking, tampak berusaha untuk memperlambat serangan pengikut Ki Ranu Welang yang menggunakan tombak dengan ayunan, tebasan dan kadang-kadang mematuk seperti ular.
Ia kemudian menarik perhatian empat pengikut Ki Ranu Welang untuk datang mengeroyoknya. Maka dengan begitu, para penyamun ini mengalami kesulitan berat dan terdesak hebat.
Mendadak dua bayangan memecah kepungan itu.
Ken Arok secara cepat memasuki lingkar perkelahian dengan dua kaki yang berputar-putar seperti angin topan. Ia segera mengikat pemimpin kelompok Mahendra sebagai lawannya, sementara Ki Ranu Welang berloncatan seperti burung elang membongkar setiap kepungan dan membuat kekacauan pada gelar-gelar kecil yang dijalankan pengawal Mahendra.
Tetapi para pengawal Mahendra tidak segera berpencaran mundur seperti anak ayam kabur kanginan, memang sesekali mereka mundur, namun kemudian mencoba maju dua langkah. Mereka dengan sabar menunggu kelengahan Ki Ranu Welang sehingga setiap ia menyerang lingkaran yang lain, maka dengan sigap mereka memburunya lalu menutup ruang geraknya.
Sesekali mereka mengepung rapat Ki Ranu Welang namun kemudian mereka meninggalkan seolah memberi jalan untuk bebas. Lalu ketika Ki Ranu Welang akan bergerak melakukan serangan, tiba-tiba mereka kembali menutup geraknya dengan kepungan yang sangat rapat.
Serangan yang dilakukan oleh para pengawal Mahendra, yang sebenarnya adalah orang-orang padepokan, memang tidak begitu berbahaya untuk melawan orang setingkat Ki Ranu Welang. Seringkali Ki Ranu Welang dapat melepaskan diri dari serangan-serangan itu meski terkurung dalam kepungan yang rapat. Tetapi siasat seperti itu setidaknya mampu mengurangi bencana yang ditebar oleh Ki Ranu Welang. Keadaan itu tidak berlangsung lama. Keuletan dan keteguhan pengikut Mahendara mengetrapkan siasat telah menjadi pembeda.
Yang terjadi kemudian adalah seorang di antara pengepung itu kemudian memberi perintah yang hanya dimengerti oleh kawan-kawan mereka sendiri.
Datanglah perubahan yang benar-benar mengejutkan Ki Ranu Welang.
“Luar biasa!” decak kagum Ki Ranu Welang yang mengimbangi perubahan itu dengan menambah kecepatan dan tenaganya. Tombaknya yang berwarna putih dengan ujungnya yang lancip bergeririgi bergulung-gulung menutup tubuhnya dengan rapat. Namun orang yang menjadi pemimpin dalam pengepungan itu kembali memberi perintah.
Pengawal Mahendra kemudian meningkatkan kecepatan dan benar-benar mengurung Ki Ranu Welang dengan putaran senjata yang seperti saling menutup dan bergumpal-gumpal seperti awan.
Ki Ranu Welang sekalipun mempunyai kepandaian yang berlapis-lapis diatas tingkatan orang per orang dari pengepungnya, namun ia kini menghadapi senjata rahasia berupa belati kecil yang ujungnya terikat sebuah tali yang kuat. Para pengepung Ki Ranu Welang sesekali melontarkan belati itu dan kemudian menarik dengan cepat.
Maka perubahan susunan dalam mengepung itu mampu men-goyak pertahanan rapat Ki Ranu Welang. Tubuhnya mulai terkoyak oleh senjata yang berseliweran menggedor pertahanannya berulang-ulang. Pakaian Ki Ranu Welang pun basah dengan darah, luka silang menyilang semakin banyak memancarkan darah.
“Gila!” Ki Ranu Welang menggeram marah. Tetapi ia tidak memperlihatkan keadaannya yang mulai menurun. Ia kini sadar jika para pengeroyoknya adalah orang pilihan, yang berlatih secara khusus, untuk melawan orang berilmu tinggi seperti dirinya. Hanya saja Ki Ranu Welang tidak dapat menutupi kegelisahannya ketika ia melihat para pengikutnya dapat ditundukkan satu demi satu.
Ki Ranu Welang kini menghentakkan segenap kemampuannya untuk melepaskan diri dari kepungan yang semakin rapat dan dahsyat. Ia bersiap dengan tenaga inti yang akan dilepaskan dari jarak yang cukup. Tetapi para pengeroyoknya pun semakin sengit menambah serangan yang pada saat itu juga melepaskan lontaran belati yang disertai tenaga inti. Mereka mempunyai semangat tinggi dan telah berada di dalam barisan yang sangat rapat.

Tidak ada jalan bagi Ki Ranu Welang, sepertinya begitu.

Serangan demi serangan itu mengalir, dan Ki Ranu Welang menerima sebuah belati yang meluncur cepat dari sisi kiri lalu menusuk cukup dalam pada lambungnya. Seketika itu ia mencabut belati yang tertancap dan menarik tali dari pengeroyoknya dengan kemarahan yang luar biasa. Tetapi lawannya cepat melepaskan tali yang dipegangnya erat, kawan-kawannya sangat tanggap kemudian mereka serentak melakukan satu serangan dengan gabungan kekuatan yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *