0%
Still working...

Kereta Kuda Tanpa Wujud

Dironda 26 kali

Karang Andong, 2024

Malam itu, hujan baru saja berhenti. Jalan kampung Karang Andong masih basah dan memantulkan cahaya lampu penerangan yang berdiri di beberapa sudut jalan. Jam dinding di rumah Suryani menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit.

Perempuan berusia lima puluh lima tahun itu baru saja selesai membereskan dapur. Dia tinggal seorang diri sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu. Kedua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Karena itu, dia terbiasa menghabiskan malam dengan menonton televisi atau membaca berita melalui telepon genggam.

Ketika hendak mematikan televisi, tiba-tiba telinganya menangkap suara aneh dari arah jalan. Disusul bunyi lonceng kecil. Suryani menghentikan gerak tangannya. Dia mengenal suara itu. Sangat mirip dengan bunyi kereta kuda yang biasa melewati jalanan kampung pada masa kecilnya. Namun, di Karang Andong sekarang hampir tidak pernah ada kereta kuda. Jalan kampung sudah diaspal, kendaraan bermotor lalu-lalang, dan sebagian besar penduduk menggunakan mobil atau sepeda motor.

Suryani mendekati jendela ruang tamu dan suara itu semakin jelas. Seolah-olah ada roda kayu yang sedang melindas batu-batu kecil. Perempuan ini mengintip melalui celah tirai. Jalanan terlihat kosong. Tidak ada kendaraan, tidak ada orang berjalan kaki, bahkan seekor kucing pun tidak tampak.

Suara itu terus bergerak mendekat.

Suryani merasakan tengkuknya dingin hingga beberapa saat kemudian, suara tersebut berhenti tepat di depan rumahnya.

Dua kali bunyi lonceng terdengar. Setelah itu, terdengar suara seseorang seperti sedang menarik tali kekang kuda.

Suryani mundur beberapa langkah.

“Siapa di luar?” tanyanya dengan suara tertahan.

Tidak ada jawaban. Meski demikian, dia memberanikan diri mengintip sekali lagi. Lampu jalan di depan rumahnya menyala terang. Tidak ada siapa pun di sana. Namun, anehnya, bayangan pagar rumahnya bergerak-gerak seperti tertimpa cahaya dari sebuah benda besar yang melintas.

Suryani segera menutup tirai.

Pagi harinya, ia menceritakan kejadian itu kepada tetangganya, Pak Harjo, yang kebetulan sedang menyapu halaman.

“Kereta kuda?” Pak Harjo mengerutkan kening. “Saya tidak mendengar apa-apa semalam.”

“Suara rodanya jelas sekali, Pak. Bahkan berhenti tepat di depan rumah saya.”

Pak Harjo tertawa lalu berkata, “Mungkin hanya suara dari rumah orang yang sedang menonton film.”

Suryani tidak membantah. Namun, dia tahu suara itu bukan berasal dari televisi.

Malam berikutnya, kejadian yang sama terulang.

Kali ini Suryani tidak menyalakan televisi. Dia sengaja menunggu. Tepat pukul sebelas lewat empat puluh menit, suara kereta kuda kembali terdengar. Lonceng kecil berbunyi semakin dekat.

Suryani menggenggam telepon genggamnya. Dia membuka kamera dan mengarahkannya ke jendela. Jika memang ada kereta kuda lewat, dia ingin membuktikannya kepada Pak Harjo.

Suara roda berhenti kemudian terdengar ketukan tiga kali pada pagar besi.

Suryani menahan napas. Dia mengarahkan kamera ke layar telepon genggam. Tidak ada orang. Namun, mikrofon telepon menangkap suara derap kaki kuda dengan sangat jelas.

Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari luar pagar.

“Bu… masih ada air minum?”

Suryani terperanjat.

“Siapa itu?”

“Pengemudi kereta, Bu.”

Suryani hampir menjawab, tetapi teringat sesuatu. Di kampung itu tidak ada lagi kereta kuda sejak puluhan tahun lalu.

Dia memberanikan diri bertanya, “Kereta dari mana?”

Suara itu terdiam beberapa saat kemudian menjawab, “Dari tempat yang sama seperti malam-malam sebelumnya, Bu.”

Suryani merasa darahnya seolah berhenti mengalir.

Dia mundur, tetapi matanya masih tertuju pada layar telepon genggam. Anehnya, gambar yang tertangkap kamera memperlihatkan jalan kosong. Tidak ada kereta, tidak ada kuda, dan tidak ada manusia.

Namun, suara laki-laki itu kembali terdengar dan mirip sekali dengan suara yang sangat dikenalnya selama bertahun-tahun. “Bu Suryani…”

Kali ini suaranya terdengar sangat dekat, seolah-olah orang itu berdiri tepat di balik jendela.

“Bukakan pintunya. Saya sudah lama mencari rumah ini.”

Dia mengunci pintu, kemudian menutup telinga dengan kedua tangannya.

Suara roda kereta perlahan menjauh. Lonceng kecil terdengar tiga kali sebelum akhirnya menghilang.

Siang itu, ketika sedang membereskan lemari tua milik almarhum suaminya, dia menemukan sebuah foto hitam putih yang terselip di antara tumpukan surat. Foto itu memperlihatkan sebuah kereta kuda di depan rumah yang sangat dikenalnya. Rumahnya sendiri.

Di belakang kereta berdiri seorang laki-laki berkumis tebal dengan pakaian kusir. Suryani membalik foto itu. Ada tulisan tangan yang sudah memudar.

Karang Andong, 1974. Kereta terakhir yang mengantar Pak Sastro pulang.

Suryani terdiam.

Pak Sastro adalah nama ayahnya yang meninggal ketika dirinya masih kecil. Namun, ada sesuatu yang membuat kedua lututnya mendadak lemas.

Laki-laki dalam foto itu bukan ayahnya tapi suaminya.

Dan di samping kusir, tampak seorang anak perempuan kecil yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya.

Suryani menjatuhkan foto itu. “Bagaimana mungkin suamiku sudah sedewasa itu?”

Dari arah luar rumah, terdengar bunyi lonceng kecil padahal hari masih siang.

  • Dalam percakapan itu, Agung Sedayu menyampaikan banyak hal, terutama permintaan maaf karena keterlambatan pasukan khusus mengambil tindakan. Katanya, “Maaf Anda sepertinya salah tempat. Saya dan Pandan Wangi serta yang lain mendapatkan tugas untuk mengisi Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 6, bukan cerita pendek misteri.”

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.