Nyi Poh Gemrenggeng terpana! Dia sama sekali tidak menduga bahwa Arya Penangsang dapat mengakhiri perlawanan Lembu Jati lebih cepat dari dugaannya. Perempuan itu sempat berpikir bahwa Lembu Jati belum pada pengerahan puncak seluruh kekuatannya. Tapi ternyata Arya Penangsang membuatnya terpental karena kekuatannya sendiri. Dengan tenggorokan tercekat dan tiba-tiba terasa kering, Nyi Poh Gemrenggeng melihat pemandangan di depannya dengan hati menggigil. Kekuatan Arya Penangsang ternyata sangat mengerikan, batin perempuan itu.
Arya Penangsang membersihkan debu dari pakaian dengan cara menepuk-nepuk sambil bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. Ketenangan Adipati Jipang itu seperti mencerminkan bahwa pertarungan yang baru saja dilewatinya itu sama sekali tidak mampu mengusiknya. Tanpa melihat Nyi Poh Gemrenggeng, Arya Penangsang berkata, “Tuntaskan urusanmu dengan merawat dua jasad yang membujur lintang ini. Itu menjadi tanggung jawabmu oleh sebab gangguan yang kau timbulkan bersama dua temanmu.”
Dengan suara bergetar karena masih terbayang kedahsyatan ilmu Arya Penangsang, Nyi Poh Gemrenggeng berkata, “Aku lakukan semua perintah Adipati.”
Arya Penangsang, untuk ke sekian kali, sudah melewati pertarungan hidup mati. Sebagian di antaranya adalah pertarungan demi melayani kehendak Raden Trenggana. Keterlibatannya yang terakhir ternyata gagal menyelamatkan Raden Trenggana dari bahaya di Blambangan. Sungguh, peristiwa itu sangat mengusik kedamaian hatinya. Namun begitu, ketika perjalanannya ke Demak mengalami banyak gangguan, Adipati Jipang tersebut tidak lantas mendapat pembenaran untuk berlaku bengis pada musuh-musuhnya. Mengenai kematian Lembu Jati, Arya Penangsang tegas dalam pendiriannya bahwa bukan dia yang memulai semuanya tapi mereka mengincar hidupku. Lagipula, apakah mungkin seseorang bersedia menyerahkan nyawa dengan percuma ketika seorang pembunuh sudah jelas mengincarnya?
Ketika masih beberapa langkah meninggalkan Nyi Poh Gemrenggeng, Arya Penangsang mendapatkan pikiran lain. Dia berbalik lalu menggerakkan lengan. Lalu serangkum angin dahsyat keluar dari telapal tangannya, menghantam bagian depan wanita yang masih melihatnya dengan pandangan menggigil. Sekejap kemudian, Nyi Poh Gemrenggeng terlempar lalu terbanting kemudian pingsan.
“Maaf,” ucap lirih Arya Penangsang sambil menangkupkan tangan. Dia merasa harus berbuat seperti itu sebagai pelajaran bagi perempuan ganas yang gagal menghadang perjalanannya.
Kuda Arya Penangsang pun melesat dengan kecepatan tinggi. Adipati Jipang ini melanjutkan perjalanan ke pusat kerajaan Demak. Dia memulai perjalanan dengan menuruni lembah, menyisir bibir sungai dan juga mendaki perbukitan sebelum kotaraja. Dia harus berpacu dengan waktu agar dapat mendahului kapal yang membawa Raden Trenggana. “Semoga aku masih diizinkan bertemu ketika Paman belum benar-benar berpulang,” ucap lirih Arya Penangsang dengan dada pepat.
Sesekali dia berhenti agar kuda tunggangannya juga mempunyai jeda untuk istirahat. Dengan ukuran antar waktu istirahat yang diperhitungkan cukup baik, Arya Penangsang dapat menempuh jarak perjalanan dua hari dua malam lebih cepat daripada prajurit berkuda.
Sepanjang perjalanan itu, meski Arya Penangsang memendam amarah pada keluarga Raden Trenggana, tapi lelaki perkasa itu sadar bahwa dia harus mengabaikan itu semua. Kepentingan Demak dan keselamatan pamannya adalah kewajiban utama yang harus diembannya. Dia juga sempat beranggapan hanya orang bodoh yang dapat merencanakan lalu menjalankan perbuatan keji pada yahnya. Tapi, mengapa pembunuh itu masih bebas berkeliaran?
Sejenak kemudian Adipati Jipang itu berhenti lalu melayangkan pandangannya pada sawah yang membentang luas di bawahnya. Sebuah candi tampak menjulang dari kejauhan. Meski sudah tidak dapat dikatakan tersusun rapi, tapi bangunan itu masih tampak kokoh. Kesadaran Arya Penangsang kemudian datang lalu bicara dengan caranya sendiri. “Aku harus mempunyai pandangan lebih jauh dari hanya sekedar balas dendam,” desah lirih Arya Penangsang. “Apa yang membuatku kemudian berbeda dengan orang bodoh itu? Dia membunuh karena takut ayahnya tidak dapat menjadi raja. Lalu aku membunuhnya karena nyawa harus dibalas dengan nyawa. Pada ujung kisah ini, bilakah pertumpahan darah karena dendam dapat berhenti?”
Pada sisi bentangan sawah yang hijau tampak beberapa rumah yang tidak teratur letaknya. Dua rumah seolah-olah berada di tengah-tengah kebun kelapa yang cukup luas. Beberapa rumah menyebar di sekitarnya. Ciri-ciri dusun itu cukup dikenalnya dengan sangat baik. Arya Penangsang segera tahu bahwa dirinya sudah berjarak makin dekat dengan kotaraja. “Aku bisa lebih cepat sampai di sana,” ucap Adipati Jipang dalam hati. Walau berpikiran seperti itu, Arya Penangsang tetap memilih untuk menghindari pertemuan dengan orang lain. Meskipun mereka bukan orang-orang yang memusuhi Demak, tapi Adipati Jipang tersebut tetap menempuh jalur memutar.
Demikianlah, Arya Penangsang lantas memacu kuda, mengambil jalanan yang tak rata di luar dusun. Dari cela-cela barisan pohon yang memadati pekarangan sejumlah rumah, dia dapat melihat anak-anak bermain di bawah pepohonan dan beberapa laki-laki yang sedang bekerja di kebun..
Ketika kudanya kian jauh melaju meninggalkan dusun, Arya Penangsang kembali melihat kedalaman dirinya. Dia merasa tidak sedang berseberangan dengan banyak orang penting. Adipati Pajang pun bukan orang yang harus dilawannya. Singgasana Demak sudah tidak pula menjadi perhatiannya. “Aku tidak mempunyai alasan untuk memusuhi Raden Trenggana maupun Demak,” dia berkata pada dirinya. Seiring dengan pikiran itu, Arya Penangsang kemudian mengambil sudut pandang yang lain agar dapat lebih luas melihat permasalahan Demak. Pendapatnya kemudian, Blambangan bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sebagai musuh, tapi rencana penaklukan itu mungkin meninggalkan bekas yang buruk pada sebagian orang.
“Apakah ada orang yang menganggapku sebagai ancaman sehingga mereka mengirim pembunuh?” tanya Arya Penangsang dalam hati. Pangeran Parikesit dan Gagak Panji adalah kerabat yang dapat dipercaya. Meskipun dua orang tersebut menentang rencana penaklukan Blambangan, tapi apakah mungkin mereka yang merancang pembunuhan terhadap Raden Trenggana dan dirinya? pikirnya. Pada waktu itu, dia banyak berharap dapat bertemu dengan Pangeran Parikesit dan juga Pangeran Benawa. “Semoga kabar duka itu sudah tiba di Pajang, lalu anak kecil itu turut serta pergi ke Demak bersama rombongan yang berduka. Aku merindukannya,” ucap Arya Penangsang dalam hati. Seketika pikirannya yang sedang bekerja keras menyusun ulang peristiwa demi peristiwa pun beristirahat saat wajah mungil Pangeran Benawa menghias pelupuk mata. Lelaki tangguh itu segera mengembangkan senyum. Hatinya berbunga-bunga dengan kerinduan meluap pada pangeran kecilnya. Arya Penangsang makin bersemangat dan ingin segera tiba di kotaraja.
Hari masih pagi dan sinar matahari belum menggapai permukaan tanah saat Arya Penangsang tiba di persimpangan yang kelilingi persawahan yang menguning. Sesuai perkiraannya, meski tetap menempuh jalur yang tidak biasa, Arya Penangsang sudah dapat melihat gerbang kotaraja Demak. Dari tempat perhentiannya, Adipati Jipang tersebut menata perasaannya yang kembali terguncang saat teringat Raden Trenggana. Pada waktu itu, putra mendiang Pangeran Surawiyata itu masih mengenakan pakaian sebagaimana kebanyakan orang. Sesaat kemudian, orang pertama di Kadipaten Jipang itu turun dari tunggangan lalu melangkah biasa sambil menuntun kuda. Meski dia adalah keturunan raja pertama Demak, tapi Arya Penangsang tidak canggung untuk berjalan bersama-sama pedagang atau petani yang searah dengannya.
“Peristiwa buruk yang menimpa Raden Trenggana tampaknya belum didengar oleh orang-orang,” kata Arya Penangsang dalam hati dengan tatap mata heran. Tegur sapa kerap didengar olehnya setiap kali ada orang yang berpapasan pada jalur yang sama dengannya. Tidak ada sesuatu yang mengejutkan atau yang aneh, ini kesan pertama Adipati Jipang itu sewaktu dirinya semakin dekat dengan gerbang kota.
Selayang pandang agak jauh ke depan terlihat beberapa bangunan berderet namun tidak begitu dekat satu dengan yang lain. Dari sisi luar, sejumlah bangunan tampak seperti rumah. Meski demikian, Arya Penangsang paham bahwa tidak semua bangunan itu adalah tempat hunian. Beberapa di antara bangunan itu adalah tempat tinggal sementara bagi prajurit yang bertugas menjaga gerbang kota. Dua bangunan adalah gudang senjata. Demikian juga beberapa yang lain masing-masing mempunyai kegunaan dan tujuan yang berlainan.
Semakin dalam Adipati Jipang itu mengarahkan langkah semakin rapat pula jarak orang-orang yang berlalu lalang. Kotaraja Demak rupanya berkembang lebih baik dari beberapa waktu yang lalu, pikir Arya Penangsang. “Aku sudah lama tak berkunjung ke kota ini,” ucapnya dalam hati lalu mengalihkan pandangan pada gerbang kota yang berada di belakangnya. Dia menduga, apakah Pangeran Benawa akan datang dari arah yang sama dengannya?
