Padepokan Witasem
arya penangsang, jipang, penaklukan panarukan, panderan benawa
Bab 1 - Serat Lelayu

Serat Lelayu 17

Pandangan layu begitu jelas terlihat pada wajah anak buah Ki Maja Tamping, tetapi apa yang dapat mereka perbuat? Mereka tidak dapat membuat keputusan masuk akal seperti melakukan serangan balik karena Gagak Panji dan Ki Prabasena telah melumpuhkan mereka. Bagaimana keadaan ini dapat terjadi? Mereka mendapatkan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan yang sedang berlangsung di depan mata. Kemuliaan dan kejayaan yang diangankan segera musnah dalam waktu yang tidak  lama lagi. Berharap keajaiban datang dengan pertolongan tentu menjadi sesuatu yang sulit terjadi karena mereka telah mendengar sepak terjang Arya Penangsang bertiga.

Mereka berharap dalam hati bahwa Ki Tumenggung Prabasena akan menjadi pengadil untuk nasib mereka. Namun, ketika melihat tatap mata Ki Tumenggung Prabasena dan Ki Rangga Gagak Panji, mereka tahu bahwa harapan tidak akan terwujud menjadi nyata!  Mereka paham bahwa Arya Penangsang adalah lelaki yang tulang belakangnya ibarat tombak terhunus.

“Kalian hanya mendapatkan waktu tunggu dari kami bertiga,” kata Ki Tumenggung Prabasena.

Ucapan Ki Tumenggung Prabasena terdengar menyakitkan dan seakan semakin menjatuhkan semangat mereka hingga ke lubang terdalam. Terasa seperti setapak kaki menginjak dada bagi mereka. Mengumpat atau mencaci maki pun tak dapat mereka lakukan karena simpul-simpul saraf terkunci oleh sebaran ilmu Ki Prabasena dan Gagak Panji.

loading...
Content Replacemen

Kini mereka tiba pada keadaan yang akan menuntut adanya pemecahan persoalan. Dan itu artinya akan ada hukuman dan bisa saja hanya ada satu bentuk hukuman yaitu kematian. Kematian salah seorang dari mereka atau semuanya. Seandainya mereka mau menimbang dan mengulur sedikit waktu, mungkin mereka dapat membebaskan diri dari tanggung jawab yang diberikan Lembu Jati. Namun, waktu tidak mungkin lagi dapat diputar. Sekarang hanya dapat mengiba pada harapan karena hanya itu yang mereka miliki.

“Lihat diri kalian! Seseorang memberi perintah pada kalian untuk menghadang atau menghabisi kami bertiga. Lalu, apa yang dapat kalian terima dari kenyataan ini? Yang pasti adalah kalian akan kehilangan kebebasan. Kami dapat menghukum mati kalian  semua. Walau mungkin kalian telah menyusun siasat untuk melarikan diri seandainya  kami membawa kalian ke Demak sebagai tahanan,” kata Gagak Panji, “tetapi sayang, aku tidak akan sebodoh dugaan kalian.”

Ki Prabasena mengangkat tangan, meminta  Gagak Panji untuk menahan diri. Mereka sepakat akan menyerahkan keputusan terakhir atau bentuk hukuman pada Adipati Jipang, Arya Penangsang. Mereka berdua akan menunggu Arya Penangsang. Mereka berdua mempunyai alasan kuat untuk menyerahkan pemecahan masalah pada Adipati Jipang tersebut.

Terdengar seperti sebuah benda berat jatuh membentur permukaan tanah ketika tubuh Ki Maja Tamping terlempar dari dalam kedai. Sejak itu, orang-orang mengerti bahwa serunya perkelahian telah menjauh. Kebisingan pun bergeser rupa menjadi keheningan. Bagi orang yang menyaksikan peristiwa yang berlangsung di kedai sejak awal, mereka akan tahu dan mempunyai kesimpulan. Meski suasana sunyi, tapi ketegangan semakin meningkat tinggi.

Dengan sikap dan perlakuan kasar pada para orang-orang yang menyerang mereka, Gagak Panji mengumpulkan anak buah Ki Maja Tamping menjadi satu lingkaran.

“Aku dapat menduga lalu mengerti bahwa kalian ingin menancapkan taring pada Demak setelah berhasil membunuh kami bertiga,” kata Arya Penangsang sambil berjalan menghampiri lingkaran para tawanan.

Para tawanan, termasuk Ki Maja Tamping dan Ki Bejijong, dapat mendengar ucapan itu dengan jelas tanpa mampu menggeliatkan lidah. Poh Kecik hanya dapat melihat orang-orang di sekitarnya dengan sinar mata nyalang. Dia ingin bersuara tetapi lidahnya kelu!

“Kalian semua tidak perlu merasa cemas dengan kegagalan ini. Kalian tidak perlu takut apabila kelak berhadap-hadapan dengan majikan kalian karena itu belum pasti dapat terjadi,” lanjut Arya Penangsang. ”Sebenarnya kalian sudah begitu dekat dengan tujuan dari perintah yang kalian terima. Maka, seharusnya kalian dapat bersikap tenang.”

Arya Penangsang mengubah kedudukannya. DIa berjongkok lebih dekat dengan Ki Maja Tamping dan Ki Bejijong yang terikat berdampingan. Kemudian kata Arya Penangsang, “”Kyai berdua sebenarnya tidak benar-benar kalah dalam pertarungan tadi. Itu sesungguhnya tidak boleh terjadi, tetapi apa yang dapat kita lakukan bila telah ditetapkan seperti itu? Penghadangan semacam ini, seperti yang kalian lakukan terhadap kami, sudah berada di dalam gambaran kami bertiga ketika memulai perjalanan ke Demak. Usaha kalian dalam menghabisi kami, bagaimanapun, memang memengaruhi suasana hati kami bertiga. Kami nyaris dapat dipastikan akan datang terlambat di Demak.”

Arya Penangsang bangkit berdiri lalu menginjak kepala Ki Maja Tamping.  Kemudian dengan sikap penuh wibawa, Adipati Jipang itu berkata, “Sebelah kaki kalian telah terbenam. Semakin kalian meronta, itu akan membawa kalian pada hukuman mati.” Arya Penangsang berpaling pada dua kerabatnya, lalu berucap, “Sekelompok orang ini bukanlah milik seseorang. Saya pikir Kakang berdua dapat menelantarkan atau menghukum mereka. Saya kira itu lebih baik daripada meninggalkan beban bagi orang-orang yang tinggal di dusun ini.”

“Mereka tidak terlalu berharga untuk ditahan di tempat ini, Tuan Adipati,” sahut Gagak Panji. “Sekawanan pencuri hanya dapat menakuti perempuan dan anak-anak dalam susuan. Jika Anda berkenan, kami akan memenggal leher mereka sebelum senja datang.”

Arya Penangsang tertawa kecil. “Saya sudah memperkirakan itu karena mereka bukan orang-orang pilihan yang turun dari langit. Tetapi, Kakang, para petani akan menambah waktu kerja dengan mengubur mereka di bagian hutan yang tidak ditumbuhi pohon besar.”

“Mereka hanya akan menimbulkan kesan angker saja di dusun ini,” ucap Ki Prabasena.

“Aku tidak akan melupakan ini!” pekik Ki Maja Tamping. Sikap Arya Penangsang adalah penghinaan luar biasa baginya, dan dia sendiri baru pertama kali seumur hidup diperlakukan lebih rendah dari hewan sembelihan. Hanya itu, hanya berteriak seperti itu yang dapat diperbuatnya karena menggerakkan kepala pun hampir tidak berdaya.

“Baiklah,” kata Arya Penangsang dengan lirik mata ke bawah. “Apakah aku harus menginjak kepalamu hingga pecah? Katakan, apa yang harus aku lakukan?”

Ki Maja Tamping masih rata dengan tanah, demikian pula Ki Bejijong. Dan mereka berdua tidak dapat berpikir cukup baik ketika itu.

Sedekah Jumat

“Baiklah, jika demikian, jika Kakang berdua berkenan, saya akan meninggalkan dan menyerahkan nasib mereka pada Anda berdua,” kata Arya Penangsang setelah menunggu agak lama. “Saya lebih dulu pergi menyusul Paman Trenggana. Tidak ada yang boleh terlambat, dan saya kira kedatangan saya dapat mewakili Kakang berdua.”

“Saya tidak keberatan, Tuan Adipati,” ucap Ki Tumenggung Prabasena yang diikuti Ki Rangga Gagak Panji. Mereka berdua melipat tangan – ngapurancang – sambil sedikit mengayunkan badan ke depan.

Wedaran Terkait

Serat Lelayu 9

kibanjarasman

Serat Lelayu 8

kibanjarasman

Serat Lelayu 7

kibanjarasman

Serat Lelayu 6

kibanjarasman

Serat Lelayu 5

kibanjarasman

Serat Lelayu 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.