Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 36 – Pilihan Sulit Utusan Ki Untara untuk Kotaraja ; Kraton atau Kepatihan

Setelah merasa cukup membekali Sabungsari dengan sejumlah pesan dan arahan, Ki Untara membubarkan pertemuan, lalu meminta Sabungsari segera mempersiapkan diri. Ki Sangayudan menjadi duta selanjutnya yang diperintahkan Ki Untara menuju kotaraja dengan bekal pesan dan rencana yang cukup rumit untuk diterapkan.

Pada malam itu,  walau jarak antara Pedukuhan Jagaprayan dan Jati Anom tidak terlalu jauh, tapi waktu seperti berjalan sangat lambat bagi Sabungsari. Dia memang sedang berpacu dengan nasib kawan-kawannya yang dikabarkan akan mendapat hukuman berat dari Pandan Wangi, tapi Sabungsari pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri ; Sekejam itukah Pandan Wangi berusaha mendapatkan pengakuan atau memberi pelajaran pada orang-orang yang ditahan?

“Besok pagi adalah hari pertama dari tiga hari pelaksanaan hukuman mati oleh Nyi Pandan Wangi,” ucap Sabungsari dalam hati selagi dia memacu kuda sangat kencang memecah malam yang suram. Dalam pikirannya, lurah prajurit itu sedang mencari cara agar dapat memasuki pedukuhan yang sedang dijaga sangat ketat oleh para pengawal. Menurut keterangan Ki Untara berdasarkan laporan Ki Lurah Selokawing, Pandan Wangi menerapkan penjagaan berlapis. Benteng pendem menjadi salah satu cara penjagaan. Di samping itu, ada beberapa pemanah dan pelempar lembing yang terlatih membidik sasaran pada suasana gelap. Sabungsari harus menemukan jalan sunyi yang tidak terpantau penjaga pedukuhan. Sebidang petegalan kering pun tampak membentang di depan Sabungsari. Itu artinya dia sudah berada di perbatasan Pedukuhan Jagaprayan. Kudanya pun telah dilepas beberapa saat sebelum tiba di tempat itu.

Sabungsari melangkah perlahan. Dia menganggap dirinya adalah orang asing yang tidak mempunyai kawan atau mengenal orang di dalam pedukuhan. Ini adalah sikap yang sudah cukup memperlihatkan kehati-hatiannya. Benak Sabungsari berulang-ulang diserang keraguan, apakah pembicaraannya dapat membuahkan hasil? Tapi secara berulang pula, lurah Mataram ini menepisnya karena dapat menemui Pandan Wangi saja sudah sangat sulit. Maka Sabungsari pun tidak memasang kepercayaan diri terlampau besar. Berhati-hati, jalani lalu sampaikan dengan kewaspadaan karena perempuan tangguh dari Tanah Perdikan itu dalam keadaan jiwani yang sulit dipastikan.

Pada malam yang sama, di tempat lain, Ki Sangayudan pun melakukan perjalanan yang sama cepatnya dengan Sabungsari. Meski tidak terkesan dia tergesa-gesa, tapi keputusan Pangeran Purbaya atau pemuka Mataram dapat saja telah dibuat sebelum kedatangannya. Nasib Tanah Perdikan dan Kademangan Sangkal Putung benar-benar di ujung tanduk sebagai akibat keputusan sangar yang dibuat Pandan Wangi. Sebelum Ki Tumenggung Untara melepas kepergian dua utusannya, mereka menduga bahwa hukuman mati adalah bagian dari siasat Pandan Wangi. Tapi mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu pembuktian. Itu pertaruhan yang sangat membahayakan!

Bagaimana jika Pandan Wangi mempercepat pelaksanaan hukuman mati? “Sial!” geram Ki Sangayudan dalam hati saat membayangkan itu. Walau demikian, dia sempat tersenyum bangga karena Pandan Wangi akhirnya dapat memecah banyak perangkap yang masih tersimpan di kademangan. Ketika waktu sudah mendekati sepertiga malam yang terakhir, Ki Sangayudan pun tiba di tapal batas terluar kotaraja. Pengenalannya atas daerah tersebut cukup baik, maka lurah prajurit ini tentu dapat mencapai pusat kota dalam waktu yang tak begitu lama. Namun, dia harus mengerutkan kening.

“Sial, benar-benar sial!” Ki Sangayudan tiba-tiba memutar pandangan ke belakang. Bagaimana dia dan Ki Tumenggung Untara terlupa dengan satu hal, siapa yang dituju terlebih dahulu? Pangeran Purbaya di Kraton atau Ki Patih Mandaraka di Kepatihan? Ki Sangayudan menepuk paha cukup keras berulang-ulang. Itu adalah urusan yang tak kalah penting tapi mengapa mereka berdua bisa terlewatkan? Senyum yang menggambarkan kedongkolan di dalam hati Ki Sangayudan akhirnya benar-benar muncul ke permukaan. Seorang perempuan mampu mengacaukan rencana para senapati yang matang di gelanggang pertempuran. Hanya seorang perempuan saja tapi nyaris meruntuhkan malam, pikir Ki Sangayudan.

Sambil melangkah perlahan, Ki Sangayudan membuat urutan. Seandainya dia melaporkan terlebih dulu pada Ki Patih Mandaraka, sesepuh tersebut pasti akan membekalinya dengan cara yang bijak. Selain itu, keberadaan Ki Patih sendiri sudah menjadi peredam keadaan. Tapi orang-orang di sekitar Pangeran Purbaya dapat mengartikan bahwa menjumpai Ki Patih Mandaraka adalah awal dari rencana menggeser Raden Mas Rangsang.

Jika dia mendatangi Pangeran Purbaya, maka perkembangan Jagaprayan dapat dibahas lebih mendalam. “Itu pun dengan satu syarat, aku harus tiba di Kraton terlebih dulu dari petugas sandi yang lain,” kata Ki Sangayudan dalam hati. Bagaimana bila Pangeran Purbaya telah membuat persiapan yang sangat keras? Ki Sangayudan pun merasa usahanya menjadi sia-sia meski kemudian dia bergerak ke Kepatihan. Penuh kebimbangan dan keraguan, Ki Sangayudan belum dapat memutuskan langkah berikutnya. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap sedikit suara yang berderap dari sisi utara kotaraja. Secara naluriah, insting Ki Sangayudan pun segera membawanya ke sumber suara. Kudanya pun kembali bergerak.

Terlihat tiga atau empat oncor menyala. Penerangan yang suram membantu penglihatan Ki Sangayudan. Serombongan orang berkuda dan pejalan kaki sedang  bergerak ke arah Kademangan Sangkal Putung.

Yang terhormat para penggemar kisah silat.

Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.

“Itu pasukan berkuda Mataram!” seru Ki Sangayudan dalam hati. Dia terperanjat dengan pertanyaan sendiri, apakah Pangeran Purbaya sudah membuat keputusan lalu mengirim pasukan berkuda ke Sangkal Putung? Secepat itukah berita hukuman mati menjangkau istana? Ki Sangayudan bergerak lebih dekat tapi tetap menjaga diri agar tidak terpantau oleh senapati pasukan berkuda. Dari pengamatannya kemudian, pasukan itu ternyata dikirim bukan untuk menempuh jalan damai tapi ngrampungi. Itu berarti Pedukuhan Jagaprayan dalam bahaya. Ki Sangayudan mengerutkan alis, lalu bertanya pada dirinya sendiri, “Seandainya mereka diperintahkan untuk menyelamatkan para petugas sandi, mengapa bersenjata lengkap? Ataukah itu bertujuan untuk memamerkan kesiapan Mataram pada gerombolan pemberontak?” Ki Sangayudan termangu-mangu sejenak. Sulit baginya untuk membuat keputusan ; antara kembali ke Jati Anom, Kraton atau Kepatihan. Sedangkan dia tahu bahwa hanya sedikit orang yang dapat menghentikan pergerakan pasukan berkuda itu ; raja Mataram, Pangeran Purbaya dan Pangeran Selarong.

Setelah mencapai pinggiran kota, pasukan berkuda itu menderap kuda dengan kecepatan rata-rata diikuti prajurit pejalan kaki di bagian belakang.

Ki Sangayudan semakin gelisah menentukan arah, Kepatihan atau Kraton? Di tengah ayun kegamangan, Ki Sangayudan memutuskan untuk menuju alun-alun terlebih dulu. Dia berharap ada perkembangan baru yang terlihat mata telanjang sehingga  dapat membantunya menentukan pilihan.

Namun secara mengejutkan, dari depan atau arah kotaraja, muncul tiga penunggang kuda yang melaju sangat cepat. Mereka menembus gelap seolah-olah mempunyai sepasang mata yang dapat menerangi jalanan. Ki Sangayudan terpaksa harus memperlambat laju kuda kemudian mengambil jalur terluar.  Sesaat lagi dia akan berpapasan dengan mereka bertiga. Dalam hatinya muncul harapan bahwa salah satu dari mereka adalah orang yang mengenal atau dikenalinya.

“Ki Rangga?” tanya Ki Sangayudan sambil memastikan salah seorang penunggang kuda. Ki Sangayudan melambaikan tangan sebagai tanda agar mereka bertiga melambatkan kuda.

Para penunggang kuda itu segera menarik kekang lalu kuda meringkik keras sambil mengangkat kaki depan.

Orang yang dipanggil dengan sebutan Ki Rangga bergegas memutar, lalu menghampiri pemanggilnya. “Ki Sangayudan?” tanya rangga itu.

“Oh, saya bisa bernapas lega,” kata Ki Sangayudan sambil mengangguk. “Saya, Ki Rangga.” Ki Sangayudan dapat melihat jelas wajah rangga tersebut, di sampingnya ada lurah yang juga dikenalnya. “Ki Lurah Plaosan,” sapa Ki Sangayudan namun dia hanya mengangguk saat memandang penunggang kuda yang berada di belakang Ki Lurah Plaosan.

“Ki Lurah, saya tidak dapat berlama-lama di tempat ini. Ada keadaan genting yang harus diseimbangkan,” kata rangga tersebut. “Ki Lurah dapat meneruskan perjalanan ke tujuan. Silahkan.” Rangga tersebut pun mengayun tangan hendak menghentak lambung kuda.

Namun Ki Sangayudan cepat melompat turun lalu menghalangi di depan kuda rangga tersebut. Katanya kemudian, “Ki Rangga Agung Sedayu, maafkan saya. Bila yang Anda maksud keadaan genting adalah perkembangan di Jagaprayan, izinkan saya mengatakan sesuatu. Namun jika tidak terkait dengan itu, mohon arahkan saya untuk melaporkan keadaan terakhir di pedukuhan tersebut pada Ki Patih Mandaraka atau Pangeran Selarong.”

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 59 – Putaran Cambuk Agung Sedayu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 29 – Kemarahan Sukra Nyaris Tak Terbendung

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 78 – Lecut Ikat Kepala dan Desing Keris Kyai Santak

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.