“Saat ini keberadaanmu di Kepatihan pasti sudah diketahui Raden Mas Rangsang,” kata Ki Patih Mandaraka. “Maka, aku minta engkau tetaplah di sini hingga beliau mengundangmu untuk sekedar pembicaraan yang dirasa perlu. Tetaplah berhati-hati meski kalian pernah bertempur sebelah menyebelah.”
“Saya tidak sedang terburu-buru dengan sesuatu,” ucap Agung Sedayu tapi senapati Mataram itu dapat mendengar nada cemas bercampur kecewa di dalam kalimat Ki Patih Mandaraka.
Seolah dapat menangkap getar perasaan Agung Sedayu, Ki Patih pun berkata, “Bertarung habis-habisan atau bertaruh nyawa demi keselamatan beliau adalah dua keadaan yang berbeda. Renungkan sejenak, aku sedang tidak memintamu berpikir buruk tentang beliau, tapi Raden Mas Rangsang adalah orang yang mengetahui kekecewaanku.”
Untuk sesaat, Agung Sedayu merasakan ruang itu tidaklah cukup menampung mereka berdua. Maka pemimpin pasukan khusus itu pun menarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan.
“Pertarungan hidup mati saat kau tegak berdiri menghadang Ki Sanden Merti adalah keadaan yang dapat dipahami dari sudut yang berbeda oleh Raden Mas Rangsang. Itu bukan sesuatu yang dapat kau sebut di depan beliau dengan kebanggaan. Kau harus tahu diri, aku mengingatkanmu sebagai pencegahan,” kata Ki Patih Mandaraka dengan tegas.
Di hadapan Ki Patih, Agung Sedayu merasa dirinya adalah anak kecil yang tiba-tiba berhenti berlarian karena sebuah panggilan. Meski Ki Patih Mandaraka berulang mengatakan dirinya menjadi bayangan Kyai Gringsing, Agung Sedayu justru mengira sebaliknya ; sosok Ki Patih seperti menjadi Kyai Gringsing baginya.
“Aku ingin mengulang peristiwa masa lalu ketika kau bertarung mati-matian melawan Ki Tumenggung Prabandaru. Pada saat itu, Kyai Gringsing menarik mundur kami berdua, aku dan Panembahan Senapati. Setelah mendengar runutan peristiwa di Alas Krapyak, kau pun mengulang perbuatan gurumu – menahan Raden Mas Rangsang dari badai yang ditimbulkan Ki Sekar Tawang,” kata Ki Patih. “Aku hanya dapat mengatakan bahwa kematanganmu dapat menjadi pembeda seandainya raja mempunyai pendapat yang tidak terduga. Banyak keadaan dan peristiwa yang dapat dijadikan beliau sebagai pertimbangan..”
Suasana muram mendadak cepat bergayut di bawah langit-langit ruangan. Dengan raut wajah sedikit kelam, Ki Patih Mandaraka berkata, “Sepeninggalku kelak, keberadaan Pangeran Purbaya dan Pangeran Selarong dapat memperkuat kedudukanmu di depan raja. Aku tidak sedang ingin mendahului perjalanan yang pasti akan berakhir, tapi perpisahan adalah keniscayaan yang harus kita hadapi bersama. Sambil menunggu waktu keramat itu datang, aku ingin mendengar rencanamu untuk mengatasi penyusup di Kepatihan.
“Sejujurnya, saya belum bicara banyak dengan Ki Demang Brumbung atau Ki Lurah Plaosan,” kata Agung Sedayu dengan rasa yang mulai diiringi kesedihan. Terbayang kepergian Ki Patih Mandaraka di pelupuk matanya, tapi dia berusaha tegar karena memang belum saatnya tiba. “Walau demikian, saya sedikit menyinggung persoalan itu dengan Nyi Ageng Banyak Patra.”
“Kau bicara dengan orang yang tepat,” potong Ki Patih Mandaraka.
Agung Sedayu pun mengulang sebagian rencananya di depan Ki Patih Mandaraka. Sesekali Ki Patih memberi petunjuk untuk menutup celah yang tampak oleh ketajaman pikirannya. Namun secara keseluruhan, Ki Patih sama sekali tidak menunjukkan keberatan pada rancangan yang disusun Agung Sedayu bersama Nyi Banyak Patra. Setelah bersoal jawab untuk menguji demi kematangan siasat, Ki Patih Mandaraka pun meninggalkan ruangan. Ketahanan tubuh patih Mataram itu sudah banyak menurun seiring dengan usia yang merambat senja. Sambil menyertai Ki Patih Mandaraka hingga pintu bilik pribadi, Agung Sedayu membisikkan sedikit keterangan pada patih Mataram tersebut. Bola mata Ki Patih bergerak-gerak lincah seperti sedang mendengarkan nada yang menyenangkan hatinya.
Tak lama setelah Ki Patih Mandaraka memasuki ruang istirahat, Agung Sedayu bergegas menuju barak prajurit dengan langkah lebar. Senapati pasukan khusus itu telah memutuskan untuk bermalam di barak prajurit.
Di Sangkal Putung.
Pada malam kerusuhan, Swandaru melepas kepergian Agung Sedayu dengan tatapan lekar pada punggung senapatu Mataram itu. Seperti perkiraan yang rapi tersimpan dalam benak Agung Sedayu, Swandaru dapat meredam kekacauan meski membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Namun demikian, keadaan terkendali olehnya tanpa kesulitan yang berarti.
Para perusuh yang ditangkap kemudian ditempatkan di sisi luar pedukuhan induk pada tempat khusus. Di banjar pedukuhan induk, Swandaru mengumpulkan ketua kelompok lalu meminta mereka agar segera menentukan orang yang akan ditugaskan berjaga di bawah pimpinan Bunija. Walau Bunija sempat menolak pada awalnya, tapi desakan Dharmana dapat meluluhkan hatinya. Menurut Dharmana, Bunija memiliki pengalaman dalam menghadapi pengikut Raden Atmandaru, maka serba sedikit akan dapat membantu pengawal lainnya.
Usai mengatur giliran jaga dan segala yang ada kaitannya, Swandaru akhirnya dapat menerima laporan mengenai perkembangan terbaru yang terjadi di seluruh kademangan. Dia marah pada dirinya sendiri yang terpukau oleh pesona Nyi Gandungjati yang berparas dan bertubuh memesona. Selama berada dalam dekap wanita itu, Swandaru benar-benar abai terhadap kehidupan Sangkal Putung. “Mereka licik dengan menggunakan segala cara, tapi aku ternyata yang lebih bodoh,” umpatnya dalam hati. Murid kedua di Perguruan Orang Bercambuk itu benar-benar tidak dapat menyembunyikan amarahnya ketika Dharmana menyampaikan keadaan terakhir di Watu Sumping.
Swandaru tiba-tiba berdiri sambil menggebrak meja di sampingnya, lalu bersuara lantang, “Apa yang dapat kalian lakukan tanpaku ketika mereka mampu menguasai Watu Sumping? Mengapa kalian mendiamkan mereka?”
“Kami mendapat perintah agar tetap mengawasi mereka,” jawab Dharmana dengan suara sedikit tinggi. Dia telah menyampingkan rasa segan pada Swandaru tapi tetap memandangnya dalam batas-batas tertentu.
“Siapa yang memberi perintah itu?” tanya Swandaru dengan wajah memerah.
“Ki Tumenggung Untara melalui para penghubung yang terus menerus memperbaharui laporan,” Dharmana menjawab lagi. “Kami juga diperbolehkan menggunakan senjata bila mereka bergerak maju atau tampak memasuki wilayah sekitar Watu Sumping.”
“Lalu, apakah sudah terjadi benturan?”
“Belum dan kami tidak berharap itu terjadi.”
“Pengecut!” kata Swandaru dengan nada kasar. “Di masa lalu ketika sisa-sisa laskar Pajang merambah wilayah Sangkal Putung, kami dapat mempertahankan diri lalu menyapu bersih mereka semua. Bagaimana mungkin pengawal Sangkal Putung dapat berharap tidak terjadi suatu benturan sedangkan musuh ada di depan hidung mereka?”
Dharmana bangkit berdiri dengan kepala dan dada tegak. “Ki Swandaru,” kata Dharmana dengan nada tegas. “Kami bukan pengecut. Kami membiarkan mereka tetap berada di Pedukuhan Janti atau sekitar Watu Sumping karena beberapa pertimbangan.”
“Pertimbangan? Apa yang dapat dipikirkan oleh pengawal seperti dirimu?” Swandaru mengucapkan itu dengan nada semakin tinggi.
Yang terhormat para penggemar kisah silat.
Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
“Swandaru!” Tiba-tiba sekelebat bayangan seolah terbang memasuki banjar pedukuhan. Anak muda itu berdiri tegak dengan sikap seolah siap bertarung sampai tetes darah penghabisan. Dengan wajah menunjukkan kemarahan luar biasa, anak muda itu berseru, “Swandaru! Semua orang mengajari tata krama dan susila pada setiap orang yang berbicara. Tapi denganmu, aku harus melupakan ajaran mereka. Mendekatlah, aku akan katakan padamu dengan keras.”
“Sukra!” Dharmana melompat lalu menarik lengan Sukra. Setelah berdiri berhadapan dengan pengawal Tanah Perdikan itu, Dharmana berkata, “Kau harus tetap ingat ajaran itu. Tidak ada yang dapat kau lakukan tanpa perintah dariku.”
“Kau bukan Ki Lurah! Menepilah, aku akan menghajar pemimpin kalian itu,” ucap Sukra dengan kemarahan yang semakin meluap-luap.
“Sukra! Setidaknya kau dapat tunjukkan rasa hormat itu pada Panembahan Hanykrawati.” Suara Dharmana meledak sangat keras saat itu.
Sukra memandang Dharmana dengan tatap mata setajam pedang. Beberapa saat kemudian, dia menarik napas dalam lalu pergi meninggalkan banjar tanpa mengucap sepatah kata pun!
Ketegangan pun sedikit menurun. Namun demikian, kedatangan dan sikap Sukra yang terang-terangan berkesan menantang Swandaru secara terbuka pun membuat perasaan orang-orang menjadi bergolak. Tak sedikit dari mereka bertanya-tanya, apakah Sukra mendengar ucapan Swandaru begitu jelas hingga dia berbuat seperti itu? Sebagian besar dari mereka menyaksikan perlakuan Pangeran Purbaya pada Sukra. Itu sangat istimewa, menurut mereka. Mereka juga tahu Pangeran Purbaya adalah orang yang menjadikan Swandaru sebagai tahanan rumah, tapi, apakah itu yang menjadi sebab kegeraman Swandaru? Beberapa orang menginginkan jawaban tapi mereka tahu diri sehingga menyerahkannya pada waktu pun menjadi pilihan terbaik.
