Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 46 – Pandan Wangi adalah Ancaman Nyata

Ki Garu Wesi memandang dua orang di dekatnya itu secara bergantian. Sejenak dia memutar ulang pertemuan-pertemuan yang dilakukannya di sekitar Watu Sumping. Tiba-tiba dia berdiri dengan tangan terkepal. “Kita kecolongan!” desisnya dengan kegeraman tertahan. “Ki Malawi benar bahwa ternyata tidak ada petugas sandi dari Jagaprayan yang datang melapor.” Wajah Ki Garu Wesi kemudian tengadah, menatap lurus kawanan mendung yang berarak menuju sisi Merapi. Lalu katanya, “Menduduki Jagaprayan adalah rencana yang dipercepat. Jika kita mendasarkan pergerakan berdasarkan pemikiran dan siasat Raden Atmandaru, maka serangan baru dapat dilontarkan pada pertengahan pekan mendatang. Tapi Pandan Wangi adalah setan perempuan yang mengacaukan tatanan yang dipersiapkan junjungan kita.”

Kemudian Ki Garu Wesi memanggil sejumlah orang yang diperintahkannya untuk mengumpulkan keterangan terbaru di sekitar Jagaprayan. “Hindari pertemuan dengan pengawal pedukuhan atau orang-orang yang kalian curigai sebagai anjing Mataram. Sebelum malam tiba di kademangan ini, kalian harus membawa laporan. Kita akan susun pergerakan berdasarkan keterangan kalian.”

Dari bahasa tubuh dan kata-kata Ki Garu Wesi, Ki Malawi dan Ki Sujana cepat mengerti bahwa serangan kilat ke Jagaprayan dapat diluncurkan pada malam hari atau selambatnya waktu fajar.

“Kami mengerti, Kyai,” ucap orang-orang itu serempak.

Sekejap kemudian tempat pertemuan itu menjadi sunyi. Ki Malawi dan Ki Sujana telah berjalan lebar menuju satuan masing-masing lalu mempersiapkan segalanya demi menunjang rencana panglima mereka. Di kemah itu hanya tersisa Ki Garu Wesi seorang diri. Jalan-jalan pikirannya segera sibuk dengan gelar-gelar perang yang akan digunakannya pada pertempuran di Jagaprayan. “Aku tidak mempunyai pilihan. Bila menunggu ledakan dari Gunung Kendil, orang-orang pun dapat mengalami penyusutan semangat. Jika itu terjadi, maka membangkitkan kembali sudah hampir mustahil dilakukan. Terlebih bila Jati Anom dan Mataram terlebih dulu melakukan tekanan ke tempat ini,” ucap Ki Garu Wesi dalam hati.

Salah satu pembantu Ki Garu Wesi adalah adik seperguruan Ki Kalasa Sawit yang bernama Ki Sonokeling. Orang ini mempunyai kecakapan dan pengalaman perang yang cukup baik karena pernah bergabung dengan keprajuritan Demak. Kemudian lari meninggalkan barak prajurit ketika Mataram berhasil menumpas pemberontakan Pangeran Puger. Dengan bantuan pemikiran saat menyusun siasat, maka Ki Garu Wesi pun dapat menduduki sebagian wilayah Sangkal Putung. Oleh sebab tiada petugas sandi yang datang dari arah Jagaprayan, Ki Garu Wesi pun memanggil Ki Sonokeling agar cepat datang ke kemahnya.

Setelah menjelaskan sedikit keadaan dan perkembangan di Jagaprayan, Ki Garu Wesi kemudian berkata sambil menggerak-gerakkan sebilah ranting di atas gambar kasar yang terpampang di atas sebilah papan, “Menusuk langsung pada jantung Jagaprayan mungkin menjadi serangan yang paling sulit dilakukan.”

Ki Sonokeling manggut-manggut tapi sepertinya dia sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.

Seolah sedang meragukan pendapatnya sendiri, Ki Garu Wesi bertanya pada Ki Sonokeling, “Apakah menurut Kyai, rencana penyerangan ini berkesan terburu-buru?”

Setelah menarik napas panjang, Ki Sonokeling menjawab, “Terburu-buru pun mempunyai keuntungan tersendiri bagi kita. Saya yakin Kyai mempunyai dasar kuat sehingga mendadak ingin menyerang Jagaprayan.”

“Antara diserang terlebih dulu atau menyerang lebih cepat, saya pikir hanya dua pilihan itu saja yang berada di depan kita saat ini.”

“Tidak ada yang keliru dari yang disebutkan oleh Kyai,” kata Ki Sonokeling. “Semuanya memang masuk akal.” Nada suara Ki Sonokeling seolah sedang menggantung di udara usai mengatakan itu.

Ki Garu Wesi lantas mengerti bahwa Ki Sonokeling belum mempunyai pendapat tentang serangan kilat yang diinginkan olehnya.

Sambil menimang-nimang ranting di tangan, Ki Sonokeling meneruskan ucapannya, “Mengalihkan perhatian pemimpin pengawal dan kebanyakan orang-orang dengan api, itu sudah begitu sering kita lakukan. Dari Tanah Perdikan, Jati Anom hingga beberapa waktu lalu di pedukuhan induk, kita banyak menggunakan api sehingga saya pikir cara itu sudah tidak dapat lagi digunakan untuk mengejutkan mereka.”

Ki Garu Wesi tenang menyimak perkataan pembantunya yang memang harus diakui kecakapannya menyusun siasat. “Saya mendengarkan,” ucap pemimpin gerombolan yang setia mengikuti Raden Atmandaru.

“Tentu saja dan yang pasti adalah Kyai tidak dapat merancang serangan sampai keterangan sandi telah terkumpul,” kata Ki Sonokeling. Kemudian dia mengalihkan pokok persoalan dengan kalem dan sama sekali tidak terkesan menggurui atau menegur Ki Garu Wesi. “Apa yang sudah diputuskan oleh pemimpin keamanan pedukuhan itu jelas sudah menimbulkan guncangan yang sangat kuat. Saya yakin Mataram telah mendengar itu.”

“Dan juga sudah tentu mempunyai pendapat sendiri tentang itu,” sambung Ki Garu Wesi.

Ki Sonokeling mengangguk. “Karena itu pula, saya pikir Mataram pasti sudah menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk meredam gejolak yang bernada liar. Hari ini, mungkin Kraton atau Kepatihan sudah menempatkan orang di sekitar Jagaprayan. Bagaimanapun, andai saja benar Pandan Wangi menahan petugas sandi Mataram, Mataram akan mengutus orang yang dipandang dapat membicarakan secara baik-baik dan berkemampuan khusus dalam kanuragan atau keprajuritan. Pandan Wangi, dia adalah perempuan yang sudah tentu berbeda dengan perempuan kebanyakan. Pengalaman tempur yang dilaluinya pun sudah lebih dari cukup untuk menghadang seorang tumenggung.”

Raut wajah Ki Garu Wesi tampak tak senang mendengar Ki Sonokeling memuji Pandan Wangi. Tapi dia sadar bahwa itu adalah kenyataan. Setelah berhasil memaksa diri agar tetap tenang, Ki Garu Wesi lantas berkata, “Yah, kita harus mengakui kerja kerasnya.”

“Kyai,” ucap Ki Sonokeling. “Saya sadar bahwa sekian lama menunggu perintah untuk menyerang itu cukup membosankan. Laskar kita memang tampak tidak jenuh berlatih perang-perang setiap hari dengan banyak kembangan-kembangan di dalamnya. Tapi, saya yakin mereka diam-diam juga mempunyai pertanyaan yang sulit terungkap di permukaan.”

“Benar, setelah latihan keras ini semua, lalu apa yang kita lakukan sementara ada cita-cita puncak yang ingin digapai,” kata Ki Garu Wesi.

“Apalagi Kyai cukup keras melarang mereka berbuat yang tidak semestinya. Meski menurut saya itu sulit diterima karena latar belakang mereka yang cenderung berbuat sekehendak hati, tapi ternyata mampu menarik hati sejumlah orang. Mereka rela berbagi makanan dan minuman meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tapi perkembangan ini cukup menarik.”

“Kita dapat bayangkan seandainya gangguan keamanan itu ada, bukankah penduduk awam segera melaporkan perkembangan ke pedukuhan induk atau mana saja? Terlebih lagi bila tertindas, maka keadaan dapat memaksa mereka berbuat apa saja termasuk membakar sarang laskar meski pada akhirnya kita dapat menumpas mereka. Oleh sebab orang-orang dapat menahan diri, maka keuntungan pun mendatangi kita. Penahanan dan hukuman mati pun kita mempunyai bahan yang dapat dibandingkan dengan keterangan-keterangan dari telik sandi,” kata Ki Garu Wesi.

Pembicaraan itu kemudian melebar ke banyak segi. Termasuk gambaran yang timbul di dalam Kraton. Ki Sonokeling berpendapat bahwa sebagian orang akan berusaha mengambil keuntungan dari keputusan Pandan Wangi untuk menyudutkan pesaing. “Tapi mereka pasti menolak ajakan bergabung dengan Raden Atmandaru. Mereka pun sepertinya sedang menunggu celah dan waktu yang tepat supaya dapat menari di tengah gelombang angin panas Merapi.”

“Kita belum mendapatkan nama-nama orang yang Kyai ungkapkan,” ucap Ki Garu Wesi. “Pergantian pemegang kekuasaan tentu disertai pula pergeseran orang yang menduduki jabatan tertentu. Namun Pangeran Purbaya, Pangeran Selarong serta Ki Juru Martani adalah orang yang tidak mungkin dipindahkan oleh anak dari Mas Jolang. Saya mendengar bahkan Mas Rangsang pun kesulitan menempatkan orangnya sendiri di sekitar lingkaran tiga orang tersebut.”

“Tapi Pangeran Purbaya dan Pangeran Selarong pun dapat dianggap orang terpercaya dari Mas Rangsang. Kecuali dia mempunyai rencana jangka panjang, maka penempatan orang-orangnya di sekitar dua pangeran itu menjadi mungkin dilakukan,” kata Ki Sonokeling. “Bilakah itu terjadi? Kita semua tergantung pada waktu dan perselisihan yang mungkin timbul di antara mereka.”

Ki Garu Wesi mengembangkan senyum, kemudian berkata, “Pandan Wangi inilah yang dapat kita jadikan kendaraan untuk mengulik pertentangan yang mungkin masih tersimpan rapi di hati mereka.” “Selalu ada jalan untuk menyelesaikan persoalan yang menggantung di langit Mataram,” ucap Ki Sonokeling penuh percaya diri.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 30 – Dharmana dan Swandaru Berselisih tentang Peristiwa di Sangkal Putung

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 60 – Cambuk Agung Sedayu Belum Berhenti Berdentum

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 12 – Pesan Agung Sedayu pada Sukra

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.