Bab 8 Malam Petaka

Malam Petaka 6 – Kado Pernikahan Berdarah di Grajegan

Ada amarah dan kecewa sekaligus kekhawatiran atas keselamatan Bondan – yang berada di Kademangan Grajegan – membuat para pengiring dari Pajang itu merasa berat menjalankan permintaan Resi Gajahyana.

“Marilah, kita harus segera bergerak sesuai perintah Resi Gajahyana,” seru seorang pengiring laki-laki. Dia merupakan salah seorang yang tinggal di padepokan tapi tidak untuk menimba ilmu kanuragan. Orang itu berkata lagi, “Aku percaya dan yakin bahwa Bondan pasti dapat menyelamatkan diri. Dia sudah terlibat dalam peristiwa yang lebih besar daripada ini.” Kata-katanya merujuk pada perang Sumur Welut dan penyergapan di lereng Gunung Wilis.

Perpaduan pesan Resi Gajahyana dan ucapan orang itu perlahan-lahan dapat mengikis perasaan serta pikiran buruk. Para pengiring pengantin ini akhirnya cepat tanggap lalu bergerak sesuai arahan Resi Gajahyana..

Kesunyian semakin mencekam. Keheningan tetap pada tempatnya ketika Resi Gajahyana melanjutkan ucapannya. Orang-orang dari Pajang tersebut tekun menyimak untaian kata Resi Gajahyana. Pada waktu guru Bondan itu menyebut nama, seorang lelaki keluar dari barisan lalu mendekati Resi Gajahyana. Kepada lelaki itu, Resi Gajahyana menitip pesan agar disampaikan pada Bhatara Pajang.

“Saya mengerti, Eyang. Saya akan pastikan kabar ini tiba di hadapan Bhatara Pajang tanpa ada penambahan atau pengurangan lagi. Saya akan menyimpannya beserta kematian saya.” Lelaki itu menghadapkan wajah dalam-dalam ketika berbicara dengan Resi Gajahyana. Dia adalah seorang abdi dalem istana Pajang dan menjabat sebagai lurah di bagian rumah tangga – itu adalah kedudukan tertinggi tingkat pelayan di lingkungan istana Pajang. Keling Juwana adalah nama lelaki itu yang usianya sebaya dengan Bhre Pajang. Dalam waktu singkat, dia memacu kuda sangat cepat menuju Pajang.

Tidak lama dari keberangkatan Keling Juawan, Resi Gajahyana mengatur kedudukan orang-orang yang berada dalam kelompoknya. Mereka akan memutar arah kembali ke kademangan. Sedangkan Ki Swandanu beserta yang lain bergerak cepat menjauhi Kademangan Grajegan.

Tak lama setelah mereka berpisah, beberapa kelompok – yang mungkin menjadi bagian dari sebuah rombongan – terlihat melintasi pategalan kering dengan cepat. Dan ketika mereka tiba di jalanan kademangan, sikap mereka mendadak berubah. Mereka berjalan dengan tenang dan wajar. Wajah-wajah halus dan tidak tampak garang pun sanggup mereka tunjukkan. Bahkan orang-orang ini begitu ramah saat berpapasan dengan para peronda kademangan.

Perjalanan yang melambat memberi keuntungan pada kelompok Resi Gajahyana. Guru Bondan ini memberi tanda agar mereka berhenti lalu meringkuk. Tak lama setelah itu, mereka dapat melihat pergerakan dari samping di seberang pategalan kering.

Resi Gajahyana dan Nyi Kirana bertukar pandang. Mereka berpikiran sama ; ketegangan belum menebar ancaman di pinggiran kademangan. Walau demikian, Resi Gajahyana dan Nyi Kirana dapat merasakan suasana mulai sedikit berubah. Mereka tetap menjaga kewaspadaan sambil mendekati pusat keramaian.

Gamelan dan teriakan orang-orang yang larut dalam kesenangan telah berkumandang. Bahkan Bondan terlihat sangat bahagia! Dia seperti telah melupakan kegelisahan yang selama berhari-hari mendera dada dan kepalanya. Sesekali dia lekat menatap wajah Siwagati dengan satu pandang yang sulit dilepaskan kecuali dengan sabetan pedang! Setiap kali Bondan memandangnya, Siwagati masih memancarkan rona merah di kedua pipinya.

“Aku selalu berharap semoga keceriaan hatinya tidak segera beranjak pergi. Bondan terlihat begitu indah seperti rangkaian bintang di musim tanam.” Tersipu malu Siwagati ketika melintas kalimat manis di hatinya.

“Oh tidak, tidak!Aku akan membawa perempuan ini pergi mengikuti langkah dan keinginanku. Siwagati terlalu indah untuk ditinggalkan. Dia mempunyai kemilau yang lebih cerah dibandingkan embun pagi yang tertimpa mentari. Dan sudah pasti jika ini bukan kesalahan yang dilakukan paman saat mengantarku padanya.” Kata-kata ini masih berulang-ulang menggaung di dalam perasaan Bondan.

Selagi dua pengantin itu berbicara dengan bahasa hati, beberapa pasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. Dari jarak selemparan batu, mereka tegak berdiri dan seolah tidak terpengaruh dengan keramaian yang ada.

Setengah berisik, mereka terlibat percakapan yang sangat dalam.

“Ki Jaranggi, aku tidak melihat Angling Dhyaksa.”

“Engkau benar. Aku pun tak melihat  istrinya, bahkan tidak terlihat prajurit yang bertanda khusus sebagai pengawal istana.” Orang yang dipanggil sebagai Ki Jaranggi masih mengamati keadaan. Dia melakukan gerakan seolah sedang menghitung orang-orang yang berada di dekat Ki Juru Manyuran.

“Lantas, apakah kita harus menunda gerakan ini?”

“Kita tidak dapat memutuskan perkara itu. Meski sebenarnya terlihat menjadi begitu mudah sejak orang tua itu telah keluar dari lingkungan rumah ini, Ken Pancor,” kata orang bertubuh gempal, berambut panjang dan berpakaian ungu seraya menunjuk tempat yang digunakan Resi Gajahyana untuk mendampingi Bondan.

“Kelompok yang lain tentu mengetahui perkembangan ini. Lalu, apakah kita akan melaporkan ini pada Mpu Rawaja?” tanya Ken Pancor.

“Tidak perlu! Mpu Rawaja telah berada di sekitar tempat ini.”

“Ya, aku tahu. Maksudku, apakah Mpu Rawaja telah mengetahui kepergian orang tua kepercayaan Angling Dhyaksa?”

“Engkau benar. Tetapi di mana kita dapat menjumpai Mpu Rawaja? Keramaian ini cukup menyulitkan pergerakan, sementara kita dilarang meninggalkan kedudukan.”

“Bila begitu, lebih baik kita berdiam diri sambil menunggu pergeseran suasana,” ucap Ken Pancor kemudian diikuti anggukan kepala Ki Jaranggi.

Di luar kademangan, beberapa orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil melewati batas wilayah dengan cara yang tidak biasa. Mereka melintasi pekarangan orang, melompati pagar bahkan beberapa orang telah membuka kandang kuda.

“Berapa lama lagi kita menunggu?” seseorang berkumis tipis bertanya pada temannya.

“Lengking siul dari arah rumah Ki Juru tidak akan diperdengarkan. Lihatlah!” jawab orang berbaju ungu itu mengacungkan jari ke atas. Penanya pun menengadahkan kepala.

“Belum terlihat bintang yang utama, tapi aku rasa waktunya tidak akan lama lagi.”

Yang sedang terjadi pada saat itu adalah  Mpu Rawaja telah menemui Ki Juru Manyuran yang berbaur dengan para undangan. Kedatangan Mpu Rawaja memang tidak menyolok perhatian.

“Harus ada perubahan dari rencana, Mpu.” Ki Juru Manyuran bergeser mendekat.

“Tidak perlu ada yang berubah.”

“Lantas? Angling Dhyaksa tidak ada di tempat ini. Itu adalah tanda bahwa kita memang harus mengubah rencana.”

“Tidak. Kamu adalah seorang calon adipati, Ki Juru. Kademangan ini, sesaat lagi, akan menjadi sebuah kadipaten. Kejayaan akan memancarkan sinarnya dari tempat ini.” Mpu Rawaja menempatkan dirinya lebih tinggi daripada Ki Juru Manyuran.

“Apakah Mpu bermaksud untuk merebut kademangan ini dari Pajang? Mpu akan memerangi prajurit Pajang yang berada di sini?”

“Mengapa tidak? Kekuatan kita jauh lebih besar dari prajurit Pajang yang berada di barak. Baik segi jumlah maupun kemampuan, orang-orang kita jauh di atas mereka. Engkau tidak perlu khawatir dengan keselamatan.”

Ada amarah dan kecewa sekaligus kekhawatiran atas keselamatan Bondan – yang berada di Kademangan Grajegan – membuat para pengiring dari Pajang itu merasa berat menjalankan permintaan Resi Gajahyana.

“Marilah, kita harus segera bergerak sesuai perintah Resi Gajahyana,” seru seorang pengiring laki-laki. Dia merupakan salah seorang yang tinggal di padepokan tapi tidak untuk menimba ilmu kanuragan. Orang itu berkata lagi, “Aku percaya dan yakin bahwa Bondan pasti dapat menyelamatkan diri. Dia sudah terlibat dalam peristiwa yang lebih besar daripada ini.” Kata-katanya merujuk pada perang Sumur Welut dan penyergapan di lereng Gunung Wilis.

Perpaduan pesan Resi Gajahyana dan ucapan orang itu perlahan-lahan dapat mengikis perasaan serta pikiran buruk. Para pengiring pengantin ini akhirnya cepat tanggap lalu bergerak sesuai arahan Resi Gajahyana..

Kesunyian semakin mencekam. Keheningan tetap pada tempatnya ketika Resi Gajahyana melanjutkan ucapannya. Orang-orang dari Pajang tersebut tekun menyimak untaian kata Resi Gajahyana. Pada waktu guru Bondan itu menyebut nama, seorang lelaki keluar dari barisan lalu mendekati Resi Gajahyana. Kepada lelaki itu, Resi Gajahyana menitip pesan agar disampaikan pada Bhatara Pajang.

“Saya mengerti, Eyang. Saya akan pastikan kabar ini tiba di hadapan Bhatara Pajang tanpa ada penambahan atau pengurangan lagi. Saya akan menyimpannya beserta kematian saya.” Lelaki itu menghadapkan wajah dalam-dalam ketika berbicara dengan Resi Gajahyana. Dia adalah seorang abdi dalem istana Pajang dan menjabat sebagai lurah di bagian rumah tangga – itu adalah kedudukan tertinggi tingkat pelayan di lingkungan istana Pajang. Keling Juwana adalah nama lelaki itu yang usianya sebaya dengan Bhre Pajang. Dalam waktu singkat, dia memacu kuda sangat cepat menuju Pajang.

Tidak lama dari keberangkatan Keling Juawan, Resi Gajahyana mengatur kedudukan orang-orang yang berada dalam kelompoknya. Mereka akan memutar arah kembali ke kademangan. Sedangkan Ki Swandanu beserta yang lain bergerak cepat menjauhi Kademangan Grajegan.

Tak lama setelah mereka berpisah, beberapa kelompok – yang mungkin menjadi bagian dari sebuah rombongan – terlihat melintasi pategalan kering dengan cepat. Dan ketika mereka tiba di jalanan kademangan, sikap mereka mendadak berubah. Mereka berjalan dengan tenang dan wajar. Wajah-wajah halus dan tidak tampak garang pun sanggup mereka tunjukkan. Bahkan orang-orang ini begitu ramah saat berpapasan dengan para peronda kademangan.

Perjalanan yang melambat memberi keuntungan pada kelompok Resi Gajahyana. Guru Bondan ini memberi tanda agar mereka berhenti lalu meringkuk. Tak lama setelah itu, mereka dapat melihat pergerakan dari samping di seberang pategalan kering.

Resi Gajahyana dan Nyi Kirana bertukar pandang. Mereka berpikiran sama ; ketegangan belum menebar ancaman di pinggiran kademangan. Walau demikian, Resi Gajahyana dan Nyi Kirana dapat merasakan suasana mulai sedikit berubah. Mereka tetap menjaga kewaspadaan sambil mendekati pusat keramaian.

Gamelan dan teriakan orang-orang yang larut dalam kesenangan telah berkumandang. Bahkan Bondan terlihat sangat bahagia! Dia seperti telah melupakan kegelisahan yang selama berhari-hari mendera dada dan kepalanya. Sesekali dia lekat menatap wajah Siwagati dengan satu pandang yang sulit dilepaskan kecuali dengan sabetan pedang! Setiap kali Bondan memandangnya, Siwagati masih memancarkan rona merah di kedua pipinya.

“Aku selalu berharap semoga keceriaan hatinya tidak segera beranjak pergi. Bondan terlihat begitu indah seperti rangkaian bintang di musim tanam.” Tersipu malu Siwagati ketika melintas kalimat manis di hatinya.

“Oh tidak, tidak!Aku akan membawa perempuan ini pergi mengikuti langkah dan keinginanku. Siwagati terlalu indah untuk ditinggalkan. Dia mempunyai kemilau yang lebih cerah dibandingkan embun pagi yang tertimpa mentari. Dan sudah pasti jika ini bukan kesalahan yang dilakukan paman saat mengantarku padanya.” Kata-kata ini masih berulang-ulang menggaung di dalam perasaan Bondan.

Selagi dua pengantin itu berbicara dengan bahasa hati, beberapa pasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. Dari jarak selemparan batu, mereka tegak berdiri dan seolah tidak terpengaruh dengan keramaian yang ada.

Setengah berisik, mereka terlibat percakapan yang sangat dalam.

“Ki Jaranggi, aku tidak melihat Angling Dhyaksa.”

“Engkau benar. Aku pun tak melihat  istrinya, bahkan tidak terlihat prajurit yang bertanda khusus sebagai pengawal istana.” Orang yang dipanggil sebagai Ki Jaranggi masih mengamati keadaan. Dia melakukan gerakan seolah sedang menghitung orang-orang yang berada di dekat Ki Juru Manyuran.

“Lantas, apakah kita harus menunda gerakan ini?”

“Kita tidak dapat memutuskan perkara itu. Meski sebenarnya terlihat menjadi begitu mudah sejak orang tua itu telah keluar dari lingkungan rumah ini, Ken Pancor,” kata orang bertubuh gempal, berambut panjang dan berpakaian ungu seraya menunjuk tempat yang digunakan Resi Gajahyana untuk mendampingi Bondan.

“Kelompok yang lain tentu mengetahui perkembangan ini. Lalu, apakah kita akan melaporkan ini pada Mpu Rawaja?” tanya Ken Pancor.

“Tidak perlu! Mpu Rawaja telah berada di sekitar tempat ini.”

“Ya, aku tahu. Maksudku, apakah Mpu Rawaja telah mengetahui kepergian orang tua kepercayaan Angling Dhyaksa?”

“Engkau benar. Tetapi di mana kita dapat menjumpai Mpu Rawaja? Keramaian ini cukup menyulitkan pergerakan, sementara kita dilarang meninggalkan kedudukan.”

“Bila begitu, lebih baik kita berdiam diri sambil menunggu pergeseran suasana,” ucap Ken Pancor kemudian diikuti anggukan kepala Ki Jaranggi.

Di luar kademangan, beberapa orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil melewati batas wilayah dengan cara yang tidak biasa. Mereka melintasi pekarangan orang, melompati pagar bahkan beberapa orang telah membuka kandang kuda.

“Berapa lama lagi kita menunggu?” seseorang berkumis tipis bertanya pada temannya.

“Lengking siul dari arah rumah Ki Juru tidak akan diperdengarkan. Lihatlah!” jawab orang berbaju ungu itu mengacungkan jari ke atas. Penanya pun menengadahkan kepala.

“Belum terlihat bintang yang utama, tapi aku rasa waktunya tidak akan lama lagi.”

Yang sedang terjadi pada saat itu adalah  Mpu Rawaja telah menemui Ki Juru Manyuran yang berbaur dengan para undangan. Kedatangan Mpu Rawaja memang tidak menyolok perhatian.

“Harus ada perubahan dari rencana, Mpu.” Ki Juru Manyuran bergeser mendekat.

“Tidak perlu ada yang berubah.”

“Lantas? Angling Dhyaksa tidak ada di tempat ini. Itu adalah tanda bahwa kita memang harus mengubah rencana.”

“Tidak. Kamu adalah seorang calon adipati, Ki Juru. Kademangan ini, sesaat lagi, akan menjadi sebuah kadipaten. Kejayaan akan memancarkan sinarnya dari tempat ini.” Mpu Rawaja menempatkan dirinya lebih tinggi daripada Ki Juru Manyuran.

“Apakah Mpu bermaksud untuk merebut kademangan ini dari Pajang? Mpu akan memerangi prajurit Pajang yang berada di sini?”

“Mengapa tidak? Kekuatan kita jauh lebih besar dari prajurit Pajang yang berada di barak. Baik segi jumlah maupun kemampuan, orang-orang kita jauh di atas mereka. Engkau tidak perlu khawatir dengan keselamatan.”

Ada amarah dan kecewa sekaligus kekhawatiran atas keselamatan Bondan – yang berada di Kademangan Grajegan – membuat para pengiring dari Pajang itu merasa berat menjalankan permintaan Resi Gajahyana.

“Marilah, kita harus segera bergerak sesuai perintah Resi Gajahyana,” seru seorang pengiring laki-laki. Dia merupakan salah seorang yang tinggal di padepokan tapi tidak untuk menimba ilmu kanuragan. Orang itu berkata lagi, “Aku percaya dan yakin bahwa Bondan pasti dapat menyelamatkan diri. Dia sudah terlibat dalam peristiwa yang lebih besar daripada ini.” Kata-katanya merujuk pada perang Sumur Welut dan penyergapan di lereng Gunung Wilis.

Perpaduan pesan Resi Gajahyana dan ucapan orang itu perlahan-lahan dapat mengikis perasaan serta pikiran buruk. Para pengiring pengantin ini akhirnya cepat tanggap lalu bergerak sesuai arahan Resi Gajahyana..

Kesunyian semakin mencekam. Keheningan tetap pada tempatnya ketika Resi Gajahyana melanjutkan ucapannya. Orang-orang dari Pajang tersebut tekun menyimak untaian kata Resi Gajahyana. Pada waktu guru Bondan itu menyebut nama, seorang lelaki keluar dari barisan lalu mendekati Resi Gajahyana. Kepada lelaki itu, Resi Gajahyana menitip pesan agar disampaikan pada Bhatara Pajang.

“Saya mengerti, Eyang. Saya akan pastikan kabar ini tiba di hadapan Bhatara Pajang tanpa ada penambahan atau pengurangan lagi. Saya akan menyimpannya beserta kematian saya.” Lelaki itu menghadapkan wajah dalam-dalam ketika berbicara dengan Resi Gajahyana. Dia adalah seorang abdi dalem istana Pajang dan menjabat sebagai lurah di bagian rumah tangga – itu adalah kedudukan tertinggi tingkat pelayan di lingkungan istana Pajang. Keling Juwana adalah nama lelaki itu yang usianya sebaya dengan Bhre Pajang. Dalam waktu singkat, dia memacu kuda sangat cepat menuju Pajang.

Tidak lama dari keberangkatan Keling Juawan, Resi Gajahyana mengatur kedudukan orang-orang yang berada dalam kelompoknya. Mereka akan memutar arah kembali ke kademangan. Sedangkan Ki Swandanu beserta yang lain bergerak cepat menjauhi Kademangan Grajegan.

Tak lama setelah mereka berpisah, beberapa kelompok – yang mungkin menjadi bagian dari sebuah rombongan – terlihat melintasi pategalan kering dengan cepat. Dan ketika mereka tiba di jalanan kademangan, sikap mereka mendadak berubah. Mereka berjalan dengan tenang dan wajar. Wajah-wajah halus dan tidak tampak garang pun sanggup mereka tunjukkan. Bahkan orang-orang ini begitu ramah saat berpapasan dengan para peronda kademangan.

Perjalanan yang melambat memberi keuntungan pada kelompok Resi Gajahyana. Guru Bondan ini memberi tanda agar mereka berhenti lalu meringkuk. Tak lama setelah itu, mereka dapat melihat pergerakan dari samping di seberang pategalan kering.

Resi Gajahyana dan Nyi Kirana bertukar pandang. Mereka berpikiran sama ; ketegangan belum menebar ancaman di pinggiran kademangan. Walau demikian, Resi Gajahyana dan Nyi Kirana dapat merasakan suasana mulai sedikit berubah. Mereka tetap menjaga kewaspadaan sambil mendekati pusat keramaian.

Gamelan dan teriakan orang-orang yang larut dalam kesenangan telah berkumandang. Bahkan Bondan terlihat sangat bahagia! Dia seperti telah melupakan kegelisahan yang selama berhari-hari mendera dada dan kepalanya. Sesekali dia lekat menatap wajah Siwagati dengan satu pandang yang sulit dilepaskan kecuali dengan sabetan pedang! Setiap kali Bondan memandangnya, Siwagati masih memancarkan rona merah di kedua pipinya.

“Aku selalu berharap semoga keceriaan hatinya tidak segera beranjak pergi. Bondan terlihat begitu indah seperti rangkaian bintang di musim tanam.” Tersipu malu Siwagati ketika melintas kalimat manis di hatinya.

“Oh tidak, tidak!Aku akan membawa perempuan ini pergi mengikuti langkah dan keinginanku. Siwagati terlalu indah untuk ditinggalkan. Dia mempunyai kemilau yang lebih cerah dibandingkan embun pagi yang tertimpa mentari. Dan sudah pasti jika ini bukan kesalahan yang dilakukan paman saat mengantarku padanya.” Kata-kata ini masih berulang-ulang menggaung di dalam perasaan Bondan.

Selagi dua pengantin itu berbicara dengan bahasa hati, beberapa pasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. Dari jarak selemparan batu, mereka tegak berdiri dan seolah tidak terpengaruh dengan keramaian yang ada.

Setengah berisik, mereka terlibat percakapan yang sangat dalam.

“Ki Jaranggi, aku tidak melihat Angling Dhyaksa.”

“Engkau benar. Aku pun tak melihat  istrinya, bahkan tidak terlihat prajurit yang bertanda khusus sebagai pengawal istana.” Orang yang dipanggil sebagai Ki Jaranggi masih mengamati keadaan. Dia melakukan gerakan seolah sedang menghitung orang-orang yang berada di dekat Ki Juru Manyuran.

“Lantas, apakah kita harus menunda gerakan ini?”

“Kita tidak dapat memutuskan perkara itu. Meski sebenarnya terlihat menjadi begitu mudah sejak orang tua itu telah keluar dari lingkungan rumah ini, Ken Pancor,” kata orang bertubuh gempal, berambut panjang dan berpakaian ungu seraya menunjuk tempat yang digunakan Resi Gajahyana untuk mendampingi Bondan.

“Kelompok yang lain tentu mengetahui perkembangan ini. Lalu, apakah kita akan melaporkan ini pada Mpu Rawaja?” tanya Ken Pancor.

“Tidak perlu! Mpu Rawaja telah berada di sekitar tempat ini.”

“Ya, aku tahu. Maksudku, apakah Mpu Rawaja telah mengetahui kepergian orang tua kepercayaan Angling Dhyaksa?”

“Engkau benar. Tetapi di mana kita dapat menjumpai Mpu Rawaja? Keramaian ini cukup menyulitkan pergerakan, sementara kita dilarang meninggalkan kedudukan.”

“Bila begitu, lebih baik kita berdiam diri sambil menunggu pergeseran suasana,” ucap Ken Pancor kemudian diikuti anggukan kepala Ki Jaranggi.

Di luar kademangan, beberapa orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil melewati batas wilayah dengan cara yang tidak biasa. Mereka melintasi pekarangan orang, melompati pagar bahkan beberapa orang telah membuka kandang kuda.

“Berapa lama lagi kita menunggu?” seseorang berkumis tipis bertanya pada temannya.

“Lengking siul dari arah rumah Ki Juru tidak akan diperdengarkan. Lihatlah!” jawab orang berbaju ungu itu mengacungkan jari ke atas. Penanya pun menengadahkan kepala.

“Belum terlihat bintang yang utama, tapi aku rasa waktunya tidak akan lama lagi.”

Yang sedang terjadi pada saat itu adalah  Mpu Rawaja telah menemui Ki Juru Manyuran yang berbaur dengan para undangan. Kedatangan Mpu Rawaja memang tidak menyolok perhatian.

“Harus ada perubahan dari rencana, Mpu.” Ki Juru Manyuran bergeser mendekat.

“Tidak perlu ada yang berubah.”

“Lantas? Angling Dhyaksa tidak ada di tempat ini. Itu adalah tanda bahwa kita memang harus mengubah rencana.”

“Tidak. Kamu adalah seorang calon adipati, Ki Juru. Kademangan ini, sesaat lagi, akan menjadi sebuah kadipaten. Kejayaan akan memancarkan sinarnya dari tempat ini.” Mpu Rawaja menempatkan dirinya lebih tinggi daripada Ki Juru Manyuran.

“Apakah Mpu bermaksud untuk merebut kademangan ini dari Pajang? Mpu akan memerangi prajurit Pajang yang berada di sini?”

“Mengapa tidak? Kekuatan kita jauh lebih besar dari prajurit Pajang yang berada di barak. Baik segi jumlah maupun kemampuan, orang-orang kita jauh di atas mereka. Engkau tidak perlu khawatir dengan keselamatan.”

Kisah Terkait

Malam Petaka 14 – Langkah Mundur di Grajegan

kibanjarasman

Malam Petaka 12 – Jalan Sulit Menuju Pajang

kibanjarasman

Malam Petaka 13 – Dua Gelanggang Api Pertarungan di Grajegan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.