Bintang-bintang perlahan tampak memudar setelah berpindah tempat. Langit menurunkan gerimis yang jarang tapi terasa dingin.
Untuk beberapa saat, Agung Sedayu membeku pada tempatnya. Mungkin dia sudah kehabisan kata-kata ketika mendapati Swandaru seperti sudah melupakan peninggalan guru mereka, kitab Kyai Gringsing. Seketika senapati Mataram yang pilih tanding itu merasa lelah lalu berputus harapan. Benarkah Swandaru meninggalkan semuanya secara sungguh-sungguh? Apakah ada maksud lain seperti menghindari hukuman yang lebih berat dari Mataram? Agung Sedayu tidak dapat mencari jawaban dan tak juga ingin membuat banyak dugaan. Pertemuan yang tidak terduga itu masih menyisakan banyak pertanyaan tanpa perlu jawaban dalam pikiran Agung Sedayu. Dia pun mengayun kaki menuju pedukuhan induk Sangkal Putung.
Waktu sudah hampir mencapai fajar ketika Agung Sedayu tiba di sekitar pasar induk. Sejumlah orang sudah terlihat melakukan kegiatan. Dengan penyamaran yang cukup baik sebagai prajurit Mataram berpangkar rendah, ternyata memang tidak semua orang dapat mengenalinya dalam keadaan yang masih remang-remang. Sebagian orang mengucapkan terima kasih karena berhasil mengamankan kademangan. Sebagian lagi bertanya mengenai langkah-langkah yang akan ditempuh Pangeran Purbaya karena sepertinya mereka tahu bahwa para pemberontak belum sepenuhnya ditumpas habis. Murid utama Kyai Gringsing itu merasa beruntung karena mendapatkan jawaban yang sesuai dengan kepangkatan yang disandangnya. Cukup melegakan, pikirnya mengenai sikap orang-orang yang masih menunjukkan semangat tinggi.
Penyamaran Agung Sedayu tetap mempunyai batasan. Dia tidak dapat mengorek keterangan mengenai keadaan keluarga Ki Demang Sangkal Putung, terutama Sekar Mirah dan putrinya. Tentu akan muncul pikiran macam-macam dan juga kecurigaan, bagaimana seorang prajurit justru bertanya pada mereka mengenai keadaan keluarga terhormat itu? Bukankah seharusnya dia yang lebih tahu? Agung Sedayu pun mencegah dirinya dari pertanyaan yang ingin dia ketahui tapi berbahaya jika diungkapkan.
“Tidak seperti itu,” kata seorang pengunjung kedai ketika Agung Sedayu mencoba mencari tahu keterangan-keterangan mengenai keadaan keluarga Ki Demang. “Ki Swandaru tampaknya sengaja menghabisi para tahanan di depan banyak orang di banjar pedukuhan. Yah, aku kira itu salah satu peringatan agar orang-orang harus berpikir ulang jika ingin mencari masalah dengan Sangkal Putung.” Pengunjung itu tampak bangga saat mengungkap pendapatnya itu.
Agung Sedayu menarik alis lalu berusaha tampil sewajarnya – tetap bersikap tidak ikut mendengar percakapan. Agaknya dia mengenali pengunjung itu yang ternyata salah seorang bebahu kademangan.
“Aku kira ada benarnya juga yang kau katakan itu,” sahut seorang teman dari pengunjung itu. Dari penampilan, sepertinya orang ini adalah pedagang tapi Agung Sedayu tidak mengenalnya. Sejenak orang itu menarik napas panjang, lalu berkata, “Setidaknya keadaan sudah mulai tenang sekarang. Orang-orang tidak perlu takut pergi ke pasar untuk berdagang atau ke sawah untuk bercocok tanam. Keberhasilan ini sudah sepatutnya kita syukuri bersama.”
Bebahu kademangan itu tampak mengangkat bahu, lalu berkata, “Entahlah, kita, eh, para pengawal dan prajurit Mataram yang terbantu juga oleh Perguruan Orang Bercambuk memang berhasil mengusir orang-orang itu keluar dari sini. Tapi, menurut kabar dari pengawal yang terlibat langsung dalam pertempuran Watu Sumping, orang-orang jahat itu pergi ke jurusan Tanah Perdikan Menoreh. Seandainya benar, itu berarti masalah belum benar-benar tuntas. Hanya bergeser waktu dan tempat saja.”
Pengunjung yang berpenampilan pedagang kemudian menyandarkan punggung lengan sambil mengurut kening. “Kerusakan apalagi dan berapa banyak kerugian yang akan mereka timbulkan? Seandainya saja Ki Swandaru bersedia menghabisi mereka semua,” katanya lirih.
Bebahu kademangan kemudian mendekatkan kepala pada lawan bicaranya sambil berbisik, “Aku tidak melihat dan juga tidak mendengar kabar Ki Swandaru sejak peristiwa semalam. Banyak dugaan yang dibincangkan orang pada malam itu.”
“Aku hanya berharap beliau menuju Tanah Perdikan. Ada alasan sangat kuat jika beliau bergerak ke sana,” ucap pedagang.
“Benar, benar sekali yang kau katakan itu. Aku pun berharap seperti itu,” ucap bebahu kademangan sambil mengangguk-angguk. Mereka berdua masih membicarakan sepak terjang Swandaru dengan rasa kagum dan bangga. Sesekali mereka terdengar melebih-lebihkan kemampuan Swandaru yang dikatakan menghabisi para penyusup pada malam yang sangat gelap.
Agung Sedayu terhenyak! Ada serangan yang ditujukan pada kediaman Ki Demang? Tapi hanya itu saja yang didengarnya. Untuk beberapa lama duduk di dalam kedai, Agung Sedayu belum mendengar seorang pun yang bicara mengenai keluarga Ki Demang Sangkal Putung. Hampir setiap orang membicarakan keberhasilan kademangan mengusir para pemberontak yang cukup lama menimbulkan rasa khawatir di dalam hati masing-masing. Bisa jadi orang-orang menahan diri karena kehadirannya yang mengenakan tanda keprajuritan. Bukan karena mereka dianggap kaki tangan pemberontak atau salah bicara, tapi sepertinya mereka merasa wajib menjaga keselamatan keluarga Ki Demang dengan tidak asal bicara saja.
Agung Sedayu dapat menyadari keadaan itu dengan nalasrnya yang cukup tajam. Tapi dia tidak segera meninggalkan tempat karena orang-orang juga bicara mengenai kelanjutan kademangan.
“Aku sempat bertanya dalam hati, seandainya Ki Swandaru pergi ke Tanah Perdikan lalu terjadi sesuatu yang buruk, bagaimana kademangan ini menatap masa depan?” ucap bebahu kademangan itu masih dengan suara yang cukup pelan.
“Itulah yang kadang terpikirkan olehku karena Ki Swandaru pun termasuk orang yang mumpuni dalam kanuragan. Aku tidak bicara tentang musuh-musuh beliau, tapi selalu saja ada orang yang ingin menjajagi seberapa tinggi kemampuan Ki Swandaru. Tentu saja itu cukup mengkhawatirkan,” sahut pedagang yang menjadi teman bicara bebahu kademangan itu.
Bebahu kademangan manggut-manggut. “Nyi Sekar Mirah pun tidak dapat sepenuhnya memegang hak kekancingan tata kelola kademangan. Seandainya Mataram yang mengambil alih wilayah ini, apakah orang-orang dapat menerima keputusan itu?”
“Aneh,” sahut cepat si pedagang. “Cukup aneh bila Mataram melakukan yang kau pikirkan itu. Mereka tidak punya alasan selain ketiadaan pemimpin karena Ki Swandaru memiliki keturunan laki=laki.”
“Oh ya, ya, aku melupakan itu,” kata bebahu kademangan dengan pancaran mata yang menyiratkan kelegaan dalam hatinya.
Agung Sedayu berada di dalam kedai itu cukup lama. Bahkan dia sudah tidak mempunyai jawaban seandainya ada orang bertanya alasannya duduk lebih lama dari kebanyakan pengunjung. Maka senapati Mataram ini segea bangkit lalu membayar semua yang dipesannya, lalu keluar dari kedai setelah mengucap beberapa kata pada sejumlah pengunjung. Saat berada di jalan, matahari sudah cukup menggatalkan kulit kepala, tapi Agung Sedayu belum juga mendapatkan berita mengenai Sekar Mirah. Selintas dalam hatinya kemudian muncul keinginan untuk menemui Pandan Wangi. Berturut-turut muncul pula gambaran wajah kakak dan pamannya – Ki Untara serta Ki Widura.
“Ah, tapi itu dapat ditunda,” kata Agung Sedayu dalam hati demi menjawab keinginan yang muncul tiba-tiba. Sekalipun begitu, Agung Sedayu pun menyimpan keingintahuan mengenai kebersamaan adik seperguruannya dengan Pandan Wangi.
Pada sebuah tempat yang terbilang sunyi, Agung Sedayu menepi lalu menjauh dari jalanan. Dia kembali pada jati dirinya lagi sebagai bagian dari keluarga Ki Demang Sangkal Putung. Agung Sedayu menetapkan hati segera mengarahkan langkah ke jurusan rumah yang juga didiami Sekar Mirah beberapa saat sebelum persalinan.
Sejumlah pelita kecil tampak meliuk karena terpaan angin yang datang dari lereng Merapi. Dari balik rumah Ki Demang Sangkal Putung, sebagian cahaya tampak seperti bintang yang menembus dinding awan. Agung Sedayu pun sudah melihat gardu perondaan yang letaknya berdekatan dengan regol kediaman demang. Sekelompok anak muda terlihat masih berjaga di sekitar gardu dan beberapa bagian jalan.
Agung Sedayu semakin dekat dengan rumah Ki Demang ketika cahaya matahari mulai tampak menembus celah-celah bambu yang berada di sebelah selatan. Asap pembakaran yang berasal dari pategalan masih terlihat sama tebal dengan kabut yang belum terangkat.
Beberapa anak muda tampak menoleh pada arah kedatangan Agung Sedayu. Mereka berdiri seperti akan menyambutnya lalu seorang penjaga berlarian menuju ke dalam rumah. Tapi dari sikap dan kedudukan mereka berdiri, Agung Sedayu dapat menilai bahwa keadaan di sekitar rumah Ki Demang sudah terkendali. Mereka tidak tampak memegang senjata atau bersikap siap menerima serangan. “Ini gambaran yang cukup baik,” gumam Agung Sedayu dalam hati.
“Ki Rangga,” sapa seseorang yang tampaknya menjadi ketua regu.
“Selamat pagi,” ucap Agung Sedayu sambil mengembangkan senyum. “Apakah kalian dalam keadaan baik?” susul Agung Sedayu sebelum para penjaga berkata atau bertanya lebih jauh.
“Oh, kami semua dalam keadaan baik,” jawab cepat salah satu dari penjaga.
“Marilah, silahkan, Ki Rangga,” ucap ketua regu jaga sambil sedikit membungkukkan badan. “Maaf, kami tidak semestinya menahan Ki Rangga lebih lama di tempat ini.” Dia pun memberi jalan pada Agung Sedayu kemudian berjalan di depan.
Agung Sedayu mengangguk. “Tapi tidak semestinya juga kalian beranggapan seperti itu.” Dia kemudian berjalan mengikuti ketua regu jaga itu melintasi halaman dan melewati pendapa. Sepintas dia dapat menduga bahwa perkelahian malam sebelumnya – yang didengarnya di kedai – tidak terjadi di bagian depan. Hamparan rumput, rimbun tanaman perdu dan beberapa pohon masih tampak seperti saat ditinggalkannya. Dalam waktu yang cukup pendek itu pula, Agung Sedayu menerima laporan-laporan penting. Mereka berdua pun sempat terlibat percakapan singkat mencakup keamanan kademangan.
Terdengar suara yang sangat dirindukannya dari pringgitan, “Cepatlah, Kakang. Anak ini sudah tidak sabar bertemu dengan ayahnya.”
Agung Sedayu tidak terkejut, bahkan tersenyum mendengarnya. Pendengaran Sekar Mirah masih sangat baik, pikirnya. Bukankah ada penjaga yang berlari masuk ke dalam rumah?
“Di manakah dia sekarang?” tanya Agung Sedayu setelah langkah kakinya sudah menjejak bagian pringgitan. Sejenak kemudian dia bertukar kata sewajarnya dengan Sekar Mirah seperti kebanyakan pasangan dalam keluarga. Setelah membersihkan diri sekedarnya di belakang rumah, Agung Sedayu kembali menemui Sekar Mirah lalu menggendong putrinya yang lelap dalam tidur.
“Wajahnya seperti tidak mempunyai rasa takut. Lebih mirip dengan ibunya,” lirih Agung Sedayu berkata. Dia memandang Wangi Sriwedari agak lama, lalu tersenyum sambil berkata, “Dia memang sedang mendekati keadaan ibunya.“
Sekar Mirah menanggapi ungkapan itu dengan perasaan berbunga-bunga. Kelegaan yang luar biasa sedang membuncah hebat dalam hatinya. Betapa tidak, baginya, pertemuan Agung Sedayu dengan Wangi Sriwedari adalah peristiwa yang paling ditunggu olehnya sejak bayi itu lahir. Sambil menyiapkan segala keperluan untuk makan pagi, Sekar Mirah sekali-kali mengajak putrinya dengan bahasa ibu agar saling mengenal dengan ayahnya. Lengkap dan terasa sempurna sudah anugerah dari Yang Maha Agung pada pagi itu, demikian perasaan Sekar Mirah. Bahkan, karena tidak ingin Agung Sedayu kehilangan waktu menimang putrinya, maka Sekar Mirah rela menyuapi senapati Mataram itu dengan penuh bahagia. Beberapa orang yang bekerja di dalam rumah Ki Demang pun dapat merasakan kebahagiaan itu hanya dengan melihat saja. Mereka segera memberi ruang dan waktu bagi keluarga kecil yang disegani di segenap tanah Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh itu.
Sekar Mirah membalas dengan senyum hangat saat sejumlah orang meminta izin darinya. “Silahkan, kami tidak keberatan, Mbokayu,” begitulah kira-kira yang diucapkan Sekar Mirah. Dia juga meminta agar kedatangan Agung Sedayu juga diberitahukan pada Ki Demang serta beberapa bebahu kademangan.
Ikuti
> Kisah ini tidak ditujukan untuk dikejar, melainkan untuk diikuti.
> Bila ada yang berkenan ikut menjaga kesinambungannya, komunitas donatur dibuka dengan fasilitas kisah terbaru dan PDF lengkap, melalui sokongan minimal **Rp25.000 per bulan**.
> Banjar pedukuhan:
BCA 822 05 22297
BRI 31350 102162 4530
atas nama Roni Dwi Risdianto.
Bukti penjagaan bisa dikirimkan melalui pengawal pedukuhan WA 081357609831
Melangkah
