Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 113 – Hari Keenam Kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan

Hingga wayah sirep bocah, para senapati andalan Raden Atmandaru belum mengemukakan pendapat. Mereka tampak sibuk menguji pikiran masing-masing dengan , bersoal jawab satu sama lain. Siasat setiap orang terbantah dengan orang lain atau tidak dapat berpadu dengan pemikiran senapati lainnya. Raden Atmandaru mengamati semuanya dan juga mendengarkan percakapan yang mirip dengung lebah di dalam kemahnya.

“Kita harus berani mencoba jalan yang benar-benar berbeda,” kata Raden Atmandaru dengan lantang secara tiba-tiba.

“Apakah itu berarti pengerahan pasukan besar-besaran ke pedukuhan induk?” tanya Ki Hariman. Tapi dia sendiri meragukan pemikirannya sendiri. Selain jarak yang cukup jauh, pedukuhan induk pun tergolong cukup kuat dengan benteng alam yang mengelilinginya.

“Yang ada hanyalah kekacauan yang tidak penting dan tidak mendatangkan keuntungan sama sekali,” Raden Atmandaru memberi tanggapan.

Tiba-tiba Ki Sonokeling membisikkan sesuatu pada Raden Atmandaru. Seketika perhatian orang-orang tertuju pada mereka berdua sambil menignkatkan daya dengar masing-masing. Tapi rupanya Raden Atmandaru tanggap dengan perkembangan itu maka secepat itu pula dia menyelubungi dirinya dan Ki Sonokeling dengan kekuatan luar biasa. Tenaga cadangan yang memancar dari Raden Atmandaru seolah membentuk dinding kokoh yang mampu menyerap suara!

Dalam waktu itu, setiap orang di dalam kemah pun ternganga dengan kemampuan Raden Atmandaru. Antara penasaran dan keinginan untuk tahu percakapan itu, mereka hampir serentak meningkatkan ketajaman pendengaran! Tapi masih belum juga menembus benteng pemimpin mereka. Sementara di bagian depan, Raden Atmandaru  terlihat menganggukkan kepala berulang-ulang sambil sekali-kali mengucapkan sesuatu. Sikap itu seakan memperlihatkan bahwa dirinya sama sekali tidak mengalami gangguan sedikit pun padahal banyak orang sedang menekan tembok senyap melindunginya!

“Awalnya saya sempat berencana seperti itu, Kyai,” ucap Raden Atmandaru. Sejenak kemudian, dia melempar pandangan keluar kemah dan kegelapan adalah hal pertama yang terlihat olehnya.

“Raden dapat menunda rencana ini, tapi sebaiknya dipertimbangkan lagi seandainya Agung Sedayu tiba-tiba menyerang secara mendadak ke tempat ini,” kata Ki Sonokeling. “Di Watu Sumping, Sedayu melakukan serangan kilat yang bagian akhirnya sudah kita ketahui. Mungkin saja itu terdorong hasratnya untuk meniru kekacauan yang kita sulut di Tanah Perdikan maupun Jati Anom.”

“Gagasan serangan kilat di Watu Sumping dapat diperoleh Sedayu dari banyak kemungkinan, termasuk mendengarkan sarand ari Pandan Wangi atau orang lain. Tidak, Kyai sebaiknya tidak beranggapan seperti itu karena Sedayu bukan peniru,” sanggah Raden Atmandaru. Orang ini melontarkan pandangan pada deretan orang yang sedang memperhatikan mereka bicara. “Apakah mereka memiliki anak buah yang mampu bekerja senyap?” tanya Raden Atmandaru dalam hati pada dirinya sendiri.

Seakan mengerti jalan pikiran Raden Atmandaru, Ki Sor Dondong kemudian berkata, “Raden, mereka sudah pasti mengetahui kedatangan laskar Ki Garu Wesi. Agung Sedayu pasti juga sudah menempatkan orang-orangnya pada tempat-tempat tertentu yang mungkin tidak terjangkau kita. Untuk itu, saya pikir, apakah mungkin kia mengerahkan satu regu dengan tujuan khusus?”

“Tempat yang tidak terjangkau oleh kita dan tujuan khusus? Bagaimana maksud Kyai dengan dua keadaan itu?” tanya Ki Manikmaya yang sedikit mengerti tata peperangan.

Ki Sor Dondong mengangguk lalu menatap arah Raden Atmandaru.

“Silakan, Kyai,” ucap Raden Atmandaru.

Ki Sor Dondong lantas berkata, “Yang saya maksud dengan tempat yang tidak terjangkau itu adaalh karena pergerakan mereka ternyata tidak diketahui petugas sandi kita. Apakah mereka menyebar lalu menyatukan keterangan di suatu tempat? Kita belum memperoleh gambara, rung babar pisan! Sementara satu regu kecil itu hanya bertugas untuk memancing keributan. Di mana mereka akan lakukan itu? Silakan Anda sekalian merundingkan lagi. Tapi saya cenderung memilih Pedukuhan Pudak Lawang karena letak dan keadaan alam yang mendukung untuk siasat hantam lalu menghilang.”

“Hmm, cukup menarik dan masuk akal,” desah Ki Manikmaya yang dikuti pula oleh Ki Hariman serta Ki Sambak Kaliangkrik.

“Apa saja yang menjadi pilihan, sertakan pula aku di dalamnya. Aku tidak keberatan menjadi perusuh,” tukas Ki Jambuwok yang berdiri tiba-tiba lalu mengucapkan itu. Dia seperti sedang berharap bertemu lagi dengan Kinasih atau orang lain Tanah Perdikan yang berilmu lumayan tinggi. “Aku tidak keberatan berada dalam kedudukan yang sama dengan kebanyakan orang. Mari, kita lakukan secepatnya.”

Pendapat orang-orang pun terpecah kemudian tapi suasana tidak semakin memanas. Mereka mengungkap kelebihan serta kelemahan seandainya siasat Ki Sor Dondong dijalankan tanpa pengujian terlebih dulu.

Keriuhan mereda ketika Ki Ramapati meminta waktu untuk mengeluarkan pendapatnya.

“Itu membutuhkan waktu lebih lama lagi apabila kita tetap berbantahan tentang untung dan rugi,” ucap Ki Ramapati. “Setengah malam akan terlewati tapi kita belum mempunyai rencana yang tepat. Maka bila saya katakan bahwa kita semua telah masuk dalam perangkap Sedayu, apakah itu benar?”

Orang-orang bangkit lalu mengumpat-umpat ketika sadar telah termakan pikiran Agung Sedayu. Ki Ramapati berkata benar bahwa kegalauan mereka bersumber dari rangkaian siasat senapati pasukan khusus Mataram itu.

“Baiklah,baiklah, Ki Ramapati sebaiknya tidak menambah rasa malu pada diri kita sendiri,” seru Ki Sonokeling.

Sedangkan Raden Atmandaru hampir tidak dapat menyembunyikan kegeramannya. Dia merenung sejenak lalu berbisik pada Ki Sonokeling. Penasehat penuh pengalaman itu mengangguk. Raden Atmandaru lalu mengangkat tangan sambil berkata, “Kyai sekalian, kita tahan diri dulu.” Lantas meminta Ki Sor Dondong, Ki Ramapati dan Ki Jambuwok mendekat.

Hari Keenam Kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan

Siasat Senyap di Pudak Lawang

Bahkan Ki Gede Menoreh pun terperanjat saat mendengar untuk pertama kali tentang rencana aneh Agung Sedayu. Tapi, apa boleh buat? Senapati pasukan khusus itu sudah tentu tidak sembarangan menyusun rencana. Jadi, dengan segala pertanyaan di dalam hati, Ki Gede tetap mendukung Agung Sedayu. Pemimpin Tanah Perdikan tersebut sampai merasa perlu untuk mengadakan pertemuan dengan segenap ketua regu pengawal pedukuhan induk.

Sekalipun siasat Agung Sedayu mengundang keheranan karena kejanggalannya, tapi para pengawal mematuhi sepenuh hati. Lebih-lebih Ki Gede secara khusus meminta perhatian mereka melalui kabar yang disampaikan melalui ketua regu.

Kesiagaan pun dijaga dengan senyap di segala penjuru Tanah Perdikan Menoreh, termasuk Glagah Putih yang penuh ketegangan beberapa saat sebelum ayam hutan berkokok ketiga kali. Panggraita murid Ki Jayaraga itu seolah ingin mengabarkan sesuatu yang penting segera terjadi. Kegelisahan merayap pelan sambil menancapkan kuku dan taringnya pada segenap perasaan Glagah Putih. Dia mengatur napas, menata hati sambil melarutkan budi dan rasa dalam keheningan yang berpusar kuat di sekitarnya. Oleh Ki Lurah Sanggabaya, tanggung jawab atas keamanan dua pedukuhan yang cukup besar di Tanah Perdikan – Pudak Lawang dan Pringtali – diserahkan pada Glagah Putih.

Pada keadaan seperti itu, pendengaran Glagah Putih mendadak menangkap getar suara yang sebenarnya berjarak puluhan langkah darinya. Dia membuka mata, lalu memusatkan segalanya pada suara tersebut. “Semakin dekat,” kata Glagah Putih dalam hati dengan kening berkerut. Ketua regu pasukan khusus itu kemudian  menyiagakan pengiringnya sambil mengingatkan mereka pada pesan-pesan Agung Sedayu.

Sekejap kemudian mereka sudah menyebar dan menempati kedudukan yang sudah ditetapkan Glagah Putih sebelumnya. Menjaga dua pedukuhan yang bersebelahan yang terpisah bentangan alam yang luas sudah barang tentu bukan perkara mudah, tapi setiap orang dari pasukan khusus pasukan sangat mengenal medan. Ketika mereka sudah tiba di tempat masing-masing, setiap orang pun menunggu aba-aba selanjutnya dari Glagah Putih.

Arya Penangsang kembali ke Demak bukan untuk menuntut, tetapi untuk menghadapi apa yang tak bisa dihindari.

Agaknya nasib cukup memberi perhatian pada Glagah Putih yang memendam gemas pada dirinya sendiri sejak Ki Sor Dondong lolos dari Karang Dawa. Begitu pula dengan Ki Sor Dondong, yang penasaran dengan Glagah Putih, hingga ingin mengulang pertarungan melawan senapati muda pasukan khusus itu.

“Ingat, kita datang bukan untuk menduduki wilayah atau menjarah tapi mengejutkan dan melumpuhkan,” kata Ki Sor Dondong pada belasan anak buahnya. Dia merasa perlu mengulang pesan-pesan pemimpin mereka ketika jarak dengan Pedukuhan Pudak Lawang  semakin dekat. “Setelah lawan kalian tumbang, pergilah segera ke tempat pertemuan di sisi selatan sungai di Pringtali. Kalian tunggu di sana lalu bersabarlah hingga penghubung datang dengan perintah susulan.”

Tanpa suara, belasan orang bertampang garang dengan garis-garis wajah yang sangat kuat itu mengangguk.

“Orang-orang pedukuhan tidak mungkin berharap ada serangan kilat saat gelap, tapi kalian tidak boleh gegabah atau ceroboh. Tetap siaga dan berhati-hati!” tutup Ki Sor Dondong.

Pengikut Raden Atmandaru yang bergabung dengan berbagai niat itu pun melangkah lagi. Mereka merayap cukup cepat dan sepertinya sudah mengenal medan di sekitar lereng Gunung Kendil.

Tak lama kemudian, dua pengamat berjalan cepat dari arah Pudak Lawang. Mereka adalah dua penyapu wilayah yang bertugas khusus mengamati daerah yang akan dilalui  pasukan di belakangnya. Ki Sor Dondong melihat pergerakan dua orang itu kemudian meminta pasukannya berhenti.

“Sedikit mencurigakan,” lapor salah satu pengamat pada Ki Sor Dondong.

Ki Sor Dondong memijat kening.

“Sejujurnya, kami tidak begitu jelas melihat bayangan beberapa orang. Tapi pergerakan itu memang ada dan tampak meski samar karena terlindung tanaman liar,” tambah pengamat satunya lagi.

Ki Sor Dondong mengangguk-angguk. Tidak mungkin baginya untuk membawa mundur pasukannya. Tidak ada jalan untuk itu karena pilihan hanya ada hantam atau tinggalkan! Apakah ada kebocoran di dalam laskar induk atau lingkaran dekat Raden Atmandaru? Ki Sor Dondong lantas menampik pikiran itu. Yah, hanya ada satu kemungkinan yang tersisa dan masuk akal ; Agung Sedayu telah mempersiapkan begitu rinci demi pertarungan besar yang mungkin sudah dirancang dalam benaknya.

“Bagaimana, Senapati?” tanya seorang pengamat.

Ki Sor Dondong pun menjawab, “Baiklah. Kita tetap bergerak sesuai rencana.” Kemudian dia melihat para pengikutnya dan bertanya, “Apakah kalian mempunyai gagasan lain? Ingat, yang tersisa hanyalah hidup atau mati karena kita bukan datang untuk jarahan tapi kejayaan.”

Kisah Terkait

Bara di Bukit menoreh 97 – Kinasih ; Apakah Agung Sedayu Pernah..?

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 42 -Akhir Pertarungan Pandan Wangi Melawan Pangeran Selarong

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 16 – Perpaduan Tempur Agung Sedayu dengan Sukra

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.