Dari arah belakang kediaman Ki Gede Menoreh
Berulang-ulang mereka bersinggungan. Berulang kali pula terjadi adu kekuatan dalam batas-batas yang hanya mereka berdua saja yang mengerti. batas tindak. Ki Manikmaya sadar ketajaman tenaga cadangan yang terlontar dari ujung pedang lawannya. Meski masih berjarak sejengkal, tapi hawa udara yang ganjil terasa seperti tikaman jarum pada kulitnya. Ki Manikmaya, seandainya mau, mungkin tidak akan tertekan hebat. Sesuatu sedang dipikikan olehnya di tengah kemelut yang mengancam nyawanya.
Pandan Wangi bertarung seperti tak ada lagi hari esok. Segala sesuatu yang terhubung dengan masa depan akan ditentukan pada malam itu, pikirnya. Maka tata gerak Pandan Wangi makin membadai dengan udara yang terus menderu-deru hingga seolah membentuk tabir yang sulit ditembus.
Mengerahkan kecepatan dengan sangat hebat membuat perempuan itu seakan-akan benar-benar terbang dengan kepak sayap pedangnya. Sekali waktu dia menyambar dari bagian atas, lalu menyusulkan kejutan lain dari tata geraknya.
Sementara itu, pada waktu yang sama di balik rimbun pohon, gelanggang Kinasih sudah menjadi sangat panas. Tanpa keraguan sedikit pun atau menyisakan ruang untuk mengampuni gadis muda itu, Ki Astaman mengetrapkan tata gerak yang jarang terlihat di dunia kanuragan secara umum. Mungkin semacam jurus yang nyaris punah karena sama sekali tidak memperlihatkan keseimbangan maupun kekuatan. Sepertinya begitu, tapi Kinasih adalah gadis yang cukup tenang menghadapi kejanggalan itu.
Yah, Ki Astaman seperti memperlihatkan kuda-kuda yang tidak kokoh. Tubuhnya begitu mudah terdorong atau terbanting seperti orang mabuk tuak. Tangannya pun tak tampak begitu cadas seperti kebanyakan para petarung.
Namun lawannya adalah gadis yang cerdas membaca perubahan. Murid Nyi Banyak Patra itu pun mengubah gaya berkelahi. Dia meraih ranting sambil bergulingan demi menghindari tebasan tangan kosong Ki Astaman. Dengan ranting di tangan, Kinasih membuat jarak yang memberinya sedikit ruang lebih untuk waspada. Bahkan, ranting kering yang sepintas cukup wajar diremehkan karena dipilih menjadi senjata melawan orang seperti Ki Astaman, serangan maupun tangkisan Kinasih menjadi lebih berbahaya. Kayu rapuh itu tiba-tiba menjadi senjata yang jauh lebih berbahaya dibandingkan ahli pedang terbaik di Mataram.
”Bocah setan!” geram Ki Astaman saat gagal menyerang murid Nyi Banyak Patra tersebut. Bahkan dadanya nyaris terbelah ketika tebasan menyilang atas datang tiba-tiba dari gerakan yang tidak terduga.
Keadaan Ki Manikmaya sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan kawannya itu. Dia belum sepenuhnya berada di bawah tekanan Pandan Wangi, tapi masih kesulitan melepaskan serangan balik. Kegelisahan tiba-tiba melesak tajam ke dalam dadanya. Sekali waktu muncul dalam pikirannya untuk mencuri padnag kea rah rumah Ki Gede, tapi itu tidak mungkin dilakukan di depan Pandan Wangi. Napasnya dapat putus seketika sebelum sadar akan sesuatu.
Sekalipun Pandan memiliki kelebihan dengan pengamatan yang sangat tajam, Ki Manikmaya bukanlah petarung yang mudah ditebak dan dikendalikan. Orang yang mengaku satu perguruan dengan Nyi Banyak Patra itu sudah jelas dapat memperkirakan perkembangan yang terjadi di belakang maupun di depannya.
Di belakang, Ki Sambak Kaliangkrik tak kunjung datang. Di depan, keributan sepertinya telah terkurung. Ki Manikmaya tidak mau terperangkap dalam keadaan yang tidak menentu serta tidak dapat dikendalikannya. Maka dia berusaha melepaskan ikat perkelahian melawan Pandan Wangi dengan pertimbangan yang cukup matang.
Secara mengejutkan, tubuh Ki Manikmaya berputar-putar seperti gasing dengan kecepatan tidak terkira! Daun-daun seakan terhisap olehnya. Beberapa pohon bahkan telah terlihat berusaha melawan dengan tancapan akar yang sangat kuat.
Pandan Wangi tersentak. Dia mundur setapak!
Dalam waktu kurang dari sekejap mata, Ki Manikmaya tiba-tiba seperti menghilang dari gelanggang. “Ki Astaman,” serunya dengan suara menggelegar.
Masih dalam sikap waspada penuh, Pandan Wangi hanya memandang kepergian musuhnya yang ternyata memiliki ilmu pamungkas yang menggetarkan.
Ki Astaman tentu saja mendengar namanya diserukan. Dia tahu ada pertimbangan mapan dari Ki Manikmaya sebelum meninggalkan medan tempur. Nyaris serupa dengan Ki Manikmaya, Ki Astaman tiba-tiba menghujani Kinasih dengan serangan yang seakan membuta!
Kinasih yang terkejut segera melompat panjang. Sekejap kemudian, dia menggeretakkan gigi. “Pergi?” katanya dalam hati. Di balik pertanyaan itu, dia mencoba menduga perkembangan yang terjadi di gelanggang Pandan Wangi.
Ketika Medan Utara Memilih Pemenang
Di bawah tegakan pohon tua yang akar-akarnya menjalar seperti ular, pasukan khusus Mataram sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan lawan yang sepadan. Tidak ada teriakan perang. Tidak pula ada caci maki. Tidak ada gerak ceroboh. Ketika satu orang tumbang, yang lain tidak tergesa mengejar balasan. Mereka berhenti lalu menggeser kedudukan dengan kecermatan yan gsulit dibayangkan.
Pertempuran itu hanya riuh dengan dentang senjata atau ranting-ranting kering yang patah terinjak. Sekali-kali terdengar seruan tertahan, tapi itu sebenarnya sangat pelan.
Ki Lurah Sanggabaya adalah puncak pimpinan setelah Agung Sedayu. Dia melatih pasukan khusus dengan berbagai gelar perang dan pendekatan nalar. Tapi pada sisi utara kediaman Ki Gede, semua latihan dan pendalaman telah menemui batu sandungan. Kelebihan pasukan khusus tergerus lambat. Terkikis nyaris habis.
Barisan tak teratur dari pohon-pohon yang beragam ukurannya menjadi penyekat yang menutup garis pandang, mempersempit ruang gerak dan bernapas. Akar-akar yang menjulur panjang tanpa keseragaman telah berubah menjadi pedang lentur yang mampu memutus aliran Kali Progo saat meluap. Itu keadaan yang sangat sulit bagi dua pasukan berkemampuan hebat itu.
Mereka tidak bergerak dalam susunan yang kaku, tapi kesepahaman alamiah. Tidak ada aba-aba yang perlu diteriakkan. Satu orang menghilang ke balik pohon, dan dalam hitungan jantung, muncul di sisi lain Benar-benar sulit! Memaksa setiap orang terus menerus memecah perhatian. Serangan tidak selalu diarahkan untuk membunuh—cukup melukai, cukup satu goresan saja.
Tapi di sisi utara, regu pembunuh yang dipimpin Ki Suta Jaladri justru merasa pulang ke rumah. Tanah bergelombang yang memaksa setiap gerakan dihitung ulang seperti memahami kesulitan mereka. Maka kelincahan dan keseimbangan gerak menjadi penanda bahwa mereka mulai mengatasi kesulitan.
Seorang prajurit Mataram terhuyung ketika kakinya tersangkut akar. Dia belum jatuh, tapi sebilah senjata lebih dulu menyentuh rusuknya. Tidak dalam, namun tepat. Prajurit itu mengucapkan perpisahan tanpa suara. Yang lain mencoba menutup tapi tertinggal setengah langkah.
Apakah keberuntungan telah menentukan pilihan ketika keunggulan latihan dan kepatuhan tidak lagi menjadi penentu tunggal? Dua kelompok itu tidak berjumlah banyak demi kesesuaian dengan keadaan medan, tapi ada banyak kelenturan dalam pengambilan keputusan. Yang paling menonjol adalah yang lebih kejam dalam memanfaatkan kesalahan kecil dapat keluar menjadi pemenang.
Itu tidak berarti pasukan khusus tidak memberi perlawanan dengan gigih. Mereka berjuang sangat liat, semangat tinggi, tetap bergerak teratur sebisanya, saling menutup, saling mengingatkan dengan isyarat singkat. Mereka juga mampu merobohkan orang dari regu pembunuh. Tapi lawan mereka tetap menekan dengan ketangguhan yang tak terduga.
Dengan kesadaran penuh dan kepatuhan pada perintah Agung Sedayu ; “Seandainya kalian dapat dipaksa mundur dan kalah di medan utara, maka pertahankan pedukuhan induk dari kediaman Ki Gede Menoreh.”
Tanpa aba-aba dan tanpa teriakan, pasukan khusus Mataram bergerak mundur. Wilayah utara memang wajib untuk dijaga tapi tidak berarti harus menghabiskan seluruh anggota yang ada. Setapak demi setapak, di belakang mereka regol pedukuhan induk masih berdiri kokoh. Regol kebanggaan itu seolah mengatakan, lebih baik mundur demi yang lebih baik di masa mendatang. Yah, Agung Sedayu tidak memberi perintah untuk mempertahankan sisi utara sampai titik darah terakhir. Pemimpin mereka menetapkan aturan ; bertarung habis-habisan sambil tetap menimbang keadaan. Bukan mati dengan cara sudah jelas kedudukannya.
Pemimpin medan utara, Ki Lurah Prana Aji, mengangkat jiwani pasukannya dengan satu gerakan hebat! Tiba-tiba dia mengikat dua penyusup dalam satu perkelahian. Seketika keadaan berbalik menjadi kejutan yang menegangkan Ki Suta Jaladri. Orang ini meluncur deras ke gelanggang perkelahian yang terjadi di bawah regol pedukuhan induk.
Bagi pasukan khusus, serbuan tunggal Ki Prana Aji adalah tanda bagi mereka untuk menyusun ulang barisan. Pernyataan mundur telah diumumkan tanpa ucapan. Ki Prana Aji menebar pesan bahwa akan ada pertempuran lagi tapi di medan yang berlainan.
Bukan perang di dalam pedukuhan tapi pertahanan penuh di kediaman ki Gede Menoreh!
Satu ledakan terjadi di salah bagian jalan di depan rumah Ki Gede Menoreh.
Satu per satu, prajurit pasukan khusus menarik diri dari jalanan dan tanah lapang, pategalan dan pekarangan tanpa aba-aba. Mereka masih bergerak dengan tubuh penuh luka, menarik kawan yang masih hidup, dan melepaskan ruang yang tidak lagi dapat dipertahankan. Satu demi satu memasuki pelataran rumah Ki Gede Menoreh. Menyusun rancang bangun pertahanan baru.
Ki Suta Jaladri melihat pergerakan kelompok lawannya yang menghilang di balik dinding kediaman Ki Gede Menoreh. Ki Prana Aji sudah jelas tidak mungkin dapat dikalahkan dengan mudah dan cepat. Keputusan penting harus segera dibuatnya demi keselamatan pasukannya sendiri! Di pelataran Ki Gede Menoreh, ada alasan apa hingga pasukan khusus berlindung di rumah pembesar?
Regu pembunuh tahu diri. Mereka tidak mengejar tapi menunggu dan memperhatikan, apakah ada celah pertahanan yang terbuka sebelum benar-benar menghancurkan seisi kediaman Ki Gede Menoreh, termasuk pasukan khusus yang kini bersembunyi di sana?
Ki Suta Jaladri berpaling pada medan utara yang kembali sunyi. Tidak ada penanda untuk kemenangan yang baru saja diraih ketika darah mengental dan daun-daun masih bergoyang pelan.
Sekejap kemudian, Ki Suta Jaladri berdiri tegak sambil memandang seluruh yang terlihat olehnya. Dia melihat bayangan pasukan khusus berkelebat di balik dinding. Kegelapan masih menaungi rumah pemimpin Tanah Perdikan. Ki Suta Jaladra hampir tidak pernah tampak tersenyum meski sanggup memukul mundur pasukan khusus Mataram. Dia tahu ini bukan kemenangan besar. Dia tahu satu hal yang tak terbantahkan: sisi utara telah jatuh. Dia sadar bahwa kekalahan pasukan khusus itu bukan karena bagian siasat atau kesengajaan, tapi keunggulan pasukannya.
Yang memenuhi pikiran pemimpin hebat dari kubu RadenAtmandaru adalah berhitung kekuatan dan waktu yang tepat untuk serangan. Kemampuan Ki Gede Menoreh sudah tidak perlu dibincankan. Apakah ada orang lain di dalam, Agung Sedayu misalnya?
Tiba-tiba tangannya membuat lingkaran!
Regu pembunuh menyebar. Yang terdekat dengan gerabng kediaman segera menerjang dengan sepenuh kekuatan.
