Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 38

Waktu beranjak mendekati siang. Terik matahari mulai menggatalkan kulit ketika debu-debu perkelahian semakin tipis. Tiga lawan Kiai Bagaswara telah jauh dari gelanggang. Mereka mengambil arah berlainan, dengan berpencar, orang-orang yang setia pada Mataram akan kesulitan menemukan jejak pelarian. Namun Kiai Bagaswara sepertinya tidak peduli, dan itu terlihat nyata dari pandang matanya. Keningnya berkerut ketika menatap jalur yang dilalui orang yang memanggul Agung Sedayu. Dalam waktu itu, pikirannya tidak berhenti bekerja. Pertanyaan muncul dalam hatinya, siapa orang tersebut?

Di hadapannya adalah gumpalan kabut yang menipis. Sebagian telah tersapu angin, melayang lalu sirna. Ia mengulurkan lengan, menyentuh sisa-sisa gumpalan yang mengapung di udara.

“Apakah ini?” pertanyaan itu tidak dapat meluncur dari bibir Kiai Bagaswara. Hanya sedikit perubahan udara yang dapat dirasakannya. Gelisah datang menyergap jantung Kiai Bagaswara ketika melihat tanah yang basah oleh darah. “Angger Sedayu masih hidup, tapi melihat ini…sepertinya ia terluka cukup berat,” gumamnya dalam hati.

Ia tertegun. Kiai Bagaswara mengingat kembali tandang Agung Sedayu yang sempat diperhatikannya. Teranglah baginya, bahwa Agung Sedayu mengerahkan segenap kekuatan cadangan tanpa berpikir tentang akibatnya. sejenak ia dapat mengerti kemungkinan yang menjadi alasan pemimpin pasukan khusus itu. “Aku melihatnya dalam kepayahan dan benar-benar kesulitan mengendalikan diri. Dari matanya, seolah muncul kekuatan asing yang berbeda dengan jalur ilmu yang dikuasainya. Ada darah pada bagian bawah tubuhnya, mungkinkah Angger Sedayu tersusup racun? Sulit untuk mengakui itu karena ia kebal dari racun. Ataukah…?” Kilas wujud Kiai Plered muncul dalam benak Kiai Bagaswara. “Kiai Plered. Ya, Kiai Plered adalah satu-satunya benda yang seharusnya aku curigai sebagai pembawa kekuatan asing yang bergolak di dalam tubuh Angger Sedayu.”

Pada bagian lain, membuka kerubung kabut bukan perkara gampang, terlebih seseorang belum mempunyai kekuatan cadangan yang mumpuni. Namun, setelah mendapatkan gambaran tentang luka berat dan kekacauan aliran darah yang terjadi dalam diri Agung Sedayu, Kiai Bagaswara mendesis, “Sudah tentu tidak ada pertahanan karena tenaga Angger Sedayu terhisap tanpa sisa.” Kiai Bagaswara bangkit lalu berjalan menuju arah pergi orang yang memanggul Agung Sedayu. Jalan pikirannya berusaha membuat dugaan mengenai sosok yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas. Bila ia begitu berani berbuat itu, kepada siapa ia berharap pertolongan? Kecuali seseorang, yang setidaknya berkemampuan setara dengan Ki Patih, ada di belakangnya.

Perkelahian seru, yang membelit Kiai Bagaswara dan tiga anak buah Raden Atmandaru, ternyata memberi banyak waktu bagi seseorang yang berbaju ringkas untuk memasuki lingkaran kabut Agung Sedayu. Ia mampu membawa Agung Sedayu menjauh puluhan tombak dari Slumpring. Tidak terlihat wajah lelah atau dengus napas memburu walau sepasang kakinya bergerak sangat cepat.

Ia berhenti senyampang bayangan telah berada di bawah kakinya. Ia membaringkan tubuh Agung Sdayu begitu hati-hati. Sekali ia memandang raut wajah Agung Sedayu, dan tampak olehnya garis-garis wajah yang menujukkan kekuatan hati seorang senapati. Di bawah daun pohon asam yang memayungi mereka dari kejaran sinar matahari, orang itu memeriksa keadaan Agung Sedayu. Wajahnya begitu tenang dan seolah tidak menunjukkan perjalanan berat yang ditempuhnya. Bertubuh sedang dan benar-benar tidak seimbang dengan beban yang di pundaknya.

Ketika itu ia merasakan bahwa kesepian telah menyingkir dari hatinya.

Dari balik kelopak matanya, dunia seperti kembali penuh warna dan jauh dari genangan darah. Hanya sekejap perasaan itu singgah di dalam hatinya, ketika ia menatap tubuh lemas yang terkulai di sampinya, hatinya berkata, “Sebenarnya tadi adalah perbuatan sangat bodoh. Bagaimana jika kabut tidak terkuak?”

Ia mendongakkan wajah kemudian berhitung waktu. Membuat perkiraan mengenai jarak pengejarnya dan masa yang dibutuhkannya untuk tiba di tempat yang dianggapnya paling aman. “Dengan keadaan dan kekacauan yang terjadi di Mataram, tempat teraman untukku dan senapati ini adalah Pajang,” desisnya, “marilah, kita berangkat sekarang.” Tangannya berkelebat, lalu tubuh Agung Sedayu kembali tersampir pada pundaknya.

Beberapa waktu sebelumnya, ketika Agung Sedayu dan Kiai Bagaswara bertempur habis-habisan di Slumpring, tiga penunggang kuda tiba di dekat gerbang Sangkal Putung.

Seseorang bertubuh  gempal menggerakkan mulut seperti berkumur. Raut wajahnya menunjukkan kegeraman. Barangkali ia jengkel terhadap keadaan kademangan. Ia berharap Sangkal Putung dapat direbut dari arah Pedukuhan Janti, tetapi gagal. Mereka hanya menguasai setengah wilayah pedukuhan. Begitu pun ketika ia menaruh keyakinan dari sisi Gondang Wates, mereka menemui kebuntuan. Menyebut Gondang Wates di dalam hati, ia teringat seorang perempuan yang menjadi belahan jiwa : Pandan Wangi.

Swandaru merasakan kegetiran ketika harapannya justru terhalang oleh keberadaan istrinya di Gondang Wates. “Mungkin aku bernasib baik semasa di Randulanang,” katanya dalam hati sambil membelai punggung Nyi Gandung Jati. “Semua berjalan tanpa aku minta. Aku tidak pernah berharap untuk diculik, tetapi perkelahian di tepi Kali Praga menawarkan jalan yang berbeda padaku. Aku tidak bemaksud mengambil perempuan lain, cukup Pandan Wangi yang harus aku sebut dalam keheningan. Perempuan ini adalah kebaikan atau anugerah dalam bentuk lain. Aku kira keadaanku tidak akan lebih buruk dari masa lalu.”

Sejenak ia memandang tubuh molek Nyi Gandung Jati dari samping, dan yang didapatinya adalah kulit yang halus dan wajah yang mulus. Tidak seperti perempuan yang telah melahirkan, pikirnya. Untuk tarikan napas berikutnya, muncul keinginan untuk membuat perbandingan. Pandan Wangi tidak mempunyai kekurangan yang tidak dapat dimaafkan, segalanya adalah hal-hal yang wajar. Tapi di dalam diri Nyi Gandung Jati, sesuatu yang hebat begitu kerap melanda hatinya. Hanya oleh sebeb mereka melakukan perjalanan bertiga, maka keduanya harus dapat meredakan setiap gelora.

“Pertemuanku dengan Pandan Wangi belum dapat dipastikan. Kami masih begitu jauh dari Gondang Wates. Ayahku? Biarlah tetap hidup dalam pikiran dan mimpinya,” katanya dalam hati. Lantas bagaimana dengan Sekar Mirah? Wajah dari murid Ki Sumangkar tiba-tiba muncul lalu menggempur perasaan Swandaru. Ini sebuah peringatan! Jantung Swandaru berdentang, tetapi ketika Nyi Gandung Jati menatap wajahnya, Swandaru berkata lirih, “Tidak ada halangan untuk sebuah kehendak darimu, Nyi. Aku dapat mengatasi perkembangan yang dapat terjadi setiap waktu.”

Swandaru berusaha menunjukkan bahwa ia masih mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, serta keyakinan sebagai seorang pemenang. Namun sorot tajam Raden Atmandaru yang berada di belakangnya tidak dapat dikelabui.  Orang yang bergelar sebagai Panembahan Tanpa Bayangan itu berkata, “Memang tidak ada yang boleh menunda atau menghalangi jalanku melihat-lihat kedalaman Sangkal Putung. Pada waktu ini, tentu Agung Sedayu tidak akan dapat memasuki pedukuhan induk. Engkau dapat berbuat sekehendakmu, begitu pula aku dan perempuan itu.”

“Baiklah, Raden. Kita masuki Sangkal Putung,” ucap Swandaru lalu pelan membedal kuda.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

5 comments

Ozhi Gunawan 11/09/2021 at 20:09

Matursuwun Ki atas wedaran nya

Reply
Ozhi Gunawan 11/09/2021 at 20:09

Matursuwun Ki atas wedaran nya dan
Makin penasaran

Reply
kibanjarasman 13/09/2021 at 22:05

Matur nuwun , Ki.
Butuh kesabaran lebih.
😀

Reply
Rahardjo 13/09/2021 at 14:52

Kepingin segera bacayg ,39..40.. dst nys

Reply
kibanjarasman 13/09/2021 at 22:06

wah sama dengan saya kalau begitu, Ki. Ingin cepat menyelesaikan lalu pindah ke bagian Sukra. 😀

Reply

Leave a Comment