Sepertinya Ki Garjita dan empat orang lainnya tidak keberatan dengan rancangan Ki Astaman, bahkan menyambut dengan sangat baik. Demikianlah mereka mempercepat langkah, menyusul Swandaru. Langkah mereka tidak serempak pada awalnya, tapi perlahan dapat menyatu, kemudian mempercepat untuk menyusul sosok yang telah lebih dahulu menembus jalan menuju Gunung Kendil.
Puluhan langkah di depan mereka, Swandaru sudah membulatkan niat. Berkelana ke tempat-tempat asing untuk meluaskan wawasan dan mematangkan ilmu, pikirnya, juga belum tentu menjamin dirinya semakin matang. Gunung Kendil memang bukan tempat yang akrab baginya, tapi setidaknya dia tidak lagi sekadar berjalan tanpa tujuan.
Karena pertimbangan sepeti itu, Swandaru akan langkah lebih berhati-hati. Dia ingin mengenali medan yang akan dijadikannya sebagai sanggar. Swandaru sadar bahwa dalam keadaan seperti ini, jalan pulang sudah menjadi semakin sempit baginya. Gunung Kendil mungkin akan menjadi tempat baginya untuk melepaskan diri dari keterikatan dan ketergantungan pada nasib yang diturunkan padanya, calon pengganti ayahnya sebagai pemimpin di Kademangan Sangkal Putung dan pendamping Pandan Wangi ketika saatnya tiba untuk melayani Tanah Perdikan Menoreh.
Angin dari arah punggung Gunung Kendil berembus lebih dingin.
Swandaru berhenti sejenak, menajamkan pendengarannya. Derap langkah orang jelas tertangkap olehnya.
“Setidaknya aku tidak benar-benar sendirian,” gumamnya pelan.
Bayangan mulai memanjang meskipun belum sepanjang benda yang terpapar matahari,. Semak-semak semakin rapat dan semakin sedikit pula burung-burung yang melintas terbang. Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya Swandaru mencapai kaki Gunung Kendil.
Dia berhenti. Memandang sekitar dan sepertinya tanah lapang yang tidak begitu luas itu cukup baik dijadikan tempat bermalam.
Di belakangnya, enam orang pun turut berhenti.
Ki Astaman menggerakkan tangan, perintah tanpa suara dijalankan segera oleh empat orang
Tanpa menunggu perintah, Ki Wriaditan dan tiga pengikutnya segera berpencar. Mereka tidak lagi saling pandang seperti sebelumnya. Mereka bergerak cepat ke arah yang berbeda, mengumpulkan ranting dan kayu-kayu kering untuk api unggun jika malam telah tiba.
Suara ranting patah dan gesekan kayu mulai terdengar di sela-sela angin tapi Swandaru tetap berdiri di tempatnya. Dia sedikit memperhatikan Pikirnya, bukan dia yang menyuruh tapi tidak pula ingin melarang.
Beberapa saat kemudian, kelompok Ki Wiraditan kembali ke tanah lapang dengan kayu-kayu kering di tangan. Api dinyalakan tidak jauh dari Swandaru. Ketika nyala api unggun sudah sedikit mapan, empat orang itu kembali masuk ke dalam hutan. Mungkin mereka akan berburu atau hal yang lain, tapi itu sudah cukup untuk mengisi waktu dengan kegiatan.
Swandaru melirik sekilas, lalu kembali menatap lereng di hadapannya.
Ki Astaman dan Ki Garjita mengambil tempat tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak jauh. Mereka berdua duduk dengan sikap yang tenang, berbicara seperlunya, cukup untuk saling memahami tanpa menarik perhatian.
Udara dari lereng Gunung Kendil terasa lebih tajam. Dingin mulai merayap ketika orang-orang tampak sibuk menguliti beberapa ekor kelinci dan ayam hutan.
Swandaru menarik napas dalam lalu melangkah lebih dekat dengan api unggun sambil sekali-kali melihat kesibukan Ki Wraditan dan kawan-kawan. Tak lama, Swandaru berhenti lagi.
Swandaru lantas mengambil tempat untuk duduk, berjarak sekitar tujuh atau delapan langkah dari api unggun. Pandangan matanya menyusuri kegelapan yang mulai turun di antara pepohonan. Tempat itu masih asing. Tapi untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Sangkal Putung, dia tidak merasa kehilangan arah. Kabar kemenangan dari Raden Atmandaru, keberhasilan Agung Sedayu dan lain-lainnya mulai mengendap.
Ki Astaman dan Ki Garjita terlibat percakapan yang agak membutuhkan ruang berpikir tapi suara mereka cukup pelan.
Lebih dekat dengan api unggun, salah seorang kawan Ki Wiraditan melemparkan daging ke dekat api.
“Jangan terlalu dekat,” kata Ki Wiraditan.
“Biar cepat matang,” sahut orang itu.
“Cepat gosong juga,” timpal yang lain.
Mereka tertawa pendek.
Api berderak pelan.
Beberapa saat mereka makan tanpa banyak bicara.
“Dagingnya keras,” gumam seseorang.
“Lebih keras dari batu perkemahan.”
Kembali mereka tertawa lunak.
Tidak ada yang menanggapi. Hanya terdengar hembusan napas yang sedikit lebih berat dari biasanya.
Seseorang bangkit lalu bergantian menyodorkan daging kelinci dan ayam hutan pada Ki Astaman, Ki Garjita dan Swandaru yang duduk tidak jauh dari mereka. Murid Kyai Gringsing itu menerima bagiannya tanpa kata-kata.
“Cukup,” katanya ketika seseorang menawari daging yang berlebih.
Swandaru duduk tanpa banyak bergerak tapi pikirannya tidak benar-benar diam. Sejenak terlintas keinginan untuk menyamai Sedayu. Bukan sekadar dalam ilmu, tetapi juga dalam keteguhan yang pernah dilihatnya. Berdiri terdepan dalam waktu yang cukup lama menghadang jalur Raden Atmandaru yang banyak siasat licin dalam waktu yang panjang… lalu memilih jalan yang membuatnya berseberangan dengan banyak orang. Tentu bukan hal mudah, pikir Swandaru.
Swandaru menarik napas panjang.
Pikiran itu datang, tapi antara dirinya dan Agung Sedayu sudah jelas mempunyai jalan yang berbeda. Swandaru cukup paham bahwa jalan itu bukan miliknya.
Yang tersisa kemudian adalah keinginan yang lebih menggetarkan hatinya. Dia berpikir untuk melatih diri di Gunung Kendil yang sunyi. Menyusun kembali yang pernah diajarkan oleh gurunya, mengingat kembali yang masih dapat diingatnya dari kitab Kyai Gringsing. Tidak ada yang bisa diandalkan selain itu.
Namun ingatan itu tidak datang sendiri karena muncul kemudian bayangan tentang pencurian. Cepat dan sangat mengganggu.
Swandaru mengerutkan kening. “Biarlah, ada waktu yang mungkin akan disediakan untuk mencari,” katanya dalam hati. “Atau mungkin bahkan aku tidak akan lagi mencarinya.”
Biarlah lewat, pikirnya. Latihan adalah satu-satunya jalan yang masih bisa dipegangnya dan dijalani sebagai bentuk bakti pada gurunya, Kyai Gringsing.
Di luar itu, semua urusan ada jalur masing-masing untuk penyelesaian.
Ternyata sudah dua atau tiga hari berlalu tanpa ada orang yang sadar menghitungnya ketika Swandaru dan orang-orang mantan anak buah Raden Atmandaru berada di sekitar lereng Gunung Kendil. Meski demikian, antara Swandaru dan mereka belum banyak berbicara selain hal-hal mendasar.
Di sisi lain, Ki Astaman menyibukkan diri dengan melatih Ki Wiraditan dan tiga temannya. Ki Astaman tidak mengajarkan ilmu dari jalurnya tapi menata dan membenahi tata gerak yang dianggapnya belum cukup memadai.
Pada suatu pagi yang berkabut tipis, ketika embun masih menempel pada ujung-ujung rumput dan dedaunan, seseorang tampak mendekati tanah lapang yang menjadi permukiman Swandaru dan orang-orang.
Sekilas tanah lapang itu tampak tenang, tetapi itu adalah suasana yang menipu.
Swandaru duduk bersila di tempatnya, tidak jauh dari bekas api unggun yang tinggal arang. Matanya setengah terpejam, tetapi pendengarannya bekerja sangat baik. Dia dapat memperkirakan jarak orang-orang bergerak di sekitarnya dengan kesibukan yang wajar.
Ki Astaman berdiri sedikit menyamping dari kelompok, mengamati gerak Ki Wiraditan dan kawan-kawannya yang sedang berlatih. Sesekali dia memberi isyarat kecil, membetulkan langkah atau arah ayunan tangan. Tidak banyak kata, tapi cukup untuk membuat gerak mereka lebih tertata.
Angin melewati gundukan-gundukan tanah sebelum benar-benar tiba di permukiman Swandaru. Dia sepertinya sedang membawa berita yang tipis tapi tidak rapuh.
Dari arah selatan, muncul suara yang cukup jelas tapi tidak gerakan yang mudah ditangkap mata.
Swandaru membuka mata.
Ki Astaman berhenti memberi aba-aba.
Ki Garjita menoleh perlahan ke arah semak di sisi selatan tanah lapang.
Di balik rapatnya semak dan batang pohon, seseorang bergerak.
Ki Hariman muncul tanpa terduga oleh Ki Astaman maupun Ki Garjita. Ki Wraditan,yang juga mengenalnya, memandang tajam pada orang yang baru datang itu. Tapi Ki Hariman tidak langsung memasuki tanah lapang. Dari jarak yang cukup, dia berhenti lalu mengamati. Mengapa di tempat ini banyak wajah yang sudah dikenalnya dengan baik? Dia bertanya dalam hati.
Pandangan Ki Hariman kemudian berhenti pada satu titik, Swandaru.
“Aku tidak mengenalnya, tapi ada Ki Garjita,” ucap Ki Hariman dalam hati. “Mungkinkah dia itu yang bernama Swandaru?”
