Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 74 – Rencana: Swandaru versus Ki Hariman

Prastawa datang tidak lama berselang. Langkah kakinya agak terburu-buru seperti sedang menahan sesuatu di dalam perasaannya.

“Apakah dua pengawal tadi membuka sedikit isi laporan?” tanya Ki Gede ketika Prastawa telah mapan dengan sikapnya.

Prastawa mengangguk tenang tapi sorot matanya tidak dapat menyembunyikan kecemasan dalam hatinya.

“Ada kegiatan lagi di Gunung Kendil tapi Ki Rangga sedang tidak berada di tempat,” ucap Prastawa, “saya kira kita membutuhkan sedikit waktu sebelum bertindak.”

Ki Gede mengangguk. Gelisah yang memancar dari wajah dan mata keponakannya itu tampak begitu jelas. Yah, itu jelas keadaan yang sulit. Dampak dari gerakan makar Raden Atmandaru belum benar-benar sirna dari Tanah Perdikan. Banyak orang yang berhubungan baik dengan rakyat Tanah Perdikan, tapi sebanyak itu pula yang tiba-tiba memutar badan, mengangkat senjata.

“Sedikit kejanggalan adalah pusat kegiatan itu ada di atas tepat bekas perkemahan Raden Atmandaru,” ucap Ki Gede.

Prastawa menimbang lalu mengukur beberapa kemungkinan yang tersedia di dalam benaknya.

“Jika mereka adalah orang-orang baru, mereka tidak akan  memilih tempat itu tanpa alasan,” katanya akhirnya. “Jika itu orang lama… maka mereka kembali dengan tujuan.”

Ki Gede mengangguk pelan.

Waktu mengapung perlahan hingga malam datang menjelang.

Dari arah regol halaman terdengar suara bertegur sapa. Suara dari orang-orang yang cukup dekat dengan kehidupan mereka. Ki Gede dan Prastawa segera mengetahui kedatangan Ki Demang Brumbung dan seorang lagi.

Dua orang tampak kemudian berjalan berdampingan: Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Sora Sareh.

Ki Gede menyambut mereka dengan tenang.

“Silakan, Ki Sanak berdua,” katanya singkat tanpa mengurangi rasa hormat yang biasa ditunjukkan olehnya.

Mereka duduk di pringgitan. Prastawa tetap berada tidak jauh, mengambil tempat di sisi yang tidak mencolok.

Dua pemimpin pasukan khusus itu lantas mengungkapkan cuaca yang agak hangat dalam waktu belakangan ini. Sejenak, mereka bertukar kabar mengenai tahanan dan bahan pangan untuk mereka.

“Barangkali kami dapat membantu sedikit dari yang kami punya, Ki Demang,” kata Ki Gede Menoreh.

“Inilah, Ki Gede mengatakan sedikit tapi yang datang bisa sebanyak lima belas pedati dan cukup hingga masa panen mendatang,” sahut Ki Demang Brumbung lalu tersenyum.

Sekejap kemudian, ada perubahan wajah dari Ki Gede. Dia berkata, “Ada laporan dari pengawal pedukuhan mengenai kegiatan di lereng Gunung Kendil baru-baru ini.”

Ki Demang Brumbung bertukar pandang dengan Ki Lurah Sora Sareh. Kening mereka tampak mengerut. Ki Demang Brumbung lantas berkata, “Kami belum menerima laporan itu, Ki Gede.”

“Beberapa orang-orang berlatih kanuragan. Teratur.”

Suasana terasa agak menyelam lebih dalam.

Ki Lurah Sora Sareh perlahan mengangkat wajah. Ada sesuatu yang lantas muncul dalam benaknya.

“Meski cukup jauh dan mungkin tidak mempunyai hubungan,”  katanya hati-hati, “apakah latihan itu bisa dikaitkan dengan para bebahu Dusun Benda yang tampaknya mulai jarang terlihat di pedukuhan induk.”

Ki Gede menoleh padanya. “Beberapa orang mengatakan pada saya dan kita dapat berharap Dusun Benda tidak mempunyai kaitan dengan Gunung Kendil.”

“Ki Wedoro Anom,” lanjut Ki Lurah Sora Sareh, “sering terlihat di Dusun Benda. Bahkan… beberapa orang mengatakan dia lebih sering berada di sana daripada di barak.”

Tarikan napas Ki Gede cukup jelas terdengar. “Memang itu adalah keadaan yang janggal tapi jika beralasan mungkin dia sudah menempati sebuah rumah di sana, itu juga sulit dinalar meski tidak ada kewajiban harus tinggal di dalam barak.”

Ki Demang Brumbung menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Sepertinya dia memang sengaja menempatkan diri sedikit di luar pengaturan seperti yang lain.”

Ki Gede tidak segera menanggapi karena semuanya belum tampak jelas terhubung satu sama lain. Gunung Kendil. Dusun Benda. Ki Wedoro Anom.

“Sambil menunggu kedatangan Ki Tumenggung Agung Sedayu, saya akan memperluas wilayah perondaan untuk bagian utara pedukuhan induk,” kata Ki Demang Brumbung beberapa saat kemudian.

Setelah mengatur napas, Ki Gede lantas berkata, “Kami dapat membantu untuk merapatkan giliran. Jika pasukan khusus secara rutin meronda pada pagi atau malam, kami akan mengisi di antara waktu itu.”

Dia berhenti sebentar, lalu berkata lagi, “Prastawa akan lebih rapat berhubungan lagi dengan barak pasukan.”

Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Sora Sareh mengangguk. Mereka sepertinya sepakat dengan rencana Ki Gede yang jelas dapat diharapkan membawa perubahan dalam waktu dekat, setidaknya laporan yang teratur tentang segala kegiatan di lereng Gunung Kendil.

Perselisihan Kanuragan di Lereng Gunung Kendil

Masih dalam kurun dua minggu yang sama dengan kesibukan Agung Sedayu merancang pengembangan barak pasukan khusus, Ki Astaman benar-benar menemui Swandaru.

Dia datang dengan sikap yang wajar, bahkan mungkin terkesan dingin. Meski begitu, sorot matanya memperlihatkan kecermatan berhitung yang dilambari pertimbangan yang cukup masak. Mungkin pertemuan itu seolah pertemuan biasa yang memang sudah waktunya terjadi.

Swandaru berada di samping parit dangkal yang mengalir searah dengan turunan lembah. Kelihatannya dia baru selesai menutup latihan. Tubuhnya tegak, kepala tengadah, cambuknya menjuntai tenang di atas rerumputan yang tercerabut dari akarnya.

Ki Astaman mendekat. “Swandaru,” sapanya perlahan.

Swandaru menurunkan wajah, menoleh kemudian mengangguk.

Orang yang datang ke Tanah Perdikan sebagai bantuan penting saat Raden Atmandaru giat menggalakkan makar ini lantas berdiri di samping Swandaru.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” kata Ki Astaman tanpa basa basi. Suaranya meluncur tegas dan begitu tajam.

 “Katakan.”

Ki Astaman tidak langsung bicara. Dia mengedarkan pandangan, memutari sekeliling sebentar seakan ingin mengamati suasana latihan yang dilakukan Swandaru seorang diri. Lalu suaranya merendah.

“Yang akan saya katakan ini barulah sebuah dugaan meski bukti sudah ada,” ucap Ki Astaman.

Swandaru memandang tanah yang dipijaknya tanpa kata-kata.

“Latihan-latihan di Gunung Kendil ini, hampir seluruhnya bersumber dari penggunaan benda lunak sebagai senjata. Dan itu akan menjadi sesuatu yang memang dapat dikembangkan lebih jauh jika dibandingkan penggunaan pedang, tombak atau yang lain,” kata Ki Astaman.

“Aku dapat melihat itu,” sahut Swandaru dingin.

“Kedudukan akan semakin kuat bila Ki Swandaru berkenan untuk melihat kembali isi kitab Kyai Gringsing.”

Swandaru cepat menoleh, memandang Ki Astaman dengan tajam. Mengapa orang ini tiba-tiba menyebut kitab Kyai Gringsing di depannya?

“Ki Sanak cukup lama berputar-putar,” kata Swandaru.

“Mungkin saya bukan orang yang dapat dipercaya karena pernah bergabung dengan Raden Atmandaru,” lanjut Ki Astaman meski dia pun tahu bahwa Swandaru pun pernah berjalan di belakang nama itu. Tapi menyinggung masa lalu sudah jelas bukan sikap yang bijak.

Swandaru bergumam saja karena dia tahu ucapan itu itu seakan juga ditujukan pada dirinya. Tapi tidak perubahan berarti di wajahnya.

“Cukup nyata dan sudah cukup bagi saya untuk menilai bahwa kitab itu berada di tangan Ki Hariman,” terang Ki Astaman. Dengan  gerakkan tangan, dia seakan mengulang yang dilihatnya dari tata gerak Ki Hariman yang dipantaunya selama beberapa hari belakangan ini.

Rahang Swandaru mengeras! Namun begitu, dia tahu tetap harus dapat menahan diri hingga segalanya menjadi cukup terang untuk diselesaikan.

Ki Astaman menatapnya lurus. Dengan perlahan dan tampak hati-hati memilih kata, dia berkata, “Tidak mungkin saya akan mengatakan, ‘marilah, kita lihat sisi baiknya’. Itu jelas ungkapan bodoh yang Anda dengar sekarang dan selamanya.”

“Bagaimana… Apakah dia mempunyai nyawa rangkap seperti orang-orang Perguruan Kedung Jati di masa lalu hingga berani berdekatan denganku?” kata Swandaru sambil menggeram.

Ki Astaman menggeleng, lalu berkata dengan nada hormat dan merendahkan diri, “Dia tidak akan dapat menguasai kitab itu tanpa petunjuk langsung dari Anda, Ki Swandaru.”

Swandaru mendengus. Orang yang berbahaya, pikirnya mengenai Ki Astaman. Lalu ucapnya, “Bagaimana kau tahu tentang hal itu? Sudah jelas bukan urusanku dan jangan pernah berharap aku bertanya caranya padamu.”

Tubuh Ki Astaman sedikit merendah. “Tentu saja itu hanya perkiraan orang kasar semacam saya. Dan sudah seharusnya Ki Swandaru terjaga dari hal-hal semacam itu.”

Untuk sesaat Swandaru diam lantas berucap, “Pergilah.”

Pandang mata Ki Astaman membentur Swandaru sesaat, lalu wajahnya sedikit berubah. Katanya, “Saya harap Ki Swandaru berkenan untuk menegur orang itu sambil meminta kembali kitab Kyai Gringsing. Karena hanya Ki Swandaru saja yang berhak atas kitab tersebut. Di sisi lain, seandainya ada perguruan atau padepokan, itu pun sudah pasti menjadi hak Anda sebagai pimpinan puncak. Bukan orang lain meski sama-sama pernah berguru langsung.”

Tangan Swandaru mengepal dan bergetar seakan ingin mencekik  Ki Astaman yang tiba-tiba meniadakan hak Sedayu meski tidak secara langsung.

“Itu kejahatan yang besar,” kata Swandaru kemudian. “Mengabaikan Kakang Sedayu dalam urusan kitab dan hak padepokan… benar-benar tidak dapat diampuni.”

“Bukan, bukan begitu maksud saya,” sahut Ki Astaman. “Saat Anda memegang kitab dan orang-orang di sekitar Anda tekun menyadap ilmu dari sumber yang sama, tentu Ki Rangga Agung Sedayu tidak bakal merebutnya dari Anda. Ki Rangga adalah orang sangat jauh dari keadaan itu.”

“Lanjutkan.”

“Bahkan, saya menduga, yang dapat terjadi kemudian adalah Ki Rangga mendukung usaha Ki Swandaru mengembangkan segala yang ada di dalam kitab,” lanjut Ki Astaman.

Swandaru tidak berkata-kata tapi juga tidak ada bantahan darinya. Seandainya benar Ki Hariman sudah mendalami isi kitab gurunya, maka Ki Hariman bukan sekadar orang yang kebetulan berada di sini. Ada maksud dan tujuan tertentu, tapi mungkinkah yang tertentu itu adalah pertanyaan? pikir Swandaru.

“Untuk saat-saat yang akan datang, Ki Swandaru dan saya bukan lagi pengawas tunggal karena mungkin Mataram juga akan mulai mengirimkan orang ke tempat ini,” satu-satunya yang mengawasinya.” Ki Astaman menutup kalimatnya dengan tarikan napas panjang lalu menautkan jari tangan di balik pinggang belakang.

Swandaru masih tetap tidak berkata-kata. Apakah dia sedang mempertimbangkan sesuatu? Entah, tapi yang jelas dia tidak meminta waktu 

Matahari perlahan menanjak semakin tinggi ketika Swandaru bergerak, melangkah mantap menuju perkemahan.

Ki Astaman mengikutinya dari jarak yang cukup dekat.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 27 – Keheningan Maut

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 68 – Swandaru Dalam Pengamatan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 10 – Pertemuan Pandan Wangi dengan Ki Jayaraga

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.