Di dalam sebuah barak pasukan bayaran yang berjarak setengah hari jalan kaki dari induk kademangan, beberapa orang berdiam diri seolah membeku. Tampak Toa Sien Ting, Ki Wisanggeni dan Ki Sarwa Jala duduk melingkar dengan wajah tegang. Mereka baru saja mendapat laporan tentang peristiwa mencekam di Kademangan Grajegan. Mereka bertiga mempunyai pendapat yang berbeda tentang kericuhan itu.
Ki Wisanggeni dan Ki Sarwa Jala melihat tebing cadas yang sulit dilewati. Resi Gajahyana akan tegak berdiri menjadi benteng terkuat yang dimiliki Pajang. Selain itu, dalam diri Ki Sarwa Jala ada rasa enggan untuk berhadapan langsung dengan pemangku padepokan yang disegani di tanah Jawa. Sikap lurus dan tidak pernah memperlihatkan permusuhan dengan banyak pihak, menjadikan Resi Gajahyana sebagai satu pribadi yang sangat dihormati. Bahkan, Ki Sarwa Jala tidak mampu menemukan dalil kuat untuk menantang guru Bondan itu di medan perang.
Suasana berbeda hinggap di hati Ki Wisanggeni. Sekalipun dia tidak merasa kalah dalam perang di Sumur Welut, tetapi dia bertekad akan mengembalikan namanya. Dia memilih berada di barisan depan. Ki Wisanggeni masih menyimpan bara kebencian terhadap keturunan Ra Dyan Wijaya. Dalam satu pandangannya, Ki Wisanggeni beranggapan bahwa keturunan Jayakatwang lebih berhak melanjutkan kejayaan Kediri, bukan trah Kertanegara.
Toa Sien Ting dan kawan-kawannya pun berbeda landasan dalam menghadapi keadaan ini. Mereka berempat, pada mulanya, hanya berpikir untuk menjauh dari hukuman mati yang dijatuhkan Kaisar Tiongkok. Hanya itu, tidak ada yang lain. Namun keinginan Ki Juru Manyuran dan perkenalan mereka dengan Mpu Rawaja telah menambah alasan mereka. Saat ini, mereka menginginkan kedudukan tinggi dan mempunyai banyak pengikut. Dan menurut pemikiran mereka, tujuan itu akan mudah digapai karena laporan Tung Fat Cei.
Suatu ketika, setelah dia melawat beberapa pekan lamanya di Pajang, Tung Fat Ce berkata, “Keadaan prajurit Pajang tidak seperti yang terlihat di mata kita selama ini. Mereka nyaris dalam suasana yang sama seperti laporan para telik sandi Ki Juru Manyuran. Tidak ada latihan yang cukup berarti untuk dapat disebut sebagai angkatan perang. Para prajurit Pajang hanya mengadakan kegiatan untuk sekadar melemaskan urat syaraf mereka. Aku tidak melihat bahaya dari kekuatan yang disimpan oleh prajurit bodoh dari Pajang. Tidak ada sama sekali!”
Ketiga rekannya, saat itu, memandangnya tidak percaya. Toa Sien Ting kemudian berkata,” Bukankah kita mendengar kabar tentang sebuah padepokan yang kuat? Lantas, apakah kekuatan kita berempat dapat menahan mereka? ”
Tung Fat Ce mengelus janggutnya, “Padepokan itu akan menjadi urusan mereka.”
Dan sadarlah mereka, bahwa Tung Fat Ce akan menggeser kedudukan senopati yang ditempati kawan-kawannya dengan senapati pilihan Ki Wisanggeni. Senyum kemenangan segera hadir di raut wajah para pelarian Tiongkok itu. Mereka telah membayangkan satu pekerjaan mudah dengan hasil yang sangat besar. Mereka akan jauh dari gelanggang sabung nyawa yang akan tergelar tak lama lagi.
Mendadak seorang penghubung memasuki ruangan yang menjadi ajang berkumpul para petinggi mereka. Mengabarkan kedatangan Mpu Rawaja di barak.
Mereka bertiga memang menunggu Mpu Rawaja dan beberapa saat lagi akan bergabung di ruangan itu.
“Aku membawa kabar yang berbeda. Buruk di satu sisi, baik untuk bagian yang lain,” kata Mpu Rawaja setibanya di ruangan. Sejenak ia berpaling pada Toa Sien Ting. Lalu menatap Ki Sarwa Jala yang berada di sebelah kirinya.
Kemudian dia berkata, “Salah seorang teman kita dari negeri seberang terpaksa harus disemayamkan di kademangan.”
Tenggorokan Toa Sien Ting seolah terputus ketika mendengar berita buruk itu. Kemarahan yang luar biasa segera terlihat di raut wajah dan sorot matanya. “Chow Ong Oey adalah ksatria tangguh. Seorang pemberani dan aku akan mengambil nyawa pembunuhnya.”
“Tenangkan dirimu,” kata Mpu Rawaja dengan telapak tangan mengembang, “Chow mati di tangan Zhe Ro Phan. Tentu kau mengenal baik nama itu.”
Toa Sien Ting menggeram keras, ia memukul meja dan berteriak, “Aku akan menghukumnya!”
Tiga orang lainnya hanya diam seraya memandang Toa Sien Ting. Mereka sama berpikir bahwa Zhe Ro Phan tentu berkemampuan lebih baik dari lawannya. Sejenak kemudian, mereka mencatat Zhe Ro Phan sebagai orang berbahaya lain yang dimiliki Pajang selain Resi Gajahyana.
Sejumlah orang Pajang yang menjadi korban nyawa sama sekali tidak membuat mereka bahagia, karena tujuan utama mereka adalah menahan Bondan. Menempatkan Sumba Sena di bagian yang berada di antara panggung dan rumah Ki Juru, Chow Ong Oey menunggu di arah utara dan sebagainya, itu demi mencegah Bondan keluar dari kademangan hidup-hidup.
Dalam rencana Ki Juru Manyuran dan Mpu Rawaja, merebut kekuasaan Bhatara Pajang dapat dilakukan dengan menjadikan Bondan sebagai tawanan seumur hidup. Kedudukan Bondan sebagai penerus sah Bhre Pajang telah jelas akan menjadi penghalang besar niat mereka. Namun satu kehendak besar mendorong guru Bondan untuk kembali mendampingi muridnya, dan itu memupuskan harapan para perancang siasat.
Lantas, Mpu Rawaja memaparkan rencana selanjutnya, siasat pengganti dan jalan terakhir yang akan mereka tempuh.
Sima Menoreh
Di Kademangan Grajegan ketika kabut Resi Gajahyana telah lenyap, Siwagati meloncat dan memeriksa satu demi satu keadaan para pengejar Bondan. Sumba Sena mengikutinya lalu memberi pertolongan sekadarnya. Tidak ada luka-luka yang cukup parah diderita mereka, namun orang-orang itu masih mengalami kesulitan bergerak bebas. Tubuh mereka telah dapat bergerak meski tertatih dan patah-patah.
Penuh geram dan kekecewaam yang sangat dalam, Siwagati lantang berteriak, “Aku tidak tahu apa yang menjadi dalil kalian dengan memisahkan kami berdua. Tidakkan kalian dapat berpikir ulang jika setiap luka pada suamiku akan berbalas nyawa dengan kalian. Dan aku adalah orang yang akan mencabut nyawa kalian!”
Siwagati menuding wajah setiap orang, termasuk Sumba Sena!
Lantas, dia memutar tubuh dan berlari mencari ayah ibunya. Siwagati menemukan mereka di bagian dalam rumah mereka yang megah.
“Bagaimana Ayah dapat bekerja sama dengan orang-orang jahat itu? Tidakkah cukup bagi ayah mendapat kemuliaan sebagai besan seorang adipati? Tidakkah Ayah sedikit saja berterima kasih pada Sang Hyang dengan hubungan kekeluargaan dengan raja Majapahit? Jawab, Ayah!”
Namun Siwagati ternyata tidak memberi waktu bagi ayahnya untuk menyodorkan tanggapan.
“Lalu sekarang, saya akan berseberangan dengan suami saya. Ayah seperti apakah ini yang meletakkan putrinya, anak perempuan yang baru dia nikahkan, anak gadis yang untuk sesaat dapat mengerti arti cinta, ke tempat asing untuk menjadi lawan bagi suaminya? Jawab, Ayah.
“Atau Ayah sengaja ingin menjadikan saya sebagai anak durhaka dengan menentang kehendak Ayah? Oh, Tuhan, Mahadewa atau siapa pun Engkau, benarkah Kau menciptakan orang sekejam ayahku ini?”
“Diam, Siwagati!” nyaring suara Nyi Juru memenuhi ruangan.
“Tidak, Ibu! Saya tidak akan diam sebelum ayah mengatakan sejujurnya. Walau saya tahu Ayah tidak akan berkata benar tentang persoalan ini.”
Siwagati berpaling pada Ki Juru Manyuran dengan tatap mata tajam, “Apakah saya berkata benar, Ayah?”
“Siwagati! Bagaimana kau dapat berteriak pada ayahmu? Ayahmu hanya inginkan kebahagiaanmu, Ngger!” Nyi Juru bergeser tempat, mendekati Siwagati yang tengah diliputi badai ganas.
“Ibu! Ibu tidak menyaksikan Kakang Bondan dilempari anak panah selagi saya masih berdiri di sampingnya, dan itu kami masih di atas panggung pengantin! Ibu tidak melihat Kakang Sumba Sena berusaha memburu suami saya untuk membunuhnya. Ibu tidak berada di dua tempat itu.” Siwagati menatap dingin Nyi Juru Manyuran.
Seketika Nyi Juru kehilangan suara! Lehernya tidak lagi bertulang saat mendengar penuturan Siwagati! Dia membelalakkan mata ke arah suaminya.
Sorot mata yang tidak dapat diungkap dengan kata-kata memancar dari pandangan Ki Juru Manyuran.
“Diam di tempatmu! Jangan melangkah keluar batasan, Nyi!” tegas Ki Juru dengan wajah dingin dan suara datar. Bila ada orang yang melihat raut muka Ki Juru Manyuran, mungkin dia akan menilai bahwa Ki Juru Manyuran merupakan manusia tak berjantung.
Sesaat, sinar kebencian menyala di balik dua bola mata Ki Juru. Tetapi dia begitu cepat menguasai diri.
