“Kita bermalam di sini, Nyai?” tanya Kinasih pada Pandan Wangi.
Perempuan yang ditanya pun mengangguk, lalu katanya, “Benar.”
Kinasih mengamati suasana di sekitar mereka ketika cahaya matahari mulai kehilangan daya pancar menembus rintangan daun dan ranting.
Pandan Wangi melihat sikap Kinasih dan seakan mengerti isi pikiran gadis itu, kemudian dia berkata, “Kita berada di belakang rumah Ki Gede Menoreh.” Pandan Wangi berdiri lalu menunjuk pada arah bentangan sawah dan pekarangan di depan mereka sambil berkata, “Jika kita berjalan kaki menyusuri pematang, setelah persawahan itu, maka selanjutnya adalah pekarangan belakang rumah beliau.”
Untuk orang yang kerap mengembara, maka bermalam di bagian belakang rumah sudah tentu menjadi keanehan. Demikian pula yang dipikirkan oleh Kinasih, tapi dia tidak bertanya alasan Pandan Wangi memilih tempat itu. Pasi ada alasan yang sangat kuat, begitu kesimpulan gadis yan gmenjadi murid tunggal Nyi Banyak Patra tersebut.
Pada waktu itu, Pandan Wangi sudah dapat menduga jalan pikiran Kinasih tapi dia tidak merasa perlu untuk menerangkan alasannya. Justru Pandan Wangi mengajak Kinasih bicara hal-hal lain untuk mencairkan suasana. Bagaimanapun, setitik penasaran yang hinggap dalam hatinya terkadang cukup mengusik. Namun, balik pada keadaan genting yang mengancam Tanah Perdikan, Pandan Wangi tidak berdaya menyingkap isi hatinya di depan Kinasih.
Tiba-tiba Kinasih terdengar menghela napas panjang. Pandan Wangi berpaling cepat padanya lalu bertanya, “Ada apakah, Cah Ayu?”
“Seperti aneh saja, Nyai. Bukan seperti tapi benar-benar aneh,” jawab Kinasih. “Selama saya berada di Tanah Perdikan, suara kentongan sebagai penanda waktu kerap terdengar. Awalnya saya tidak terbiasa karena tidak terbiasa dengan suara kentongan yang kerap menggema. Saya tanyakan itu pada pelayan dalam, maka bertambahlah pengetahuan saya.”
“Lalu, secara tiba-tiba tidak ada lagi kentongan yang terdengar dalam sehari atau dua hari ini. Begitukah?”
Kinasih mengangguk lalu membenahi tali pengikat rambutnya.
Pandan Wangi terkesima dengan gadis itu. Pemandangan yang luar biasa, pikirnya. Maka tak heran bila akan banyak orang yang mau bekerja keras demi mengisi hatinya. Segalanya seperti menjadi lukisan alam yang menyatukan batu karang, air terjun, gunung-gunung dan mungkin juga burung yang sedang melayang sebagai tanda kehidupan yang sedang berdetak. Semuanya ada dalam diri Kinasih. Oh, betapa sayang Yang Maha Welas padanya, puji Pandan Wangi. Kemudian dia melihat ke dalam dirinya, patutkah berdampingan dengan Kinasih pada suatu keadaan?
Serombongan manuk emprit terbang melintas di atas mereka. Tampak langit sedang dirambati warna jingga dengan semburat awan tipis di bawahnya.
“Sebaiknya tidak ada nyala api, Cah Ayu,” ucap Pandan Wangi saat Kinasih beranjak seperti akan membuat api unggun.
Kinasih memandang Pandan Wangi sambil mengerutkan kening.
Pandan Wangi menggeleng, lalu melanjutkan keterangannya, “Kita tidak sedang berkemah untuk menikmati pemandangan, tapi untuk penjagaan.”
Kinasih tampak berpikir makin keras.
“Ini adalah tempat yang aku lewati bersama Ki Rangga ketika kami kembali dari Sangkal Putung beberapa waktu lalu,” terang Pandan Wangi. “Ki Rangga mencurigai tempat-tempat yang dapat dijadikan awal serangan oleh kawanan pemberontak itu. Dan, di sinilah kita berada untuk sepanjang malam.”
“Hingga beberapa hari ke depan?” Kinasih melanjutkan sambil menebak-nebak.
Pandan Wangi mengangguk, kemudian berkata, “Bila itu diperlukan.”
Hampir setiap orang yang mendapatkan kepercayaan dari Agung Sedayu ternyata berada dalam keadaan yang sama ; menunggu dengan penuh ketegangan! Meski sepintas senapati Mataram itu sedang berjudi dengan Raden Atmandaru, tapi sebenarnya segala yang dirancangnya memang cukup jauh dari jangkauan nalar kebanyakan orang.
Kediaman Ki Gede Menoreh memang cukup jauh dari tempat Raden Atmandaru membangun perkemahan di lereng Gunung Kendil. Tapi bagi orang yang sudah mengenal medan dan mempunyai kemampuan berkuda di atas rata-rata, maka jarak dan halangan akan menjadi tidak begitu berarti lagi. Lebih-lebih jika penunggang kuda itu menyimpan kemampuan kanuragan yang hebat, maka mencapai jantung pedukuhan induk lalu menikamnya dengan cepat dapat menjadi sesuatu yang mudah dilakukan.
Menempatkan Pandan Wangi dan Kinasih di tepi hutan yang permukaan tanahnya penuh gundukan sepertinya menjadi keputusan yang tepat. Memasangkan dua singa yang berbeda usia dapat menjadi senjata rahasia bagi Tanah Perdikan Menoreh. Bila kehebatan Pandan Wangi sudah sangat tersohor seantero Mataram, bagaimana dengan Kinasih? Murid Nyi Banyak Patra itu seolah sedang disiapkan Agung Sedayu menjadi ledakan hebat yang mengejutkan. Keberadaan Kinasih di Tanah Perdikan pun tidak banyak diketahui orang. Hanya sedikit orang yang pernah melihat keberadaan gadis itu di lingkungan rumah Ki Gede.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Tidak ada panah sendaren maupun sabut kelapa yang basah dengan minyak di sekitar Pandan Wangi maupun Kinasih. Agung Sedayu meminta mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang menarik perhatian lawan. Gaung panah sendaren dapat menjangkau jarak yang cukup jauh dan itu berarti pemberitahuan bagi lawan mengenai suatu keadaan. Nyala api dari batang panah pun dapat dilihat pengamat yang dikirim Raden Atmandaru, dan akibatnya juga sama ; mengundang perhatian serta dapat membawa kerugian bagi Tanah Perdikan. Agung Sedayu meminta secara khusus pada Pandan Wangi untuk melakukan segalanya dengan senyap. Bahkan seandainya terdesak dalam perkelahian, maka melepas ikatan lalu meninggalkan gelanggang pun dapat dilakukan. Mundur selangkah untuk langkah berikutnya yang tidak terukur, begitulah kira-kira pesan Agung Sedayu pada Pandan Wangi.
Dua perempuan kuat itu telah larut dalam keheningan alam. Mereka melebur keinginan dan angan-angan pada kepekatan malam yang riuh dengan suara tonggeret.
Pandan Wangi pun akhirnya merasakan keanehan seperti Kinasih ketika tak terdengar gurau para peronda yang kadang-kadang mencapai tempat itu pada hari-hari biasa. Dia tersenyum sendiri dalam gelap.
Adalah Kinasih yang pertama kali membuka mata ketika lamat-lamat pendengarannya didatangi kuda-kuda yang menderap cepat. Tapi dia menunggu aba-aba Pandan Wangi yang sudah mengangkat tangan memintanya bersiaga.
Mungkinkah kekhawatiran Agung Sedayu terjadi pada malam itu? Akankah Ki Gede Menoreh akan menjadi sasaran utama yang bakal dilenyapkan Raden Atmandaru sebelum menginjakkan kaki di pedukuhan induk? Kekhawatiran yang tidak diungkap terus terang oleh Agung Sedayu pada semua orang, tak terkecuali Pandan Wangi.
Namun Pandan Wangi bukanlah perempuan tanpa pengalaman dan bukan tak bernalar. Dia dapat meraba arah perintah Agung Sedayu tapi keraguan lebih banyak mendekam dalam hatinya hingga derap kaki kuda itu terdengar olehnya dan Kinasih.
“Kinasih,” ucap Pandan Wangi tegas.
“Saya, Nyai,” sahut Kinasih.
“Seberapa hormatmu pada tanah yang kau pijak sekarang ini?”
“Ada kehormatan dan kecintaan yang diajarkan guru saya pada setiap jengkal wilayah Mataram,” tegas Kinasih.
“Apakah bukan karena perintah Ki Rangga sehingga kau bersedia kehilangan nyawa di sini? Ingat, kemungkinan besar kita akan bertemu dengan orang yang kekuatannya setingkat dengan Nyi Banyak Patra atau Ki Rangga sendiri.”
“Atas perintah Ki Rangga atau bukan. Nyi Pandan Wangi mengajak saya dan saya sudah tetapkan diri ; apa pun itu, demi Mataram.” Ada nada penuh semangat yang mengiringi ucapan Kinasih itu.
Pandan Wangi mengangguk dalam-dalam dengan kebanggaan sekaligus kecemasan yang memeluk hatinya sangat erat. Mataram dan Agung Sedayu adalah dua bagian yang mustahil dipisahkan dari Kinasih!
Bagi Pandan Wangi, ucapan Kinasih seakan menjadi bara yang mampu menjaga keberanian Menoreh menghadapi tantangan udara dingin Merapi, bara yang mampu menahan terik matahari yang membakar perbukitan Menoreh! Kehormatan tanah pun menjadi harga yang harus dibayar dengan nyawa.
Tiba-tiba!
Pandan Wangi dan Kinasih bertukar pandang!
Derap kuda mendadak terdengar lebih ringan seolah penunggangnya terpental atau melayang!
Dua perempuan hebat itu makin tajam meruncingkan pendengara hingga mencapi desir kaki yang lebih berat tapi mereka dapat memperkirakan jumlah kuda. Ada satu orang yang terbang? Demikian pertanyaan dalam pikiran mereka yang harus dapat dijawab kurang dari lima kejap mata lagi!

