Malam belum juga surut ketika bunyi besi beradu menggema dari halaman luar kediaman Ki Gede Menoreh. Bukan satu titik. Bukan satu arah. Suara itu datang berlapis—dari regol depan, dari sisi pawon, dari belakang bangunan utama yang menghadap gelanggang perkelahian Pandan Wangi. Tidak seperti benturan di sisi utara yang teredam oleh pepohonan, pertempuran di kediaman Ki Gede pecah terbuka dan berlapis. Ini bukan serangan yang tergesa. Ini gelombang.
Tubuh-tubuh hitam bergerak cepat, menyelinap di sela tiang, melompat dari bayang ke bayang. Mereka bukan prajurit ladang. Bukan pula orang desa. Gerak mereka terlatih, senyap, dan mematikan.
Di sayap kanan kediaman, Sayoga menyerbu sejumlah penyusup yang datang dari samping kediaman. Dia akan mempertahankan bagian itu seperti pesan Ki Prana Aji yang sempat bicara singkat dengannya. Tongkat kayu berbentuk pedang – senjata Sayoga – berputaran cepat menghadan pergerakan sekitar tiga atau empat orang yang seperti sedang mencari seseorang di dalam rumah. Tiga atau empat, jumlah itu tidak pasti karena regu pembunuh Ki Suta Jaladri bertempur dengan sangat lentur. Mungkin mereka mempunyai susunan gelar yang tidak ketahui Sayoga atau entahlah, malam itu bukan waktu yang tepat untuk membicarakan wawasan perang.
Di dalam pringgitan, Ki Prana Aji sudah berdiri dengan tombak pendek di tangan. Napasnya teratur, matanya tajam. Dia tahu halaman sudah pecah. Sayoga juga sudah terlibat dalam pertarungan yang menegangkan. Maka pintu pringgitan tidak akan lagi menjadi. Dia menyiapkan kejutan di sana.
Benturan lain terjadi sekitar pakiwan dan jambang. Dua orang penyusup menerobos pintu butulan. Seoang penghuni rumah menyambut dengan hantaman senjata yang disertai pula lambaran tenaga cadangan. Seorang terpental, tapi datang lagi berikutnya.
Pertempuran meluas sangat cepat. Merambah ke setiap bagian rumah Ki Gede Menoreh.
Dari arah belakang, belakang pendapa, dua pasukan khusus terpental. Seorang lagi nyaris tertikam sebelum sebuah bayangan yang menggetarkan datang-tiba-tiba dengan sabetan tongkat pendek yang menggelepar sangar.
Sayoga mendengar langkah berayun cepat dari arah belakangnya. Dia tahu penghuni rumah sudah bergerak pula. Maka tekadnya kemudian adalah menyelsaikan pertarungan secepatnya.
Demikianlah kemudian pertempuran di kediaman Ki Gede Menoreh berlangsung tanpa susunan gelar.
Nyaris sama pula dengan medan utara yang senyap. Seolah-olah setiap kebisingan atau desah kelukaan diserap habis oeh aura dingin semua orang yang bertempur.
Pasukan khusus benar-benar menjaga martabat. Mereka berkelahi tanpa suara. Setelah kekalahan di medan utara, berikutnya adalah tekad bertahan. Membalik keadaan? Itu sudah tidak terpikirkan.
Sayoga kesepian ketika tidak ada lagi penyusup yang menerobos daerah penjagaannya. Dia bergeser masuk, merapatkan diri pada kedudukan Ki Gede Menoreh. Pendengaran Sayoga menangkap kebisingan yang berlangsung singkat, maka langkah terayun lebih cepat.
Tanpa ada yang menduga atau membuat bayangan dalam benak masing-masing, dari sayap yang berlawanan arah dengan sayoga, Ki Suta Jaladri membuat tanda supaya ima atau enam orang segera masuk merebut simbol Tanah Perdikan.
Benturan menusuk di bagian tengah kediaman, tapi pertempuran telah berubah bentuk.
Tidak ada lagi garis jelas antara penyerang dan yang bertahan. Banyak tubuh membujur lintang, tergeletak di lantai yang dingin. Sebagian masih bergerak. Sebagian diam. Tidak cahaya suram yang membuat bayangan tampak lebih besar dari kenyataan karena pertempuran berlangsung dalam gelap.
Ki Prana Aji bernapas lega bahwa mereka semua adalah jasad regu pembunuh, tapi dadanya mendadak terasa sesak ketika pandangannya membentur sosok yang dikenalnya! DIa tahu karena perintahnya adalah pasukan khusus menjauh dari ruang tengah.
DI balik kelam itu, Ki Gede masih teguh di atas kakinya yang menyimpan luka lama. Tongkat pendeknya menjadi alat penyangga untuk berdiri. Sesuatu yang janggal seperti sedang terjadi pada pemimpin Tanah Perdikan tersebut.
Berikutnya, kurang dari tiga kejapan mata, Sayoga tiba di tempat yang sama. Matanya nanar menatap kebekuan yang melekat pada dinding ruang tengah.
Dia melihat Ki Gede terkulai. Bukan roboh seketika, melainkan duduk bersandar pada tiang, kepalanya menunduk, satu tangannya masih mencengkeram tongat pendek.
Suasana begitu gelap. Rembulan enggan melihat ke bagian dalam rumah Ki Gede Menoreh seakan tahu duka bakal turun menyapa bumi Menoreh.
“Ki Gede…” ucap lirih Sayoga. Dia berlutut, mencoba menopang tubuh itu lalu membaringkannya. Telapak tangan . Berat. Terlalu berat. Napas Ki Gede terdengar pendek, lalu tidak terdengar lagi.
Di sekitar mereka, pertempuran mereda sangar cepat. Ki Suta Jaladri bertarung rapat menghadapi tiga singa pasukan khusus. Sementara satu per satu anak buanya pun sudah menemukan ujung jalan masing-masing. Meski pasukan khusus banyak yang terluka, tapi keberadaan Sayoga dan penghuni rumah lainnya adalah senjata rahasia yang cepat memutar keadaan. Kekurangan menjadi kelebihan.
Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada teriakan duka. Hanya napas tersisa dan bau darah.
Keadaan itu, apakah karena Ki Gede terlalu cepat menjemput serangan regu pembunuh?
Orang-orang mulai berdatangan dari luar. Pengawal pedukuhan induk datang terlambat. Mereka berhenti ketika melihat dua orang keluar dari bangunan utama.
Ki Prana Aji berdiri kaku di atas anak tangga. Dia tampak terpukul. Ki Prana Aji tidak melihat tusukan pasti. Yang ia lihat hanyalah akhir seorang Ki Gede Menoreh.
Sayoga menunduk lama. Terbayang di balik matanya adalah tubuh ki Gede yang diam.
Mereka berdua dan seluruh pasukan khusus yang masih hidup menyerahkan segalanya karena mereka tahu karena turut dalam pertempuran singkat itu, tapi mereka juga tidak tahu segalanya.
Bisikan menjalar cepat. Ucapan orang merayap sangat cepat. Berita duka mempunyai jalan sendiri.
Jika Anda menyukai novel sejarah yang tidak sibuk memuliakan tokoh, Kitab Kyai Gringsing layak masuk daftar baca. Di dalamnya, tidak ada pahlawan utuh, hanya manusia dengan beban keputusan yang terlalu berat untuk diumumkan. Membacanya seperti menelusuri catatan pinggir babad Jawa yang pudar. Pelan, tegang, dan meninggalkan rasa ganjil yang bertahan lama setelah buku ditutup.
