Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 13 – Satuan Kecil Regu Intai Mataram

Sejenak kemudian, Sukra melangkah sambil mendesah napas panjang dengan kekaguman luar biasa pada kemampuan Agung Sedayu. Sesuai pesan senapati Mataram, Sukra pun mengajak serta seorang pengawal kademangan untuk memeriksa keadaan di depan mereka.

“Kakang,” kata Sukra pada Bunija. “Saya akan mendahului rombongan. Sepertinya kita harus lebih waspada dengan suasana gelap ketika melewati hutan.” Lantas dia mengungkap pesan dan perintah Agung Sedayu pada Bunija tanpa menyebut nama senapati Mataram itu.

“Oh,” gumam Bunija dengan tatap mata lurus pada Sukra. Pikirnya, tentu itu adalah perintah dari Ki Rangga Agung Sedayu. Dia menoleh pada anak muda yang berdiri sebelah menyebelah dengan Sukra dan Bunija tahu kemampuan anak itu. “Baiklah, kalian tetaplah waspada dan berhati-hati,” pesan Bunija kemudian.

Sukra pun bergegas mendahului iring-iringan. Sambil menenteng busur, Sukra berlari kecil ditemani seorang kawan. Sesampainya di tepi hutan, pengawal kademangan itu mengajak Sukra menerobos masuk lalu menempuh jalan setapak yang terlindung barisan pepohonan.

Sukra menyambut ajakan itu dengan alis berkerut.

“Percayalah, aku tidak mungkin menjebakmu. Kemampuanmu sudah jelas jauh lebih baik daripada semua pengawal kademangan. Lagipula, sebatang panah sendaren pun dalam genggamanmu,” ucap pengawal itu meyakinkan Sukra. “Cobalah berpikir sejenak, seandainya kita tetap berada di jalur itu, apa yang kita periksa demi keamanan rombongan?”

Setelah menimbang sejenak, Sukra berkata, “Masuk akal. Baiklah, mari kita masuk.” Walau ada kecurigaan karena para pendukung makar dapat menggunakan setiap kesempatan pada setiap waktu untuk mewujudkan hasrat, Sukra berusaha menguatkan hati dengan pertimbangan lebih baik dia terlebih dulu mendapatkan masalah tapi peluang rombongan dapat selamat menjadi lebih besar.

Sukra dan pengawal itu pun perlahan menyisir jalan setapak yang lebih mirip dengan lorong panjang itu. Segenap perhatian tertumpu pada pendengaran dan penglihatan yang serba terbatas di dalam hutan saat malam.

“Apakah kau mengenal lingkungan ini?” tanya Sukra setengah berbisik.

Pengawal itu mengangguk. “Ada apakah?”

Sukra tampak berpikir sebentar, kemudian mengarahkan telunjuk pada jalan berbatu, lalu menjawab, “Pada jalan itu, di bagian manakah yang dapat dianggap tengah-tengah?”

“Kita baru dapat menentukan bila sudah keluar dari lorong ini,” ucap pengawal kademangan.

“Baiklah, mari kita keluar sekarang,” ucap Sukra kemudian melompati sebatang akar yang menyembul keluar. Pengawal kademangan pun mengikutinya tanpa bertanya walau terbersit penasaran di dalam hatinya.

Saat mereka telah mencapai sisi luar jalan, pengawal kademangan itu berjalan sedikit ke arah Sangkal Putung kemudian berhenti di dekat batu hitam yang cukup besar. Dia berkata, “Biasanya orang-orang menganggap batu ini adalah bagian tengah. Mungkin karena kebanyakan mereka berhenti di sekitar sini untuk beristirahat atau keperluan lain.”

“Baiklah, kita tunggu iring-iringan di sini,” sahut Sukra.

Pengawal kademangan itu kemudian bertanya, “Mengapa kita tidak sekalian memeriksa hingga bagian depan?”

Sukra merasa tidak mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa Agung Sedayu telah berada di depan, maka dia pun menjawab, “Kita lakukan bagian per bagian. Maksudku, bila kakang Bunija telah tampak mendekat maka kita bergeser ke depan.”

“Oh, begitu rupanya. Baiklah, kita dapat beristirahat sebentar kalau begitu,” kata pengawal kademangan kemudian bersandar pada batu hitam lalu memandang persawahan yang hanya tampak bentangan gelap di depannya.

Samar-samar terdengar derit roda pedati yang ditarik dua ekor lembu dengan beberapa tahanan yang terluka parah di atasnya. Walau begitu, mereka berdua tidak dapat membuat perkiraan waktu tiba bagi rombongan Bunija untuk sampai di tempat itu. Mereka sadar jalanan berbatu serta keadaan sejumlah tahanan yang tidak mampu berjalan cepat adalah hambatan tersendiri.

Dalam waktu itu, dada para tawanan serasa akan meledak-ledak. Walau mereka nyata melakukan pembangkangan yang kemudian berakhir dengan kematian Simbara, para tawanan itu mempunyai harapan akan dapat bebas. Serba sedikit mereka tahu bahwa di depan telah ditempatkan sejumlah regu pemukul yang disiapkan salah satu orang kepercayaan Ki Garu Wesi untuk mendukung rencana Simbara. Jangkauan petugas sandi Ki Garu Wesi memang luar biasa sehingga gerakan Simbara pun terendus oleh pemimpin mereka. Jarak iring-iringan dengan Sukra pun semakin dekat. Bala bantuan sudah siap dan kebebasan juga menanti, pikir para tahanan itu. Demikianlah memang iring-iringan Bunija merayap maju membelah keadaan yang tak bersahabat. Wajah beberapa tahanan yang tertatih-tatih mendadak tampak berbinar, tapi itu tidak diketahui oleh para pengawal yang menjaga di sekitar mereka.

Agung Sedayu, yang sudah mencapai batas antara pategalan dan hutan, bersikap waspada. Ada kecurigaan di dalam hatinya ketika melihat tanaman pala pendem di pategalan itu tampak porak poranda.  Sejumlah tanaman seperti singkong, ubi jalar dan tales tercerabut dari akar dan berserakan. Pategalan itu berbatasan dengan pekarangan penduduk dan tidak ada jalan selain yang melewati tepi serta tersambung dari dusun sebelumnya. Itu bukan karena hama, pikir Agung Sedayu. Dia melompat masuk ke pategalan lalu melakukan pemeriksaan cepat. “Hmmm, bekas-bekas perkelahian atau setidaknya ada pengejaran yang memintasi pategalan ini,” kata senapati Mataram itu dalam hati. Dia tahu bahwa dirinya sudah memasuki wilayah pedukuhan induk Sangkal Putung. Agung Sedayu melempar pandangan agak jauh ke dalam dusun dan terlihat gardu dengan nyala api kecil di depannya. Beberapa penjaga sedang berdiri di depan emper gardu yang terletak di sisi utara jalan. Sikap mereka bersiaga meski terlihat seperti sedang mencari atau mengawasi suatu pergerakan. “Sedang terjadi apakah ini?” tanya Agung Sedayu di dalam pikirannya saat melihat beberapa bilah bambu terpasang melintang menutup jalan. Dia mengingat-ingat bila ada yang terlewat dalam perjalanannya ke ruas penghabisan. “Tidak ada yang aneh,” katanya pada diri sendiri. “Aku tidak melihat atau mendengar pergerakan saat menuju ke sini.”

Setelah berpikir sesaat, Agung Sedayu lantas menggeser kedudukan agar lebih  dekat dengan gardu peronda atau pengawal dusun. Dia berharap dapat mendengar serba sedikit percakapan mereka sehingga keadaan menjadi agak terang baginya.

“Apakah ini semua terkait dengan wafatnya Panembahan Hanykrawati sehingga kakang Dharmana memerintahkan kita memasang bambu di tengah jalan?” tanya seorang peronda pada kawannya yang sedang duduk di emper gardu.

“Bisa jadi seperti itu dan…,” jawab peronda yang duduk itu dengan bahu terangkat, “entahlah… Aku tidak dapat menebak atau berpikir lebih panjang. Sepertinya ada sesuatu sedang menutup pikiranku.”

“Benar,” sahut seorang peronda yang tubuhnya agak tinggi dan mengenakan ikat kepala berwarna gelap. “Aku setuju denganmu,”

Kemudian peronda pertama berkata, “Aku tidak mengerti maksudmu dengan kata setuju.”

“Maksudku adalah aku tidak berani menduga-duga sesuatu yang aku tidak tahu atau pahami,” ucap peronda yang bertubuh tinggi.

Kemudian peronda pertama yang mungkin ketua regu berkata, ”Bukan, bukan seperti itu. Yang kalian ungkap adalah perasaan atau pikiran, sementara maksudku adalah alasan kakang Dharmana.” Dia menarik napas sejenak, lalu berkata lagi, “Hanya saja, aku mendengar sedikit percakapan antara kakang Dharmana dengan seseorang yang mungkin prajurit Mataram atau petugas sandi.”

Dua temannya lantas memberi perhatian penuh pada peronda pertama.

“Jadi, kita diperintahkan memasang halang rintang karena beberapa orang atau kelompok, kabarnya, sedang membuat kerusuhan di dusun sebelah,” ujar peronda pertama.

Yang sedang mendengarkan pun manggut-manggut. Seorang dari mereka pun bertanya, “Adakah keterangan lain seperti asal kelompok itu datang?”

Peronda pertama menjawab dengan gelengan kepala. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia berkata kemudian, “Yah, sudahlah, apa pun itu, kita jalankan saja perintah kakang Dharmana demi kebaikan dan keamanan bersama.”

Keheningan pun menyergap mereka bertiga yang terlarut dalam angan dan pikiran masing-masing. Sebenarnyalah seperti yang dikatakan peronda pertama bahwa Dharmana mendapatkan keterangan mengenai adanya sekelompok orang yang dicurigai akan membuat rusuh. Maka sebagai salah satu penanggung jawab keamanan kademangan, Dharmana pun mengambil langkah-langkah yang diperlukan seperti menambah waktu perondaan dan penutupan jalan-jalan yang menghubungkan pedukuhan induk dengan wilayah lain.

Agung Sedayu cepat merangkai yang didengarnya dari percakapan itu di dalam pikirannya. Sesaat kemudian, senapati Mataram itu beralih tempat lalu tersadar bahwa jalur yang diperiksanya adalah jalan setapak yang berada di bagian dalam hutan. Lalu, bagaimana dengan persawahan yang tampak sangat gelap dan berseberangan dengan hutan itu? Mereka dapat saja sudah menempatkan bantuan untuk berjaga-jaga di antara batang-batang pisang yang tumbuh pada sebagian tanah persawahan, pikirnya. Namun demikian, pengerahan Sapta Pandulu ternyata tidak mengindra pergerakan sedikit pun. Seandainya memang ada bantuan dari Ki Garu Wesi melalui penempatan gugus tempurnya di persawahan, maka iring-iringan Bunija akan menghadapi keadaan yang cukup berat.

Seperti terbang, tubuh Agung Sedayu melesat sangat cepat melintasi jalan, sebidang sawah lalu mencapai sejulur pematang. Dari tempatnya, pemimpin pasukan khusus itu akhirnya dapat melihat beberapa titik yang memang tampak berbeda dan sudah pasti bukan tanaman yang rimbun karena rata dengan tangkup pematang. “Hebat! Siapa pun itu, mereka sudah pasti berada dalam pengaturan yang cukup cerdik,” puji Agung Sedayu dalam hati. Sekali lagi, terbayang olehnya para juru siasat yang memihak Raden Atmandaru.

Dalam pengamatan Agung Sedayu, daerah perbatasan itu banyak menyimpan keuntungan bagi kelompok pembangkan. Maka dengan ketajaman nalar dan kemampuan mengolah keterangan, Agung Sedayu menyiapkan rencana kilat yang sesuai dengan pesannya pada Bunija. Sekejap kemudian, pemimpin pasukan khusus itu melontarkan panah sendaren sebanyak tiga kali berturut-turut.

Lontaran panah sendaren dari Agung Sedayu benar-benar tidak diduga Sukra sama sekali. Anak Muda dari Menoreh itu tampak terkejut. Raut wajahnya terlihat pucat seperti sedang menatap sesuatu yang menggetarkan hati. “Ki Lurah?” tanya Sukra dalam hati dengan telapak tangan terangkat sebagai tanda agar temannya bersikap tenang. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh memandang jauh ke arah pedukuhan induk sambil ingin memastikan bahwa tidak ada lagi gaung sendaren susulan.

Kelompok peronda kademangan yang berjaga di ujung lorong pedukuhan terhenyak, lalu memandang pada arah sumber suara sambil bertanya-tanya, “Siapa yang melepaskan panah sendaren pada malam-malam begini?”

 

Padepokan Witasem mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir batin.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 86 – Kabut Hitam di Ujung Jalan

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 16 – Perpaduan Tempur Agung Sedayu dengan Sukra

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 92 – Bayang-bayang Alas Krapyak

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.