Dari balik batang-batang padi yang melindungi mereka, Ki Sujana pun memberi aba-aba agar pasukannya merayap maju. Mereka akan menyergap rombongan Bunija saat meletus benturan pertama. Dia dan pengikutnya dapat memanfaatkan keributan sebelum menarik pulang para tawanan. Parijoto, di mata Ki Garu Wesi adalah kekuatan yang terpendam dan dapat digunakan sebagai perpanjangan untuk memancing kerusuhan-kerusuhan di sekitar kotaraja. Oleh sebab itu, Ki Garu Wesi secara khusus memanggil Ki Sujana dan Ki Malawi dari Tanah Perdikan setelah Ki Sarjuma terwas dalam perkelahian melawan Sayoga.
Jarak antara penunggang kuda dan Sukra sudah dekat dan semakin dekat, Sukra bersiap sepenuh kekuatan. Ketika mereka masuk dalam jangkauannya, Sukra meluncur deras dan sangat deras! Tanpa rasa takut, Sukra menerjang lalu dengan lincah menyelinap di antara dua kuda yang sedang melaju tanpa takut pula! Dengan gerakan indah yang tidak terduga lawan-lawannya yang berada di atas punggung kuda, Sukra menggebrak barisan lawan. Dua orang terlempar dari kuda, sedangkan dua penunggang lainnya melaju melewatinya. Sedangkan pengawal yang menyertainya terpaksa harus melemparkan tubuh ke samping demi menghindari terjangan kuda.
Dua baris pelapis di depan rombongan Bunija tanggap dengan keadaan. Meski pengawal pertama tidak sanggup menghadang laju dua ekor kuda, para pengawal kademangan yang berada di lapisan berikutnya ternyata mampu menganggu aliran serang pertama itu. Mereka tangkas merebut tali kekang, lalu melakukan berbagai cara agar laju kuda tidak lagi lurus menghantam lingkaran Bunija. Kerja sama yang luar biasa itu memporakporanda para penunggang kuda, kemudian justru merekalah yang terkepung oleh pengawal Sangkal Putung!
Perkembangan itu membalikkan perhitungan Ki Sujana yang semula mengira cukup mudah menghabisi rombongan lalu merebut tawanan. Walau sebelumnya dia melihat ada dua orang yang berada di dekat batu hitam, tapi Ki Sujana menganggap mereka hanya pengawas biasa. Anggapan itu kemudian menghancurkan harapannya!
Tandang Sukra sangat ganas, bahkan mendekati buas! Melihat perkelahian itu, Ki Sujana teringat seorang anak muda yang pernah bertarung melawan Ki Sarjuma di perbatasan Tanah Perdikan. “Apakah mereka mempunyai hubungan? Seperguruan atau bagaimanakah?” dia bertanya pada dirinya sendiri.
Walau begitu, Ki Sujana lekas membesarkan hati karena keyakinan kuat dapat menundukkan pengawal kademangan pada malam itu di tepi hutan. Dia percaya bahwa dengan serangan kilat dan sangat kuat maka kekuatan pasukan pasti dapat melindas lawan. Jika pasukannya sudah terlibat dalam benturan, maka membebaskan tawanan dapat segera dilakukan, lalu mereka harus segera meninggalkan tempat. Ki Sujana pun memberi tanda agar pasukannya bergerak maju lebih cepat. Sekejap kemudian derap kaki mereka ketika menginjak tanah becek pun membelah hening malam. Pekik perang terdengar kemudian pada saat mereka melompati parit panjang yang menjadi pembatas persawahan dengan jalan.
Namun tanpa disangka-sangka oleh Ki Sujana dan kawan-kawan, tiba-tiba sekelebat bayangan memotong jalur mereka dengan gebrakan yang sangat hebat!
Agung Sedayu muncul dengan kedahsyatan ilmu yang sangat mengagumkan. Ki Sujana menggeram lalu memandang wajah senapati Mataram itu sorot mata penuh amarah. “Ini benar-benar iblis!” Orang ini mendesis dengan tatap mata lekat menyorot Agung Sedayu. Kemudian dia membentak, “Sebut nama dan asal usulmu!”
“Aku adalah orang yang tidak berkepentingan dengan serbuan orang-orangmu,” sahut Agung Sedayu dengan nada dingin dan datar.
Ki Sujana mengerutkan kening. “Jika kau tidak mempunyai kepentingan, pergilah!” usir Ki Sujana. Selanjutnya dia sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana pergerakan mereka dapat diketahui dan seolah-olah begitu mudah terbaca? Tapi, sekali lagi, orang yang dipercaya Raden Atmandaru itu tidak dapat menemukan jawaban atau membuat dugaan lebih jauh.
“Aku tidak dapat mendengar ucapanmu,” kata Agung Sedayu lalu menjejak kaki, menggebrak Ki Sujana dengan serangan-serangan yang sangat merepotkan.
Dalam waktu itu, Ki Sujana sadar bahwa dia dan pasukannya tidak akan mudah membebaskan para tawanan. Walau sempat terlintas dugaan dalam hatinya bahwa penghadang itu adalah Agung Sedayu, tapi dia harus cepat mengabaikannya. Agung Sedayu atau bukan, maka keadaan itu memaksa Ki Sujana tidak lagi menganggap perbedaan jumlah pasukan dapat menentukan hasil akhir. Tapi penghadang yang sedang menyerangnya serta dua lingkar pertempuran di dekat batu hitam pun akan dapat memengaruhi keberhasilannya.
Pada saat derap kaki melibas tanah berlumpur, pekik perang mulai bergema dan umpatan kotor memenuhi udara, pengawal kademangan telah bersiap. Semangat mereka menjadi berlipat-lipat ketika Bunija memberitahukan bahwa Agung Sedayu ada di tengah-tengah mereka. Sorak sorai suara pengawal kademangan pun pecah melantangkan nama pemimpin pasukan khusus itu!
Sukra mendengar nama Agung Sedayu disebut-sebut dengan keras. Tapi dia tidak dapat memanjangkan angan karena dua lawannya mengepung dengan sangat ketat. Sepertinya dua lawan Sukra itu tidak terpengaruh dengan kedatangan pemimpin pasukan khusus di dekat mereka. Tandang mereka pun meningkat tajam mengimbangi Sukra yang bertempur dengan trengginas dan lincah.
Bahkan salah seorang dari mereka berkata tajam, “Lebih baik kau bunuh dirimu sendiri. Agung Sedayu atau siapa saja yang kau andalkan, mereka semua hanyalah rumput kering di bawah kaki kami. Kembalilah atau segeralah menyerah!”
Sukra pun menguatkan tekanan walau dirinya dihujani serangan yang datang dari segala penjuru. Tongkat bambu di tangan Sukra bergetar hebat, mengayun silang, menebas datar lalu berputar-putar menutup diri hingga terkesan seperti perisai yang sangat sulit ditembus. Sekali waktu, Sukra meloncat ke samping dengan pola bersilang untuk mengurai serangan dua lawan yang terus mengalir cukup hebat. Bahkan Sukra dapat memanfaatkan kelebihannya dengan menganggu dua lawan yang sedang dihadapi oleh seorang pengawal kademangan. Walau begitu, Sukra merasa bahwa sepak terjangnya tidak akan dapat menjadi penentu. Tapi sejauh waktu itu, Sukra masih belum menemukan jalan keluar untuk menjadikan dirinya sebagai pemenang.
Kemampuan Sukra benar-benar tidak membuat Bunija khawatir sehingga pemimpin pengawal kademangan itu dapat mengatur gelar perang dengan baik. Apabila gelar pengawal terdesak karena kemampuan pribadi anak buah Ki Sarjuma, maka Bunija cepat membuat penyesuaian yang didasarkan pada tata dasar gelar perang itu sendiri. Keadaan seperti itu terus menerus terjadi dan seolah-olah menjadi bukti bahwa Ki Tumenggung Untara tidak salah memilih orang untuk memimpin dan dipimpin. Bila seseorang menyaksikan sendiri pertempuran yang melibatkan kelompok Bunija pada malam itu, maka kemungkinan yang muncul dalam pikirannya adalah mereka merupakan bagian dari pasukan khusus Mataram.
Secara keseluruhan, perlawanan ketat yang ditunjukkan Agung Sedayu, Sukra, Bunija dan kawan-kawan membuat pasukan Ki Sujana benar-benar jengkel dan geram. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa orang-orang Mataram mampu menandingi tekanan serangan demi serangan. Namun, di atas itu semua, mereka tidak memperkirakan bahwa kedudukan dan pergerakan mereka telah diketahui lawan.
Dalam pertempuran yang terpecah menjadi empat lingkaran, Ki Sujana terikat pertarungan sengit menghadapi Agung Sedayu. Dua orang berkemampuan tinggi itu saling serang pada tingkat di atas rata-rata. Mereka tidak melakukan penjajagan atau menimbang kekuatan lawan masing-masing. Karena, satu hal pasti di dalam benak mereka, setiap orang yang menerjungkan diri dalam perkelahian berarti memiliki keyakinan atas ilmu masing-masing, termasuk tingkatan yang mereka pahami. Maka, baik Ki Saujana maupun Agung Sedayu, tidak mau melewatkan setiap kesempatan atau kelengahan lawan. Mereka bertukar serangan. Sesekali melompat tinggi saling menjauh, lalu menggebrak lagi dengan gempuran-gempuran yang sanggup menerbangkan kerikil atau tanah becek di sekitar mereka.
Ki Sujana merasa bahwa dia tidak lagi dapat membagi perhatian antara keadaannya sendiri dan pasukannya. Meski hanya sekedar melepaskan pandangan sepintas tapi lawan yang dihadapinya bukan orang rendahan. “Ini bukan sebuah permainan, tapi pertaruhan yang dapat berakhir dengan maut. “Sesaat lagi penjaga pedukuhan dan peronda akan sampai di sini. Satu-satunya harapan agar tetap hidup adalah meninggalkan tempat ini,” desisnya dalam hati. Maka dia pun mengayun dua tangan dengan gerakan janggal sambil mengucapkan kata-kata yang bersifat rahasia dan hanya dipahami oleh pengikutnya saja.
Suitan melengking tinggi dari dua penunggang kuda yang menjadi lawan seorang pengawal kademangan. Beberapa kali mereka dapat melakukan itu karena perkelahian mereka tidak setegang seperti lingkar pertarungan Sukra.
