Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 32 – Perempuan yang Bernama Pandan Wangi

Pada malam Sangkal Putung dilanda kerusuhan, Pandan Wangi secara teratur mendapatkan laporan dari orang-orang yang diutusnya secara khusus mengamankan kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Dengan demikian, dia pun mengetahui kehadiran Agung Sedayu di pedukuhan induk.

“Akhirnya kakang Agung Sedayu dapat menjenguk putrinya,” desah Pandan Wangi dalam hati.

“Saya termasuk orang yang melihat sendiri Ki Rangga Agung Sedayu berada di sana dan bertempur bersama-sama para pengawal pedukuhan induk,” kata penghubung dari Jagaprayan saat memberikan laporan terakhir.

“Bagaimana dengan orang-orang kita?” tanya Pandan Wangi.

“Mereka tidak meninggalkan tempat,” jawab penghubung itu, ”meski agak mengkhawatirkan karena jumlah orang yang menghalangi pandang mata mereka terlampau banyak.”

Pandan Wangi menyembunyikan para pengawal yang dilatih secara khusus untuk menggunakan panah di tempat-tempat yang dikenalnya dengan sangat  baik. Dia memberi perintah bahwa anak panah harus dilepaskan jika para perusuh atau orang yang dicurigai kedapatan menerobos jarak batas pengamanan yang telah ditetapkannya. Namun keadaan itu tidak dapat terjadi karena Dharmana dan pengawal pedukuhan lainnya mampu bertahan pada batas jarak yang dikehendaki Pandan Wangi, meski mereka melakukannya tanpa ada pengetahuan untuk itu.

Sebenarnya petugas penghubung itu nyaris kelepasan bicara saat akan memberi tahu bahwa Swandaru pun berada di kediaman Ki Demang. Namun dia cepat mengatupkan kembali mulut yang hampir mengalirkan suara. Ada sedikit harapan padanya bahwa nyala oncor dapat mengelabui pandangan Pandan Wangi.

Namun  Pandan Wangi dapat menangkap perubahan air muka dan gelagat yang tanpa sadar telah diperlihatkan oleh petugasnya itu. Dalam pikirannya, Pandan Wangi sudah menduga bahwa itu ada kaitannya dengan Swandaru. Meski demikian, dia tidak ingin bertanya atau mendesak orang itu. “Biarlah, mereka tidak perlu tahu yang sebenarnya sedang terjadi di antara kami berdua,” gumam batin Pandan Wangi.

Setelah merasa cukup dengan laporannya, petugas penghubung itu lantas meminta diri pada Pandan Wangi. Perempuan yang kini dipercaya sebagai orang pertama pengawal pedukuhan kemudian mengatakan sesuatu diertai sorot mata penuh ketegasan. “Saya harus berterima kasih dengan semua laporan Paman,” ucap Pandan Wangi. “Seandainya tidak memberatkan Paman, saya ingin Paman melakukan sesuatu untuk saya.”

“Saya, Nyi,” sahut petugas penghubung yang sebenarnya berusia lebih sedikit dari Pandan Wangi. Tapi demi menghargai kedewasaan dan pengalamannya, Pandan Wangi cukup segan jika menggunakan sebutan kakang.

“Mohon untuk tetap sabar mengingatkan para pengawal yang lain agar tidak terlena dengan kemenangan kecil di pedukuhan induk,” kata Pandan Wangi. “Para pemberontak itu, mereka dapat mengalihkan pandangannya ke pedukuhan ini lalu melakukan hal yang sama dengan di sana. Bahkan, mereka dapat menjadi lebih jahat dan keji.”

Petugas penghubung itu menanggapinya dengan anggukan kepala. Sejenak kemudian, dia sedikit merendahkan tubuh kemudian berlalu dari tempat itu.

Sejurus waktu pun melayang dan Pandan Wangi masih berada di beranda rumah yang menjadi tempat pengendalian keamanan pedukuhan. Dia mengulang jalin hubungannya dengan Swandaru di dalam pikiran. Kenyataannya, banyak perempuan yang memang tertarik pada Swandaru. Barang kali karena sebab bahwa Swandaru akan meneruskan kepemimpinan di Kademangan Sangkal Putung. Bisa juga karena Swandaru mempunyai perbendaharaan yang berlimpah. Walau demikian, dirinya tidak ingin berpikir atau merasa bahwa para perempuan itu sengaja merusak rumah tangganya. “Bagaimana aku dapat mengatakan mereka adalah perempuan keji sedangkan suamiku sendiri rela membuka jalan untuk mereka?” tanya Pandan Wangi demi kebenaran yang diyakininya.

Halaman rumah begitu sunyi meski para pengawal sedang melakukan pergantian dari jaga dan perondaan. Langkah-langkah kaki dan suara mereka seakan sulit menembus udara yang mengelilingi rumah yang ditempati Pandan Wangi. Di antara mereka seperti ada dinding tebal yang tak nyata oleh pandangan mata. Yah, Pandan Wangi sedang berjalan pelan di lorong sunyi yang begitu lama telah ada di dalam hatinya. “Barangkali aku memang mempunyai banyak kelemahan yang tersembunyi tapi tak pernah aku sadari,” ucap Pandan Wangi dalam hati. Tapi, seperti apakah kelemahan itu? Seluruh tugas sebagai wanita telah dilakukannya sepenuh hati dan kekurangan itu pun pasti ada. Tidak ada tanah yang benar-benar kosong dari tanaman meskipun itu adalah padang pasir gersang, pikir perempuan yang kian hari semakin tegar membangun kekuatan dalam diri itu. Dia ingat ucapan beberapa orang tentang seorang perempuan muda yang pernah merengkuh Swandaru hingga lupa daratan. Tapi itu belum cukup untuk menghancurkan hati Pandan Wangi. Bertahun-tahun dia menyimpan ucapan itu seperti sedang memelihara benda-benda yang hancur karena peperangan. Menyakitkan dan menyesakkan tapi Pandan Wangi merasa wajib merawat itu semua. Tidak mudah dilupakan tapi memang sulit untuk memaafkan masa lalu. Itu seperti seperti rumah-rumah rapuh yang segera terbakar dalam sekejap mata tapi terlalu berharga jika dirobohkan begitu saja.

Perempuan mana yang dapat melupakan atau seolah-olah tidak terjadi kejanggalan yang melibatkan suaminya sementara sangat menyakitkan hati? Dalam jajaran pemimpin di Tanah Perdikan, Pandan Wangi termasuk salah seorang yang kerap menganjurkan untuk menggali kemampuan hingga batas puncak. Dia percaya bahwa untuk melawan kekuatan yang melampaui kekuatan sendiri hanya dapat dilakukan bila seseorang dapat mengenali batas diri, termasuk kelemahan yang tersembunyi. Dengan pengenalan dan pendalaman nilai atau pendapat seperti itu, Pandan Wangi berusaha tegar berdiri.

Dengan simpul pemikiran itu pula, Pandan Wangi mampu menjaga keselamatan Pedukuhan Jagaprayan padahal mereka dikelilingi dan juga dimasuki orang-orang suruhan Raden Atmandaru. Para pengawal pedukuhan sering melakukan latihan perang-perangan secara terbuka pada awal Pandan Wangi memegang kendali keamanan. Seiring waktu yang mengapung, setelah pemahaman satu sama lain menjadi semakin baik, Pandan Wangi berangsur-angsur mengurangi kegiatan terbuka. Latihan perang dilakukan dalam satuan atau regu yang beranggota sedikit orang di dalam rumah atau di halaman melalui beberapa permainan. Para petugas sandi Raden Atmandaru pun menyangka orang-orang pedukuhan sedang dilanda keganjilan luar biasa. Mereka menyaksikan para lelaki beragam usia bermain kejar-kejaran, adu ketangkasan dan kecepatan yang diatur melalui garis-garis lurus dan melengkung, bagaimana mungkin itu dilakukan dalam suasana tegang? Tapi Pandan Wangi dan para pengawal berhasil melakukan itu semua tanpa gangguan!

Dalam kesendirian itu, Pandan Wangi mendalami pergerakan para pesuruh Raden Atmandaru yang menyebar di sekitar Pedukuhan Jagaprayan hingga pedukuhan induk. Cara itu sepertinya berhasil memunculkan rasa gamang pada sebagian besar orang-orang Jagaprayan. Meski Pandan Wangi bekerja sama dengan para bebahu pedukuhan dan juga segenap ketua regu pengawal, tapi tampaknya belum benar-benar memberi rasa aman pada mereka. Oleh sebab itu, putri Ki Gede Menoreh tersebut memutuskan untuk memancing keributan dengan tujuan  mengganggu lawan. “Bila orang-orang dusun tahu bahwa para pengawal sudah siap dengan segala kemungkinan,  aku harap pekerjaan selanjutnya dapat menjadi lebih mudah,” ucap Pandan Wangi dalam hati dengan penuh harap.

Permukaan tanah Pedukuhan Jagaprayan masih tampak gelap ketika Pandan Wangi keluar dari masa istirahatnya. Setapak demi setapak kaki Pandan Wangi melangkah percaya diri menuju gardu jaga yang berada sedikit di belakang pembatas yang terbuat dari bambu. Seorang penjaga bergegas menyambutnya sambil menawarkan tenaga bila perempuan tangguh itu memerlukan bantuan.

“Lawan pasti mengetahui keberadaan penghubung yang berada di sini tadi malam,” kata Pandan Wangi.

Pengawal itu mengangguk.

“Ada berapa orang yang berjaga sepanjang malam tadi?” tanya Pandan Wangi. Tapi dia tidak memerlukan jawaban. Pandan Wangi menyusulkan perintah, “Minta mereka semua untuk datang menemuiku. Sisakan satu orang untuk tetap berjaga di depan.” Perempuan yang mendapat kepercayaan penuh dari Pangeran Purbaya itu pun segera memutar tubuh, mengarahkan langkah menuju teras rumah.

 

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 105 – Agung Sedayu Tertimpa Berita Palsu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 95 – Uji Nyali Dua Utusan

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 3 – Jebakan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.