“Tahan, sabar dulu Ki Lurah,” kata Ki Tumenggung Untara dengan sareh. Hukuman mati itu dapat diterima sebagai keputusna wajar jika kita memandangnya dari kedudukan Pandan Wangi atau kita adalah dirinya dalam keadaan sekarang.”
“Tapi tetap saja sulit dimengerti, Ki Tumenggung,” ucap Sabungsari tanpa berusaha membantah.
Ki Kertapati yang masih berdiam diri tapi menatap Sabungsari dengan pandangan penuh arti, kemudian berkata, “Ki Lurah Sabungsari, bagaimana jika keputusan hukuman mati itu telah sampai pada pendengaran Pangeran Purbaya?”
“Sulit, sulit bagi saya untuk membayangkan bila tiga prajurit sandi itu adalah bawahan Pangeran Purbaya,” sambung Ki Sangayudan.
“Setiap prajurit sandi sudah barang tentu menjadi bawahan Pangeran Purbayam Ki Lurah,” kata Ki Untara mengingatkan Ki Sangayudan. “Hanya saja, tiga orang itu bisa saja bawahan langsung dengan tugas khusus dari Pangeran Purbaya. Yang harus kita pikirkan adalah tanggapan Kraton. Banyak orang yang menjadi saksi ucapan Pangeran Purbaya yang terang benderang di bangsal utama tentang pengganti Panembahan Hanykrawati? Bukankah keputusan Nyi Pandan Wangi dapat dianggap sebagai bantahan atau tantangan pada beliau secara langsung?”
Pucatlah segera wajah tiga lurah Mataram yang sebenarnya sudah masak dengan pengalaman dan mempunyai banyak sudut pertimbangan itu. Angan mereka segera menjangkau seluruh wilayah yang membentang dari Tanah Perdikan Menoreh hingga Kademangan Sangkal Putung. Wilayah itu akan terjadi banjir darah. Tanah dan gunung-gunung akan terguncang hebat karena itu.
Rasa khawatir membayang pada wajah Ki Lurah Sangayudan sewaktu berkata, “Yang seperti itu dapat mendatangkan bahaya yang tak kalah besar dari letusan Merapi.” Dia berhenti sejenak, lalu berucap lagi, “Keputusan yang dapat dipelintir lalu ditambahi dengan ucapan yang keji mengenai diri beliau serta Ki Gede Menoreh. Nyi Pandan Wangi dapat dianggap sedang melakukan makar oleh Pangeran Purbaya. Lebih buruk lagi adalah kemungkinan Sangkal Putung pun akan terseret oleh pusaran yang dapat berujung maut bagi banyak orang tak bersalah.”
Ki Tumenggung Untara tidak segera menanggapi ucapan Ki Sangayudan. Walau demikian, orang yang membawahi segenap prajurit Mataram di selatan Merapi itu membenarkan pendapat lurah bawahannya. Perhatiannya segera tertuju pada sebaran orang-orang yang menempati kedudukan di antara Pangeran Purbaya dengan Raden Mas Rangsang sebagai raja baru. “Di dalam istana memang ada beberapa orang yang dapat menjadikan keputusan itu sebagai alasan untuk membumihanguskan Tanah Perdikan dan Sangkal Putung. Mereka bakal untung besar jika seandainya dapat memperuncing pertentangan di dalam istana,” ucap Ki Untara denagn nada suara penuh kekhawatiran
Yang terhormat para penggemar kisah silat.
Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
Pendapat Ki Tumenggung Untara tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak diterima begitu saja oleh Sabungsari dan dua rekannya. Meski Sabungsari tidak begitu menaruh perhatian pada semua peristiwa di dalam istana, tapi dia juga mendengar beberapa orang tidak sepakat dengan hasil rembugan. Tentu saja dengan berbagai alasan yang memungkinkan, orang-orang itu tetap harus menerima kenyataan Raden Mas Rangsang adalah penguasa tertinggi Mataram, pikir Sabungsari.
Di dalam pikirannya, Ki Untara cepat membuat pemetaan orang-orang yang ditengarai mempunyai kemampuan untuk menggerakkan prajurit. “Adakah orang – selain Pangeran Selarong, Pangeran Purbaya dan juga Pangeran Mangkubumi – yang mampu mengerahkan prajurit dalam jumlah besar?” tanya Ki Untara pada tiga bawahannya.
Sabungsari cepat mengangguk. “Anda adalah salah satu dari orang yang dimaksud pertanyaan itu.”
“Ki Rangga Agung Sedayu juga menjadi jawaban dari pertanyaan Ki Tumenggung. Bahkan kemampuan lima puluh orang di barak Tanah Perdikan jauh lebih membahayakan daripada dua ratus prajurit Jati Anom,” timpal Ki Kertapati dengan wajah sungguh-sungguh.
Ki Untara mengangguk sambil tersenyum, lalu katanya, “Anda berdua benar dan ada kejujuran pada jawaban tadi.” Setelah berhenti sejenak, dia berucap lagi, “Tapi yang saya maksudkan adalah yang mempunyai rasa yang lain pada Mataram sehingga tak segan-segan untuk menggunakan tangan menyikat Kraton.” Lantas Ki Tumenggung Untara berpaling pada Sabungsari, lalu bertanya, “Kau mengenal adikku jauh lebih baik dari orang lain. Kalian sudah saling mengenal sejak muda. Aku ingin bertanya padamu, apakah Agung Sedayu sanggup menentang Mataram dengan tindakan nyata?”
“Kedekatan Ki Rangga dengan Ki Patih Mandaraka sudah terjalin sangat lama dan itu dapat menjadi sebab seandainya Ki Patih benar-benar kecewa,” jawab Sabungsari.
“Dengan batasan yang sangat sempit dan tanpa pertimbangan, apakah Ki Lurah yakin Agung Sedayu dapat mewakili Ki Patih untuk memperlihatkan kekecewaan itu?” tanya Ki Untara pada Sabungsari.
“Berbekal keyakinan dan pemahaman saya pada Ki Rangga, pengerahan prajurit untuk mengoyak Mataram dari dalam dapat dilakukan beliau seandainya Ki Patih memaksanya berbuat demikian,” Sabungsari menjawab dengan cepat. Tanpa tedeng aling-aling, Sabungsari lugas menyatakan isi pikiran di depan atasannya, sementara dua lurah yang lain terperangah dengan keterbukaan dan ketegasannya.
“Benar-benar kenyataan yang sangat buruk seandainya keadaan itu sudah ditetapkan sebagai bagian perjalanan Mataram,” keluh Ki Untara. Dia dengan pikiran terbuka dapat menerima pikiran Sabungsari, maka tumenggung ini pun melanjutkan ucapan, “Agung Sedayu adalah orang yang sangat berbahaya walau hanya didukung ratusan prajurit ditambah pengawal Tanah Perdikan dan Sangkal Putung. Mungkin kita dapat menyapu bersih seluruhnya dalam pertempuran terbuka, tapi Sedayu mempunyai ketajaman nalar dan kecerdikan luar biasa.”
“Ditambah pergaulan bertahun-tahun dengan Ki Patih Mandaraka, maka pengalaman dan kekayaan siasat tentu telah merasuk sangat jauh di dalam dirinya,” kata Sabungsari.
“Baiklah, mari kita berhenti sejenak dari berandai-andai,” ucap Ki Untara. “Tapi sebagai prajurit, kedudukan Agung Sedayu tetap harus diingat dengan pertimbangan hubungannya dengan Ki Patih Mandaraka.”
“Anda benar, Ki Tumenggung,” Ki Sangayudan berkata.
Ki Tumenggung Untara mengangguk, lalu bertanya lagi, “Selain aku dan adikku, adakah orang yang lain lagi?”
“Sudah pasti ada karena keberlangsungan pemerintahan tidak mungkin hanya mempunyai satu sisi saja,” kata Ki Sangayudan. “Tapi saya kira mereka berada cukup jauh dari kotaraja. Mereka bisa saja berada di Demak, Cirebon atau mungkin Blambangan.”
Ki Untara mengangguk-angguk. “Karena jarak yang cukup jauh, saya kira itu tidak terlalu membahayakan kotaraja dalam waktu dekat. Artinya mereka bukan ancaman yang sama mengerikan dibandingkan Agung Sedayu.”
Ki Kertapati tersenyum masam. “Bagaimana Anda, Ki Tumenggung, dapat berpikiran Ki Rangga adalah ancaman yang mengerikan?”
“Saya harus memisahkan hubungan darah terlebih dulu agar dapat melihat lalu menilai keadaan menjadi lebih jelas dan jujur,” jawab Ki Untara. “Baik, bila kita tidak melihat ada orang lain yang berkedudukan dan berkemampuan setara Agung Sedayu, lalu pada siapa kita semua curiga? Agung Sedayu mempunyai segalanya. Dari perhatian, Agung Sedayu adalah orang yang paling didengar di seluruh Tanah Perdikan meskipun Ki Gede masih berada di sana. Hal yang sama pun berlaku di Sangkal Putung. Lalu, bagaimana dengan daerah di sekitar dua wilayah itu?”
Sabungsari yang lama mengerutkan kening dan berpikir keras tiba-tiba bertanya pada semua orang, terutama Ki Tumenggung Untara, “Apakah penyebutan nama Ki Rangga ini karena kekhawatiran bahwa nantinya Pangeran Purbaya menaruh kecurigaan pada beliau?”
Ruangan mendadak menjadi sunyi.
“Benar,” tiba-tiba Ki Untara menjawab tegas. “Kita, hmmm… aku tidak boleh mengabaikan kemungkinan itu.” Kakak kandung Agung Sedayu itu mematung lantas memandang langit ruangan kemudian berkata pelan, “Kita berpacu dengan waktu. Secepatnya, Ki Lurah Sabungsari harus bergegas ke Pedukuhan Jagaprayan, sedangkan seseorang yang lain harus segera tiba di kotaraja.” Ki Untara meminta tiga orang bawahannya untuk mendekat untuk menyampaikan rencana dan pesan-pesan rahasianya.
“Demikianlah, aku minta kau dapat berhati-hati saat menghadapi Nyi Pandan Wangi,” kata Ki Untara sambil menatap wajah Sabungsari.
Sabungsari mengangguk. Perempuan terkuat di dunia pun mempunyai batasan yang dapat meruntuhkan dirinya secara tiba-tiba dan tanpa perlawanan. Seandainya itu terjadi, maka segalanya pun dapat berubah dalam sekejap. Lurah prajurit Mataram yang berusia lebih muda dari Pandan Wangi pun menyiapkan bekal yang baik di dalam hatinya. Tak lama lagi, dia akan menemui Pandan Wangi. Segala kemungkinan telah diutarakan oleh atasannya, Ki Tumenggung Untara, sehingga banyak pilihan untuk penyesuaian setelah mendalami keadaan di Jagaprayan.
